Putih

Putih
Part 14


__ADS_3

Shanon berteriak bahagia di dalam hati saat Jared dengan begitu tenang melilitkan tangan pinggangnya kemudian memiringkan wajah untuk meraup bibirnya. Ia tak mau kalah dengan melewatkan momen ini begitu saja. Dengan liciknya Shanon menelusupkan tangannya ke dalam rambut pangeran yang didambakannya itu lalu menariknya pelan. Jared menggeram menikmati perlakuan Shanon terhadapnya. Respon itu memberi efek instan bagi Shanon. Kini ia bahkan sudah membayangkan hal yang ebih daripada ini. Sayang ketika mereka telah menemukan tempo yang tepat untuk menikmati ciuman satu sama lain, suara ketukan pintu menginterupsi mereka.


Jared yang pertama mendengar ketukan itu menghentikan gerakannya, diikuti Shanon yang diam tak berdaya ketika Jared melepaskan tautan bibir mereka. Deru napas Shanon masih memburu kala menatap pria di depannya dengan mata mengabut. Ia hendak mengatakan sesuatu saat ketukan pintu kembali terdengar.


Tersentak dengan itu, Shanon langsung bangkit dari pangkuan Jared dengan mata membulat. Ia berharap bukan Jimmy yang mencarinya sampai ke ruangan direktur. Sialan! Waktunya tidak tepat.


Jared menatap ke arah pintu kemudian pada Shanon.


"Sebaiknya kau bersembunyi," ucapnya membuat Shanon merutuki diri sendiri. Ini seperti film-film perselingkuhan dimana wanitanya akan bersembunyi di dalam lemari. Well, di ruangan ini tidak ada lemari baju semacam itu maka dengan insting, Shanon berjongkok kemudian menyusup ke kolong meja sang direktur. Aksinya itu mendapat tatapan aneh dari Jared. Di bawahnya Shanon malah menyeringai. Beruntung bagian depan kolong meja tertutup, jika tidak maka semuanya akan kacau.


"Masuklah," kata Jared setelah berdeham.


Pintu terbuka membuat Shanon merasa sedikit kalut. Siapa yang datang? Benarkah Jimmy nekat mencarinya sampai ke sini?


"Selamat malam, Mr. Jared," ujar seseorang yang suaranya tidak begitu dikenali Shanon.


"Ya Albert?" tanya Jared begitu santai seperti tak ada hal aneh yang terjadi di sini. Shanon bahkan terkagum-kagum di bawahnya. Layaknya seorang aktor, semuanya berjalan begitu mulus. Jared tampak tidak gugup sama sekali. Shanon tersenyum miring ketika ide gila menghampiri pikirannya.


"Saya mendapat panggilan dari Nyonya Olivia." Shanon mendengar kalimat dari Albert sambil mulai memainkan jari lentiknya pada kaki Jared. Tangannya bergerak pelan membelai sampai ke lutut pria itu lalu kembali turun dengan gerakan sensual. Seperti dugaannya, tubuh Jared menegang. Reaksi gugup mulai ditunjukkannya disana. Shanon berdecak pelan. "Nyonya mengatakan Davin sudah dibawa pulang dari rumah sakit. Tuan muda akan dirawat di rumah mulai malam ini, Mr. Jared."


Jared terlihat berpikir tapi tidak terlalu fokus karena gangguan dari Shanon. Mendengar hal itu membuat Shanon berhenti. Davin? Bukankah itu nama anak Jared? Fakta itu membuatnya merasa aneh seketika. Jadi anaknya sakit? Itukah alasan Olivia menghubunginya tempo hari?


"Bukankah harus dirawat di rumah sakit lebih lama?" tanya Jared setelah jeda beberapa saat.


"Saya juga tidak mengetahui alasannya, Mr. Jared."


Jared mengangguk. "Baiklah, siapkan mobil. Aku akan segera pulang."


Pintu kembali tertutup sebagai tanda Albert sudah meninggalkan ruangan. Di bawah meja, Shanon sudah mulai merasa gerah. Buru-buru ia berdiri dengan kaki yang mulai pegal. Tidak ada kata yang terucap diantara mereka kala Shanon mencari kesibukan dengan merapikan baju dan rambutnya. Suasana begitu tegang. Nyali yang awalnya timbul tinggi mendadak luntur setelah interupsi itu.


"Jadi anakmu sakit?" tanya Shanon memberanikan diri untuk menatap mata Jared.


"Hm," jawabnya begitu singkat.


Shanon menatap kaku ke arah lain sebelum mengatakan, "Well, sebaiknya aku pergi sekarang."


Dari sudut matanya ia bisa melihat Jared hanya mengangguk tanpa membalas dengan sepatah katapun.


Shanon ikut mengangguk lalu berjalan ke arah pintu. Segalanya berjalan begitu sempurna di awal. Ia tak rela melupakan semuanya dengan akhir canggung seperti ini. Jared juga tak menunjukkan tanda-tanda akan mencairkan suasana. Shanon menarik napas panjang kemudian berbalik saat ia sudah hampir mencapai pintu keluar. Jared masih berada di tempatnya, tampak hot juga berwibawa.


Tekad itu begitu besar menekan dada Shanon hingga ia melangkah cepat mendekati Jared. Jelas pria itu menampilkan raut heran.


Namun secepat kilat Shanon menarik dasinya lalu mengecup bibir menggiurkan itu sekali lagi. Kecupannya begitu singkat tapi mengalirkan sengatan aneh di sekujur tubuhnya dan ia yakin Jared juga merasakan hal yang sama. Terbukti dari ekspresi yang ditampilkannya. Pria ini tak pernah menduga apa yang akan ia lakukan.


Shanon melepaskan tangannya dari dasi Jared, merapikannya kemudian meletakkan kedua tangannya tepat di dada keras nan bidang itu seolah sedang melakukan apa yang biasanya seorang istri lakukan. Ia menampilkan senyum tipis dan berkata, "semoga dia cepat sembuh."


Setelah itu ia melenggang pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Setelah berada di luar, Shanon menutup matanya sambil menekan bibir kuat- kuat. Apakah itu sudah cukup nekat? Ia benar-benar sudah seperti wanita penggoda suami orang. Tanpa rasa malu ia tertawa. Siapa yang perduli saat semuanya sudah berjalan sejauh ini. Lagipula Jared adalah miliknya sejak awal.


Ia tidak akan menjadi wanita baik lagi. Jika menjadi baik membuatnya kehilangan segalanya maka ia tak akan mau menjadi baik lagi sampai kapanpun.



Jared masih terpaku untuk beberapa saat di tempatnya. Lagi-lagi ia mendapat serangan dari Shanon yang tak sanggup ia tolak sama sekali. Tangannya kembali mengambil gelas yang ditelantarkannya sebelumnya. Saat meneguk wine itu, Jared teringat bahwa sejak tadi ia sedang merenungi tingkah anehnya sepanjang hari ini. Minuman ini adalah penyejuk hatinya sebelum kehadiran Shanon di ruangannya.

__ADS_1


Shit!


Ini mustahil untuk dipercaya. Layaknya magnet, ia semakin dan semakin tertarik pada wanita itu. Jelas dia sudah menunjukkan secara nyata bahwa dirinya bukan wanita baik-baik tapi anehnya semakin Shanon mengatakan hal yang tak bermoral seperti itu, semakin ia penasaran dan ingin menelusuri segalanya.


Pengaruh Shanon begitu luar biasa sampai-sampai ia lupa diri dan membalas ciumannya.


Ya, ciuman itu. Ciuman kedua yang secara langsung menyatakan bahwa dirinya juga menginginkan sentuhan bibir manis itu.


Sialan!


Jared menjambak rambutnya sendiri. Ini sungguh gila baginya.


Momen dimana Shanon menyatukan bibir mereka membuat Jared terbuai dan tak ingin melepaskan sentuhan itu. Seolah tiba-tiba terikat, ia ingin mengetahui semuanya lewat ciuman Shanon. Hal yang membuat Jared semakin terkejut adalah keinginan yang begitu besar untuk tidak melepaskan tautan bibir mereka.


Ia terbayang kelembutannya. Terbayang sentuhannya.


Setiap sentuhan Shanon mengalirkan sengatan aneh yang membangkitkan imajinasi liarnya.


Ia tahu sejak awal bahwa ini akan menjadi masalah, karena monster di dalam dirinya perlahan sudah bangkit dan meminta perhatian lebih dari wanita itu.




Jared tiba di rumah tanpa mengenakan jasnya. Pemandangan pertama yang ia dapati adalah Olivia yang sedang mengaduk secangkir teh di tangannya. Alisnya terangkat saat berhadapan dengan istrinya.




Olivia tersenyum tulus lalu menyodorkan teh hangat itu padanya. "Aku menyiapkannya untukmu. Kau pasti lelah, Jared. Aku juga sudah menyiapkan air mandi hangat untukmu."



Jared duduk di kursi dapur, meneguk satu kali tehnya lalu menatap bingung pada Olivia. "Kenapa membawa Davin pulang begitu cepat?"



"Dia mengeluh disana dan terus menerus meminta untuk pulang."



"Tapi dia butuh perawatan dari rumah sakit," debat Jared mulai tak senang.



Olivia tersenyum tipis. "Tenanglah. Dia dirawat di rumah dengan kualitas penanganan seperti di rumah sakit."



Jared menarik napas panjang. "Bagaimana kondisinya?"


__ADS_1


"Sudah hampir pulih. Dia bahkan sudah bernafsu makan."



Jared mengangguk sebagai balasan. Ia tak pernah berkomunikasi panjang dengan Olivia sebelumnya tapi malam ini istrinya terasa berbeda. Apakah ini efek dari rasa bersalah sehingga istrinya kelihatan berbeda? Sepanjang hari Olivia mungkin sudah lelah mengurus Davin, sementara dirinya malah sibuk memikirkan wanita lain di kantor. Ia menggeleng.



"Aku akan melihat Davin." Jared berdiri dan meninggalkan Olivia sendirian disana. Ia tak tahu berapa lama dirinya sanggup bertahan dengan menatap sorot mata tulus istrinya itu. Seketika ia merasa telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya ia bisa mengontrol diri dan memikirkan masa depan keluarganya bukan malah sibuk bermain bersama wanita asing.



Di kamar Davin, Jared mengecup dahi anaknya yang sudah terlelap kemudian mengelus kepalanya. Senyum kecil terbit di bibirnya ketika melihat betapa banyaknya kemiripan antara dirinya dan anaknya jika dilihat secara fisik.


Tiba-tiba Jared merasakan sentuhan kecil di punggungnya. Ia menoleh ke belakang dan menemukan Olivia dengan senyum bahagianya disana.



"Terimakasih telah menjadi ayah dan suami yang baik," bisik Olivia membuat beban yang dipikulnya terasa semakin berat.



Ia telah melakukan kesalahan besar malam ini. Kesalahan besar yang membuatnya sangat menyesal. Jared menggenggam tangan istrinya lalu menatap penuh sayang pada Davin.



"Kau juga ibu dan istri yang sempurna, Olivia," gumamnya yang kemudian dibalas istrinya dengan rangkulan hangat di lengan serta kepala bersandar di pundaknya.



"Aku sangat beruntung memilikimu." Lanjut Olivia membuat Jared semakin dalam tenggelam dalam rasa bersalah.



Saat mandi Jared telah merenungkan segalanya. Ia harus meluruskan masalah ini dan mengendalikan segalanya. Saat masuk ke kamar ia mengambil ponsel cadangannya, menghapus semua pesan dari Shanon bahkan satu pesan yang belum dibaca. Setelah semuanya beres ia menon-aktifkan ponselnya yang satu itu kemudian tidur disamping Olivia. Ia berjanji untuk tidak mengaktifkan ponsel itu untuk waktu yang cukup lama. Matanya masih terbuka menatapi langit-langit kamar saat istrinya bergerak semakin dekat lalu memeluknya. Sekali lagi Jared merasa terpenjara oleh rasa bersalah yang mendalam. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh terbuai oleh nafsu sesaat.



Keesokan paginya Jared sengaja datang lebih lama demi menghindari sapaan pagi yang secara rutin telah dilakukan Shanon. Ia tidak ingin mengungkit apapun yang terjadi kemarin malam dengan Shanon. Di dalam hati Jared sudah menanamkan tekad untuk membuang perasaan yang timbul di hatinya terhadap Shanon jauh-jauh. Sebisa mungkin ia akan menghindari kontak dengannya.


Tepat pukul 8 pagi, Jared memasuki kantor dengan pintu yang dibukakan oleh Jimmy. Sesuai rencana ia berjalan cepat tanpa menoleh ke arah meja resepsionis sama sekali. Beruntung suasana kantor sudah ramai sehingga Shanon tidak bisa mengejar atau berbuat apapun terhadapnya.


Di dalam lift Jared mencoba menghapus memori tentang kejadian kemarin malam yang terus terulang di dalam pikirannya. Rasa senang, marah serta rasa bersalah begitu kental meracuni hati dan pikirannya.



Ini sangat kacau.


Jared bahkan berpikir untuk berpindah ruangan untuk sementara waktu.



'Sialan kau, Shanon! Beraninya kau mengubahku menjadi pria tidak berprinsip seperti ini! Beraninya kau mengacaukan dunia penuh damaiku!' geramnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2