Puncak Dunia Sihir

Puncak Dunia Sihir
Ekspedisi #1


__ADS_3

Sebuah gunung, Tanah kematian


Perkenalkan namaku Teredeon, aku adalah komandan unit 2 kesatira sihir yang dikirim ke tempat ini. Aku memiliki puteri yang cantik, dia selalu menjadi penyemangatku selagi melakukan tugas-tugas berbahaya dari kerajaan. Namanya adalah Eilen, dia periang seperti ibunya. Hanya dengan kehadirannya saja sudah membuatku melupakan rasa lelahku selama ini.


Namun situasi saat ini sungguh diluar dugaan kami. Tempat yang kami datangi ini benar-benar tempat terkutuk, tak seharusnya ada tempat seperti ini di dunia.


Untuk mengetahui perjalanan kami akan kuceritakan semuanya. Mulai dari setahun yang lalu, ketika para raja saling berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu.


Aku tidak tahu apa yang mereka diskusikan, tetapi intinya misi kali ini diberikan untuk mengambil kembali sebuah benda yang dikatakan dapat menjadi alat untuk mengakhiri kekuasaan iblis di dunia ini.


Banyak kesatria yang tidak berani ikut andil dalam ekspedisi kali ini. Maka dari itu kami hanya berhasil mengumpulkan 5 unit pasukan saja, yang dipimpin oleh seorang veteran bernama Grey hod.


Pagi hari, di lepas pantai Yeon Pyong sesaat setelah kebereangkatan kami. Kami mulai memperkenalkan diri satu per satu.


Awalnya perjalanan ini berjalan dengan lancar, tidak banyak halangan yang kami temui di laut. Namun tuan Grey mulai memperingatkan kita ketika memasuki perbatasan dengan benua biru lama (tanah kematian).


Monster sihir berlevel tingggi mulai bermunculan dari dasar lautan. Setiap hari kami tidak pernah berhenti bertarung dengan monster-monster ini.


Selain itu, semakin kita amendekati tanah kematian semakin hebat juga badai yang harus kita lalui. Saking kuatnya pengaruh alam dan serangan monster sihir, Kapal yang kami miliki hanya tersisa satu buah.


Semua unit ada dalam satu kapal dan saling berdesakan. Ada sekitar lima ratus orang lebih dalam kapal itu.


Sampai akhirnya kami mulai melihat daratan yang kami tuju. Namun sebelum sempat mendekat, sesosok belut raksasa menghadang kami. Belut itu adalah binatang sihir level 9, kekuaatannya mampu menghempaskan kapal kami dengan sekali kibasan ekornya.


Lalu tragedi itu terjadi. kapal kami dihancurkan dan semua orang terperangkap dalam pusaran air laut. Malam itu adalah puncak dari badai yang kami lalui.


Setelah itu aku tidak bisa mengingatnya, semuanya terjadi dengan begitu cepat. Yang kutahu kami tenggelam ke dalam laut yang dipenuhi dengan monster-monster mengerikan.


Entah suatu keajaiban atau bukan, tetapi beberapa dari kami berhasil sampai ke daratan ini. Atau lebih tepatnya kami terdampar di sini.


Yang bisa kutemi hanyalah beberapa orang beruntung lainnya. Atau bisa dibilang orang sial lainnya, karena kami tidak tahu apa yang akan kami hadapi di sini.


Seseorang bercerita bahwa malam itu tuan Grey mengorbankan dirinya sendiri agar sebagian dari kita bisa tetap hidup. Dia berkata tuan Grey menggunakan sebuahsihir yang menghalau serangan dari monster sihir lainnya.

__ADS_1


Sayangnya itu tidak cukup kuat untuk melawan belut itu, sehingga sebagian besar dari kami sudah gugur dalam perjalanan.


Kami yang tersisa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan supaya tidak menyia-nyiakan pengorbanan rekan-rekan kami.


Dari awal kami mengijakkan kaki di tempat ini, kami semua langsung tahu bahwa tempat ini sangat berbahaya. Banyak sekali aura-aura mengintimidasi terasa menusuk mereka.


Orang yang bertahan masih sekitar delapan puluh orang, dan kami pun memutuskan untuk membagi tim menjadi tim utama dan tim pengintai.


Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi, bahkan untuk seseorang yang paling takut sekalipun. Tidak ada kapal untuk kembali, dan seandainya pun memiliki kapal belum tentu juga kita tidak bertemu monster mengerikan seperti belut itu.


Sekarang ini kami hanya lah sekumpulan pengecut yang berpikir tidak ada sesuatu seperti iblis di tempat ini, dari pada harus pulang dan menemui ahaya yang lebih tinggi.


Tiga hari kemudian


Kami benar-benar menyesali pilihan yang kami ambil. Hari ini kami lari lagi dari serangan makhluk yang sangat mengerikan. Mungkin itulah yang nenek moyang kami sebut sebagai iblis.


Puluhan dari kami telah gugur hanya dalam waktu tiga hari ini. Tanah ini benar-benar terkutuk, kesatria terbaik kerajaan pun hanya seperti bayi bagi mereka.


Sialan, kewarasanku mulai hilang. Setiap hari aku ingin sekali mengakhiri hidupku sendiri.Tapi aku tahu itu akan mempengaruhi moral satuan kami yang tersisa. Satu-satunya yang terus menguatkanku hanyalah foto dari puteriku ini.


Apa kabarmu Eilen? Semoga kamu selalu dalam keadaan yang baik saja. Maafkan ayahmu ini yang menjadi seorang pengecut, tetapi mereka itu tingkatannya sudah berbeda lagi. Ini benar-benar mengerikan.


Hanya sembilan orang yang tersisa dari kami. Bahkan ada yang meinggal setelah terlalu lama tidak tidur. Moral pasukan ini benar-benar sudah hancur. Kami tidak tahu lagi apa yang bisa terjadi.


.


.


.


Dalam ketakutan itu, aku melihat pasukan iblis mulai mendekati persembunyian kami. Jumlahnya lebih dari dua puluh. Namun tiba-tiba muncul lelaki yang menghadang pasukan itu.


Walaupun perawakannya sama dengan manusia, tapi telinganya sama dengan iblis-iblis itu. Bentuk telinga yang terlihat lancip.

__ADS_1


Terjadi pertarungan di antara mereka, namun dia menghabisi iblis-iblis itu seorang diri.


Semua orang yang melihatnya segera menampakkan wajah penuh harapan. Dan menghampiri pria itu.


"Apa yang dilakukan manusia di sini?" Tanya pira itu sambil melihat ke arah kami.


Tidak ada yang berani menjawabnya. Semua nya diam dan hanya mengikuti kemada dia pergi.


Selama perjalanan pria ini terus menerus menghabisi pasukan-pasukan iblis itu seperti seekor lalat.


Tidak ada yang tahu sekuat apa dia sebenarnya. Tapi sejujurnya kami mengikutiya hanya untuk melindungi kami sendiri jadi kami tidak begitu peduli dengan pencapaiannya.


"Sampai kapan kalian akan terus mengikutiku? Pulanglah, kemblilah ke rumah kalian. Di sini bukanlah tempat yang seharusnya kalian datangi"


"Tapi kami tidak bisa kembali, kapal kami sudah hancur diserang oleh mosnter sihir. Kami terjebak di sini"


"Maksudmu kalian tidak bisa terbang? Aku kira manusia bisa terbang"


"Sungguh konyol, tentu saja kami tidak bisa terbang. Kami mohon pertolongan dari anda"


"Kami mohon"


"Kami mohon"


Semua orang memohon hidup kepada pria itu, termasuk juga aku. Akhirnya dia membawa kami ke sebuah tempat yang dia bilang aman. Tempat itu berada di gunung ini.


Memang tempat ini terlihat berbeda dengan tempat-tempat lainnya, tapi kami tetap merasa ketakutan karena pria itu menghilang begitu saja setelah mengantar kami ke sini.


Sebagian bahkan mencelanya karena telah meninggalkan kami, namun bagiku itu bukan sesuatu yang bisa kami salahkan.


Dia tentu saja memiliki urusannya sendiri, dan kita sudah mengganggunya hanya demi diri sendiri.


Aku benci dengan diriku sendiri, kami semua sama. Namun tentu saja kami lebih membenci para iblis dan monster sihir itu lebih banyak. Namun yang sebenarnya lebih kami benci dari pada apa pun adalah para penguasa yang seenaknya mengirim ekspedisi ke tempat terkutuk ini.

__ADS_1


__ADS_2