Puncak Dunia Sihir

Puncak Dunia Sihir
Chloe Lilian


__ADS_3

Tiba juga hari di mana kelompok Jean sampai di Dormtortel. Jean tidak lupa memberi banyak tip untuk orang-orang yang sudah mengantarnya.


"Wuhu.. Akhirnya sampai. Tempat ini bahkan lebih ramai dari setahun yang lalu!" Ucap Eilen sambil memakan jajanannya.


Setelah sampai mereka memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat karena semuanya terlihat sangat menarik. Wajar saja karena Tressil terkenal dengan kota perdagangannya dengan berbagai negara di luar Pseudian.


Ini karena selain tempatnya yang dekat laut menjadikannya sangat strategis tapi juga pengelolaan yang baik membuat para pelancong betah mengunjungi ibu kota. Bahkan peraturannya juga tidak terlalu ketat sehingga memberikan rasa nyaman bagi para pedagang maupun pengunjung dari tempat lain.


"Ah itu dia! Kastil itu sepertinya punya halaman yang luas. Han, ini ambillah. Aku ingin kau mengurusnya, sisanya terserah mau kau apakan" Kata Jean memberi cincin ruang pada Han. Cincin ini bukan sembarang cincin karena bisa memuat berbagai barang di dalamnya. Tentu saja Jean menggunakannya untuk menaruh koin emas.


"Baiklah, tapi kau sendiri mau ke mana?" Tanya Han sambil menyuruh Eilen mengikuti Jean.


"Ada deh... Ayo Eilen, ada tempat yang ingin aku tuju"


Setelah selesai membujuk pemilik kastil sisa uangnya masih sangat banyak. Jadi Han memutuskan untuk membeli benda-benda aneh yang belum pernah dilihatnya.


"Benda apa ini? Sungguh tidak bisa ditebak" Katanya dalam hati sambil memegangi benda itu.


"Tuan, itu adalah Kondis. Semacam alat pendingin mini. Di dalamnya ada kristal sihir es yang dialirkan keluar untuk memberikan kesejukan saat udara sedang panas-panasnya. Hanya dengan mengalirkan sedikit mana anda, sudah cukup untuk mengdinginkan tubuh anda"


"Suhunya dapat diatur dengan intensitas mana yang anda alirkan. Semakin banyak semakin dingin. Tapi harganya sedikit mahal tentu saja karena banyak yang menginginkannya. Terutama para bangsawan" Penjual itu memberi tahu Han tentang alat yang sedang dipegangnya.


"Berapa?"


"Delapan puluh ribu koin emas itu sudah yang paling murah tuan"


"Ini dua ratus ribu, aku beli dua. Sisanya ambil saja" Katanya sambil memberikan uang itu.


Setelah itu dia terus berkeliling tempat itu hanya untuk menghabiskan uang yang masih tersisa. Akhirnya semua uang itu sudah berubah menjadi peralatan yang bahkan Han tidak ingat namanya. Semuanya disimpan di dalam cincin pemberian Jean.


Di tempat lain


"Kita mau ke mana sebenarnya Jean?" Tanya Eilen penasaran.


"Ah, aku sedang mencari budak"


"Apa aku tidak salah dengar?! Kenapa kau menginginkan budak" Eilen tampak kecewa dengan Jean.


"Ayolah, semua budak dari cerita komik yang kubaca itu selalu luar biasa. Mulai dari Morgiana, Duan Jian, Raphtalia, Efil, Roxanne dan masih banyak lagi. Pokoknya kalau bisa bertualang aku pengen punya rekan dari budak. Hehe" Jean memborong beberapa makanan sambil menanyakan tempatnya bisa membeli budak.


"Orang ini sepertinya sudah sableng" Eilen dalam hatinya berkata.


Tempat penjualan budak (legal)


"Jadi ini tempatnya. Ayo masuk Eilen" Jean mengajak Eilen masuk menemaninya.


"Hmh.." Eilen mengikutinya meski terlihat sedikit cemberut.


"Selamat datang pengunjung! Jarang ada anak muda yang kemari. Kalau boleh tahu tipe seperti apa yang anda cari?" Tanya seorang pelayan menghadang Jean. Seakan meragukan segi keuangan Jean.


"Sudah, panggil saja bosmu. Aku tidak ingin bertransaksi dengan orang yang biasa-biasa saja" Balas Jean dengan lebih merendahkan pelayan itu.

__ADS_1


"Si gendut ini benar-benar menyebalkan" Kata pelayan itu dalam hati sambil memanggil pemilik tempat itu.


Tak lama kemudian seorang pria paruh baya datang menghampiri Jean.


"Ah, mohon maaf. Perkenalkan saya adalah pemilik tempat ini. Doyodeus Defus" Katanya sambil melepas topi dan menundukkan kepalanya.


"Saya kemari untuk mencari budak yang spesial. Tentu saja uang bukan menjadi masalah" Kata Jean sambil menundukkan kepalanya juga.


"Mhm anak ini sangat sopan. Berbeda dengan yang disebutkan sebelumnya. Lagi pula walau pakaiannya sederhana tapi sekali lihat juga tahu kalau terbuat dari kain yang sangat mahal" Bisiknya dalam hati.


"Baiklah, mari saya antarkan!"


"Wah banyak sekali..." Eilen melihat-lihat budak yang disediakan.


"Ini adalah para petarung terbaik yang saya punya saat ini. Silahkan dilihat-lihat" Kata Defus sambil memamerkan dagangan terbaiknya.


"Bentar dulu, kenapa semuanya laki-laki?! Apa tidak ada yang lain" Kata Jean memberi kode.


"Oh maafkan saya, karena tuan datang dengan perempuan jadinya saya salah menanggapinya. Baiklah akan segera saya siapkan"


Beberapa waktu kemudian


"Terima kasih sudah menunggu, ini adalah budak terbaik yang kami miliki" Defus menunjukkan semua perempuan terbaik yang dimilikinya.


"Nah ini dia yang kumaksud, Eilen tolong kamu yang pilih" Jean tidak ingin dianggap mesum.


Setelah beberapa waktu Eilen menunjuk seorang budak yang masih anak-anak. Umurnya jika dibandingkan dengan Jean terpaut antara empat sampai lima tahun.


"Saya terkejut tuan bisa mengetahuinya. Kalau boleh tahu siapa nama tuan ini" Defus nampak sangat terkejut dengan kemampuan Jean.


"Ah namaku Jean Knott, ini cuma skill warisan saja. Ya sudah aku akan membelinya berapapun harganya. Hehe" Jawab Jean terlihat sombong.


"Mungkinkah knott yang anda maksud dari-"


"Iya, kau tidak salah dengar. Hehe"


.


.


.


Di perjalanan menuju kastil Jean memutuskan untuk mengajak budak itu dan Eilen untuk makan terlebih dulu.


"Siapa namamu? Pesan apa saja yang kamu mau tidak apa-apa." Tanya Jean sambil memesan berbagai makanan enak.


"Na-namaku Chloe Lilian tuan. Terima kasih sudah membeliku" Jawab Lilian masih sedikit takut dengan mereka.


"Eh, dari keluarga Chloe. Pantas saja punya skill yang lumayan. Tapi kenapa kamu malah jadi budak? kudengar keluargamu termasuk keluarga yang kaya" Timpa Jean sambil menikmati hidangannya.


"Itu hanyalah cerita masa lalu. Lebih dari enam puluh tahun lalu keluarga kami dijebak oleh keluarga Hoem. Setelah itu kami mengalami kemunduran parah sampai akhirnya saya menjadi budak" Jawabnya sambil menangis.

__ADS_1


Melihat hal itu Eilen segera merangkul dan menenangkannya. Dia juga bilang akan menghukum keluarga Hoem kalau bertemu nanti.


"Lihat saja, kalau nanti kita bertemu aku akan buat perhitungan dengan kalian" Eilen berkata sambil memangku Lilian.


Karena Eilen terbawa emosi Jean tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Sambil tersenyum dia berkata.


"Yang benar? Kebetulan mereka ada di meja seberang. Mau aku panggilkan?" Balas Jean menggodanya.


"Hah? Serius? Mereka tadi dengar tidak?!" Eilen mendadak menjadi panik karenanya.


"Ha ha ha, cuma bercanda. Keluarga Hoem itu ada di kerajaan taring serigala. Jauh dari sini" Ucap Jean sambil tertawa kegirangan.


"Lihat mukamu tadi! Ha ha ha" Jean menunjuk-nunjuk ke arah wajah Eilen.


"Berisik!" Balas Eilen sambil terlihat jutek.


Beberapa pengunjung merasa terganggu karena sikap Jean. Selain berteriak-teriak Jean juga berbicara sambil makan. Membuat seorang Count kehilangan kesabarannya.


"Pengawal, bereskan mereka!" Kata pria itu terlihat sangat terganggu.


"Baik tuan!"


----------------------------------------


Level: 32


Status saat ini:


STR : 125


INT : 313


AGI : 180


VIT : 130


DEX : 325


Total: 1073


*Poin tersedia: 0


Skill:


[Mata ilahi] S+


[Creator] S+


???


----------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2