Putih

Putih
Part 8


__ADS_3

Jam makan siang akhirnya tiba. Jared telah melakukan pekerjaannya secara produktif meski pikirannya berulang kali mengarah pada hal-hal yang tidak penting. Untuk pertama kalinya ia merasa penat setelah 5 jam bekerja. Biasanya bekerja secara marathon merupakan sebuah kesenangan untuknya tapi entah kenapa hari ini ia sedikit memaksakan diri. Tanpa berlama-lama ia menyusun mejanya, mengambil jas dan melangkah keluar ruangan. Fira menyapanya dengan sopan. Sejak awal Jared dapat melihat tatapan berbeda dari mata Fira terhadapnya. Sekretarisnya itu menaruh perasaan terhadapnya, hanya saja dia mampu mengendalikan diri karena pekerjaan. Jika tidak karena kompetensi mumpuni, Jared pasti sudah memecat Fira sejak lama.


Di lantai dasar, Jared keluar lift dengan ekspresi datarnya. Semua karyawan harus tahu bahwa ia akan selalu bersikap dingin terhadap mereka.


"Selamat siang, Mr. Jared," sapa beberapa karyawan yang ia lewati. Jared hanya memberi anggukan kecil kemudian berjalan cepat dengan langkah panjangnya.


Dalam hati ia berharap untuk tidak melihat Shanon. Selama 5 jam ia berusaha untuk tidak mengingat hal apapun tentang wanita itu. Sebaiknya dia juga tidak membuka mulut tentang hal yang sudah dilakukannya pada pimpinan perusahaan. Apabila gosip itu beredar maka wanita itu telah menggali kuburannya sendiri. Lagipula Jared sama sekali tidak merasa bersalah. Ia tak memulai apapun terhadap Shanon.


Hampir sampai di pintu depan, matanya menangkap seseorang yang sangat ingin ia hindari. Namun kali ini wanita itu tidak sendirian. Dia bersama Hans yang ia ketahui bekerja di bagian HRD. Tanpa sadar langkahnya berhenti. Jared sadar apa yang ia inginkan sejak tadi. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Shanon setelah apa yang terjadi pagi tadi. Wajar saja Jared khawatir, bagaimanapun juga ia sudah mengatakan bahwa seseorang akan ia perintahkan untuk mengurus Shanon, tapi karena terlalu shock ia melupakan hal tersebut. Sekarang tidak perlu bertanya, Jared sudah tahu jawabannya. Shanon masih dalam proses penyembuhan. Dia bahkan belum bisa menggunakan kaki kanannya dengan benar, terbukti dari Hans yang membantunya berjalan dengan begitu perhatian. Mereka tampak serasi, kenapa Shanon tidak mengincar pria itu saja?


Tepat di depan sofa lobby, Hans mengatur posisi kaki Shanon agar duduk dengan baik. Melihat itu saja sudah memberi pemahaman bagi Jared bahwa pria itu menyukai Shanon. Ia berdecak. Dua makhluk aneh seperti mereka pantas untuk bersama-sama. Mereka sedang berbincang tentang sesuatu saat ia melintas. Wanita itu, Shanon, tentu menyadari kehadirannya. Jared tidak melihat ke arah mereka tapi mendapat sapaan sopan dari keduanya.


"Selamat siang, Mr. Jared."


Jared melewati mereka begitu saja dengan wajah arogan khas pimpinan perusahaan. Ia berharap wanita itu mengerti bahwa apapun yang dia lakukan, Jared tak akan terpengaruh. Permainan Shanon terlalu busuk. Ia mengerti apa tujuan wanita itu. Ia tak akan jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya.




"Kau ingin makan siang apa?" tanya Hans dengan begitu baiknya. Setelah mengetahui bahwa Shanon terluka, Hans langsung hadir untuk merawatnya. Dia begitu baik sampai-sampai Shanon tak mampu menolaknya sedikitpun.



"Pesanlah seperti pesananmu."



Hans mengangguk. "Apa pergelangan kakimu terasa nyaman?" Dia menoleh pada pergelangan kaki Shanon dengan ekspresi khawatir.



Shanon hanya bisa tertawa kecil sambil berkata, "I'm okay."


Bersamaan dengan itu, Jared melintas dengan tangan di dalam kantong dan ekspresi dinginnya. Shanon dan Hans memberi sapaan walau tak mendapat tanggapan sedikitpun darinya. Ia mencibir. Setelah apa yang terjadi, pria itu masih saja seperti kayu yang kaku. Shanon berdecak kecil. Bagaikan sedang merebus kayu yang sangat keras, Shanon tak pernah tahu kapan Jared akan melunak terhadapnya. Ia akan memberi sedikit waktu sebelum rencana selanjutnya ia laksanakan.



"Aku akan pergi sebentar, jangan banyak bergerak," ujar Hans sebelum akhirnya meninggalkannya sendirian disana.



Lowy mencolek lengan Shanon sesaat setelah Hans pergi. "Hei, apa kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan?"



Shanon membelalak walau mulutnya menyuarakan gelak tawa. "Tidak Wy, dia hanya teman baik."



"Apa kau gila menyia-nyiakan pria setampan Hans? Posisinya juga sudah bagus disini."



Shanon menggeleng. "Jika kau ingin maka lakukanlah untuk dirimu." Ia tersenyum. "Dia masih sendiri. Aku yakin kau bisa."



"Ugh, jangan meledekku," ucap Lowy dengan senyum malu.



"Aku tahu kau seorang ratu cantik. Dengan sedikit mantra maka setiap pria akan berlutut dihadapanmu."



"Sialan! Kau membuatku malu, Shany."



Shanon tertawa. Dia merupakan teman yang sangat mudah untuk digoda. Lowy tak pernah terikat pada satu pria untuk waktu yang lama. Dia memang mudah jatuh hati tapi tidak pernah bertahan lama untuk satu pria. Seseorang mungkin menyakitinya, sangat sangat menyakitinya sehingga pikiran yang terbentuk adalah sebuah ketidakpercayaan pada hubungan dalam jangka waktu yang lama.



Makan siang ia lewati bersama Hans. Perhatian pria yang satu ini terkadang membuatnya bingung. Ia punya rencana yang sangat panjang. Sekarang bukanlah saat untuknya berpikir tentang perasan Hans. Shanon tidak ingin siapapun terlibat dalam rencananya ini. Mungkin Hans memang sempurna sebagai seorang kekasih tapi Shanon tidak ingin kekasih yang polos dan tidak paham tentang realita. Cinta tidak hanya sekedar canda, tawa, dan nafsu. Shanon sudah paham segala jenis perasaan buruk yang mengikuti cinta. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Rasa sakit sungguh luar biasa besar perannya dalam percintaan. Ia tak ingin siapapun terluka.


__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang nanti," ujar Hans dengan lembut.



Shanon mengernyit. "Tidak apa. Aku baik-baik saja, Hans. Aku bisa menggunakan bus."



"Dalam keadaan seperti ini?" tunjuknya pada pergelangan kaki Shanon. "Biarkan aku mengurusmu hari ini."



"Kau memperlakukanku seperti bayi. Aku mungkin akan terus bergantung padamu," tawa Shanon penuh canda.



"Aku tidak keberatan," jawab Hans dengan wajah serius.



Shanon menggeleng tak lagi membantah. Ia memang butuh bantuan Hans, setidaknya untuk hari ini.



***



Selama lima hari Shanon tidak menjalankan rencana selanjutnya terhadap Jared sama sekali, kecuali pada saat pagi hari dimana ia selalu membukakan pintu untuknya. Sejak kejadian itu Jared menjaga jarak darinya, Shanon tahu sebab pria itu tak mau menyapa, melirik atau mengeluarkan suara sedikitpun untuk menunjukkan kehadirannya.



Shanon tak pernah keberatan. Tanpa malu ia terus melakukan tugas itu bahkan menyapa Jared dengan ramah.



Hari pertama ia menyapa, "Selamat pagi Mr. Jared."




Hari ketiga, "Good morning, Our Handsome Boss."



Hari keempat, "Selamat pagi, Tuan Tanpa Ekspresi."



Yang terakhir, yaitu pagi ini, Shanon nekat mengatakan, "Good morning, Honey."



Kali ini ia mendapat respon tatapan tajam dari Jared walau dia masih tak bersuara. Pria yang ia damba itu bahkan terlihat lebih menarik dengan bersikap acuh seperti itu. Mungkin Jared menghadapi kesulitan untuk mengendalikan perasaannya. Shanon senang mengetahui bahwa ia masih berbakat dalam memberi kejutan untuk seorang Jared Walter. Senyum manis masih melekat di bibirnya apalagi setelah ia mengunjungi ruang istirahat karyawan. Selama lima hari ini ia selalu mengunjungi tempat bersejarah itu. Setiap kali berkunjung kesana rasa semangat yang menggebu-gebu memenuhi dadanya. Ruang istirahat itu memberinya harapan bahwa Jared akan menjadi miliknya.



Pukul delapan pagi saat Shanon dan Lowy sedang sibuk-sibuknya bekerja, beberapa karyawan berlarian ke arah lobby menuju pintu keluar. Ia mengernyit sambil melihat wajah panik mereka.



"API!" teriak salah satu karyawan wanita.



Mata Shanon membelalak. "Api?!"



Keadaan itu memicu perhatian seluruh karyawan hingga semuanya berhamburan keluar dari kantor.



"Apa yang terbakar?" tanya Lowy tak kalah panik.


__ADS_1


"Sepertinya dari ruang istirahat," jawab staff dari bagian HRD. Hal itu sontak membuat Shanon meringis. Ruang istirahat katanya? Bagaimana bisa?



"Siapa yang menangani disana?"



"Beberapa orang dari pihak keamanan."



Shanon mengusap rambutnya. Ruang istirahat bukan tempat favorite karyawan, lalu bagaimana bisa ruangan itu terbakar? Seseorang pasti sedang mengerjainya, atau mencari masalah dengannya. Apakah Jared? Tidak. Tidak mungkin Jared melakukan hal semacam itu hanya untuk membuatnya kesal. Lalu siapa dia? Apa dia tahu sesuatu tentang rencananya?



Satu jam berlalu sejak api dari ruangan itu dipadamkan. Semua karyawan berkumpul dan masih berbincang tentang kronologi kejadian itu. Shanon tak banyak berkomentar. Ia hanya diam dan mendengarkan mereka.



"Tidak tahu, tiba-tiba saja gumpalan asap keluar dari ruangan itu," ujar salah satu diantara mereka.



"Kita tidak sering pergi kesana jadi kita tidak tahu siapa yang nekat membakar ranjangnya."



Tiba tiba Robert datang dan masuk ke dalam kerumunan. Perbincangan tentang kejadian itu berhenti seketika. Perasaan Shanon mengatakan ada hal buruk yang akan terjadi, terbukti dari tatapan marah Robert yang mengarah padanya.



"Kau, bagaimana mungkin kau bisa melampiaskan kemarahanmu dengan cara seperti ini?" tuduh Robert terhadapnya.



Mulut Shanon menganga terkejut. Karyawan lain menatapnya penuh curiga. Mereka menuduhnya?



"Saya pak?" tanya Shanon tak habis pikir.



"Staff dari bagian HRD melihatmu keluar dari ruangan itu setengah jam sebelum kebakaran itu terjadi," tukas Robert penuh penekanan. "Apa tujuanmu, Shanon? Kau ingin membakar seluruh gedung ini?"



"Pak, bukan saya pelakunya," bela Shanon penuh percaya diri.



"Tapi benar pak. Saya melihat Shanon keluar dari ruangan itu pagi ini," timpal karyawan dari bagian HRD itu.



"Saya tidak melakukan apapun, Pak. Saya berani menjamin."



Robert menggeleng. "Kau dalam masalah besar, Shanon."



Jantung Shanon berdebar kencang tatkala karyawan memisah memberi jalan untuk seseorang. Pimpinan perusahaan, Jared. Ia menutup matanya sambil mengutuk kesialannya hari ini. Seseorang tidak bisa bertahan dengan kebahagiaan beruntun. Ia menatap gugup ke arah Jared yang menunjukkan raut menyeramkan penuh intimidasi.



Tangan Shanon mendadak dingin. Ia tak bersalah tapi kenapa ia merasa tidak ada satupun yang percaya pada kata-katanya? Ditengah kerumunan seperti ini, apakah Jared akan mempermalukannya? Dengan gugup Shanon mengangkat kepala dan memberanikan diri untuk memandang lurus ke manik mata sang direktur.



Ia berharap ada keajaiban yang membuat Jared sadar bahwa ia tak akan merusak tempat bermakna itu dengan cara membakarnya. Ia yakin Jared akan mendukungnya. Namun pria dihadapannya ini bukanlah benteng pertahanan kuat miliknya. Jared belum menjadi miliknya maka dari itu suara yang mengalun tegas tanpa perasaan itu membuktikan segalanya.



"Angkat kaki dari perusahaanku," perintahnya begitu arogan. "Kau dipecat!"

__ADS_1


__ADS_2