
"Sekarang karena dirimu telah selesai memilih skill, bersiaplah untuk dikirim ke dunia luar"
An Rha berkata pada Jin, sambil mengeluarkan pancaran mana. Dia kemudian menandai Jin dan mengirimnya keluar dari sana.
Hutan merah, Hari ke-10 pelatihan
Terlihat Han Yun sedang menikmati buruannya. Dia memanggang daging seekor binatang sihir tingkat 4 seperti bukan apa-apa.
Untuk diketahui binatang sihir tingkat 4 termasuk salah satu makhluk yang cukup tangguh, bahkan biasanya dibutuhkan empat unit pasukan sihir atau lebih untuk mengalahkannya. Walaupun begitu binatang sihir sebenarnya jarang menyerang manusia, dikarenakan mereka memiliki kecerdasan yang tinggi.
Hari ini Han Yun masih berada di sini untuk menemukan esensi darah phoenix yang tersembunyi. Namun walaupun telah berhari-hari mencarinya, dia tak kunjung menemukannya.
Merasa sedikit frustasi dia pun mulai memburu makhluk-makhluk penguasa hutan sebagai santapannya.
Dalam kegelapan malam itu, Han melihat cahaya teleportasi bersinar tak jauh darinya. dengan rasa penasaran dia pun bergegas menuju sumber cahaya itu.
.
.
.
Itu adalah sihir yang digunakan untuk mengirim Jin keluar dari buku. Meskipun Rha bisa mengirim Jin keluar namun dia sendiri tidak bisa keluar, karena hanya sang pemegang kunci lah yang dapat meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya Jin di dunia luar, dia langsung merasakan seorang ahli sedang menuju ke arahnya. Sadar akan hal itu dia segera memutuskan untuk bersembunyi.
"Kenapa guru mengirimku mendadak sih, aku kan belum menggunakan poin statusku. Saat ini bahkan statusku masih kosong"
Namun sebelum dia sempat bersembunyi, Ahli itu telah berada di belakangnya sambil berkata "Kau pikir mau kabur kemana bocah, katakan apa yang sedang kau lakukan di sini"
"Ah, teman-temanku sedang belajar sihir teleportasi. Ini sedikit memalukan tapi hasilnya aku dipindahkan ke sini. He he he" Jawabnya canggung. Berharap bisa keluar dari masalah ini.
Sihir teleportasi adalah salah satu sihir ekslusif yang hanya bisa dipelajari oleh bangsawan kelas atas. Mendengar itu Han menjadi semakin penasaran dengan latar belakang Jin.
Dia lantas mengajak Jin ke tempatnya berkemah. Singkat cerita, sesampainya di sana dia menanyakan sesuatu pada Jin.
"Bocah, apa kau tau seseorang bernama Hwang Lin?" Tanya Han sambil terbaring melemaskan tubuhnya.
"Hm... Aku tidak yakin, tapi aku kenal dengan seseorang bernama Lin. Dia juga terlihat seumuran denganmu pak tua" Jawabnya.
"Hua ha ha ha.. Sudah lama tidak ada yang memanggilku pak tua lagi. Bocah, namaku Han Yun, siapa namamu?"
"Namaku Jin, aku tinggal di kediaman duke"
Mendengar jawaban itu, Han menjadi lebih penasaran lagi tentang hubungan Tristan dan Jin. Namun yang terpenting adalah dia mengetahui Hwang Lin masih hidup. Itu saja sudah cukup.
Semakin lama mereka semakin akrab dengan saling bertukar pertanyaan. Hampir sama dengan saat Jin baru bertemu Lin.
"Pak tua Han, sebenarnya apa yang kau cari di tempat ini. Dari pertanyaanmu tadi aku tau kau baru saja sampai di sini" Jin bertanya padanya.
"Tadinya aku kemari untuk menyelesaikan urusan dengan Hwang, tapi karena aku merasakan esensi darah phoenix jadi kutunda dulu mencari dia" Balas Han.
Karena ingin membantu Han, Jin menawarkan bantuan untuk mencari esensi darah phoenix.
"Baiklah, karena kau sedang mencarinya kenapa tidak kubantu saja" Ucap Jin dengan antusias.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Aku sudah berkeliling hutan ini mencarinya. Tapi tetap tidak bisa kutemukan" Han membalas.
"Sepertinya aku lupa memberi tahumu, aku ini punya skill mata ilahi" Jawab Jin menyombongkan dirinya.
Han yang mendengar itu semakin terkejut tapi juga penasaran karena mata ilahi merupakan salah satu skill yang sangat langka dan dianggap sebagai skill yang hebat.
[Mata ilahi] S+ (diaktifkan)
__ADS_1
{Mampu melihat segalanya.}
Warna matanya seketika berubah menjadi biru muda. Dengan kemampuannya itu dia mengamati sekitar. Mencari sumber pancaran esensi darah phoenix itu.
Namun setelah mengetahuinya, dia merasa menyesal. Terlebih karna kemampuan ini memberi tahunya tentang kebenaran juga.
Walaupun tidak tega dia akhirnya memberi tahu Han apa yang dia lihat dengan matanya itu.
"Aku akan terus terang padamu kek, sebenarnya itu bukanlah apa yang kau cari" Ucapnya setelah mengambil nafas dalam-dalam.
"Apa yang ingin kau katakan bocah?" Tanya Han yang segera bangkit dari tempatnya berbaring.
"Alasan kau tidak juga menemukannya bukan karena tempat itu sulit dijangkau. Hanya saja esensi ini adalah darah dari falcon api merah keturunan phoenix, tapi bukan dari phoenix."
"Keduanya memang memiliki pancaran yang mirip namun esensinya memiliki efek yang jauh berbeda. Jadi kau terus merasakannya secara samar-samar" Kata Jin dengan sedikit merasa bersalah.
"Jadi itu karena yang kurasakan adalah falcon ya... Berarti sia-sia saja aku mencarinya beberapa hari ini"
"Sepertinya orang ini sudah menua, sampai tidak bisa membedakan phoenix dengan seekor falcon. Hua ha ha"
Ujarnya setelah melihat langsung mata ilahi milik Jin. Dia berharap Jin tidak sedang berbohong jadi dia memilih untuk mempercayainya.
"Tapi jika benar-benar menginginkannya, kau bisa menjadi pengawal untukku kek. Aku kebetulan sedang mengumpulkan orang untuk berkeliling dunia"
"Guruku pernah memberitahuku soal darah phoenix yang sedang kau cari pak tua"
Jin mengatakannya begitu saja, menawari seorang ahli yang berpengalam untuk menjadi pengawalnya.
Tentu itu langkah yang bagus, mengingat dia butuh seseorang yang cukup kuat untuk bisa melindunginya di saat dia memulai perjalanan. Namun di lain sisi Han Yun juga memiliki harga dirinya sendiri.
"Bocah apa kau tau apa yang barusan kau katakan? Pemula sepertimu sebaiknya jangan terlalu angkuh jika masih ingin berumur panjang" Balas Han terlihat marah.
Situasi menjadi sedikit memanas di antara mereka berdua. Dan Jin memilih meninggalkan Han untuk menenangkan dirinya.
"Sepertinya aku harus pamit untuk kembali ke kediaman duke. Sepertinya teman-temaku sudah menungguku di sana" Balas Jin yang kemudian pergi meninggalkan Han.
Setelah itu Han Yun pergi lagi untuk memastikan kebenaran tentang esensi yang dicarinya.
"Dasar murid tidak tahu diuntung! Apa dirimu tahu kenapa diriku mengirimmu ke tempat ini? Itu karena diriku ini percaya kau bisa menjadikannya rekan. Dia itu cukup kuat!" An Rha terlihat jengkel karena Jin gagal merekrutnya.
"Aku tau guru, tentu saja aku mengerti maksud guru. Tapi sebaiknya kita harus bersikap jual mahal supaya lebih seru"
"Lagi pula guru tidak perlu khawatir kalau sesuatu terjadi padaku. Aku telah meninggalkan hadiah kecil khusus untukmu di situ. coba guru cari dulu"
Kemudian An Rha mulai memperhatikan sekeliling. Dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan emblem milik Jin berada di sana.
"Bukankah ini kuncinya? Kenapa bisa ada di sini? Seharusnya dia tidak bisa keluar tanpa membawa kuncinya" An Rha nampak kebingungan.
Jin sudah mengetahui itu jauh-jauh hari sebelumnya, jadi saat mendapatkan kesempatan memilih skill sihir, maka dia memprioritaskan skill ini. Skill yang mampu menciptakan suatu objek.
[Creator] S+
{Menciptakan objek apapun yang diinginkan secara instan. Tidak bisa menciptakan benda hidup. Hanya terbatas pada benda yang diketahui penggunanya}
"Jadi begitu, dia benar-benar telah melampaui diriku yang hebat ini. Daripada bertahun-tahun mencari tahu cara untuk menghancurkan belenggu ini, dia lebih memilih jalan pintas yang tidak terpikirkan olehku"
An Rha memperlihatkan senyumannya sebagai rasa puas terhadap pewaris ilmunya.
"Kalau begitu kenapa tidak langsung keluar saja sekarang guru?"
"Diam, diriku ini masih terharu karenamu dasar murid yang tidak peka. Sejak kapan dirimu memikirkannya?"
"Ah.. itu baru saja. Tepatnya saat guru menyuruhku untuk memilih skill-skill untukku" Jawab Jin sambil berjalan dengan sombongnya.
__ADS_1
"Jadi baru saja! Diriku ini benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiranmu" Balas Rha.
Sementara itu di sebuah gua dalam hutan merah, Han Yun akhirnya menemukan esensi itu. Seperti yang telah dikatakan, itu bukanlah esensi darah phoenix.
"Jadi ini benar-benar darah falcon ya. Bocah itu tidak membohongiku, tapi kalau yang dia katakan benar, maka lebih baik aku menurutinya saja"
.
.
.
Gerbang kediaman duke
Seorang prajurit berteriak "Siapa di sana! Ini sudah malam, kembalilah lagi besok atau kami terpaksa mengusirmu!"
"Oi oi, ini aku lo. Jin, apa kalian sudah lupa?" Katanya sambil mendekat
"Maafkan kami tuan! Kami benar-benar tidak mengenali anda karena sudah lama tidak berjumpa"
"Santai aja, kalo begitu aku masuk dulu ya!" Balas Jin memasuki kediaman duke.
Lin yang dari kejauhan melihatnya kemudian memberitahu Naura tentang kepulangan Jin dan mereka berdua pun segera bergegas menemuinya.
"Jin, dari mana saja kamu? Kupikir kamu sudah pergi sebelum hari pelaksanaan" Ucap Naura yang muncul di depan jalannya.
"Eh, anu... Tidak bisakah kita bicarakan ini besok saja? Aku ingin istirahat dulu sepertinya" Sahut Jin sambil berjalan ke belakang untuk menghindar.
Namun tanpa disadari di belakangnya sudah ada pak tua Lin yang memang sudah berjaga-jaga jika dia mau melarikan diri.
"Tidak ada hari esok, kau harus menceritakannya sekarang nak"
Kata Lin yang seperti tidak memberikan celah untuknya kabur.
Merasa tidak punya pilihan lagi, akhirnya Jin pun mulai menceritakannya.
----------------------------------------
Status saat ini:
STR : 0
INT : 0
AGI : 0
VIT : 0
DEX : 0
Total: 0
*Poin tersedia: 913
Skill:
[Mata ilahi] S+
[Creator] S+
???
----------------------------------------
__ADS_1