
Tibalah giliran Dimas untuk melakukan pengukuran sihir. Namun Arie nampak keheranan dengan hasilnya.
.
.
.
"Namaku? Namaku Jin" Seketika semua siswa saling menatap untuk sesaat.
"Dim, kenapa lu bilang Jin? Lu makhluk ghoib?" Tanya Bimo berbisik.
"Biarin aja napa sih" jawabnya singkat.
Status yang dimiliki Jin
STR : 1
INT : 0
AGI : 0
VIT : 0
DEX : 0
Total: 1
"Eh kok bisa parah kayak gitu? aku aja totalnya 30 lebih" Ujar Erina, cewek centil yang dikenal suka nyari musuh di sekolah.
"Bagaimana dengan Skillnya Arie?" Tanya Duke yang masih heran.
Wajar saja seisi ruang dipenuhi dengan rasa keheranan, karena di dunia ini bayi yang baru lahir pun total poin nya lebih dari 5 poin.
"Ini sangat mengejutkan tuan Kent. Anak ini hanya memiliki satu Skill saja" Kata Arie sambil mengernyitkan dahi.
"Satu? Kalau begitu Kelasnya pasti tinggi, Kelas apa? Kelas B atau Kelas A? atau malah Kelas S?" Duke bertanya untuk menenangkan diri.
"...."
"Skill Kelas F: Counter" jawabnya takut.
[Counter] F
Deskripsi:
{ Mengembalikan 0.5% serangan musuh}
"....."
Duke Kent dan Arie saling bertatapan kemudian Duke berkata "Ehem.. Baiklah para pahlawan muda semuanya, Karena malam telah tiba silahkan untuk makan malam dan beristirahat terlebih dahulu. Kita lanjutkan besok pagi untuk pelatihannya"
Jin merupakan nama salah satu dari enam pahlawan dalam cerita kuno yang menaklukkan An Kra. Namun jika di dalam cerita Jin dikenal sebagai pemilik status sihir tertinggi, kini pahlawan baru yang muncul justru hanya memiliki status sihir terendah yang pernah ada.
Jin dia dapat dari nama yang tertulis di emblem yang berada di dalam saku celananya.
"Perasaan aku gak ngantongin barang kayak gini.. yang kucari kan hp ku, kok ga ada ya?" Batinnya dalam hati.
Kemudian makan malam bersama keluarga Duke pun tiba. Selain banyak tamu undangan yang hadir, menu makanannya pun terlihat sangat mahal.
"Ah perkenalkan aku Ark Naum Izo Lebrisstan, panggil saja Izo Lebb. Aku putra kedua dari Duke yang di situ" ucap seorang pemuda yang duduk di sebelah kanan Jin yang menunjuk ayahnya.
"Namamu juga disingkat Lebb? memangnya ada arti khusus ya?" Tanya Arya yang ada di sebelah kiri Jin.
"Oh itu karena Lebrisstan adalah nama salah satu keturunan raja, dan ayah bilang dia merasa tidak pantas untuk menyandangnya"
"Temanmu sendiri memiliki nama yang unik. Apa kamu tau arti dari nama Jin di tempat ini? hii"
Sahut Izo sambil menggoda Jin.
"Kenapa gak duduk di sebelah sana? bukannya keluarga Duke ada di sana?" Tanya Jin sembari menyantap makanan dengan lahap.
"Pengen ngobrol aja sih" Izo menjawab sambil meminum teh nya.
"Kenapa ada kursi yang kosong di samping Ayahmu?" Jin bertanya sambil menunjuk sebuah kursi.
"Kakakku itu cewek yang suka menyendiri. Dia gak suka bertemu orang banyak, apa lagi yang belum kenal" Izo menjawab sambil mengusap mulutnya dan meletakkan sendoknya menandakan selesai makan.
"Kok makanmu dikit? harusnya kalau makan itu sampai habis" Kata Jin melihat piring Izo yang masih tersisa banyak makanan.
"Kalau aku tidak berhenti makan, aku bisa seperti kamu" Izo menyindir Jin yang berperawakan agak tambun.
...
Setelah selesai makan malam para pahlawan dibimbing menuju kamarnya masing-masing. Ruang laki-laki dan perempuan terpisah dan berseberangan. Tersedia dua belas kamar yang masing-masing kamarnya muat untuk dua orang.
.
__ADS_1
.
.
"Ayah, kak Izo pergi ke arah kamar pahlawan"
"Jangan diurusi Nira, dia tadi kan punya teman baru"
.
.
.
"Eh kok Dimas ga ada sih?" Bimo baru sadar ada orang yang kurang.
"Pssst... Jangan keras-keras kan namanya udah ganti jadi Jin. Lu gimana sih, nanti bisa jadi masalah kalo ada yang tau" Sahut Diyan sambil melihat sekitar.
Dari kejauhan nampak seseorang mendengarkan.
"Oh nama aslinya Dimas..." Batin Izo yang sedang mengikuti mereka.
Sebuah Taman di kediaman Duke Kent
Nampak seorang perempuan yang cantik nan anggun duduk di kursi taman dekat air mancur sambil melamun melihat rembulan.
"Siapa di sana? cepat keluar!" Serunya sembari tetap melihat bulan yang bersinar terang.
"Ah aku pasti tersesat, aku sebenarnya mau kembali ke kamarku setelah dari toilet. Tetapi teman-temanku sudah pergi duluan. Saking luasnya aku sampai tidak tau jalan ke kamarku" Sahut Jin dengan suara sedikit memaksa.
.
.
.
"Kita sudah sampai di kamar untuk perempuan. masing-masing kamar bisa ditempati dua orang. untuk kamar laki-laki letaknya ada di seberang. Jangan lupa instirahat. Semoga tidur kalian menyenangkan"
"Besok pagi tuan sekalian bisa langsung menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Setah itu pelatihan dijadwalkan setelah sarapan, Terima kasih" Nona pelayan selesai menjelaskan kemudian pergi meninggalkan kelompok itu.
.
.
.
Sebuah Taman di kediaman Duke Kent
"Silahkan duduk tuan Jin. Perkenalkan namaku Ark Naum Naura Lebrisstan. Panggil saja Naura, anak kedua dari Duke Kent sekaligus puteri pertamanya"
"Apa anda tau, anda tidak mempunyai bakat untuk berbohong. jelas-jelas anda sengaja mencariku. Ada keperluan apa tuan Jin?"
"Ah memang terlalu kelihatan ya? Izo bilang kakaknya suka menyendiri jadinya penasaran saja" Jin menjawab asal-asalan.
"Kenapa harus basa-basi? anggap saja aku temanmu Jin"
Mendengar itu Jin pun mengutarakan maksudnya sebenarnya menemui Naura.
"Jadi kamu ingin tau siapa saja yang hadir saat pemanggilan kalian tadi?"
"Biar kuingat dulu, ada Ayah, Kak Tristan, Tuan Kyoss (Pemimpin pasukan Duke) dan beberapa pasukan elitnya. "
"Ada juga Arie yang memeriksa tingkatan sihir kalian, terus beberapa penasihat ayah..."
"Ada juga tiga pedagang besar dari wilayah ini, kemudian para alkemis tingkat tinggi, dan sisanya penyihir yang memanggil kalian"
...
...
...
"Ah aku juga ada"
Karena terlalu cepat, Jin tidak bisa mengingat semuanya.
Dia pun kemudian meminta penjelasan tentang kondisi dunia saat ini, tapi walaupun begitu pada akhirnya sebagian besar tidak bisa dia ingat karena penjelasan Naura yang terlalu kompleks.
"Kalau begitu terima kasih banyak Naura, Aku mau kembali ke kamar dulu. Selamat malam"
"Kenapa aku jadi susah mikir ya? apa ada hubungannya sama status sihirku? sial cuma ada satu poin" Bisiknya dalam hati.
"Eh tunggu dulu Jin! memangnya kamu tau arahnya?"
"......." (Jin)
.
__ADS_1
.
.
"......." (Naura)
"Ah benar juga. bisa minta tolong antarkan?"
"........" (Naura dan Jin)
Naura hanya diam dan kemudian berdiri mengantar Jin.
.
.
.
Di perjalanan menuju kamar pelatihan
"Izo, kenapa kamu habis dari arah asrama pelatihan?"
"...Iya kak, tadi aku ngobrol dulu sama mereka. Kakak sendiri kenapa sama Jin?"
"Aku tadi tersesat, untung kakakmu nemuin aku, jadinya sekarang lagi nganterin ke asrama"
"Pembohong, taman edin kan jauh dari ruang makan. Masa gak ketemu penjaga satu pun?" Ujar Izo dalam hati.
"Biar aku saja yang antar kak, Kakak balik aja"
"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya Jin. Bye~" Naura tersenyum manis kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Kakakmu boleh juga ya..."
"Ngomong apa barusan?"
"Enggak, ga ngomong apa-apa. Kalau cuman lurus aku bisa sendiri kok ga usah dianter, Izo. Duluan ya~"
.
.
.
"Kok masih di luar Yas?" Tanya Jin menghampiri Elyas di depan kamar.
"Nunggu lu lah... lama bener" ucap Elyas. Dia ini siswa yang pendiam dan punya sifat yang cocok dengan Jin.
"Tadi Izo juga ke sini?"
"Enggak, ngapain dia ikut ke sini? Yang lebih penting lagi, lu dari mana?"
"Ada deh.."
kelas B pun melewati hari pertama tanpa pernah membayangkan hari-hari yang berat menanti mereka.
Suatu tempat di Yeon Pyong
"Aku menyerah!! Sudah ga kuat lagi aku" Teriak seorang pemuda yang nampak putus asa.
"Ketua kelas, sepertinya Adit sudah pulang" Cetus seorang anak dari kelas C.
"Bagaimana penyelidikannya?" Tanya cowok yang terlihat seperti berandalan.
"Kelas B besok mulai mengikuti pelatihan"
"Sementara kelas D sudah menyelesaikan pelatihan tiga hari yang lalu, Ketua"
----------------------------------------
Status saat ini:
STR : 1
INT : 0
AGI : 0
VIT : 0
DEX : 0
Total: 1
*Poin tersedia: 20
Skill:
__ADS_1
[Counter] F
----------------------------------------