
Kerajaan Latish adalah satu dari empat kerajaan besar yang berada di dataran Pseudian. Bersama tiga kerajaan lainnya yaitu Tressil, Dimantra, Yeon Pyong dan kerajaan kecil lain mereka menjalin perjanjian perdamaian selama ratusan tahun silam.
Ini semua bermula sekitar 600 tahun lalu, ketika perang besar antara manusia mulai mereda dikarenakan sebuah peristiwa besar-besaran.
Secara tiba-tiba monster yang disebut sebagai iblis mulai muncul dan mengikis keberadaan manusia. Semakin lama monster-monster ini semakin berkembang hingga menaklukkan daratan biru di daratan tenggara, yang setelahya dikenal dengan Tanah Kematian.
Monster iblis semakin banyak bermunculan di seluruh penjuru dunia, mulai dari Kekaisaran Wali yang jauh di Utara hingga Daratan Hitam yang berada di ujung Selatan.
Situasi ini mendesak manusia untuk saling berdamai dan menjadikan sesamanya sekutu. Era ini dikenal dengan era bangkitnya manusia, dimana banyak penyihir-penyihir hebat mengukirkan namanya untuk membasmi mimpi buruk bagi umat manusia.
Namun disayangkan keadaan ini tak kunjung membaik dan banyak wilayah yang berubah menjadi Tanah Kematian. Dengan keadaan yang semakin membuat manusia putus asa, seorang Kaisar dari Pangejah bersama pasukan kesatria sihirnya tetap maju dan untuk pertama kalinya berhasil memukul mundur pasukan iblis ini.
Dia bernama Arka nim Lebricce atau lebih dikenal dengan Kaisar Ark. Bersama tangan kanannya yang tidak kalah hebat, panglima sihir Neo Fedule telah menjadi sorotan dunia.
Pada masa keemasan sang Kaisar dia dikenal sebagai penyihir terhebat sepanjang masa. Di akhir masa hidupnya dia meminta seluruh penguasa dunia untuk berkumpul.
kemudian sang kaisar menyampaikan pesan terakhirnya pada semua yang hadir untuk membuka matanya masing-masing.
"Musibah ini bukanlah suatu nasib bagi semua ras yang hidup di dunia ini. Ini adalah hasil perbuatan dari anak manusia yang berhati busuk, yang sekarang keturunannya ada pada kalian... " Dengan sisa hembusan nafasnya dia melafalkan sihir yang kemudian menghancurkan tubuhnya menjadi debu yang berterbangan di ruangan itu.
Mendengar itu para pemimpin saling menaruh curiga diantara mereka.
Dengan suasana yang tidak nyaman ini berbagai kerajaan besar saling menuduh untuk mendapat keuntungan ataupun sekedar untuk menjatuhkan kerajaan yang tidak disukai.
Sementara yang lain memilih untuk tidak berpendapat dan terus berjuang di garis depan melawan pasukan iblis.
Anak sulung sang kaisar, kemudian membacakan wasiatnya pada saudara-saudarinya. Hanya di antara mereka saja wasiat kaisar dibacakan dan tidak ada lagi yang mengetahuinya.
Wasiat itu menyebutkan cara untuk memanggil para pahlawan, seperti pada cerita kuno saat pahlawan mengalahkan An Kra (Raksasa Jahat).
Terjadi perdebatan tentang wasiat itu yang kemudian memaksa keturunan yang tidak menyetujuinya untuk memisahkan diri dari Pangejah. Yang kemudian menjadi empat kerajaan yang sama kuatnya (Kerajaan besar di daratan Pseudian).
Walaupun berbeda pendapat namun keempat keturunan kaisar tetap akur dan menghargai satu sama lain. Latish dulunya merupakan tempat berdirinya ibu kota Pangejah yaitu Heiden, rajanya adalah keturunan langsung dari anak sulung sang kaisar. Dan masih terus berusaha menafsirkan cara pemanggilan pahlawan meskipun telah berabad-abad.
Telah banyak bangsawan, penyihir terkenal dan juga pertapa yang berusaha menafsirkan sihir kuno ini namun tidak ada hasilnya.
Mereka beranggapan sihir ini terlalu sulit dan membutuhkan penalaran tingkat tertinggi untuk merapalkannya.
Raja Yeon Pyong generasi ketiga, Arcest Dall Lubias bahkan menganggap bahwa sihir pemanggilan itu adalah sihir yang mengada-ada dan hanya sebatas karangan saja.
Walaupun demikian dia bersedia membantu apapun yang dibutuhkan kerajaan Latish sebisa mereka untuk melakukan ritual tersebut.
Saat ini di kediaman Duke, Deriess, Bagian Selatan ibu kota Latish
Penguasa wilayahnya adalah keponakan raja Latish terdahulu yaitu bangsawan Lebrisstan, Duke Ark Naum Kent Lebrisstan atau yang sebelumnya disebut Kent Lebb.
"Oleh karena itu kami memanggil para pahlawan muda untuk membantu permasalahan dunia ini" Ucap Duke Kent mengakhiri penjelasannya.
"Maaf sebelumnya Tuan Kent, tapi masih ada yang ingin saya tanyakan. Kenapa bukan sang raja sendiri yang memanggil kami?" tanya Aril siswi berparas manis yang biasanya selalu aktif di kelas.
__ADS_1
"Setelah memahami teknik sihir pemanggilan ini, sang raja segera melakukannya. namun sayang, pemanggilannya tidak berjalan lancar dan menghasilkan kegagalan. Oleh karena itu raja yang baru memerintahkan untuk setiap daerah melakukan pemanggilan pahlawan masing-masing" sang Duke menjawab.
"Pahlawan muda akan terlebih dulu dibimbing sebelum menghadapi pasukan iblis. Supaya pahlawan siap dan diharapkan memiliki wawasan tinggi terhadap sihir, karena kalian adalah harapan terakhir umat dunia ini"
Imbuh Duke Kent yang kemudian memerintahkan seseorang menghadapnya. Lelaki yang baru saja muncul ini membawa semacam bola sihir dan mengenakan penutup sebelah mata. Dan entah mengapa perasaan Dimas mulai cemas lagi.
Dimas kemudian menoleh ke arah Dea dan berbisik "Ini yang aku khawatirkan... Rasanya sama kayak pas mau dipanggil"
"Apaan sih dim?" Balas Dea masih bingung melihat tingkah Dimas yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Sebelumnya, bakat kalian akan diukur oleh Arie. Dia adalah salah satu penyihir yang berbakat di sini. Silahkan pahlawan muda untuk berbaris terlebih dahulu" Ucap Duke Kent sambil memerintahkan laki-laki itu menuju ke arah kita.
"Memangnya kenapa kita harus membantu kalian melawan monster itu?" Arya kembali bertanya namun kali ini dengan rasa kesal.
Sang Duke hanya terdiam sejenak. Sesaat sebelum sang Duke mengucap tiba-tiba Dimas menyela:
"Yah setidaknya ada bebera hal yang dapat disimpulkan. Pertama, sihir pemanggilan itu sihir yang sangat susah dan dapat diasumsikan kalau kalian belum atau tidak punya sihir untuk mengembalikan kami."
"Kedua Saya tidak tau apa yang terjadi, namun melihat keadaan di sini yang sangat santai bisa mengindikasikan bahwa pasukan monster iblis tidak lagi menyerang secara besar-besaran."
"Dan yang terakhir... sepertinya tidak jadi" Dimas melihat ekspresi wajah Duke yang terdiam.
"......"
Duke semakin terdiam, dan seisi ruangan menjadi sunyi.
Tak lama setelah itu para siswa kelas B menerima pemeriksaan sihir, bahkan mereka mulai pasrah menerima kenyataan. Pemeriksaan sihir meliputi level sihir seseorang (di dunia ini manusia memiliki level), Status masing-masing dan tingkatan Skill yang dimiliki.
Status meliputi 5 hal yaitu:
Kekuatan (Str)
Kecerdasan (Int)
Kelincahan (Agi)
Daya tahan (Vit)
Ketangkasan (Dex)
Dan untuk Skill dikelompokkan berdasarkan kelangkaannya mulai dari Kelas F hingga Kelas A. Skill di atas Kelas A dianggap sebagai Skill yang luar biasa langka.
Saat seseorang naik level dia akan mendapat lima poin yang dapat dialokasikan ke status yang diinginkan.
dan untuk menaikkan Kelas suatu Skill harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Sebagai tambahan, para pahlawan yang dipanggil masing-masing mendapat bonus 20 poin status yang bisa digunakan.
Di kelas B, Ryan mempunyai status tertinggi dengan detailnya:
STR :30
__ADS_1
INT :20
AGI :8
VIT :12
DEX :30
Total: 100
Sementara untuk Kelangkaan Skill dimiliki oleh Arya dengan Skill Kelas C+ dan sisanya kelas C dan beberapa Kelas D.
...
Tibalah giliran Dimas diukur sihirnya. Arie nampak keheranan dengan hasilnya.
...
"Nak, siapa namamu?" Tanya Duke menatap ke arah Dimas.
"Sudah kuduga akan jadi begini..." Dimas berbisik dalam hatinya.
"Namaku? Namaku Jin" Semua siswa saling menatap untuk sesaat.
(mulai sekarang nama yang digunakan Jin)
----------------------------------------
Status saat ini:
STR : 1
INT : 0
AGI : 0
VIT : 0
DEX : 0
Total: 1
*Poin tersedia: ??
Skill:
???
----------------------------------------
__ADS_1