
Cerita ini berpusat pada seorang anak sekolah bernama Dimas. Menceritakan tentang sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.
Dia selalu merasa hidup dalam siklus yang berulang setiap harinya yang kadang, membuatnya merasa jenuh dan mulai membayangkan tentang dunia fiksi seperi di cerita komik ataupun novel.
Tempat di mana petualangan mendebarkan dan kebebasan berada.
Bab 1: Persiapan petualangan
7 April
".... Saya ucapkan selamat datang para pahlawan! Terima kasih telah mendengarkan panggilan kami. Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Kent Lebb penguasa wilayah Deriess"
"Mohon Bantuannya para pahlawan yang terhormat!!" ucap seorang pria sepantaran kepala sekolah yang duduk di kursi megah.
"Yang bener aja?!" ucap Dimas sambil melihat sekeliling. Melihat raut wajah teman-teman sekelasnya yang terlihat tidak percaya.
30 menit sebelumnya
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya di kelas B seorang siswa bernama Dimas terlihat tidak antusias dalam mengikuti pelajaran.
Karena tidak boleh membuat kegaduhan, dia memutuskan untuk tidur dan menghemat tenaganya untuk pelajaran olah raga.
Guru yang mengajar sudah tidak heran lagi dengan tingkah Dimas yang susah diatur. Sempat setahun yang lalu kurang lebih, dia dipanggil ke ruang kesiswaan karena terlalu sering membolos.
Waktu istirahat pun tiba. Meski guru sudah mengakhiri pertemuan hari ini, namun beberapa orang masih sibuk mencatat isi papan tulis dan hanya sebagian saja yang pergi ke kantin untuk makan atau sekedar ikut nongkrong.
Dia kemudian terbangun setelah mendengarkan suara dari grup cewek di kursi depan yang sedang asik bercerita. Kemudian dia berdiri meregangkan badan dan melihat ke arah luar jendela.
Langit mendung terlihat begitu pekat seperti pertanda buruk baginya.
Tak lama, hujan turun dengan sangat deras membuat hawa dingin di dalam kelas terasa.
Setelah istirahat selesai, kondisi kelas mulai gaduh karena guru olah raga tak kunjung datang. Sesekali Dimas merasa kalau mereka sedang diawasi seseorang. Dia terus melihat ke sekeliling namun tidak ada orang lain selain teman kelasnya.
Perasaan itu tak kunjung hilang, seperti firasat atau pertanda, dia terus merasakan sesuatu akan terjadi. Hatinya was-was dan sesekali tangannya sedikit bergetar.
"Woi denger gak sih dim? kok tiba-tiba diem..." kata Bimo yang menyadarkan Dimas kembali. Bimo ini punya perawakan lumayan tinggi dan atletis, sementara jika dibandingkan, Dimas terlihat agak gendut dan tidak tinggi.
"Denger kok bim, tapi mending diomongin dulu aja berdua. Ntar kalo cuman salah paham bisa malu lo sama cewek lu" jawab Dimas menanggapi serius.
__ADS_1
Entah mengapa dia masih merasa cemas, seolah akan terjadi suatu bencana datang. Semakin lama ditahan, kepalanya semakin terasa sakit.
Dia pun akhirnya memberanikan diri untuk memberi tahu teman sekelasnya.
"Eh kalian pada sadar gak sih, kalo ada yang aneh?" Ucapnya karena sudah tidak tahan.
"Apanya dim? pak Eko kan emang suka nelat. Baru juga 5 menit kok" Jawab Diyan, cewek yang paling dihindari Dimas karena kalau ngomongin orang tidak tanggung-tanggung.
Apa yang sebenarnya akan terjadi, sembari bertanya-tanya, detak jantungnya bertambah cepat dan pandangannya mulai kabur.
Berulang kali dia mengusap matanya karena semakin lama semakin buram penglihatannya.
Telinganya juga kini mulai mendengarkan suara-suara seperti kaset rusak yang terus diputar.
Entah kenapa tiba-tiba sensasi.tubuhnya berubah menjadi seperti sedang tenggelam. Badannya terasa berat dan dia kesulitan bernafas, yang bisa dilihatnya hanya cahaya putih yang semakin mendekat.
Dia kemudian menutup matanya dan sambil terengah-engah dia mendengar seseorang sedang memanggilnya.
"Dim... Dimas, dim! oi jangan merem, liat sini..." bisik Dea, cewek sekelasnya yang lumayan pintar.
Setelah dia membuka matanya betapa terkejutnya dia melihat pemandangan ini. Dia berada di sebuah ruangan besar yang tampak megah dan dikelilingi orang-orang berpenampilan lawas.
"Kenapa de?" Tanya nya membalas Dea.
"Kok elu ngos-ngosan gitu? ampe keringetan lagi" Dea balik bertanya.
Dia tidak mendengarkan pertanyaan Dea karena sibuk mencari tau lebih banyak tentang situasi saat ini sambil melihat-lihat sekeliling.
Kemudian tidak lama, terdengar suara langkah kaki beberapa orang mendekat. Seorang pria berpakaian mahal diiringi pengawalnya memasuki ruangan itu.
Nampak para siswa mulai panik dan ketakutan, namun tidak bisa bergerak karena saking takutnya. Mereka hanya bisa saling mendekat satu sama lain untuk saling menjaga.
Pria itu kemudian duduk di kursi yang terlijat megah dan tersenyum ke arah para siswa. Senyum yang membuat mereka keheranan.
Dia mengamati semua siswa yang ada di situ sambil menggumamkan sesuatu. Tatapannya tajam dan terasa mengintimidasi bagi sebagian orang. Dia kemudian mengernyitkan dahinya.
"... ehem ..." Pria tua itu seperti ingin memulai suatu pembicaraan.
"Karena semuanya telah lengkap maka saya ucapkan selamat datang para pahlawan! Terima kasih telah mendengarkan panggilan kami. "
__ADS_1
"Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Kent Lebb penguasa wilayah Deriess. Mohon Bantuannya para pahlawan yang terhormat!! a ha ha ha" ucapnya sambil tertawa kecil mencoba mencairkan suasanya.
" a ha ha ha... ha ha... ha.. ehem! Maafkan saya, sepertinya para pahlawan masih sedikit kebingungan..." Ucapnya menambahi.
"Yang bener aja?!" ucap Dimas dalam hatinya sambil melihat sekeliling. Melihat raut wajah teman-teman sekelasnya yang terlihat tidak percaya.
Saat ini
"Di mana ini? dan kenapa kami ada di sini?" Arya bertanya tanpa basa basi. Dia adalah sosok siswa tampan dan orangnya tidak suka ribet.
"Saya tau para pahlawan memiliki segudang pertanyaan atau mungkin lebih. Tetapi yang perlu para pahlawan sekalian ketahui adalah kalian kini sudah tidak berada di dunia yang kalian kenal. Bagi kalian tempat ini bisa dibilang dunia lain." Jawab pria itu nampak serius.
Tuan Kent kemudian menjelaskan detailnya secara perlahan dan bertahap hingga semua orang memahami kondisinya saat ini. Baik kondisi mereka maupun kondisi dunia ini.
"Jadi maksud anda kita semua di sini karena ramalan leluhurmu?" Tanya Arya.
"Bisa dibilang seperti itu pahlawan muda... ha ha" Balas tuan Kent.
Wajah Diyan terlihat kesal dan dia berbicara lirih, "Apa urusannya sama kita? Kok jadi ribet gini"
"Gimana dim, lu percaya ga?" Dea bertanya karena sedikit meragukan penjelasan tuan Kent.
"Ya gimanapun juga buat sekarang anggep aja dia ga bohong. Kalau terlalu curiga nanti malah bisa bahaya, he he~" Jawab Dimas sambil mengambil sesuatu di kantongnya.
Merasa butuh mencairkan suana, Dimas pun melontarkan pertanyaan konyol.
"Anu, jadi gini.." Sambil mengangkat tangan kanannya, dia menunggu respon dari semua orang.
"Bisa tolong diulangi dari awal lagi penjelasannya?"
"E.. eh?... "
.
.
.
"Ehem... tentu saja pahlawan muda... ha.. ha.. ha.. ehem.." Jawab tuan Kent sedikit terbata-bata.
__ADS_1