
Kembali ke waktu sekarang. Kelompok Jean sedang dalam perjalanan menuju kerajaan Tressil. Mereka menggunakan kereta naga darat sebagai transportasi menuju Tressil.
Menurut Jean selain nyaman dan tempatnya luas, naga darat juga bisa diandalkan untuk bertarung jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu. Sementara Eilen tidak habis pikir dengan keputusan Jean mengingat harga sewa kereta naga itu lumayan mahal.
Untuk sampai perbatasan Tressil membutuhkan waktu sekitar lima belas hari dari ibu kota Latish. Setelah itu perlu waktu sekitar empat hari lagi untuk sampai ke Dormtortel, ibu kota Tressil.
Wilayah terluar Tressil
"Huah, kita sampai juga. Aku tidak menyangka bisa sampai ke sini lagi!" Eilen merasa lega bisa sampai ke Tressil.
"Mhm? Memangnya kamu pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Jean penasaran.
"Pernah sekali, untuk mengantar ayahku pergi bersama rombongannya ke benua biru lama. Ngomong-ngomong kenapa kita menuju ke Dormtortel?" Balas Eilen yang enggan untuk menyebutnya tanah kematian. Mengingat ayahnya kini di sana.
"Nanti juga tau. AKu juga sebenarnya berharap bisa bertemu dengan seseorang yang kukenal" Jawab Jean sambil bermain catur melawan Han. Mereka bahkan bisa bermain dengan tenang karena kereta naga berjalan dengan sangat mulus. Walaupun cepat tapi naga darat sudah dilatih untuk berjalan dengan minim gonvangan, karena biasanya kereta-kereta ini hanya bisa dinaiki oleh orang-orang yang kaya raya.
.
.
.
Di lain tempat, tepatnya di kerajaan Yeon Pyong. Terdapat sebuah dungeon untuk petualang yang tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi bernama Castler.
Tempat ini memiliki 38 Lantai. belum termasuk zona aman tempat beristirahatnya para petualang dan juga beberapa lantai tersembunyi.
Dungeon Castler, Lantai tersembunyi (14,5)
"Sudah kuduga, ini jalan yang salah. Seharusnya aku tidak mendengarkan kalian! dasar rubah-rubah tua" Kata Ren kepada rubah-rubah itu.
Ren adalah siswa kelas D yang pertama kali muncul di hutan kabut (chapter 8). Dia adalah penyihir yang bisa mengendalikan roh. salah satunya adalah kedua rubah ini. Rubah merah bernama Uko dan Rubah putih bernama Lero.
Dia sedang memenuhi panggilan siswa kelas C untuk datang ke lantai 15. Namun sudah dua minggu dia terjebak di lantai tersembunyi ini.
Selain mengendalikan roh dia juga seorang penyihir dengan elemen air. Pengendaliannya bisa dibilang sangat tinggi hingga bisa mengendalikan es murni. Tidak lupa dia juga dipersenjatai dengan senapan yang bisa mengenai target dari jarak yang sangat jauh sekalipun.
Ren tidak bisa melanjutkan perjalanannya karena bertemu dengan bos dungeon yang sangat kuat. Dia terpaksa harus melawannya dulu untuk bisa terus maju.
Yang dia lawan adalah monster sihir level lima. Ukurannya sangat besar dan sosoknya seperti anjing berkepala tiga. Ren menyebutnya Cerberus karena menurutnya itu panggilan yang cocok. Pertempuran itu sangat hebat hingga menggetarkan lantai 15 di atas mereka.
"Lero! sekarang!"
"Baiklah... Terima ini"
Seketika ruangan itu dipenuhi kabut pekat. Cerberus nampak kebingungan dan menjadi sasaran empuk bagi Ren.
"Uko! Giliranmu"
"Hmm akhirnya tiba juga"
Tembakan Ren tepat mengenai kaki-kaki Cerberus. Menyebabkannya tidak bisa mengelak untuk beberapa saat. Kemudian Dari kabut itu keluar semburan api yang sangat besar membakar hangus tubuh monster itu.
Tapi kemudian monster itu bisa bangkit kembali. Semua luka-lukanya pulih dengan cepat dan tingkat sihirnya malah semakin kuat.
__ADS_1
.
.
.
Lantai 15
"Urgh... Hah hah hah... Sialan kalian kelas A. Adit kalian apain!?" Seru Oka yang tertunduk di hadapan murid-murid kelas A.
Setelah mengirim Adit, kelas A mendatangi lantai 15 ini untuk memberi pelajaran pada kelas C. Terutama pada Oka yang sejak di sekolah sudah banyak berlagak.
Hanya mengirim lima orang saja, Kelas C mampu dihancurkan. Semuanya terlihat babak belur di hadapan kelas A. Orang yang memimpinnya adalah Angga. Menjadi penyihir dengan level 52.
"Ini hanya peringatan saja, jika lain kali kalian berani kurang ajar lagi maka kami akan menghancurkan kalian sepenuhnya!" Kata Angga sambil memandang rendah Oka pimpinan kelas C.
(Getaran hebat terjadi akibat pertarungan Ren)
"Lagi-lagi gempa. Apa yang terjadi di sini? Bukankah seharusnya lantai ini aman" Kata Angga sambil keheranan.
Tidak lama akhirnya Ren berhasil sampai ke lantai 15. Dia mendapat hadiah yang sangat bagus yaitu sebuah katana berelemen angin.
"Wah wah, pantas saja tidak ada yang memburuku walau sudah terlambat beberapa hari" Kata Ren menghampiri mereka.
"Anak kelas D tidak ada urusannya dengan ini. Jika kau memaksa ikut campur kami tidak segan-segan menghabisimu juga" Kata Angga yang terlihat arogan.
"DAR!"
"DAR!"
"DAR!"
"DAR!"
Serangan Ren begitu cepat dan tepat sasaran. Menembus tengkorak dan menyebabkan kematian instan. Sungguh keahlian yang mengerikan.
Setelah melihat itu Angga merasa cemas mengingat dirinya bisa saja dihukum karena telah mengorbankan empat orang hanya untuk memberi pelajaran Oka.
"Sepertinya kelas A masih saja tidak menyukai kelas C. Tapi dari sudut pandangku kalian sama saja, bocah-bocah arogan" Kata Ren meletakkan senapannya.
Bersamaan dengan itu Angga langsung menyerang Ren dengan pedang panjangnya. Pedang itu terlihat cukup kuat dan memancarkan api membara di sekitarnya.
Namun itu masih bukan tandingan katana milik Ren. Ini adalah salah satu senjata yang paling langka. Bahkan pemiliknya terdahulu sengaja menaruhnya di lantai tersembunyi untuk menjaganya tetap aman.
Dalam sekejap pedangnya telah terpotong menjadi tiga oleh Ren. Tajamnya katana itu bahkan sampai bisa memotong pedang kualitas tinggi dengan mudah.
Dua rubah yang bersamanya kemudian berubah menjadi sosok rubah raksasa yang siap melahap Angga kapanpun.
"Aku paling tidak suka diremehkan, apa lagi oleh keroco sepertimu. Beri tahu ketuamu untuk tidak banyak bertingkah jika bertemu aku" Ren berjalan meminggalkan Angga. Dia menghampiri Oka.
"Dan untukmu, berapa banyak kelas D yang sudah kau singkirkan?"
"Lima orang. Mereka semua terang-terangan menolak tawaranku. Dengarkan aku bro, kita bisa menguasai dunia ini. Aku punya rencana!"
__ADS_1
Segera suara senapan terdengar lagi. Kini lima orang kelas C yang menjadi sasaran Ren.
"Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Persetan dengan rencanamu kau bahkan tidak bisa mengatasi kroco seperti kelas A. Setidaknya bukalah matamu dulu sebelum mencoba berlari" Kata Ren yang kemudian meninggalkan kedua kelas itu dalam keadaan hening.
Kedua rubah itu kembali ke ukuran semula. Dan ikut Ren untuk keluar dungeon.
Di masa depan Ren akan dikenal sebagai pengendali roh terbaik sepanjang masa, bahkan dijuluki Spirit master.
.
.
.
Sebuah tenpat, Tressil
"Jean, temanmu yang sedang kau cari itu apakah dia hebat?" Tanya Eilen yang penasaran.
"Yah begitulah. Kalau dia juga dikirim ke sini, dia pasti menjadi orang yang sangat kuat. Pasti" Jawab Jean sambil menata kembali papan caturnya.
"Sudahlah, aku sudah bosan. Apa tidak ada hal lain yang ingin kau lakukan?" Han mengeluh karena sudah terlalu sering bermain catur.
"Bilang saja kau sudah lelah kalah terus dari ku. He he" Jean menggoda Han.
"Apa kau bilang bocah? Beraninya! baiklah satu ronde lagi. Ayo" Akhirnya mereka bermain catur lagi.
Waktu menuju ibu kota tinggal dua hari lagi. Apa yang sebenarnya dituju Jean?
----------------------------------------
Level: 32
Status saat ini:
STR : 125
INT : 313
AGI : 180
VIT : 130
DEX : 320
Total: 1068
*Poin tersedia: 5
Skill:
[Mata ilahi] S+
[Creator] S+
__ADS_1
???
----------------------------------------