
Jared mengernyit. "Ingat?" Tatapannya menunjukkan tanda tanya besar pada pertanyaan Shanon. "Ada sesuatu yang kulupakan?"
Seakan jatuh dari lantai tertinggi sebuah gedung, Shanon meringis merasakan hantaman kesakitan di dadanya. Air mata yang sebelumnya sudah menumpuk di pelupuknya bersiap untuk jatuh dalam satu kali kedipan. Ia berusaha untuk mengelak dengan menatap langit-langit dapur sambil berharap sepenuh hati agar air mata itu menghilang dari sana.
"Hey, what's going on?" Tangan Jared menyentuh pipinya dan menyatukan pandangan mereka. "Kenapa kau menangis?" Jared mengernyit sembari menghapus air mata yang akhirnya menetes di pipi kiri Shanon.
Ia menggeleng, menyingkirkan tangan Jared kemudian menghapus air matanya sendiri. Ia merasa ***** dengan berharap begitu cepat. Ia tidak bisa lemah seperti ini. Ia harus tegar.
Shanon berusaha untuk tertawa kecil dan memberanikan diri untuk memandang Jared yang semakin kebingungan akan perubahan emosinya. "Aku... Aku hanya terbawa suasana."
Kernyitan di kening Jared semakin dalam. "Terbawa suasana karena?"
Shanon menangkup wajah Jared. "Aku sangat bahagia memilikimu."
Dia memicingkan mata penuh curiga. "Ada sesuatu dibalik sebutan 'my lil Shany'?"
Shanon menggeleng.
"Katakan." Paksanya menahan tangan Shanon yang hendak melepaskan sentuhan dari pipinya.
"Jared, aku hanya berbahagia mendapat panggilan yang begitu spesial darimu," bisik Shanon. "Kau membuatku merasa spesial."
"Kau memang spesial," jawab Jared dengan wajahmasih penuh keingintahuan. "Tapi reaksimu mengingatkanku pada sesuatu yang aneh belakangan ini."
Shanon mengernyit. "Apa itu?"
"Setiap kali bersamamu, bayangan seorang wanita melintas di pikiranku." Jelasnya mengeratkan genggaman pada tangan Shanon. "Aku berusaha mengingat tapi tidak bisa. Bayangan itu melintas begitu cepat. Sekarang aku bertanya-tanya apakah itu memang berhubungan denganmu."
"Aku tidak tahu mengenai itu."
"Kenapa kau terlihat gugup?"
Shanon menghembuskan napas panjang. "Jared, kita baru saja saling mengenal. Bagaimana bisa aku mengetahui semua tentangmu?"
"Kau benar." Setelah terlihat mempertimbangkan sesuatu sambil menatapi Shanon, akhirnya Jared mengalah dengan membawa tangan Shanon mengalung di lehernya. "Kau cantik bahkan ketika menangis." Jared mengelus pipinya. "Tapi kau jauh lebih cantik ketika tertawa."
"Aku tidak merasa begitu. Aku hanya wanita biasa, Jared."
"Karena itu," ujarnya mengecup puncak hidung Shanon. "Aku dikelilingi wanita luar biasa dan kau tahu? Mereka membosankan. Berbeda denganmu yang merasa biasa tapi menjadi tidak biasa untukku. Kau spesial, Shanon."
Shanon tersipu malu. Saat pertama kali bertemu dengan Jared ia memang merasa sangat spesial. Kini saat mereka telah menjalin hubungan, Shanon merasa berkali-kali lebih spesial sampai menganggap dirinya sebagai wanita paling beruntung di dunia ini.
Andai saja waktu itu ia tidak terlalu lemah. Andaikan ia tidak menuruti keinginan hati yang begitu lembut dan rapuh. Andaikan ia menjadi wanita egois dan berani, ia pasti sudah mendapatkan Jared yang begitu murni untuk dirinya sendiri. Sekarang Jared memang masih terlihat murni bagi Shanon walau sudah menikah tetapi kemurnian utuh dimana Jared belum pernah menyentuh orang lain selain dirinya merupakan sesuatu yang sangat ia harapkan. Oh andai saja ia tidak begitu lemah kala itu.
Shanon menggelengkan kepalanya mencoba kembali pada masa kini. Sekarang Jared ada di sampingnya. Sekali lagi Tuhan memberikan kesempatan itu padanya. Ia berjanji untuk tidak menjadi lemah dan putus asa dengan begitu mudahnya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Shanon mengecup kening Jared lalu tersenyum lebar. "Kau lapar, aku juga. Sebaiknya aku menyiapkan makan malam kita sekarang."
Jared mengedikkan bahunya. "Kurasa kau benar. Akan sangat tidak nyaman untuk berkeringat dalam keadaan perut kosong."
Senyum sensual dari Jared membuat degup jantungnya berdetak tidak stabil. "Okay, aku harus menyiapkannya sekarang." Ulang Shanon dengan suara bisikan.
Jared mundur selangkah seolah berniat melepaskannya tapi dalam hitungan detik kembali mendekati Shanon dan ******* bibir mungilnya. Wanita di hadapannya terlalu menggoda untuk diabaikan walau untuk sesaat. Ia tak akan melepaskannya dengan mudah.
Setelah puas menikmati momen romantis dengan bibir Shanon, Jared bergerak mundur dan mengagumi hasil kerjanya di sana. "Sekarang kau bisa memasak dengan tenang," ujarnya dengan mata yang sarat akan kabut gairah.
Tidak ada yang bisa diucapkan Shanon apalagi ketika napasnya masih menggebu setelah ciuman membabi buta dari Jared. Ia hanya bisa mengangguk seakan tak sadarkan diri. Anehnya ia masih terbuai sampai-sampai harus dibantu Jared untuk turun dari atas meja.
Jared dan Shanon menghabiskan waktu dengan makan malam diikuti dengan perbincangan hangat. Shanon merasa semakin dalam mengenal Jared yang baru sementara Jared semakin terbuai dengan kemampuan Shanon dalam menanggapi dan menyambung pembicaraan. Mereka berdua merasa sangat-sangat tenang akan keberadaan satu sama lain.
Setelah selesai makan malam mereka duduk di sofa dengan Shanon yang bergelayut manja di pangkuan Jared.
"Sudah pukul 11 malam," gumam Shanon yang menggelayut manja menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu. Entah sejak kapan ia merasa sangat mengantuk. Mungkin karena usapan lembut di kepalanya atau karena senandung pengantar tidur yang dinyanyikan Jared untuknya. Pada intinya semakin lama matanya terasa semakin berat untuk dibuka. Ia hanya menyadari dua hal setelahnya. Pertama, Jared beranjak dengan membawa dan menidurkannya di kamar. Kedua, Jared yang mengecup keningnya disertai bisikan, 'Good night, Shany.' Hatinya tersentuh penuh bahagia tapi tak bisa membalas. Ia menyerah pada rasa kantuk berlebihan itu.
Jared mengendarai mobilnya dengan sejuta pikiran di benaknya. Setiap malam ia harus memastikan Shanon berada di atas ranjang dan tidur nyenyak sebelum meninggalkannya sendirian di sana. Gejolak perasaan dan rasa keberatan karena meninggalkannya yang terlihat kesepian di atas ranjang selalu menjadi permasalahan.
Setiap malam ia harus memastikan keadaan apartemen aman sebelum mengunci pintu dan pulang. Setiap kali itu pula ia berharap untuk tetap tinggal dan menjaga Shanon di sana. Satu hal yang membuat kakinya dapat melangkah keluar apartemrn yaitu tanggung jawabnya yang lain. Jared harus melihat Davin dan memastikan kondisi Olivia juga. Dilema itu membuatnya hampir gila sampai berpikir untuk menyatukan mereka semua ke dalam satu rumah.
Kehidupan pernikahannya memang selalu seperti ini. Semuanya harus direncanakan dan disesuaikan. Tidak ada yang berjalan secara natural. Semuanya harus ditentukan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan dan sialnya ini adalah kali pertama ia mengingkari janji itu.
Berdekatan dengan wanita mungilnya membuatnya lupa seakan tidak ada masalah asalkan masih berdua bersama Shanon. Ia seolah bisa melawan dunia atau melupakan dunia ketika bersama dengan Shanon. Ini tentu tidak baik. Bagaimanapun juga ia memiliki tanggung jawab.
Setibanya di rumah, penjaga yang bernama Scott membukakan gerbang dan memberi salam padanya.
"Selamat malam, Mr. Walter."
Jared mengangguk. "Olivia sudah pulang?"
Scott mengangguk. "Ya, Sir. Nyonya Olivia sudah pulang dua jam yang lalu."
"Baiklah," balas Jared kemudian melangkah hendak masuk ke rumah.
"Um... Mr. Walter?" panggil Scott dengan suara ragu. Jared berbalik dengan kening mengerut. "Saya tidak tahu apakah berhak mengatakan ini tapi tadi Nyonya Olivia pulang dalam keadaan sedikit mabuk dan diantar seorang pria yang tidak saya kenali, sir."
Jared mengernyit. Olivia tahu peraturannya. Itu adalah kesepakatan paling mendasar diantara mereka.Jangan pernah mabuk saat berada atau kembali ke rumah. Perjanjian itu dimaksudkan untuk menjaga dan melindungi Davin. Kini Olivia melanggarnya membuat kekesalan membumbung di hati Jared. Ia harus memberi peringatan pada istrinya itu.
"Aku mengerti. Thanks Scott." Jared berbalik dan memasuki rumah.
Ia mencari keberadaan Davin yang ia ketahui seharusnya sudah tidur di kamar. Jared membuka kamar Davin dan mendapati anaknya tertidur pulas di sana. Jagoan kecilnya memang tidak mendapat perhatian penuh darinya maupun Olivia oleh karena itu dia menjadi anak yang mandiri. Andaikan Shanon adalah istrinya, dia pasti akan menjaga dan merawat Davin dengan baik. Selain itu, ia pasti akan betah berlama-lama tinggal di rumah bersama Davin dan Shanon.
__ADS_1
Jared mengelus rambut Davin,mengecup keningnya lalu beranjak keluar mencari istrinya yang mulai menjengkelkan dengan melanggar aturan. Ia mencari dengan membuka kamar satu persatu. Olivia tidak ditemukannya di kamar utama hingga Jared harus mencari ke dua kamar tamu untuk memastikan. Kamar pertama memang kosong membuatnya harus memeriksa kamar kedua.
Saat membuka pintu, matanya langsung bertatapan dengan Olivia yang tidur terlentang tanpa mengganti bajunya. Jared berjalan mendekat dan melihatnya yang juga tak sempat menghapus make-up. Ia menggeleng sambil melepaskan tas yang diletakkan Olivia sembarangan di atas ranjang.
"Mmhhh..." gumam Olivia merasa terusik.
"Olivia," panggil Jared sambil mengguncang pelan tubuhnya.
"Ada apa?" tanya istrinya yang kini membuka mata kecil. "Oh, Jared." Dia tersenyum hendak mengalungkan tangan di lehernya.
Jared menahan Olivia dengan gelengan. Bau alkohol masih begitu menyengat dimana-mana. Satu hal yang paling tidak ia suka ialah bau minuman beralkohol dari seorang wanita. Ia tak pernah mau menyentuh wanita mabuk sama sekali.
"Kenapa kau tidak mengganti pakaianmu?" tanya Jared membantu Olivia duduk.
"Oh itu... Urghh...aku...um..." Olivia bahkan tidak bisa menjawab dengan benar. "Oh aku tahu. Aku bersama temanku."
Jared mengernyit. Itu bukan jawaban yang benar untuk pertanyaannya. Ia mendengus kesal kemudian menarik restleting baju Olivia. "Kau harus melepaskan gaun ini."
"Hmmm," gumamnya lagi masih tak sadar.
"Kau akan kuberi pelajaran besok," ancam Jared sambil melepaskan gaun Olivia. "Kau sudah melewati batas yang kita sepakati." Dengan telaten Jared menyingkirkan baju dan sepatu yang dikenakan istrinya, bahkan mengambil sapu tangan, membasahinya lalu menghapus make-up yang masih menempel di wajahnya.
"Kau tidak pernah peduli padaku, Jared," kata Olivia dengan mata terbuka kecil. "Kau...tidak peduli."
Jared membaringkan Olivia lagi dengan gelengan heran. "Kau harus istirahat." Saat hendak menjauh, tangan istrinya menangkap lengannya.
"Jared... Sampai kapan kau akan menunggunya?"
Ia mengernyit. "Apa maksudmu?"
Olivia menghembuskan napas panjang lalu menutup matanya. Jared pikir istrinya hanya mengoceh sembarangan kemudian kembali terlelap tapi Olivia mulai lagi dengan gumaman itu untuk kedua kalinya. "Aku menunggumu mencintaiku...tapi...tapi kau menunggunya."
"Olivia?" panggilnya berniat menemukan konfirmasi dari perkataan tak masuk akal itu tapi Olivia sudah terlelap. Dia terlalu mabuk untuk menjawab atau mengatakan sesuatu berlandaskan bukti. Mungkinkah semua itu hanya omong kosong belaka? Jared memijit keningnya. Ini aneh.
Sekali lagi ia memandang istrinya penuh tanya sebelum keluar dari kamar itu. Jared membersihkan diri kemudian naik ke atas ranjang yang tak ditempati istrinya malam ini. Untuk beberapa saat ia berbaring menatap langit-langit kamar dan menemukan satu kepastian baru. Ia tidak merasa sepi tanpa kehadiran Olivia di sampingnya. Anehnya ia sama sekali tidak merasakan kehilangan sesuatu. Ini sangat berbeda dengan perasaan yang begitu tak rela saat berpisah dari Shanon sebelum pulang tadi.
Jared menutup mata dengan kernyitan dahi yang semakin dalam. Apakah sesuatu semacam itu bisa terjadi dalam waktu sesingkat ini? Damn! Benarkah ini pertanda bahwa ia, seorang Jared Walter yang sudah menikah, akhirnya jatuh cinta?
Ingatan tentang kekesalannya jika Shanon berdekatan dengan Hans dan sulitnya untuk meninggalkan Shanon sendirian di apartemen membuatnya semakin yakin. Semua ini memang pertanda. Ini adalah tanda bahwa ia sudah jatuh cinta pada Shanon.
Tbc
Terimakasih udah baca guys.
Keep voting yaaw... Tengkyuuu
__ADS_1