Puncak Dunia Sihir

Puncak Dunia Sihir
Transisi


__ADS_3

Ruang isolasi (di dalam buku)


"Sudah berapa lama waktu berlalu?" Pikir Jin yang mulai terbiasa menerima pelatihan An Rha. Sangat tidak mungkin untuk sekedar mengetahui waktu di dalam ruang isolasi ini. Hanya An Rha sang pengendali waktu lah yang bisa mengetahuinya.


"Bocah, cepat bangun! Hari ini akan kuajarkan sihir kuno lain padamu"


"Anggap saja ini sebagai hadiah dari diriku ini"


"Terima kasih GURU!" Jin segera bangun dari istirahatnya. Walaupun statusnya sangat buruk, namun pemahaman sihirnya bisa dibilang salah satu yang terbaik. Bahkan semasa An Rha muda, Karena itu dia tidak pernah menyesal menjadikan Jin sebagai muridnya.


"Sihir yang guru ajarkan tingkatannya jauh di atas semua buku yang ada di perpustakaan khusus itu." Jin bergumam dalam hatinya.


(Sebenarnya dia belum membaca semua buku)


"Guru, sudah berapa lama waktu yang kuhabiskan di sini?"


"Ini sudah ke delapan kalinya kau bertanya. Saat ini, pelatihanmu sudah setara dengan enam tahun di luar sana"


Sungguh menggelikan baginya yang tidak suka menghadiri pelatihan duke, justru terjebak dalam pelatihan yang lebih berat selama bertahun-tahun lamanya.


"Ini sungguh suatu terobosan bocah. Kau hanya membutuhkan waktu dua setengah tahun untuk mempelajari dasar sihir yang kukuasai. Luar biasa!"


Dasar sihir yang dikuasai oleh Rha jauh lebih rumit dari pada sihir-sihir modern tingkat lanjutan, oleh karena itu di masa lalu setidaknya membutuhkan sekitar dua puluh tahun untuk menguasainya.


Bahkan Jin kerap kali hampir kehilangan kesadarannya saking beratnya ilmu yang diajarkan gurunya.


Namun kini Jin sudah menguasai ilmu lanjutan dari Rha hanya dalam waktu tiga tahun. Itulah yang membuat Rha sangat senang.


Orang jenius sekalipun membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menguasainya, namun Rha hanya membutuhkan waktu lima tahun. Rha kemudian melihat dirinya saat muda di dalam Jin.


Hutan kabut


Seekor burung hantu menghampiri anak lelaki itu, terlihat membawa pesan di kakinya. Hampir saja dia menembaknya dari kejauhan.


Dia kemudian mengangkat tangannya dan membiarkan burung itu mendarat.


"Kku.. Kku.. Kku.." Burung itu bersuara. Isi yanh tertulis dalam pesan itu adalah ajakan untuk beraliansi dengan sang pengirim pesan.


"UNTUK PARA SISWA KELAS D, AKU KETUA KELAS C, OKA. MENAWARKAN KERJA SAMA DENGAN KALIAN. DATANGLAH KE DUNGEON CASTLER LT 15, KAMI MENYAMBUT KALIAN"


"TAMBAHAN: JIKA TIDAK DATANG SETELAH SEBULAN, KAMI AKAN MEMBURU KALIAN. LEBIH BAIK KALIAN SEGERA BERSEMBUNYI JIKA TIDAK BERNIAT DATANG"


"Dasar berandalan" Ucapnya sambil mengelus-elus burung itu. Dia kemudian mengenakan jaketnya dan berjalan meninggalkan buruannya.


"Kau bisa makan beruang itu kalau kau lapar, burung. Lero, Uko ayo! kita berangkat sekarang"


"Cap.. Cap... Cap" Burung itu memakannya.


"Akhirnya ada juga yang pengen diburu. He he~" Ucapnya sembari perlahan menghilang dalam kabut.


Dua sosok rubah kemudian mengikutinya. Seekor rubah berwarna putih seperti salju dan satunya berwarna merah.


"Ke arah mana kita pergi? Bukannya kita bisa makan sepuasnya di sini?" Rubah merah itu berbicara seperti sesuatu hal yang lumrah.


"Castler, Ada orang bodoh yang minta diburu di sana. Lagian, aku juha udah ga tahan makan daging mentah terus" (Terlalu dingin untuk menyalakan api)


"Bukannya itu ada di Yeon Pyong? Butuh waktu lama kalau mau ke sana lo" Sahut rubah berwarna putih.

__ADS_1


Dungeon Castler, Lt. 15


"Oka, kita ga ngirim undangan ke kelas B?"


"Lakukan aja seperti yang kubilang kalau ga pengen mati!"


"..." (Semua terdiam)


"Ketua, Adit udah pergi lagi ya?"


"Ya, dia kukirim ke kelas A. Mereka harus terus diawasi"


Pelabuhan Daxes, Tressil


"Jadi ini yang disebut salah satu pedang legendaris, Guardon" Pemilik rumah lelang trumper memuji pedang itu.


"Ha ha ha, kau memiliki mata yang jeli tuan, ini adalah salah satu dari lima pedang legendaris yang digunakan pasukan Ark untuk memukul mundur pasukan iblis" Jawab utusan serikat pedagang dari benua biru.


Benua biru ini adalah tempat baru yang ditemukan oleh sisa-sisa pengungsi dari benua Biru lama(tanah kematian)


"Pedang ini memiliki atribut apiyang sangat kuat. Dan memiliki berbagai misteri, sayangnya orang awam seperti kami tidak mampu menafsirkannya. Hanya sang Pangeran Api Keramat lah yang diramalkan bisa mengendalikannya"


"Katakanlah, berapa yang kalian inginkan? aku akan membayarnya tampa menawar"


"Oho kita memang benar-benar saling mengerti. Seperti yang diharapkan dari pemilik rumah lelang trumper"


Disperian, Dimantra


"Ayo coba katakan lagi, maksud kalian tadi... Aku ingin mendengarnya lagi"


"UHUK! UHUK! HAH... HAH.. HAH.. URGH!!! AH SIALAN!" Teriak siwa kelas C bernama Adit. Sambil terus memegangi luka di lambungnya.


Setengah tubuhnya telah hancur, kedua kaki dan satu lengannya juga sudah tidak ada lagi.


"Larilah Oka, Mereka terlalu berbahaya. Ini di atas kemampuanmu! Semoga kalian bisa bertahan sampai akhir. Sepertinya sudah waktunya untukku... Aku pergi dulu" Ucapnya dalam hati.


Hutan merah, Hari ke-8 pelatihan


Lelaki tua yang mengincar Lin telah sampai di hutan merah, tidak jauh dari kediaman duke Kent. Dia untuk sementara waktu memutuskan untuk menetap di sana sembari mengumpulkan informasi tentang Hwang Lin, salah satu penyihir terkenal di masa lalu.


Orang ini bernama Han Yun, di masa lalu dia dikenal sebagai penyihir ternama sekaligus salah satu yang digadang-gadang sebagai rival abadi Hwang Lin.


"Aku dengar ada esensi darah phoenix di hutan ini. Aku harus menemukannya terlebih dulu sebelum mengalahkan orang itu"


Esensi darah phoenix dipercaya mampu mengembalikan diri menjadi muda kembali. Sekaligus memberikannya kehidupan abadi seperti seekor phoenix.


Rombongan Tristan kebetulan sedang melewati hutan merah setelah menyelesaikan urusan di ibu kota, saat Han Yun meliha mereka dan seketika menghadang ketera mereka.


"Ciiiiiit... Ciiiit... Mohon maaf tuan muda, ada seseorang yang menghadang jalannya"


"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba berhenti?" Izo nampak terkejut.


Tristan kemudian turun untuk berbicara dengan Han. Dia berjalan menghampirinya yang sedang menghadang keretanya.


"Hmm... Kenapa anggota kerajaan ada di sini?" Kata Han sambil melihat wajah Tristan.


"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan kek, tapi saya adalah anak dari duke yang menguasai tempat ini. Jika tidak keberatan bisakah kakek tidak menghalangi jalan kami?"

__ADS_1


Ucapnya setelah melihat lambang serikat pemburu iblis dari daratan biru.


Han yakin betul duke terdahulu di tempat ini tidak terlihat seperti anak yang di depannya. Anak itu justru sangat mirip dengan keluarga kerajaan yang dijumpainya semasa muda dulu.


"Baiklah, sepertinya kakek ini salah mengenali orang. Kalau begitu maafkan aku" Dia kemudian menyingkir dari depan kereta itu.


Ruang isolasi


"Diriku sepertinya terlalu memandang tinggi kemampuanmu bocah"


"Sekarang kau bahkan membutuhkan waktu 112 tahun untuk benar-benar memahami sihir tingkat lanjutku"


"Diam kau sialan, aku sudah terjebak di sini lebih dari 200 tahun! Kau berharap apa? Aku sudah benar-benar gila dulu saat menyetujui ini!"


"Kenalanku di luar sana pasti sudah punya cucu, yang cucunya sudah punya cucu lagi, yang sudah jadi kakek sekarang!" (7 generasi keluarga)


"Sudah diriku bilang, dirikulah yang mengatur waktu di sini. Diriku akan mengirimmu kembali pada waktu yang sudah ditetapkan.


"Tetapi karena kita akan segera berpisah, maka akan kuberikan hadiah terakhir padamu. Sebagai hadiah perisahan kita"


[+892 POIN STATUS] (Diterima)


"Pilihlah, Dari ribuan Skill ini, tiga akan menjadi milikmu "


"Cepat pilihlah!" Ucap Rha menampilkan layar besar penuh nama Skill-skill tingkat tinggi.


"Kalau begitu aku pilih-"


Pengalaman diambang kematian bukan lagi masalah baginya. Selama ratusan tahun dia telah mengalami sensasi kematian hampir membawanya pergi setiap harinya. Kini perjalannya akan dimulai sekali lagi.


----------------------------------------


Status saat ini:


STR : 0


INT : 0


AGI : 0


VIT : 0


DEX : 0


Total: 0


*Poin tersedia: 913


Skill:


???


???


???


----------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2