Putih

Putih
Part 1


__ADS_3

Musik yang berdentam-dentum begitu kuat semakin membakar semangat siapa saja yang hadir di Bar malam ini. 


"Shany, ayo ke lantai dansa sekarang!" teriak Viella agar dapat terdengar ditengah kuatnya suara musik. "Jangan katakan kau akan menjadi Wallflower lagi malam ini!"


"Aku akan menyusul!" balasnya tak kalah kuat.


Viella menggeleng heran setelah melihatnya lebih banyak minum daripada menari sejak tadi.


"You're boring!" protes sahabatnya itu yang terasa sudah untuk kesekian kalinya.


"Aku akan bergabung setelah minumanku habis." Shanon langsung berbalik mengabaikan sahabatnya yang kini berceloteh panjang.


Ia mendesah mengetahui betapa Viella akan sangat merepotkan jika sudah mulai dengan kekesalannya. Setelah minum 3 gelas brandy, otaknya mulai bekerja tidak normal. Jika ia masih memaksakan diri untuk bergabung di lantai dansa, bukankah itu akan menjadi salah satu tindakan nekat?


Pertama, ia mungkin akan bersikap tak masuk akal seperti menari bersama pria yang tak dikenal dan melakukan tindakan tak senonoh lainnya.


Kedua, ia mungkin juga pingsan atau muntah disana.


Bukankah itu akan menjadi bagian yang paling memalukan?


Jujur saja ia baru belajar untuk minum minuman beralkohol selama 3 bulan terakhir ini, itupun tidak teratur sehingga hangover masih belum bisa dikendalikannya secara maksimal.


But she knows better, apabila Viella tidak melihatnya dilantai dansa selama mereka ada disini maka ancamannya akan berupa 'aku tidak akan menemanimu lagi setelah ini.'


Shanon menggeleng kemudian meneguk habis minumannya. Ia berbalik menatap ke arah lantai dansa. Disana Viella sudah menari bersama dua pria yang tak ia kenali. Itu bukan kejadian tidak biasa sebab setiap kali sahabatnya itu berada disini maka pria-pria asing akan menari bersamanya.


Tanpa pikir panjang dan berdebat lebih lama dengan pikirannya sendiri, Shanon menggerakkan kaki malasnya untuk turun dari tempat duduk nyaman itu. Langkahnya sedikit gontai ketika masuk ke lantai dansa yang hiruk-pikuk diisi dengan teriakan senang penghuni bar serta alunan musik yang memekakkan telinga.


"Ohoo!!" sorak beberapa orang yang kegirangan saat DJ Marcus memutar  Hotter Than Fire by Eric Saade ft. Dev.


Shanon mulai merasakan beat dari musik itu di dalam darahnya. Entah karena pengaruh brandy atau musik itu sendiri, ia mulai menari menggoyangkan pinggul ke kanan dan kiri. Kepalanya mengangguk-angguk kecil mulai menyukai musiknya. Shanon menoleh ke arah Viella yang terlihat asik melompat dan meliuk kesana kemari. Senyum semangat terbit di bibirnya. Setidaknya ia juga harus merasakan kesenangan yang dirasakan Viella. Dengan itu Shanon ikut menari dan melompat mengangkat tangannya sama seperti orang-orang yang berada disekitarnya.


I'm here to dance, dance. I'm here to dance, dance, da-da-dance, dance.


We headed straight to the bar,


One drink became many more.


We here to dance, dance, da-da-dance, dance


Moving, moving, I feel the vibe is getting loud, yeah!


Liriknya mengalun penuh semangat membuat pengunjung semakin mabuk dalam gerakan masing- masing. Shanon tertawa girang sambil menggoyangkan pinggul, mengangkat tangan, dan bergerak cepat mengikuti ritme musik.


Terlalu menikmati bukan berarti mati rasa. Ia bisa merasakan seseorang berdiri begitu dekat dibelakangnya. Tubuhnya bergesekan dengan tubuh yang terasa keras itu. Awalnya ia pikir bahwa itu adalah hal yang wajar. Yang benar saja! Ini Bar bukan restaurant mewah. Menari bersama bukanlah pelanggaran berat tapi tak lama kemudian ia merasakan sentuhan pria itu dipinggulnya yang masih bergoyang molek. Jantungnya berdegup kencang apalagi ketika wajah pria yang tidak dikenali itu terasa mendekati telinganya.


"She's hotter than fire," bisiknya bersamaan dengan lirik musik yang mengutarakan kalimat yang sama. Tubuh Shanon membeku seketika.


Suara manly yang terdengar serak halus itu membuatnya mulai berpikir keras.


Oh God! Pria ini memiliki suara yang sangat menggoda. Ia yakin hanya dengan mendengar suaranya saja maka beberapa wanita sudah pasti jatuh berlutut dihadapannya.


Well, ia bukan wanita semacam itu. Setidaknya ia berharap untuk tidak menjadi wanita semacam itu.


Secepat kilat Shanon berbalik dan mundur dua langkah dari jangkauan pria itu. Sesuatu mengejutkannya ketika melihat postur tubuh dan wajah pria yang baru saja menyentuh pinggangnya secara sembarangan. Niat untuk membentak pria asing itu luntur seketika.


Tubuhnya yang semula sedikit mabuk oleh minuman dan musik yang begitu keras berganti menjadi sepenuhnya sadar dan kaku. Jantungnya berdetak dalam tahap yang sangat tidak normal. Kepalanya seakan sempoyongan oleh kekaguman luar biasa yang baru kali ini dirasakannya. He's so perfect.


Jika biasanya ia mengatakan 'Damn you,Viella!' sekarang ia mencerca dirinya sendiri. 'Oh damn you, Shany!'


Ia menelan dengan susah payah ketika melihat pria itu seutuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sengatan elektrik penuh kagum terpancar begitu nyata dari caranya melihat pria itu.

__ADS_1


This man is a God!


Tubuhnya sangat tinggi, berkisar 185 cm. Ia memutar bola matanya sendiri saat masih berpikir tentang detail ukuran itu. Tubuhnya kekar dengan otot lengan yang begitu sesuai dengan tinggi badannya. Dadanya begitu bidang dibalik kaus putih yang dikenakannya. Untuk sesaat Shanon berpikir untuk menyandarkan kepalanya disana.


Oh no!


Warna matanya seperti biru muda jika diperhatikan lebih lama ditengah gelapnya lantai dansa. Rambut pendeknya yang sedikit pirang terlihat sedikit berantakan ditengah minimnya pencahayaan di lantai dansa. Mungkin dia sudah mengacaknya beberapa kali? Atau seorang wanita yang mengacaknya?  Shanon mencaci dirinya sendiri. Itu bukan urusannya sama sekali.


Rahang kokoh dan senyum tipis menggodanya tak membantu Shanon menenangkan diri sama sekali. Bibirnya... Oh lekukan bibir itu sangat sempurna.


Shanon tak bergerak dan menatapinya sangat lama seolah tanpa malu menunjukkan minatnya. Sebenarnya ia memang sangat tergiur karena sulit untuk mengabaikan kesempurnaan yang begitu nyata semacam ini. Wajahnya membuat tubuh Shanon bergetar ingin segera memilikinya. Bagaimana bisa wajah setampan ini ada di dunia nyata?


Ia membasahi bibirnya yang terasa kering. Pria ini tampaknya tahu kegelisahan karena konflik batinnya. Sejak tadi dia membiarkan Shanon melongo meneliti penuh pujian postur tubuhnya, setelah mengetahui bahwa Shanon selesai dengan urusan tatapannya, pria itu mendekat. Dia melangkah begitu percaya diri seakan tahu bahwa Shanon tidak akan  menolaknya. Tidak salah karena ia memang tak mampu menolak.


"Caramu menari membuat semua pria disini terpana," katanya masih dengan suara khas itu. Shanon mengerjap untuk beberapa saat sebelum akhirnya bisa menguasai dirinya.


Pria asing ini tahu bahwa ia masih tidak bisa berhenti memuji pesonanya, terbukti dari senyum miring penuh pemahaman dibibir menggodanya itu. Shanon jamin kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Ia menggeleng sambil merutuki diri sendiri di dalam hati.


Get a grip, Shany!


Ia menunjukkan ekspresi dingin saat menjawab, "Sorry, aku tidak bicara dengan orang asing sembarangan."


Pria yang namanya masih menjadi misteri itu tertawa renyah.


"Well, what's your name?"


Shanon mendengus dengan mata membulat. Mereka masih berada diantara kerumunan orang yang sedang gila berdansa ditengah dentuman musik dan pria ini berminat untuk berkenalan serta beramah-tamah disini?


Dengan acuh ia menjawab,


"Aku tidak menjawab pertanyaan dari orang asing juga."


Pria itu berdecak walau sorot matanya berubah serius seolah memaksa untuk menjawab dengan benar.


Shanon menelan kekagumannya saat menatap mata penuh candu itu. Dammit! He is so hot!


Elegan, mengintimidasi, tampan, semuanya itu digabungkan menjadi satu dalam wujud pria ini.


So damn perfect.


Jika tidak menjauh maka Shanon tahu  ia akan terjerat lebih dalam lagi. Ia harus pergi sekarang juga. 


Saat niat itu terbentuk, seseorang yang menari begitu semangat menabrak tubuhnya hingga ia terdorong menabrak dada bidang si pria asing. Shanon menarik napas terkejut menyadari posisinya yang telah bersandar pada dada bidang keras yang ia impikan itu. Ia bergidik puas merasakan kedua lengan kekar pria asing itu mendekapnya cukup protektif. Jantung Shanon kembali berdebar tak terkendali sampai ia yakin sebentar lagi organ itu akan melompat keluar.


Dekapan pria asing ini cukup nyaman walau suaranya kini terdengar tidak ramah ketika memberi peringatan pada seseorang yang menabrak diri Shanon.


Wangi tubuh pria asing itu menyeruak ke dalam penciuman Shanon. Aroma musk yang begitu mewah dan sensual. Tubuhnya secara tak terkoordinasi bergetar begitu terpikat. Ia yakin pria asing ini sudah merasakan detakan kuat dari jantungnya.


"Are you okay?" ujarnya tepat ditelinga Shanon.


Ia mengerang dalam hati saat tangan pria itu mengelus rambut hitam panjangnya. Ini tidak baik. Dia bukan seseorang yang ia kenali. Spontan Shanon melepaskan diri lalu merapikan rambutnya.


Ia mengangguk. "Thanks." Gerakannya gelisah bahkan terlihat salah tingkah.


Senyum miring terbit di bibir pria asing itu. Dia seakan tahu segala yang terjadi pada Shanon.


Sialan! Ia terjebak dalam situasi ini.


"Aku tidak menerima ucapan terimakasihmu."


"Oh baiklah," jawabnya cepat menyorot kekesalan pada jawaban tak masuk akal pria itu. "Apa maumu? Kau ingin aku membayarmu?"

__ADS_1


Bisa saja bukan? Banyak sekali orang yang berpenampilan mewah namun mengalaskan penampilan itu untuk mendapat uang atau minuman gratis.


Pria itu menggeleng semakin antusias. "Your name," ujarnya tidak lagi bertanya.


Shanon menyadari pria ini sulit untuk dibantah maka ia menjawab, "Simpan harapanmu itu dalam-dalam, Mr. Stranger."


Belum sempat menjauh, Viella datang mengacaukan suasana. Dia berteriak memanggil Shanon dengan nama asli.


"Shanon, kau harus menari!" teriak Viella mendekatinya. Ia memutar bola mata hampir putus asa saat pria asing yang berdiri dihadapannya tersenyum puas.


"Shanon?" ulang pria itu dengan ekspresi tertarik.


Viella menatapnya dan Shanon secara bergantian. Ia tahu betapa nakalnya pikiran sahabatnya itu. Pengalaman selalu menunjukkan fakta bahwa Viella sering sekali mengerjainya.


"Namanya Shanon Aldeana."


"Vi!" sentak Shanon tak senang hampir berniat mencekik sahabatnya itu sampai napas terakhirnya habis.


"Shanon Aldeana," ulang pria itu sambil memberi senyum puas penuh arogansi. Suaranya mengalun sempurna saat menyebutkan nama Shanon. Dia menang. Keinginannya terkabul hanya karena mulut sahabat Shanon yang tak bisa direm sama sekali. "Nama cantik untuk wanita cantik."


Shanon langsung menggeram acuh. Pria ini pasti seorang bajingan yang sering gonta-ganti pasangan. Seketika wajah menarik itu bersanding dengan pikiran negatif dari Shanon.


He is a jerk!


Benar, tidak ada manusia yang sempurna.


"I'm Jared Walter." Dengan paksa dia menarik dan menjabat tangan Shanon seolah melakukannya dengan jalan yang benar. Uh...tangan pria asing ini juga sangat lembut.


"Nice to meet you, Shanon."


"Hmp!" adalah satu-satunya tanggapan Shanon.


Pria asing yang baru ia ketahui bernama Jared itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, menempelkan sebuah kartu ditangan Shanon lalu menampilkan senyum yang mampu melemahkan kaki semua wanita. Dia mendekatkan wajahnya membuat Shanon diam  menahan napas. Seharusnya ia menghindar bukan?


"Don't dance like that again, Shanon or you'll regret it next time."


Shanon menarik napas tak percaya.  Tanpa menunggu balasan, Jared langsung melanjutkan kalimatnya.


"Until we meet again, beautiful."


Dia melepaskan tangan Shanon yang masih membeku ditempat. Jared memberi anggukan singkat pada Viella sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.


What's happening just now?


"Wow Shany!" teriak Viella kuat dengan alis terangkat. "Bagaimana caranya kau menarik pria terhot seperti itu dalam hitungan menit?"


Shanon hanya bisa menggeleng kaku. Ia yakin tubuhnya akan segera menyentuh lantai apabila tidak mengalihkan pikirannya pada hal lain. Kepalanya menunduk dan melihat kartu nama yang disematkan Jared ditangannya.


Jared Walter


Enterpreneur


+14122233388


432 Park Avenue, #96, New York


What?


Dia tinggal di Park Avenue?


Kawasan elite itu tak akan ditempati oleh orang-orang biasa. Seketika Shanon merasa malu mengingat telah menawarkan bayaran sebelumnya.

__ADS_1


Ini semua salah pria asing itu.


Jared Walter, you are the best and most handsome bastard I've ever known!


__ADS_2