Puncak Dunia Sihir

Puncak Dunia Sihir
Ekspedisi #2


__ADS_3

Gunung Reol, Tanah Kematian


Sudah berhari-hari sejak kami bersembunyi di dalam gunung ini. Samar-samar aku dapat merasakan kekuatan suci mengitari sekitaran lereng.


Aku rasa itu lah yang menyebabkan iblis tidak berani mendekat, setidaknya untuk saat ini.


Namun itu tidak berlangsung lama. Semua orang sudah menyadarinya dan mulai berkeliling mencari sumber kekuatan itu.


Mereka percaya bahwa dengan menemukannya, kami dapat pergi dari sini tanpa rasa khawatir diburu oleh pasukan iblis. Tentu saja itu ide yang bagus, tapi aku memutuskan untuk tetap tinggal di gunung ini apa pun keadaannya.


Tak lama setelah itu, akhirnya seseorang dari kami berhasil menemukannya. Itu adalah sebuah gelang yang memancarkan kekuatan sihir.


Dan dalam rasa ketakutan, mereka saling berdebat tentang ke mana mereka harus pergi. Perdebatan mulai menjadi sengit, dan semua orang saling memperebutkan kepemilikan gelang itu.


Setelah beberapa saat, terjadi pertarungan serius untuk memperebutkan benda itu. Benar-benar ironis, benda yang harusnya menyelamatkan kami semua malah menjadi alasan pertumpahan darah di antara kami.


Hasil akhirnya adalah tidak ada yang mendapatkannya. Menyisakan aku sendiri yang tidak terluka, aku harus mengurusi semua rekan-rekannku yang sedang dalam keadaan kritis.


"Benar-benar bodoh, hanya demi benda ini kalian semua saling mengorbankan saudara sendiri" Aku berkata sambil mengganti perban mereka satu-persatu.


Pria itu datang lagi sekarang, kali ini dia membawa orang-orang yang memiliki telinga yang sama dengannya.


"Aku sangat terkejut, tak kusangka manusia bisa saling-menolong seperti ini. Sangat berbeda dengan yang diceritakan leluhurku" Kata seseorang yang bersama pria itu.


"Yo, manusia. Kami sebenarnya sedang mencari sebuah altar. Tetapi hanya ras manusia saja yang bisa membuka jalannya" Kata seorang yang lain.


Sambil menyuapi teman-temanku yang terkapar, aku menunjuk ke arah ditemukannya gelang itu.


"Apa yang kalian cari ada di sana" Ungkapku sambil menyembunyikan gelang ini.


Dari awal sebenarnya aku sudah mengetahui siapa sebenarnya pria itu. Tapi aku lebih memilih percaya kalau dugaanku salah.


Walaupun mereka terlihat sama persis dengan manusia, tapi aura sihir gelap ini sama persis dengan aura sihir milik para iblis itu. Dengan kata lain, entah bagaimana yang jelas mereka adalah manusia berdarah iblis.

__ADS_1


Beberapa minggu sudah mereka memeriksanya namun sepertinya altar itu tidak berfungsi seperti apa yang mereka pikirkan. Mereka menyebutkan tentang sebuah kunci untuk mengaktifkan susunan itu.


Perlahan satu-persatu rekan-rekanku mulai pulih kembali. Mereka akhirnya tersadar dengan tindakan bodoh yang sudah mereka lakukan. Dan menunjukku sebagai pemimpin mereka.


Kami juga sudah sepakat untuk tidak membahas soal gelang itu kepada mereka. Tentu saja aku menceritakan dugaanku kepada mereka. Dan seperti yang diduga, semuanya terlihat sangat terkejut.


Namun pada sebuah malam, seseorang telah mengkhianati kami. Dia membeberkan semua yang kami rahasiakan demi meminta keselamatan. Setelah itu mereka membakau ke desanya untuk dikurung.


Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, namun gelang itu berhasil mereka rebut. Aku sungguh masih berharap seseorang akan menyelamatkanku agar aku dapat kembali melihat puteri kecilku.


Penjara bawah tanah, Tanah kematian


" Ah, sepertinya ini adalah akhir bagiku. Eilen, bagaimana kabarmu sekarang? Maffkan papa yang tidak bisa berada di sisimu sampai kamu mendapat pasangan yang layak untukmu"


"Maafkan ayah, karena tidak menjagamu selagi kamu tumbuh dewasa. Mulai sekarang sepertinya kamu harus bisa hidup mandiri, tumbuhlah menjadi apa pun yang kamu inginkan"


"Untuk istriku, aku mohon maafkan aku. Karena telah melanggar janjiku untuk merawat Eilen sampai akhir hayatku. Sepertinya sebentar lagi aku akan menyusulmu di sana"


Mulai malam itu, aku terus menghitung setiap hari yang telah kulewati. Rantai yang mengikatku ini sungguh sangat tidak mungkin dilepaskan dengan tingkatan sihirku ini. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu seseorang mengantarkan makanan untukku.


Aku sudan tidak ingat lagi ini hari ke berapa, jadi kuputuskan untuk mengulangi hitungannya dari hari yang terakhir kuingat.


Suatu hari, ledakan besar terjadi. Gempa yang kuat berlangsung beberapa saat. Dan kurasakan sihirnya mulai melemah, jadi kuputuskan untuk mencoba melawan sihir pengikat ini.


Tidak disangka, penghalang itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Ini sudah jelas menandakan matinya sang pemilik sihir. Dengan segera aku berusaha keluar dari tempat itu.


Dan yang menungguku di luar sungguh sangat tidak terbayangkan olehku. Api di mana-mana, banyak mayat terkapar begitu saja. Anak-anak menagisi kepergian orang tuanya, dan tidak ada satupun bangunan yang selamat di sana.


Tapi melihat keadaan anak-anak itu membuka kembali instingku sebagai seorang ayah. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang sudah terjadi, segera kuselamatkan bocah-bocah yang masih bertahan hidup.


Totalnya ada empat laki-laki, dua perempuan dan tiga balita. Dengan perlindungan sihirku, kami menyusuri hutan menuju gunung keramat itu. Meninggalkan para penduduk desa yang tidak terselamatkan lagi.


Sepanjang jalan semuanya terlihat menakutkan. Benar-benar pemandangan yang mengerikan, tidak ada satu pun tempat yang luput dari bencacna itu. Kecuali gunung yang terlihat bersinar dari kejauhan.

__ADS_1


Setibanya kami, aku segera menuju sumber cahaya itu, meninggalkan anak-anak di tempat yang aman.


Dan yang menungguku di sana adalah pria yang pernah menolong kamu dulu, sedang terkapar.


Kemudian aku melihat tumpukan tubuh rekan-rekanku yang sudah mulai membusuk berada di atas altar itu. Seorang bocah yang terlihat sangat muda sedang berdiri di atas mayat teman-temannya.


Bocah itu menggunakan gelang yang kami temukan di tangan kirinya. dan sebuah pedang besar di tangan kanannya.


Matanya terpejam seperti seseorang yang sedang tertidur, rambutnya putih dan kulitnya juga sangat putih. Selang beberapa saat dia mulai membuka matanya.


Tekanan kekuatan sihir langsung terasa sangat kuat. Bahkan jauh lebih kuat dari pada sepuluh belut sihir yang ditemuinya dulu.


Warnanya sungguh sangat indah, berwarna biru seperti langit di ibu kota. Matanya berkilau seperti kerlipan bintang-bintang di angkasa.


"Jadi kau yang sudah membangunkanku..." Ucap bocah itu sambil menatapku.


"Sepertinya ada sedikit kesalah pahaman, aku baru saja sampai kemari. Lihatlah apa yang kau injak, itu adalah mayat teman-temanku. Aku datang ke sini karena mereka"


"Yang melakukannya adalah orang ini"


Jawabku sambil menunjuk pria itu dengan ketakutan.


Meski masih sedikit sadar, tapi pria itu tidak bisa berkata apa-apa. Suaranya tidak bisa keluar dari mulutnya, dan dia hanya bisa menengadah ke atas. Melihat ke arah bocah itu.


Bocah itu kemudian memenggal kepala pria iyang sedang terkapar di depanku. Hanya dengan sekali lemparan pedangnya, dia bisa memutus kepala nya dengan mudah.


"Baguslah kalau bukan kamu yang membangunkanku. Jadi aku tidak perlu membunuhmu juga" Ucap bocah itu melompat mengambil kembali pedangnya.


Dia kemudian pergi meninggalkanku dan menghilang begitu saja. Tekanan yang kurasakan sebelumnya juga sudah ikut menghilang.


Segera setelah itu aku menguburkan teman-temanku dan pria itu dengan layak sambil diperhatikan oleh anak-anak ini.


Akhirnya kami tinggal di gunung ini sambil terus bersembunyi dari pasukan iblis. Karena sumber perlindungan kami (gelang) sudah dibawa pergi oleh bocah itu.

__ADS_1


Dan di sini lah aku, mengakhiri cerita ekspedisiku ke tanah kematian. Kini aku lebih memilih merawat mereka yang telah kehilangan orang tuanya, kerabatnya dan bahkan saudaranya sendiri.


Ayah tahu ayah tidak bisa kembali bersamamu lagi Eilen, setidaknya inilah yang terbaik yang bisa ayah lakukan sebagai penebusan. Semoga kamu tidak membenci ayahmu ini.


__ADS_2