
Sesampainya di rumah, Shanon buru-buru mengambil ponsel dan langsung menghubungi Viella.
"Halo Vi." Mulai Shanon dengan suara bergetar.
"Halo Shany. Ada apa dengan suaramu?"
Shanon terdiam beberapa saat untuk menguatkan diri. Ia tidak bermaksud untuk membuat Viella khawatir namun apa daya? Kejadian ini diluar dugaannya.
"Aku satu kantor dengannya." Lanjut Shanon dengan suara kecil. Ia tahu Viella tidak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang ia bicarakan. Wajar saja, Shanon memang tidak pernah menceritakan rumor itu pada sahabatnya ini.
"Dia? Dia siapa?"
Shanon menelan kesedihannya. "Jared."
Terdengar Viella menarik napas terkejut. "OMG! Jared? R-really? Jared? Jared Walter?
"Hm," gumam Shanon tak mampu berkata-kata.
Viella terdiam sama sepertinya. Sahabatnya itu tampak sedang meresapi apa yang sedang terjadi disini. Shanon memang tak pernah membahas masalah Jared sejak 4 tahun lalu. Ia bertingkah seolah pria itu sudah lenyap tak bersisa dari hidupnya. Selama ini ia sanggup menahan diri untuk tidak buka suara tetapi saat sosok yang sekuat tenaga coba ia lupakan itu kembali muncul dan akan selalu muncul dalam keseharian Shanon membuatnya terguncang.
"Kudengar dia sudah menikah," ujar Viella bersikap tenang.
"Ya, aku tahu itu."
"Kau merindukannya?"
Shanon terdiam beberapa saat sebelum mengakui dengan gumaman kecil.
"Bagaimana responnya saat melihatmu?" tanya sahabatnya itu yang kemudian kembali memperdalam tusukan pisau di dadanya. Perih dan begitu menyakitkan.
"D-dia... Dia tidak mengingatku."
"Maksudmu Jared bertingkah seolah tak pernah mengenalmu?"
Shanon menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak tahu. Aku melihat diriku yang sangat asing dimatanya, layaknya dia baru saja bertemu dengan orang baru," ujarnya sambil mengeratkan gigi.
"Kau mengatakan apa?"
"Aku menyapanya. Dia marah karena aku bersikap tak formal terhadapnya yang menjabat sebagai direktur utama." Shanon menutup matanya merasakan pedih. "Besok aku akan berhadapan dengan manajer personalia. Aku yakin karirku akan tamat."
"Oh Shany," ujar Viella penuh iba. "Aku tahu apa yang kau rasakan tapi percayalah, akan sangat salah jika kau masih menginginkannya. Dia pria yang sudah beristri. Jared hanyalah mantan kekasihmu. Menurutku keputusannya untuk melupakan segalanya itu cukup baik karena semuanya memang sudah berakhir."
Shanon menunduk penuh kesedihan. "Kau benar," balasnya dengan bisikan. "Aku akan menghadapi resiko dari semua ini besok. Terimakasih sudah mengingatkan posisiku, Vi."
Viella tak langsung menjawab. Terdapat jeda panjang sebelum sahabatnya itu kembali berbicara. "Kau sudah menderita cukup lama. Percayalah ini semua untuk yang terbaik."
"Aku tahu." Shanon menarik napas panjang. "Thanks Vi. Good night."
"Good night, Shany."
Setelah percakapannya dengan Viella berakhir, Shanon bergelut diatas ranjang dengan tangis panjang. Air matanya tumpah untuk menangisi apa yang telah hilang dari hidupnya. Viella memang benar tapi Shanon sudah muak menjadi bagian baik yang selalu mengalah. Sejak dulu tidak ada satu orangpun yang bersedia untuk memihaknya. Semua orang mengatakan bahwa ia tak pantas, memintanya untuk menyerah, mendorongnya untuk mundur. Penyiksaan seolah datang tanpa henti untuknya. Namun sekarang Jared muncul dihadapannya. Jika ia memang benar ditakdirkan untuk tidak bersama dengan Jared maka kenapa mereka dipertemukan kembali?
Apakah hanya untuk menguji kesabarannya?
Shanon menggeleng merasakan bantal yang kini basah oleh air matanya.
Berapa lama lagi ia harus menangisi Jared? Tepat setahun lalu ia memutuskan untuk tidak memikirkan pria itu lagi tapi kenapa lagi-lagi ia harus diuji dengan pertemuan seperti ini?
Ia menutup mata dengan sedih. Semua ini pasti bermakna sesuatu. Ya benar sekali. Jared pasti kembali untuk mengingatkannya akan hal yang harus ia perjuangkan. Shanon tidak akan kehilangan lagi. Ia pantas berjuang dan kali ini harus pantas mendapatkan apa yang diperjuangkannya.
Tekad Shanon sudah bulat. Ia tidak akan menyerah. Walau Jared sudah lupa akan dirinya, ia akan tetap berjuang. Jika Jared yang dulu tidak bisa ia kembalikan, maka ia akan menjadikan Jared yang baru untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Tangan Shanon mengepal. Ia tak akan lemah lagi. Apapun rintangan di depan, ia akan menghadapinya dengan sekuat tenaga karena hal pertama yang akan ia lakukan adalah mencari perlindungan. Perlindungan kuat yang akan selalu berpihak padanya.
Jared Walter.
Ia akan membuat Jared jatuh cinta lagi kepadanya.
Sarapan pagi Shanon kali ini bukanlah makanan melainkan teguran dari bagian HRD. Disana sudah hadir Mr. Robert yang merupakan manajer personalia. Dia benar hadir disini sesuai dengan apa yang dikatakan Jared kemarin sore. Kini ia bak sedang disidang akibat kejahatan besar yang sudah ia lakukan.
"Apa kau tidak tahu aturan, Shanon?" tegur Mr. Robert. "Kau tidak membaca peraturan? Ingat posisimu. Kau seorang resepsionis yang harus selalu menjunjung tinggi kesopanan dan kesantunan lalu bagaimana bisa sikap tidak profesionalmu muncul dan tertuju pula pada direktur utama?"
Mr. Robert menunjuk pada cctv yang menampilkan bagaimana Shanon dengan lantangnya memanggil dan berbincara tak sopan pada pimpinan perusahaan. Ia hanya bisa mendengus lemas dalam hati.
"Maaf pak. Saya tidak bermaksud demikian." Shanon menampilkan sorot wajah memelasnya. "Bapak mengetahui kualitas saya selama tiga bulan ini, pak. Saya berusaha keras untuk tidak pernah membuat cela. Kemarin saya tidak sengaja melakukan itu karena Mr. Jared mirip sekali dengan mantan kekasih saya, pak. Saya pikir itu dia, ternyata bukan. Saya sepertinya sedang berhalusinasi, pak." Shanon memohon dengan tangannya.
"Tolong beri saya kesempatan sekali lagi pak. Saya tidak akan mengulanginya. Saya akan minta maaf pada Mr. Jared. Saya akan lakukan apa saja untuk mempertahankan pekerjaan saya, pak."
Mr. Robert menoleh pada Hans yang merupakan kepala bagian HRD. Dia kembali menatap Shanon yang sedang menunjukkan raut keputus-asaannya sebelum berkata, "Jika tidak karena Mr. Hans yang membelamu dan menunjukkan semua riwayat pekerjaan baikmu maka kau pasti sudah keluar saat ini juga, Shanon."
Shanon hanya bisa menunduk dan mendengarkan. Ia siap diceramahi sepanjang hari asalkan tidak dipecat hari ini juga.
"Saya akan bicarakan ini dengan
Mr. Jared. Sebaiknya utamakan kualitas dirimu, Shanon. Jika tidak maka tak ada satupun dari kami yang dapat menolongmu."
"Baik, pak. Saya mengerti. Terimakasih pak." Shanon membungkuk pada Mr. Robert lalu pada Hans yang memang selalu bersikap baik padanya. "Terimakasih, Mr. Hans."
"Kau boleh kembali pada pekerjaanmu," perintah Mr. Robert yang langsung diikuti Shanon dengan cepat.
Ia menutup pintu ruangan bagian HRD dibelakangnya kemudian menghembuskan napas panjang penuh kelegaan. Tak lama kemudian senyum lebar terbit di bibirnya.
You are doing good, Shany.
Secepat kilat ia mengatakan pada Lowy bahwa ia harus ke toilet karena masalah pencernaan. Tentu saja diberi izin, tapi yang Shanon lakukan bukanlah pergi ke toilet melainkan masuk ke dalam lift dan menekan tombol yang mengantarnya ke lantai 18 yaitu ruang khusus Sang Direktur Utama.
Senyum miring terbit di bibirnya. Here we go.
"Selamat pagi, Fira," sapa Shanon pada Fira Atyana, sekretaris Jared.
"Pagi, Shanon." Dia mengernyit. "Keperluan apa yang mengantarmu sampai pada area direktur utama?"
Shanon tertawa kecil. "Kau tahu? Aku baru saja mendapat masalah yang berhubungan dengan direktur baru kita. Manajer personalia, Pak Robert, memintaku untuk minta maaf atas perilaku tidak baikku kemarin sore. Jadi aku ingin tahu jadwal kosong Mr. Jared pukul berapa? Aku ingin memanfaatkan waktu sesingkat mungkin untuk menyelesaikan masalah ini."
Fira tertawa sambil menggeleng. "Semua orang memang terobsesi pada Mr. Jared tapi baru kali ini aku melihat karyawan yang nekat sepertimu."
Shanon memutar bola matanya. "Aku tidak sengaja," sambungnya dengan tawa kecil. "Cepatlah beritahu. Aku harus kembali kebawah."
Fira tertawa, mengotak-atik komputer di hadapannya lalu mengarahkan pandangannya lagi pada Shanon.
"Mr. Jared punya waktu senggang sekitar 15 menit setelah jam makan siang."
Shanon mengangguk.
"Thanks Fira. Aku akan kembali nanti." Ia melenggang pergi meninggalkan Fira yang menggeleng heran.
Jam berputar dengan cepat hingga jam makan siang hampir selesai. Shanon buru-buru naik ke lantai 18 berusaha untuk mendapat kesempatan bertemu dengan Jared di ruangannya.
Fira sudah berdiri di posisinya dan tampak mengantisipasi kedatangan Shanon.
"Hei Fira, pak direktur ada didalam?" tanya Shanon menunjuk pada pintu.
__ADS_1
Fira mengangguk. "Tapi aku harus bertanya pada Mr. Jared bilamana dia mengizinkanmu masuk atau tidak."
Oh hell!
Bagaimana jika dia tidak mengizinkan?
Shanon mengangguk paham.
"Usahakan agar dia mengizinkanku masuk," timpal Shanon saat Fira mengangkat gagang telponnya.
"Aku sangat butuh ini. Please." Mohon Shanon membuat Fira bingung harus mengatakan apa jika Mr. Jared menolak kehadirannya.
Shanon menunggu saat Fira berkata,
"Selamat siang, Mr Jared. Shanon Aldeana dari bagian resepsionis ingin bertemu dengan anda. Apakah anda memberikannya izin untuk masuk, Mr. Jared?"
Shanon tak dapat mendengar balasan dari direktur barunya tapi dengan sabar ia menunggu dan menunggu lagi. Tiba saatnya Fira meletakkan kembali gagang telponnya, Shanon langsung berdiri tegak.
"Bolehkah?"
"Ya." Fira bergerak gelisah. "Hanya saja Mr. Jared tidak punya banyak waktu. Disamping itu, dia terdengar tidak senang dengan kehadiranmu." Fira mengangkat kedua alisnya ketika melihat Shanon yang malah tersenyum tipis.
"Aku bisa mengatasinya," ujar Shanon bergerak menuju pintu yang kini terlihat sedikit menyeramkan itu. "Aku harus segera masuk. Waktu pimpinan tentu tidak banyak, bukan?"
Tanpa pikir panjang, Shanon mengetuk lalu membuka pintu. Ia masuk ke dalam ruangan yang begitu rapi dan bersih. Satu sisi dinding ruangan didesain transparan membuat gedung-gedung kota New York tampak begitu jelas. Mata Shanon langsung bergerak cepat mencari sosok yang menjadi tujuan utamanya.
Jared Walter. Dia sedang duduk di kursi kebesarannya. Hari ini dia mengenakan kemeja putih dengan dasi cokelat. Rambutnya masih terlihat rapi, wajahnya masih segar tapi sorot matanya begitu sinis.
Shanon sedikit kaku, walau begitu secepat kilat ia berusaha untuk menghapus kegelisahan itu dari wajahnya. Dengan senyum percaya diri dia melangkah masuk semakin dekat dengan Jared.
"Selamat siang, Mr. Jared," sapa Shanon tanpa ragu sama sekali. Sudah cukup baginya untuk selalu hidup dalam keraguan. Kali ini Shanon tak lagi berminat untuk menjadi lemah.
Sebelum hadir disini ia memang mempersiapkan diri sematang-matangnya. Kalimat dan make up sudah ia poles sebaik mungkin. Shanon bergidik geli saat bercermin siang ini. Betapa ia sangat berminat membuat sang direktur terpikat pada pesonanya.
Ia pernah berhasil satu kali, lalu apa bedanya dengan kali ini? Sekarang ia sudah lebih dewasa dalam segala hal. Bukankah poin penting sudah ia dapat saat segalanya sudah menjadi matang?
Jared menatapnya dengan ekspresi datar bahkan dingin. Dia duduk penuh arogansi disana sementara Shanon tanpa malu berdiri elegan dengan sengaja mengeluarkan sejuta pesonanya.
"Kau masih punya urusan pribadi denganku?" kata Jared layaknya boss penuh kontrol diri pada umumnya.
Shanon sempat tidak fokus saat mendengar suara manis yang dulu ia suka kini berubah menjadi sangat sinis dan terasa jauh. Semuanya berubah, bukan begitu? Waktu pasti mengubah segalanya.
"Saya datang untuk minta maaf atas tindakan saya, Mr. Jared." Dengan sorot mata tangguh namun memelas Shanon langsung duduk di kursi depan Jared tanpa izin. Ia melipat tangan, mencondongkan tubuhnya sedikit dan kembali bersikap semi formal. "Saya yakin perkataan saya sudah menimbulkan keresahan untuk anda."
Shanon mendekatkan diri dengan sengaja agar Jared bisa melihat bibir mungil yang kini dilapisi lipstik merahnya. Sejak masuk sebagai karyawan baru di kantor ini, beberapa pegawai pria sering memuji kecantikannya bahkan mengaguminya. Awalnya ia tidak menggubris tapi sepertinya sekarang ia butuh pujian itu sebagai cerminan diri.
Shanon pikir Jared akan tetap diam pada posisinya. Sungguh ia salah besar. Jared ikut melipat tangannya diatas meja lalu mencondongkan tubuhnya sama seperti yang dilakukan Shanon sebelumnya.
Direktur ini bukanlah pria tua yang sudah menikah dan punya banyak anak. Jared memang sudah menikah dan memiliki satu anak tapi dia masih tergolong muda, maka dari itu perilakunya juga masih bisa mengimbangi Shanon. Jared seakan tahu apa yang sedang Shanon lakukan disini.
Shanon yang sama sekali tidak mengantisipasi balasan Jared atas gerak-geriknya merasa risih seketika. Ia pikir Jared yang kaku, profesional dan dingin ini akan tetap menjaga sikap formalnya tapi ternyata tidak. Dia membalas layaknya pria single sungguhan.
"Shanon Aldeana. Nama itu cukup bagus untukmu," ujar Jared dengan ekspresi datarnya. "Jika kau masih ingin menjaga nama indah itu dengan citra yang baik maka jaga sikapmu mulai dari sekarang."
Kalimat pedas itu cukup melunturkan tekad Shanon dalam hitungan detik. Semua yang dilakukan Jared Walter disini sangatlah profesional juga sangat mencekam. Setiap gerak gerik dan perkataannya seolah mencabik tubuh Shanon berulang kali. Bahkan untuk sesaat ia berpikir ulang tentang kesanggupannya memainkan peran ini.
Ia tahu ini salah tapi tidak ada jalan lain. Jika jalan yang salah ini mampu menuntunnya pada kemenangan besar maka dengan senang hati ia akan melakukannya.
Tanpa takut, Shanon mengeluarkan senyum miring dengan tatapan mata mengarah pada mata biru muda dihadapannya tanpa gentar sedikitpun.
"Nama indah dengan citra baik tak selalu mengantarkan kita pada sebuah kesenangan," ucap Shanon mulai memainkan jemari lentiknya diatas bibir merahnya.
__ADS_1
"Bagaimanapun juga kau butuh api untuk mendapatkan secangkir kopi panas terbaik, bukan begitu Mr Jared?"
Mereka saling bertatapan dan merasakan aura masing-masing. Tidak ada yang mengalah disini. Namun satu hal yang Shanon tahu, Jared sudah mulai melangkah masuk ke dalam jeratannya.