
Shanon tersenyum pahit tak sanggup berbalik dan menatap langsung wajah yang begitu dirindukannya itu. Ia harus kuat demi dirinya sendiri. Tidak menyerah, ia hanya sedang melakukan sesuatu yang benar dengan menggunakan sistem tarik-ulur yang biasa digunakan oleh wanita-wanita kasmaran. Disamping itu, ia masih kesal maka ingin membalas kesalahan Jared dengan jalan ini.
"Belajarlah untuk berhenti," jawab Shanon sangat tegar.
"I'm already out of my mind," ujar Jared pelan.
Shanon ingin sekali menenangkannya dengan mengatakan 'aku akan bertahan di sisimu jika itu yang kau inginkan.' Namun ia tidak akan kuat jika lagi-lagi Jared berubah pikiran dan meninggalkannya. Demi melindungi diri, Shanon berkata, "Jangan egois hanya karena keinginan sesaat."
Setelah mengucapkan kalimat itu Shanon benar-benar melangkah pergi meninggalkan Jared sendirian disana. Ia akan membiarkan pria itu memutuskan pilihannya sendiri. Untuk sekarang ia akan menunggu. Betapa melelahkannya menunggu dan menunggu lagi.
"Shanon, ada apa dengan tanganmu?" tanya Hans yang tiba-tiba muncul di depannya.
Shanon menganga dan dengan gugup memperhatikan tangannya.
"Oh aku tidak sengaja menyenggol kopi panas."
"Biar kulihat," Hans mengulurkan tangannya berniat memeriksa tapi secara spontan Shanon bergerak mundur menghindari sentuhan pria itu.
"Aku sudah mengobatinya. Terimakasih," jelas Shanon dengan senyum tipis. "Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, Hans. Permisi."
Jared yang melihat kepergiaan Shanon masih terdiam di tempat. Ia sempat melihat rambut panjang Shanon yang tidak ingin berbalik melihatnya. Bayangan punggung Shanon yang meninggalkannya tiba-tiba membuat kepalanya pusing. Jared memijit keningnya tapi siluet samar-samar seorang wanita yang meninggalkannya seketika muncul di benaknya.
"Mr. Jared, anda baik-baik saja?" tanya seseorang membuat Jared langsung mengendalikan diri di tengah guncangan ketidaknyamanan pikirannya itu.
"Ya." Jared melihat siapa yang berdiri di depannya. Ternyata Hans.
Tanpa basa-basi ia langsung pergi meninggalkan Hans disana.
Di ruangannya Jared kembali memikirkan tentang seorang wanita yang mendadak muncul di dalam ingatannya. Bayangan siapa itu? Ia masih tidak mengerti. Kenapa gerakan Shanon tiba-tiba memunculkan ingatan aneh semacam itu?
Merasa cemas, Jared meneguk air mineralnya. Mungkin itu hanya khayalannya akibat beberapa hari tidak tidur dengan teratur.
Jared kembali teringat pada perkataan Shanon.
Jangan egois katanya?
Ia sudah hampir tidak waras karena memikirkan satu wanita itu saja. Sepanjang waktu ia berusaha untuk tidak banyak-banyak memikirkan Shanon. Namun apa hasilnya? Tidak ada, sama halnya seperti mengerjakan hal yang ia tahu hasilnya akan sia-sia.
Jared sudah bosan menahan diri dan sekarang dikatai egois karena keinginan sesaat?
Wanita itu perlu diajarkan tentang makna dari keinginan sesaat.
Akhir pekan yang dinanti-nantikan Shanon telah tiba. Ini adalah hari dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Viella tahu segalanya jadi ia tidak perlu bersembunyi dan menutupi semuanya.
Kini Shanon sudah bersiap dengan gaun ketat berwarna hitam yang cukup seksi di tubuhnya. Ia sengaja tidak menggerai rambut karena cuaca hari ini yang cukup panas.
Layaknya hatinya yang gelap, Shanon mengenakan sepatu berwarna hitam. Bravo!
Sekarang ia mengenakan segala sesuatu yang berwarna hitam.
Sesampainya di bar 88, mata Shanon menyusuri setiap sisi ruangan mencari sahabatnya itu. Seperti biasa pula bar ini selalu ramai apalagi di akhir pekan. Situasi ini semakin menyulitkannya untuk mencari Viella.
Untung saja penjaga bar sudah familiar dengan wajahnya hingga ia bisa bertanya dengan santai, "Apakah teman yang biasa datang kesini bersamaku sudah masuk?"
"Ya, nona." Dia menunjuk ke sisi lain bar. "Nona itu berjalan ke sana beberapa menit yang lalu."
"Okay. Thanks."
Shanon berjalan ke arah yang sama seperti yang dikatakan penjaga itu.
Ia terpaksa menggunakan kejelian matanya untuk menelusuri keberadaan Viella dan bingo!
Dia sedang duduk menikmati minumannya.
"Viellaa!" peluk Shanon dari belakang.
"Astaga! Kau mengejutkanku," protes sahabatnya itu sambil menepuk pelan tangannya.
Shanon melepaskan Viella lalu duduk di sampingnya. "Bir," ujarnya pada bartender.
Setelah minumannya diletakkan, Shanon langsung meneguknya.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Sangat melelahkan," jawab Viella sambil memutar bola matanya. "Bagaimana dengan pekerjaan barumu?"
Shanon mendengus. "Begitulah."
"Begitulah bagaimana?" sambungnya tak ingin berhenti sampai disitu. "Apakah pekerjaanmu adalah hal yang tabu untuk diperbincangkan? Apa karena Jared ada disana?"
Dia menaikkan kedua alisnya membuat Shanon tercengang.
"Vi! Bagaimana bisa kau mengucapkan itu dengan santainya?" celoteh Shanon. Sahabatnya ini memang selalu tidak berpikir sebelum berbicara. Terkadang hal itu menyenangkan tapi terkadang juga sangat menyebalkan. "Aku sedang malas membicarakannya."
"Kenapa? Ayolah. Aku sangat penasaran. Apa kalian sudah bertemu?"
Shanon menyipitkan mata. "Apa menurutmu sebagai seorang resepsionis aku tidak pernah bertemu dengan direktur perusahaan? Mustahil."
"Lalu bagaimana? Apa reaksinya?"
"Bukankah sudah kukatakan dia tidak mengenaliku?"
Viella mencibir."Cih... Seberapa banyak wajahmu berubah selama 4 tahun ini? Seingatku kau tidak pernah menjalani operasi plastik."
"Berhenti menggodaku," ucap Shanon kemudian meneguk birnya lagi.
"Kau memang payah, Shany!"
"Kenapa?" Shanon meletakkan gelasnya dengan kuat.
"Kau sudah gila jika berharap bisa bersama-sama lagi dengannya." Viella menepuk dahi Shanon. "Dia sudah menikah dan memiliki anak. Cari saja lelaki lain."
"Tidak ada yang mengatakan aku gagal move on disini."
"Aku," jawab Viella. "Aku tahu kau kesulitan melupakannya apalagi setelah bertemu kembali. C'mon Shany. Wake up...life must go on."
"I know."
"Kau tidak lihat begitu banyaknya pria tampan disini?" Dia menunjuk pada keramaian. "Biar kuperlihatkan cara untuk mendapatkan salah satu dari mereka."
Viella turun dari kursinya. Melihat itu Shanon langsung menarik lengannya. "Hentikan Vi. Aku mengerti. Kau tidak perlu menunjukkannya padaku."
"Tck..." cibir Viella. "Kau berdandan secantik ini hanya untuk minum dan berdiam diri? Itu sama sekali tidak keren, Shany. Ayo gunakan kecantikanmu untuk sesuatu yang berguna."
Shanon menggeleng. Viella itu iblis. Dia selalu saja menggodanya.
Ia harus bisa menahan diri demi kebaikannya.
Tanpa pikir panjang Shanon memesan sebotol bir penuh untuk dihabiskan sendiri.
Setengah botol telah berhasil diteguknya ketika seorang pria asing duduk di sampingnya.
"Hei nona, kau minum sendirian?"
Shanon menoleh dengan ekspresi tidak senang. Belum sempat menjawab dengan kasar, seseorang melakukan itu untuknya.
"Dia bersamaku."
Suara berat nan dingin itu membuat susana menjadi tidak nyaman seketika.
Shanon dan si pria asing menoleh serempak ke belakang. Disana telah berdiri Jared dengan setelan casualnya. Dia tampak bersinar walau hanya memakai kaos biasa berwarna cokelat gelap. Shanon menelan dengan susah payah apalagi ketika tubuhnya menghangat secara mendadak.
"Oh, Sorry man. Kupikir nona ini datang sendiri." Dia menatap Shanon. "Aku juga sudah menduga. Tidak mungkin wanita secantik ini datang sendirian."
Jared tidak membalas. Dia hanya melihat dengan ekspresi datar pada pria asing itu.
"Okay, have a good night guys!" kata pria itu kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua disana.
Shanon dan Jared saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Shanon sibuk dengan pikirannya yang kacau sementara Jared hanya memandangi kecantikan Shanon dihadapannya.
This woman.
His wet dream.
"Apa yang anda lakukan disini?" Mulai Shanon masih dengan nada tak bersahabat. Setelah pertemuan mereka di dapur perusahaan, Shanon berusaha keras untuk menjauhkan diri dari Jared. Semuanya berhasil kecuali malam ini. Dari semua bar yang ada di New York, bagaimana bisa Jared berada di satu tempat yang sama dengannya?
Shanon tidak pernah percaya pada kebetulan dan ia yakin kali ini bukanlah sebuah kebetulan.
__ADS_1
"Bar ini tidak melarangku untuk masuk," tanggap Jared masih dengan jarak dua meter di depannya.
Shanon berdecak sinis. "Menyebalkan!" Ia kembali melanjutkan acara minum-minumnya tanpa perduli pada Jared disana.
"Jadi kau selalu minum-minum di bar setiap akhir pekan?"
"Bukan urusan anda pak," balas Shanon sambil menggerutu.
Jawabannya itu membuat Jared mendekat lalu menarik dagu Shanon hingga mereka saling bertatapan lagi.
"Hentikan panggilan formal itu." Sorot mata mendalam Jared menyentuh hatinya.
Shanon menggeleng melepaskan sentuhan itu. "Bukankah anda yang selalu menuntut sikap formal?"
"Wanita nakal," dengus Jared hampir tak terdengar Shanon.
Ia menyipitkan matanya.
"Kau mengikutiku sampai kesini?"
"Aku baru saja menemukan bar yang kelihatannya menarik untuk dikunjungi."
Shanon memutar bola matanya lalu turun dari kursi bar berniat pergi meninggalkan Jared sendirian. Niatnya itu tentu tidak berjalan mulus karena Jared menarik lengannya lalu menghimpitnya pada meja bar. Inilah yang Shanon inginkan sejak awal. Akhirnya ia berhasil mendapatkan perhatian Jared. Kenapa ia begitu gugup?
"Apa yang kau inginkan?" desis Shanon dengan bibir mengetat.
Mata indah Jared menelusuri wajahnya penuh dengan keingintahuan. "Aku ingin mengetahui alasan kegilaanku."
"Apa?"
Sudut bibir Jared membentuk lekukan senyum tipis. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Semakin aku mencoba maka semakin banyak bayanganmu bermunculan di pikiranku. Jadi sekarang aku memutuskan untuk memuaskan diri dengan memandangimu."
Shanon berusaha memberontak dengan mendorong Jared tapi ketika tangannya menyentuh dada bidang itu, fokusnya menghilang. Pikirannya langsung mengandai-andai pada otot-otot keras di bawah pakaian itu.
"Katakan kenapa kau bisa ada disini. Kau mengikutiku?"
"Tidak." Jared begitu betah berlama-lama menatapnya. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan via teleponmu saat itu."
"Oh."
"Oh?"
Shanon berusaha mengalihkan matanya ke arah lain. Baguslah jika Jared mendengar pembicaraannya saat itu. Jika tidak, mungkin Jared tidak akan muncul disini.
"Bisakah kau menyingkir sekarang? Kau mengundang perhatian orang-orang."
Jared menaikkan kedua alisnya. "Bukankah ini tempat yang tepat untuk melakukan apapun tanpa protes dari orang lain?"
Ia mengembalikan perhatiannya pada Jared dengan ekspresi kesal. "Menyingkirlah."
"Kenapa?" Jared mendekatkan wajahnya. "Kau masih marah karena perkataanku?"
Shanon mengetatkan bibirnya. Tatapan pedih sengaja ia tampilkan untuk mengundang rasa bersalah hadir di dalam diri Jared.
"Haruskah aku berhenti mendendam?"
"Kau dendam?" Jared semakin mendekatkan wajahnya membuat debaran jantung Shanon semakin tidak terkontrol. Hembusan napas Jared semakin lama semakin terasa menerpa pipinya. Ia menelan dengan susah payah.
Lagi-lagi Shanon mengalihkan pandangannya. "Kau tidak boleh egois," gumamnya dengan suara bergetar.
"Siapa yang perduli dengan keegoisan disaat seperti ini?"
"Ingat keluargamu," ujar Shanon dengan berat hati. Ia tidak ingin Jared menjauhinya sama sekali tapi untuk menguji tekad pria ini maka ia terpaksa mengangkat topik itu.
Jared berdecak dengan senyum miring di bibirnya.
"Kau pikir aku akan berubah pikiran dengan kalimat itu?"
Spontan Shanon mengarahkan pandangannya pada Jared yang kini berada 5 centi di depannya. Benarkah pendengarannya? Ini tidak terdengar seperti Jared biasanya.
"K-kau...."
Jared melilitkan sebelah tangannya di pinggang ramping Shanon kemudian dengan wajah serius berkata, "Aku sudah beribu kali memikirkan segala kemungkinan untuk mundur tapi semakin aku mencoba, maka semakin besar keinginan itu menguasaiku." Dia mengelus pipi mulus Shanon dengan sebelah tangannya. "Aku lelah menolak keinginanku. Aku tidak sanggup lagi menolaknya."
"Ap__apa?" Tanya Shanon terbata-bata.
__ADS_1
Jared bergerak menuju telinga kanannya. Suaranya mengalun lembut dan begitu jelas di pendengaran Shanon. Jantungnya berdebar sangat cepat membuat dirinya seakan mabuk.
Ia tak percaya ini. Ia tak percaya Jared akan mengatakan, "I want you Shanon. Let me have you."