
Shanon sedang menopang dagu sambil menatap tak fokus pada kesibukan beberapa karyawan di depannya. Hari ini ia masuk lebih awal karena perusahaan minuman ringan yang baru menerimanya tiga bulan lalu mengadakan penyambutan besar- besaran terhadap pemilik barunya.
Noire Company. Inilah dunia baru Shanon setelah beberapa kali keluar masuk perusahaan yang terasa terus menerus menyiksanya sampai ia harus mengundurkan diri berulang kali. Shanon hanya bisa berharap semoga ia bisa bertahan lebih lama disini.
Sekarang Shanon masih membayangkan bagaimana pertemuannya dengan pria itu nanti.
Ya, Jared Walter. Dia adalah pemilik baru perusahaan ini dengan 52% saham ditangannya.
What a small world, isn't it?
Akhirnya mereka dipertemukan kembali.
Shanon tersenyum kecil merasakan semangat menggebu membakar dirinya. Ia masih berandai-andai bagaimana ia akan menyapa Jared, bagaimana mereka berdua akan berbincang, dan bagaimana Jared akan meresponnya.
"Hei Shany, kau masih berkahayal ditengah kesibukan semua orang disini?" tanya teman kerjanya, Lowy. Mereka cukup dekat sebagai sesama resepsionis.
Shanon menggeleng. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Apa itu?" Lowy mengangkat kedua alisnya dengan senyum paham. "Oh kau sedang memikirkan boss baru kita ya?"
Mulut Shanon terbuka cepat untuk membantah.
"Tidak. Aku memikirkan hal lain."
Lowy meletakkan tangannya pada meja di depan mereka kemudian memanyunkan bibirnya.
"Sayang sekali, padahal semua karyawan wanita sedang berangan-angan untuk memiliki si tampan itu."
Shanon berdeham sambil mengelus lehernya. "Benarkah? Apa yang mereka ketahui tentangnya?"
Lowy tertawa. "Kau ini polos sekali, Shany." Dia mengisyaratkan pada gedung kantor pusat Noire Company. "Dia pria yang masih tergolong muda, tampan dan memiliki harta melimpah. Pernikahannya tak menjamin wanita lain tidak tergoda oleh pesona Jared Walter."
"Sungguh kau berlebihan," tanggap
Shanon menunduk berpura-pura memperbaiki berkas-berkas diatas meja sambil berdecak. Ya benar. Ia juga sudah mencaritahu tentangnya. Jared Walter sudah menikah dengan wanita cantik bernama Olivia Whine 3 tahun yang lalu. Mereka memiliki satu anak dari pernikahan itu.
Hell, itu bukan rahasia lagi. Jared memang selalu menjadi pusat perhatian. Keluarga kecilnya jauh dari kabar miring juga jauh dari sorotan media. Benar-benar keluarga harmonis yang sangat sempurna. Shanon tahu segala informasi tentangnya. Ia adalah stalker Jared nomor satu.
Seketika tubuhnya kaku akibat hantaman rasa gelisah. Ia akan bertemu Jared dalam beberapa menit kedepan. Apakah pria itu masih mengingatnya?
"Kau memang kurang info tentangnya," celoteh Lowy mengibaskan rambut. "Dia boss baru kita. Aku tidak menyangka dunia begitu adil mempertemukanku dengannya di perusahaan ini. Beruntungnya aku," ujarnya memegang kedua pipi dengan penuh bangga.
Shanon memutar bola matanya. Rasanya ingin sekali ia menghindar dari kerumunan dan secara personal mengobrol dengan Jared, namun apa daya, hanya inilah yang ia bisa dapatkan untuk sekarang. Penyambutan terhadap direktur utama akan dilaksanakan di aula kantor bersama dengan seluruh jajaran karyawan. Ia terpilih sebagai salah satu karyawan yang harus menyambut Sang Direktur Utama di pintu masuk kantor. Tidak masalah selama ia bisa mendapat spot terbaik.
"Kalian siap?" kata manajer personalia yang bernama Robert sambil menepuk tangannya meminta perhatian. "Berbarislah. Mr. Jared akan tiba dalam lima menit."
Jantung Shanon berdebar kencang tatkala ia melangkah ke posisi yang telah ditentukan. Tangannya terasa dingin dengan hati menggebu penuh semangat. Lima menit berlalu dengan cepat. Robert kembali memberi instruksi ketika mobil sedan hitam yang begitu mewah dan berkilau berhenti di depan pintu masuk perusahaan.
"Semuanya siapkan senyum terbaik kalian."
"Yes," jawab beberapa karyawan tak kalah semangat.
Shanon menampilkan senyum manisnya ketika Jared Walter dengan kemeja putih, dasi loreng merah dibalut tuxedo hitam memasuki lobby perusahaan. Rambut tak begitu pirangnya masih tetap sama, bola mata berwarna biru muda, rahang kokoh, dada bidang serta posturnya yang tinggi membuat hampir seluruh karyawan menarik napas kagum.
He is perfect. Totally perfect.
"Selamat datang, Mr. Jared," sambut mereka beramai-ramai.
__ADS_1
Jared mengangkat tangannya, memberi gestur ramah walau bibirnya tak menampilkan senyum sedikitpun. Tentu saja dia bersikap elegant di depan semua orang. Shanon menyeringai kecil mengingat betapa Jared sangat pandai menempatkan diri dalam berbagai situasi. Manajer Robert menjabat tangannya kemudian mempersilahkan sekaligus menuntun pimpinan perusahaan yang baru menuju aula perusahaan.
Shanon menelan dengan susah payah saat Jared melewati begitu saja beberapa karyawan wanita yang menyapanya.
"Selamat pagi, Pak."
"Selamat pagi, Mr Jared."
Jared berjalan dengan ekspresi seriusnya. Dia semakin dekat.
Shanon merapikan diri dengan senyum lebar. Tanpa sadar ia mengangkat tangannya bersikap akrab.
"Selamat pa...gi Mr. Jared," sapa Shanon dengan suara semakin kecil diujung kalimatnya. Bagaimana tidak? Jared tidak meliriknya sama sekali. Dia berjalan melewatinya tanpa perhatian atau balasan sedikitpun.
Shanon membeku dengan mata membulat tak percaya. Tangan yang semula terangkat untuk menyapa ramah Jared Walter perlahan turun dan mengepal.
Ia mengernyit. Benarkah Jared baru saja melakukan itu?
"Semuanya berjalan pelan dan masuk ke dalam aula dari pintu belakang," perintah Supervisor Edy.
"C'mon Shany. Kita tidak boleh ketinggalan segala sesuatu tentang boss baru itu," decak Lowy merangkul Shanon. Ia ditarik dan terpaksa ikut menuruti keinginan temannya.
Sesuai perintah, mereka masuk dari pintu belakang. Tak ada kursi tersisa kecuali barisan paling belakang. Semua itu menjelaskan bahwa seluruh karyawan juga ingin menatap lebih dekat pemilik baru perusahaan.
Masih seperti robot, Shanon duduk dengan tubuh kaku. Lowy yang berceloteh banyak sejak tadi tak menyadarkannya sama sekali. Ia terlalu terkejut.
Jared bersikap profesional atau dia memang sudah lupa?
Tangan Shanon mengepal kuat penuh kecewa dengan bibir mengetat ketika Jared diperkenalkan secara detail oleh MC, selanjutnya Jared yang mengucapkan sepatah dua patah kata pada seluruh karyawan. Semua itu masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri Shanon. Ia tak perduli dengan basa-basi Jared karena fokusnya mengarah pada kenapa?
Ada apa?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagaimana mungkin Jared melupakannya begitu saja?
Karyawan bertepuk tangan kuat tatkala direktur utama baru mereka menyelesaikan pidatonya. Jared terlihat bersalaman dengan beberapa pemilik saham lainnya sebelum akhirnya dituntun keluar dari aula.
"Luar biasa bukan?" kata Lowy dengan semangat. "Benar-benar Direktur yang sangat inspiratif."
"Uh?" jawab Shanon tak fokus. Lowy mengerut membuatnya secepat mungkin mengeluarkan senyum kecil. "Ya. Kau benar." Ia bahkan tak tahu apa yang benar. Ia hanya berharap jawabannya itu berkaitan dengan apa yang dikatakan Lowy sebelumnya.
Sepanjang hari berdiri dibelakang meja resepsionis, Shanon berpikir tentang apa? kenapa? dan bagaimana mungkin? Tubuhnya mendadak lemas mengetahui bahwa keberadaannya memang tak begitu penting untuk Jared.
Tiba-tiba tekadnya timbul. Apapun itu, ia harus meminta penjelasan. Ia harus tahu kebenarannya.
Ya benar sekali, saat Jared melintas untuk pulang, ia akan menyapa dan mengobrol bersama. Dengan semangat menggebu Shanon menunggu dan menunggu.
Tepat pukul 5.58 beberapa karyawan sudah pulang. Entah apa yang terjadi, direktur utama masih belum juga beranjak dari ruangannya. Shanon mendengus bosan. Berapa lama lagi ia harus menunggu? Bagaimana jika Jared malah bekerja lembur?
Tepat pukul 6.13, Shanon masih menunggu ditengah kegelisahan yang mulai menguasainya. Jemarinya mengetuk meja di depannya sejak tadi demi menenangkan diri.
Dimana pria itu?
Benarkah dia akan bekerja lembur dihari pertama? Yang benar saja!
__ADS_1
Bibir Shanon mengetat saat tiba-tiba Jared melintas dengan langkah panjangnya.
Mata Shanon membelalak, secepat kilat ia berlari mengejar pria yang 'untuk sesaat' ia lupakan telah menjabat sebagai direktur utama di perusahaan tempatnya bekerja.
"Jared!" panggilnya yang tanpa sengaja terdengar lebih kuat ditengah sepinya lobby kantor.
Langkah panjang itu terhenti. Dia berbalik dengan kernyitan di dahinya.
Jantung Shanon langsung berdebar diluar kendali. Pria ini masih saja begitu sempurna walau telah bekerja seharian di hari pertamanya. Shanon menelan dengan susah payah ditengah reaksi kakunya memandang ketampanan seorang Jared Walter.
"Kau memanggilku?" tanyanya dengan suara serak yang sangat dirindukan Shanon itu.
Shanon mengangguk gugup merasa begitu bodoh karena tak mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan kesempurnaan pria dihadapannya. Dia semakin sempurna, lebih dewasa, juga semakin mahir dalam bersikap profesional.
Jared mendekat dengan ekspresi tenangnya. "Tidak pernah diajarkan sopan santun?"
Shanon terkejut merasa sedang dimarahi seperti anak kecil. Ia mengerjap terkejut tapi masih mencoba untuk menguasai diri. Shanon menampilkan senyumnya lalu mengikis jarak yang tersisa antara dirinya dengan Jared.
"Hey Jared, aku Shanon. Kau sudah lupa?" tanyanya dengan sorot mata berseri berbalut kesedihan. Shanon baru sadar betapa besar kerinduannya setelah bertemu dengan jalan seperti ini.
Ekspresi Jared semakin dingin sampai Shanon merasa gugup dengan dirinya sendiri.
"Kau resepsionis disini?" lanjut Jared tanpa basa-basi sama sekali.
Shanon mengangguk mulai membasahi bibirnya yang kering. Ia semakin bingung kenapa Jared bisa bersikap seperti tak mengenal dirinya sama sekali. Ini sungguh tidak baik. Jantungnya berdebar cepat bukan karena penampilan menawan Jared lagi tapi karena kegelisahan akibat ketidakpastian.
Jared lupa padanya?
Bagaimana bisa?
"Aku bisa memecatmu saat ini juga karena sikap tak profesionalmu ini," kata Jared dengan suara mengeras. Tubuh Shanon semakin kaku atas segala tanda tanya didalam dirinya. "Bagaimana bisa perusahaan sebesar ini menerima karyawan tidak berkualitas sepertimu?" Geleng Jared dengan tatapan sinis.
Shanon hanya bisa menunduk. Ia merutuki dirinya karena tak mampu menjawab apapun.
Bukankah ini seharusnya menjadi takdir yang baik?
Bukankah ini seharusnya menjadi reuni yang sempurna?
Pikiran positifnya mendadak luntur pada fakta bahwa Jared Walter sama sekali tidak mengingatnya. Apa lagi yang harus ia katakan?
Kaki dan tangannya terasa dingin seketika.
"Kau akan berhadapan dengan manajer personalia besok," sembur Jared dengan tegas kemudian langsung berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar perusahaan.
Shanon tidak ingin semuanya berakhir hanya begini saja. Ia sudah mendapat masalah, kenapa tak menjadikan masalah kecil ini menjadi semakin kompleks? Ia sudah terlanjur basah lalu kenapa tidak bermain-main sedikit?
Detakan jantungnya semakin kuat saat sekali lagi ia memanggil pria sempurna itu.
"Jared Walter!" panggilnya kuat. Jared menoleh padanya sekali lagi seolah takjub akan keberaniannya yang masih saja bersikap semena-mena terhadap pimpinan bahkan setelah diberi peringatan.
"Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan melepaskanmu lagi."
Jared mengernyit tidak paham membuat Shanon semakin mahir membaca situasi ini.
"Kau sudah mendapat masalah dan baru saja menambahnya,"
cerca Jared acuh kemudian melenggang pergi meninggalkan Shanon dengan tubuh bergetar penuh kekalahan.
__ADS_1
Tak lama kemudian air matanya menetes bukan hanya karena kemungkinan bahwa ia akan dipecat besok tapi juga pada kenyataan bahwa Jared Walter sudah melupakannya.
Sepenuhnya melupakannya.