
Beberapa menit sebelumnya
Ini bermula ketika anak-anak yang diselamatkan Teredeon sedang berkeliling gunung itu. Mereka ada yang mencari makanan ada juga yang hanya sekedar iseng.
Tak lama kemudian seseorang dari mereka menemukan sebuah pedang yang tertancap di belakang altar. Pedang itu memancarkan sihir yang menyakitkan bagi anak-anak iblis itu.
Mereka segera menghampiri pemakanan untuk melaporkannya pada Teredeon. Pemakaman ini dibuat sendiri oleh Teredeon untuk menghormati teman-temannya sekaligus keluarga anak-anak itu.
"Tuan...tuan... kami menemukan sesuatu di sana! " Ucap salah seorang di antara mereka.
Tere pun kemudian mengikuti mereka menuju tempat itu. Sesampainya di sana dia merasakan aura sihir yang sangat kuat dari pedang itu. Anak-anak di sana tidak ada yang bisa mendekati pedang itu.
Selain tekanan sihir yang kuat, sihir suci juga adalah salah satu kelemahan dari iblis. Hanya dengan merasakannya saja iblis yang berperingkat rendah bisa terluka dengan mudahnya. Itu juga yang membinasakan desa mereka ketika Tere ditahan.
Satu-satunya yang bisa mendekat hanyalah Tere saja. Selain tidak terpengaruh oleh sihir suci, dia juga merupakan ksatria sihir kerajaan. Dia mencoba menariknya dengan tangan kanannya.
Seketika aliran sihir itu berpindah ke tangan kanannya. Kekuatan itu seperti terkunci dalam tangannya, kini tangan kanan Tere bersinar dan memiliki kekuatan yang amat besar.
Pedangnya berhasil terangkat tapi seketika menghilang, melebur menjadi asap di udara. Setelah itu muncul tato tulisan kuno di lengannya.
"Apa ini? Kenapa kekuatan ini mengikutiku?" Dia bertanya-tanya dalam hati.
.
.
.
Kembali sesaat setelah Laure dan bocah itu tiba. Laure menurunkan bocah itu dari gendongannya. Bocah itu tampak kebingungan dan seketika menuju altar pemanggilannya.
"Ini tidak mungkin, apa kau baru saja mencabut Exal?!" Tanya bocah itu terlihat kesal.
Tere nampak kebingungan dan menyadari pedang itu kemungkinan adalah milik bocah yang di depannya saat ini. Namun sebelum sempat dia menjelaskan bocah itu mulai berteriak ke arahnya.
__ADS_1
"Kembalikan pedangku! Exal adalah pedang terbaikku! Kalau saja tadi aku membawanya aku pasti bisa mengalahkan jendral iblis itu!"
Katanya sambil berjalan ke arah Tere.
"Tidak, kau tetap bukan tandingan jendral itu" Balas Laure.
"Kau diam saja, ini urusanku sendiri. Bahkan aku tidak bisa mencabutnya saat itu. Bagaimana caramu mengambilnya pencuri?!" Bocah itu tampak marah.
Dia kemudian mengeluarkan kedua pedangnya dan bersiap menyerang Tere. Tekanan kekuatannya begitu besar hingga menyiksa anak-anak iblis yang ada di sana. Semua anak iblis itu pingsan hanya dengan merasakan tekanan dari sihir suci yang di keluarkannya.
[INDEX ANCHOR] A
{Mengumpulkan seluruh mana pada senjatanya dan mengeluarkan ledakan yang sangat kuat}
Dengan sisa kekuatan bocah itu setelah melawan jendral iblis, dia hanya bisa mengeluarkan skill setingkat itu saja.
Saking cepatnya Tere belum sempat bereaksi, dan dia ustru lebih mengkhawatirkan anak-anak yang ada di belakangnya. Jadi dia memutuskan untuk tidak menghindari serangan itu.
Bocah itu meronta kesakitan, tapi Tere juga tidak bisa melakukan apa pun. Perlahan bocah itu terlihat lemas dan mulai memuntahkan darah. Dia terlihat sangat kesakitan.
Di lain sisi Tere juga nampak kebingungan. Laure kemudian merapalkan sebuah mantera yang mampu menyegel kekuatan dari tangan kanan Tere. Tangannya kemudian berhenti memancarkan sinar dan kembali seperti semula.
"Kini sepertinya kau sudah sadar, kau ini benar-benar bukan tuan Ark. Kekuatannya ini memilih sendiri pemiliknya. Dan orang ini adalah yang terpilih. Sekarang hanya tersisa satu persen dari kekuatannya dalam dirimu"
Laure memandang bocah itu yang tertunduk kesakitan. Bocah itu kemudian berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung,
"K... k... kalau... aku bukan... Ark.. Lalu siapa aku ini?" Dia bertanya pada Laure sambil menahan tubuhnya yang mulai kehabisan tenaga.
"... Aku juga tidak tahu, kau bisa menggunakan nama Leo jika kau mau"
Kemudian bocah itu langsung kehilangan kesadarannya dan terjatuh. Tere yang melihat itu kemudian bertanya kepada Laure.
"Mengapa anda tidak menolongnya tuan?"
__ADS_1
"Biarkan saja dia. Yang lebih penting lagi sekarang adalah mengajarimu mengendalikan kekuatan itu. Kau mungkin tidak sadar tapi di dalam tubuhmu kini ada sekitar tujuh persen kekuatan sihir tuan Ark" Jawab Laure sambil menggendong bocah itu lagi.
"Apa maksud anda tuan? Apakah anda tidak ingin mengambil kekuatan ini kembali?" Tanyanya kebingungan.
"Haah.. Kau adalah manusia yang aneh. Selain tidak tergiur oleh kekuatan besar itu kau juga malah merawat iblis seperti anakmu sendiri. Tapi sekarang justru kekuatan itulah yang akan membinasakan mereka. Kau harus mengendalikan itu kalau tidak ingin membahayakan mereka. Selain itu kalau kekuatanmu diambil apa kau pikir bisa terus bertahan di tanah ini?"
Itulah awal mula hubungan Teredeon dengan Laure terjalin. Selain melatih Tere, Laure juga membantu mengantar rombongan mereka menuju desa terdekat.
Selama perjalanan terkadang mereka bertemu dengan pasukan iblis yang juga memusuhi kaum Yegue. Ras Yegue telah dianggap sebagai aib karena kekalahannya dengan pasukan manusia. Kalau itu adalah pasukan Ark.
Jika dibandingkan dengan pasukan iblis yang sekarang di tanah kematian yaitu ras Tergues dan Vladd, kaum Yegue masih lebih kuat. Oleh karena itu mereka tidak mudah disingkirkan dari tanah kematian hingga sekarang.
Sedikit-demi sedikit Teredeon mulai bisa mengendalikan kekuatan itu. Dan perlahan dirinya juga bertambah kuat hingga cukup uat untuk melawan pasukan iblis yang menghadang mereka.
Menurut cerita Laure pedang yang dicabut Tere disebut dengan Exal. Salah satu senjata terkuat milik kaisar Ark kala itu. Exal jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan Exodice dan DragnerX sekalipun.
Selain kuat, pedang itu juga sebenarnya diturunkan dari penguasa-penguasa Pangejah terdahulu. Pedang ini tidak diketahui asal-usulnya tapi yang pasti kekuatannya tidak perlu ditanyakan lagi. Exal juga terkenal dalam cerita-cerita yang beredar sebagai pedang yang memilih sendiri tuannya.
Dan kini Exal tersegel di dalam Tere. Setelah dia bisa mengendalikan sedikit kekuatannya, Laure kemudian mengajarinya teknik untuk memanggil pedang itu.
Sesampainya di desa terdekat Tere sudah menjadi jauh lebih kuat. Dia bahkan kini setingkat dengan komandan pasukan iblis. Dengan itu Laure mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Dia pergi bersama dengan bocah itu, yang masih belum sadarkan diri selama berminggu-minggu.
Beberapa hari kemudian
"Uuuh... mhm..."
"Oh kau akhirnya bangun juga! aku sudah cukup lama menunggumu" kata Laure sambil bersantai di bawah sebuah pohon besar.
"Jadi namaku Leo sekarang... Apa yang kau inginkan? Kenapa kau repot-repot membawaku bersamamu. Bukankah kekuatanku sudah direbut oleh orang itu" kata Leo terlihat muram.
"Ha ha ha, apa yang kau katakan Leo! Sekarang kita harus mengumpulkan kekuatan tuan Ark di seluruh penjuru dunia untuk bisa melawan dia" Balas Laure sambil menawarkan minum pada Leo.
Itulah cerita awal dari nama-nama besar di masa depan. Teredeon sang titisan Ark, dan kelompok jubah hitam yang dipimpin oleh Leo. Akankah mereka jadi hambatan bagi kelompok Jean? atau justru menjadi rekan bagi mereka?
__ADS_1