
Setelah selesai menguji sihirnya, akhirnya Jin memutuskan untuk kembali bersama-sama ke kediaman duke. Mereka melewati jalan memutar karena Naura tidak ingin ada yang mengenalinya.
Pintu gerbang kediaman duke
Terlihat Izo bersiap-siap menuju ibu kota bersama kakaknya, Tristan. Dari jauh terlihat tiga orang sedang berjalan ke arah mereka.
"Eh, bukankah itu kak Naura? Kenapa dia bareng sama Jin?" Kata Izo memberitahu Tristan.
Tristan tampak tidak memperdulikannya. Dia masih melanjutkan persiapan keberangkatannya.
"Fiuh, akhirnya sampai juga.. aku harap tidak ada yang mengenaliku"
"Kak, dari mana? kok bareng sama Jin" Izo seakan mencoba menginterogasinya.
"Kami tidak sengaja bertemu di tempat perdagangan"
Bisa dibilang dia tidak berbohong saat mengatakannya. Karena dia memang melihat Jin, dan mulai mengikutinya dari tempat perdagangan.
"Naura... Kenapa kau bersama pecundang itu. Aku dengar selain statusnya yang terlalu lemah, dia juga tidak pernah datang pelatihan. Aku rasa dia adalah sebuah kegagalan bagi kita"
Walaupun merasa dihina, Jin tidak menunjukkan kekesalannya. Dia hanya berbisik pada Lin yang tepat di sebelahnya "Bolehkah aku memukulnya sekali saja?" Dia membuat Lin agak terkejut.
"Sebaiknya kau urungkan saja niatmu, kalau sampai membuat kegaduhan bisa-bisa kau akan dapat banyak musuh di masa depan"
"Baiklah... ga jadi kalau gitu"
Di tengah-tengah mereka berdiskusi, Naura kemudian menjawab kakaknya dengan sedikit kesal.
"Kakak pikir dia datang ke sini karena dia ingin? Bukannya kita yang seenaknya memanggilnya? Kenapa sekarang ingin membuangnya? Sungguh tidak bertanggung jawab"
(Sebenarnya Jin memang ingin pergi ke dunia lain)
Mereka berdua saling berhadapan, namun sepertinya Tristan tidak bisa membalas kata-kata adiknya itu.
"Kek kau yakin ga mau ngelerai?" Jin bertanya sambil terus jalan melewati Izo.
"Dasar bodoh, saat tuan rumah bertengkar para pelayan hanya akan membersihkan kekacauan mereka" Lin menjawabnya sambil tersenyum.
"Kok aku dikacangin, hei Jin!" Izo memanggil Jin yang telah melewatinya begitu saja.
"Kau kenal dia kek?"
"Hm.. Seingatku generasi ke-enam lahir setelah orang tua ini pensiun"
"Kalau gitu kita duluan ya Naura..." Jin melambaikan tangan ke arah Naura lalu pergi meninggalkan pintu gerbang.
Perpustakaan
Alasan Jin dapat memahami sihir dengan sangat cepat adalah karena hobinya yang suka membaca komik maupun novel fantasi bertema sihir.
Jadi baginya tidak terlalu sulit untuk memahaminya walau dengan status int: 0 poin. (Sekarang sudah menjadi 10 poin)
Namun setelah empat hari Jin mulai bosan juga pada akhirnya. Walaupun mudah untuk mencerna tentang teori sihir, namun mempelajari hal lain sangat menyusahkan baginya. Seperti sejarah (Terlalu banyak kerajaan), Geografis (Terlalu rumit) dan lainnya.
Dia sudah mengelilingi perpustakaan selama satu jam untuk mencari satu buku. Buku yang bisa menarik perhatiannya. Buku yang memberikannya informasi baru untuk dicerna.
Tanpa diduga terdengar suara seseorang berbicara kepadanya:
"Hm... Apa ini? Kenapa ada yang bisa hidup seperti ini? Kau sungguh malang nak"
"Suara siapa itu?"
"Kemarilah. Akan kuberikan padamu kesempatan untuk merubah takdirmu!"
"Apa aku diikuti lagi? Sepertinya aku butuh poin lebih banyak lagi"
"... Sepertinya bocah ini kurang pintar..."
"Di mana kau? Keluar sekarang, aku tidak ada waktu main petak umpet"
"Diriku ada di rak sebelah kananmu. Baris nomor dua"
"..." (Jin melihat tumpukan buku)
"Aku berada dalam buku! Warna putih!!"
Dalam hatinya Jin bertanya-tanya apakah buku juga bisa bicara di dunia ini. Tapi karena penasaran akhirnya dia mengambil buku itu. Saat dia membuka halaman pertama, tiba-tiba saja dia terhisap masuk ke dalam buku.
Dia seperti dipindahkan ke ruangan lain dalam sekejap mata. Tidak ada apapun di sana, hanya ruangan berwarna putih yang tak berujung.
Selama beberapa saat dia mencoba mencari pintu keluar, namun sejauh mata memandang tidak ada apapun di sana.
"Di mana ini sebenarnya? Apa aku dikirim ke dunia lain lagi?"
Kemudian muncul seorang lelaki berambut perak di depannya.Walaupun terlihat sederhana, tapi pakaian yang dikenakannya sangat indah.
Dia melayang rendah memberikan jarak telapak kakinya dengan lantai ruangan ini.
Tekanan yang diberikan oleh kehadiran orang ini, jauh di atas Lin. Bahkan sangat jauh, Bagai langit dan bumi. Jin tidak pernah membayangkan ada orang sekuat ini sebelumnya.
__ADS_1
"Jadi tuan yang memanggil saya? Kalau boleh tahu siapa sebenarnya tuan ini?" Jin bertanya dengan sopan karena rasa takutnya.
"HA HA HA HA... HA HA HA HA"
"Sudah lama sekali diriku menantikan orang-orang panggilan seperti kalian"
"Diriku akan langsung saja terus terang padamu. Namaku adalah An Rha"
"Buku ini telah membelengguku jauh di masa lalu"
"Diriku ini dahulu adalah pencipta dari An Kra, yang disebut sebagai raksasa jahat dalam cerita dongeng kalian"
"Kelompok yang kalian panggil pahlawan, telah menjebakku dan mengurung diriku yang hebat ini di dalam buku. Diriku selalu mencari cara untuk bebas, namun seperti yang kau lihat aku masih di sini"
"Buku ini dirancang untuk tidak pernah bisa dihancurkan. Satu-satunya yang bisa melakukannya hanyalah keturunan mereka. Yang tidak lain adalah dirimu"
Jin langsung merasa sangat ketakutan dengan hanya kehadiran laki-laki yang ada di depannnya. Dia bahkan tidak berani melihat wajahnya.
"Jadi apa yang harus saya lakukan untuk membebaskan tuan dari sini?"
An Rha terlihat marah mendengar jawabannya.
"Sepertinya kau salah mengenai situasi ini, diriku bukan sedang memohon padamu"
"Pada tingkatanmu saat ini, bahkan dirimu tidak akan mampu menggores seujung jari pun sihir ini. Dirimu masih terlalu lemah. Bahkan mungkin kau adalah salah satu penyihir terburuk yang pernah diriku jumpai"
"Apa yang diriku maksud adalah memberikan padamu kekuatan yang cukup kuat untuk membalikkan takdirmu. Setelah itu baru dirimu di masa depan bisa membebaskan diriku ini dari belenggu"
"Apakah tidak masalah? Maksudku mungkin saja aku akan mengingkari anda setelah menjadi kuat"
Untuk sesaat An Rha terdiam dan menghapus raut marahnya.
"Kalau dirimu menerima kekuatan ini, cepat atau lambat dirimu pasti akan membebaskanku"
"Jika dirimu bisa hidup cukup lama sampai pada akhirnya mengetahui kebusukan dunia ini"
"Renungkanlah dulu tawaranku, dan kembalilah ketika dirimu sudah siap"
"Diriku ini akan selalu menunggu di sini"
.
.
.
Perpustakaan
"Nak, kau tak perlu khawatir, dulu aku dikenal dengan pengendali waktu. Bagiku waktu hanyalah fana, dan dapat kumanipulasi sesukaku"
Pada akhirnya Jin memutuskan untuk membawa buku itu bersamanya. Hingga malam tiba, Jin masih tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia alami. Pikirannya masih sangat kacau.
Ruang perjamuan duke
"Ah akhirnya makan malam! inilah yang aku tunggu-tunggu" Bimo berseru setelah lelah berlatih.
"Kenapa lu ga makan?" Tanya Dea menghampiri Jin yang berada di depan ruang perjamuan.
"Kenapa kalian masih ikut pelatihan? Apa kalian mau ngelawan iblis kayak yang mereka suruh?"
"Kayaknya sih di kelas kita ga ada yang mau deh. Alasan kita tetep latihan biar kita bisa bertahan hidup di sini"
"Setidaknya itu lebih baik dari pada ga ngapa-ngapain sih"
"Nyindir nih ceritanya?"
"Engga kok, cuma keceplosan aja. hihihi" Balas Dea bercanda.
Tak lama kemudian Ryan memanggilnya, "Jin, sini deh!"
Dia pun segera menghampiri Ryan bersama dengan Dea.
"Kenapa Yan?"
"Kamu kan lagi ga ngapa-ngapain, bisa tolong mintain minuman lagi ke dapur?"
"Kita pada suka soalnya" Ucap Ryan sambil terlihat angkuh.
"Gimana maksudnya Yan?"
"Katanya kan kamu tiap hari keliling sini, jadi tau dapurnya dong. Nah ambilin minuman buat kita gih, buat delapan orang ya"
"Eh ada yang mau lagi ga? biar sekalian diambilin nih."
.
.
.
__ADS_1
"Jadinya sepuluh ya Jin, buruan gih"
Walaupun kesal tapi Jin tetap mencoba menahan emosinya, karena dia tidak suka membuat keributan. Apa lagi dengan status teman-temannya yang sudah meningkat pesat, dia ada di posisi yang tidak menguntungkan.
Dibantu Dea mereka berdua pergi untuk mengambilkan minuman segera. Dalam perjalanan Dea nampak lebih kesal dari Jin.
"Duh kenapa sih Ryan jadi kaya bos gitu gayanya. Bikin ga mood aja"
"Udah biarin aja, orang bukan lu juga yang diserang" Jin menjawab untuk mencairkan suasana.
"Justru kalo lu ga bales, ntar dia makin ngelunjak lo"
.
.
.
"Nih udah dateng, siapa tadi yang pesen? Ambil sendiri deh" Ujar Dea terlihat jutek.
"Yang bener aja Jin? Udah cuman jadi beban, ambil minum aja harus dibantu cewek juga?" Ejek Ryan menyindir Jin.
Jin perlahan mulai kehilangan kesabarannya, namun tetap mencoba menahan diri sebisa mungkin tidak menimbulkan kekacauan, seperti yang dibilang Lin.
"Ngaca dong lu Yan! Emang lu ga beban?" Elyas mulai tidak tahan melihat perlakuan Ryan.
"Ha? Beban? Ga salah denger nih, aku kan yang punya status terkuat"
"Walaupun lu kuat, tapi lu cuma make itu buat diri sendiri. Ga ada pengaruhnya buat kelompok. Ngaca dong"
Karena situasi semakin menegang dan banyak yang mulai ikut-ikutan, akhirnya duke meminta mereka untuk kembali ke kamar masing-masing.
Diharapkan mereka bisa menenangkan diri dan menjadi lebih dewasa. Karena mereka akan menjadi orang yang membawa masa depan dunia di pundaknya.
Hari ke-5
Perpustakaan
"Rencana ini luar biasa pak tua. Sudah kuduga kau bukan orang sembarangan sampai bisa memikirkan ini"
"Sudahlah, lagi pula nona juga memintaku untuk membantumu. Kalau bisa kau cukup memanggilku Lin saja. Tidak enak dipanggi kakek tua, Hoho"
"Paman, terima kasih banyak sudah mau membantu Jin" Naura nampak senang mendengar rencana Lin.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tau aku ada di sini? Bukannya kami ga ngasih tau ya?"
"Ini kan rumahku, gampang saja kalau sekedar nyari kalian ada di mana"
Karena masih kepikiran dengan penghinaan semalam dia pun mulai membulatkan tekat. Dia bahkan menganggap serius tawaran orang dalam buku itu.
"Oke deh, kalau gitu sepertinya aku harus pergi dulu ya ada hal yang sangat penting soalnya" Ucap Jin sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
.
.
.
"Kau kemari lebih cepat dari dugaanku. Sepertinya kau sudah membulatkan tekat untuk ini"
"Tapi sebelum dimulai, statusmu harus direset dulu"
[RESET STATUS] ???? (Skill diaktifkan)
"Ha? reset status?"
Jin punya firasat buruk soal ini.
----------------------------------------
Status saat ini:
STR : 0
INT : 0
AGI : 0
VIT : 0
DEX : 0
Total: 0
*Poin tersedia: 21
Skill:
[Counter] F
__ADS_1
----------------------------------------