Putih

Putih
Part 21


__ADS_3

Jared dan Shanon tiba di salah satu restaurant yang jauh dari kantor dan rumah masing-masing. Jared menggenggam tangan Shanon saat keluar dari mobil dan masih menggenggamnya saat memesan private room. Shanon masih belum tahu harus berkata apa karena kekesalan sudah membumbung di hatinya. Namun perlakuan kecil dari Jared dengan bergenggaman tangan saat masuk restaurant membuat hatinya luluh secara perlahan.


Setibanya di private room, Shanon melangkah untuk duduk berhadap-hadapan dengan Jared. Langkahnya berhenti saat dia berkata, "Siapa yang menyuruhmu duduk disana?"


Kalimat pertamanya setelah acara diam-diaman di dalam mobil membuat Shanon kaku di tempat.Kedua alisnya beradu. "Lalu?"


Jared mengeraskan rahangnya dan mengisyaratkan untuk duduk di sampingnya. Tanpa banyak protes Shanon langsung menuruti perintah itu. Suasana begitu canggung saat mereka memesan makanan dan masih begitu canggung saat pelayan keluar ruangan. Jared mengeluarkan ponselnya dan tampak sibuk mengetik dan mengurus sesuatu. Beberapa kali dia mengangkat telpon dari staf kantor dan kolega lainnya sementara Shanon hanya bisa berdiam diri sambil memainkan jemarinya. Ia masih dilema antara mengamuk atau pasrah pada keadaan sebab semuanya sudah terjadi di luar kendalinya.


Setelah sibuk dengan dunianya untuk beberapa saat, Jared menarik napas panjang sebelum meletakkan ponselnya.


"Kenapa kau begitu keberatan?" Kali ini mereka bertatapan dengan jarak yang cukup dekat.


Shanon mengedikkan bahu. "Kau tahu, aku tidak ingin dianggap wanita yang haus harta walau tidak ada satu orangpun yang tahu hubungan kita." Ia menelan air liurnya. "Setidaknya aku tidak ingin terlihat seperti wanita murahan yang haus harta di matamu."


"Aku pernah mengatakan itu?!" gertak Jared membuat Shanon meremas tangannya sendiri.


"Okay memang tidak tapi aku..." Shanon bergerak gelisah.


Jared merengut tak senang. "Katakan," ujarnya sedikit memaksa.


"Aku tidak ingin terlihat seperti kau membayarku atas sex yang telah kita lakukan. Aku keberatan karena tidak ingin mendapat kesan seperti kau membayarku atas itu."


Ha... Ia sudah mengatakannya.


Akhirnya ia bisa mengeluarkan kalimat yang sudah ditahannya sejak pertengkaran di kantor siang tadi. Tidak ada balasan langsung dari Jared hingga membuatnya harus memberanikan diri untuk menoleh dengan harapan akan dimengerti pada situasi ini. Namun yang ia dapat bukanlah sebuah pengertian melainkan kemarahan yang lebih besar dari sebelumnya.


Situasi berubah begitu cepat. Sesaat Shanon kaku di bawah tatapan tajam Jared dan sesaat kemudian sudah berada dalam dekapannya dengan bibir yang telah dilumat kasar. Shanon menarik napas terkejut sementara Jared sibuk menarik pinggangnya lebih dekat dan memperdalam ciuman mereka. Jantung Shanon berdetak begitu kuat apalagi ketika Jared menggigit kuat bibir bawahnya sampai terasa sakit, bahkan mengeluarkan darah.


Shit!


Ini mengerikan. Jared malah membalasnya dengan amarah penuh tindakan sensual seperti ini. Shanon melenguh saat Jared menghisap luka gigitannya di bibir Shanon. This is intense. Shanon sangat terbuai olehnya. Tepat saat ia hendak mengikuti alur permainan Jared, dia spontan menggeram dan melepaskan tautan bibir mereka. Shanon melenguh tidak rela.


"I'll give you everything, so what?" ujar Jared dengan sorot mata penuh kabut gairah bercampur amarah yang entah kenapa malah membuat Shanon menatapnya lebih sempurna dibandingkan sebelumnya. "Kepala mungilmu ini berpikir terlalu jauh, Shanon. Aku memberikan tempat tinggal karena ingin tenang dengan mengetahui kau tinggal di tempat yang aman dan nyaman. Aku ingin memberimu mobil karena ingin kau jauh dari bahaya. Bisakah kau berhenti memikirkan hal negatif?"


Shanon menggigit bibirnya yang terluka kecil oleh gigitan Jared. Ini terasa sangat hot. Tubuhnya terasa panas akibat perlakuan dan perkataan Jared terhadapnya. Ia tidak percaya telah mendapatkan kepercayaan dan sedikit perhatian tulus dari Jared. Perlahan...


Perlahan ia berhasil mengembalikan Jarednya yang dulu.


"Kau tidak salah. I'm sorry. Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang berlebihan terjadi secara tiba-tiba. Itu saja." Ia menarik napas dalam-dalam. Sebelah tangannya menyentuh pipi  Jared lalu melanjutkan, "Jika itu membuatmu tenang, aku akan menerimanya."

__ADS_1


Tatapan tajam Jared perlahan luntur. Dia terlihat lebih tenang saat mengecup telapak tangan Shanon. "Astaga, bertengkar dengan wanita mungil sepertimu ternyata sangat melelahkan."


"Mungil?" ulang Shanon dengan mata membulat.


Jared mengangguk. "Ya, mungil. Lihat tubuhmu. Kau sangat kecil."


Shanon menyipitkan matanya. "Maksudmu mungil berarti pendek dan tidak sexy?"


Jared tertawa. Tawa lepas yang menularkan kebahagiaan di wajah Shanon. Ia ikut tertawa tapi tiba-tiba Jared menyatukan dahi mereka dan dengan tatapan penuh kepastian mengucapkan, "Kau wanita terseksi yang pernah kulihat. Aku bahkan mendapat kepuasan hanya dengan memandangmu saja."


Pipi Shanon berubah merah merona. "Kau sangat pandai menggoda wanita, Pak Direktur."


Jared tidak tertawa. Raut wajahnya tetap serius dan sensual saat berbisik, "Kau berada di luar ekspektasiku. Bagaimana bisa aku menolakmu selama berminggu-minggu?" Ujung jemarinya membelai pipi merona Shanon. "Damn! You're so beautiful."


"I'm so happy," balas Shanon.


"I'm not," jawabnya.


Wajah Shanon murung seketika. "Why?"


"Because you haven't kissed me yet."


Mendengar itu Shanon langsung menyatukan bibir mereka, mengecup dan merasakan kehangatan yang ditawarkan oleh bibir masing-masing. Setelah cukup lama berkutat dengan ciuman itu, Shanon melepaskannya.


Jared menyeringai. Seringaian yang begitu sempurna membuat dirinya terlihat beratus kali lebih tampan. Shanon mengelus wajah tampan itu kemudian mengecup puncak hidungnya.


"Yeah... Me too."



"Ini apartemen yang kupilihkan untukmu." Jared menunjuk pada  apartemen nomor 826. "Kita bisa melihatnya dan menggantinya jika kau tidak suka."


Shanon menggeleng. "Kau tahu ini sudah lebih dari cukup."


Jared mengangguk lalu membukakan pintu. Pada pandangan pertama Shanon sudah jatuh cinta pada ruangan itu. Semuanya tampak bersih dan cozy. Shanon bahkan merasa sedang mendapatkan jin yang mengabulkan tiga permohonannya. Pertama Jared, kedua rumah dan ketiga mobil. Ia berdecak atas pikiran itu. Shanon lanjut berkeliling memandangi setiap sisi ruangan dan semakin menyukai rumah barunya.


"Woah... Ini luar biasa," ucap Shanon kagum.


"Kau suka?" tanya Jared di belakangnya.

__ADS_1


Shanon langsung berbalik dan memeluknya. "Jared, thank you. Ini sangat indah. I love it."


Jared membalas pelukannya tak kalah erat. "Aku tidak memberikannya secara cuma-cuma." Shanon menaikkan kedua alisnya saat senyum manis terbit di bibir Jared.


"I want you," bisiknya.


Desiran hangat menerpa tubuh Shanon. Ia mengangguk dan bergerak cepat membuka kancing kemeja pria di hadapannya itu kemudian meraba setiap inci tubuh hangat Jared. Bibir mereka masih bertautan sepanjang kedua tangan mereka saling menyentuh tubuh satu sama lain. Mereka berakhir di atas ranjang dengan Jared yang berkali-kali mendapat kepuasan yang memabukkan dari Shanon. But he just can't get enough. Dia menyentuh Shanon dimana-mana sampai akhirnya berhenti setelah melihat raut lelah terpatri di wajah wanita cantik di dekapannya itu.


"Sleep," ujarnya mengecup kening Shanon.


"Hmm..." gumamnya. "Kita tidak pulang?"


"Kau tinggal di sini," kata Jared meraba punggung polos Shanon.


"Tapi barang-barangku..."


"Aku sudah memindahkannya."


"Bagaimana bisa?" Shanon mengangkat kepalanya dari dada bidang Jared. "Kunci rumah ada padaku."


"Kau tidak perlu tahu, yang terpenting barang-barangmu sudah ada di sini."


Shanon kembali meletakkan kepala di atas dadanya. Jared tidak bisa menahan diri dengan tidak mengusap rambut lembut wanita di dekapannya itu. Entah kenapa ia merasa sangat nyaman berada di dekat Shanon.


"Kau tidak pulang?" lanjut Shanon setengah tertidur.


"You need to sleep. Berhenti bertanya-tanya." Ia mengecup keningnya sekali lagi.


"Kau harus pulang. Mereka pasti khawatir," guman Shanon pelan sebelum akhirnya bergelayut manja dan tertidur di pelukannya.


Jared masih terjaga dari tidurnya. Ia berpikir dan terus berpikir. How could this thing happen to him? Ia menyayangi keluarganya tapi tak bisa meninggalkan Shanon. Ia tahu Olivia pasti khawatir tapi ia tak sanggup melepaskan dekapannya atas Shanon.


Jared menarik napas panjang, bergerak sedikit dan membuat Shanon tidur terlentang dengan lengannya sebagai bantal. Ia menyingkirkan rambut nakal yang menutupi wajah Shanon kemudian manatapinya. Dalam sekejap wanita ini sudah begitu berharga untuknya. Ia khawatir, protektif dan pencemburu. Ia merasakan perasaan asing yang tidak ia pahami. Ini adalah perasaan yang belum pernah ia rasakan terhadap Olivia. Seperti yang dikatakannya sebelumnya, wanita ini sangat ahli mengacak-acak hidupnya dan meletakkan dirinya di sana sebagai pusat perhatian.


Jared mengecup pipi lembut Shanon dan merasa bingung. Kenapa ia begitu terikat dengan seseorang yang baru saja ia kenal? Kenapa Shanon terasa sangat berharga dan tak ingin ia lepaskan dalam waktu sekejap?


Jared memandangi wajah Shanon. Memandanginya terus sampai sesuatu melintas di pikirannya. Bayangan seorang wanita... Senyumnya... Rambut panjangnya...Jared menutup matanya sambil menggeleng. Ia tak bisa melihat wajah wanita itu. Siapa dia? Jared menyentuh keningnya. Ini sudah kali kedua bayangan itu masuk secara tak sengaja ke dalam ingatannya dan keduanya selalu muncul ketika berada di dekat Shanon. Ia menatap Shanon dengan kening mengerut.


"Who are you, Shanon?" bisiknya begitu pelan.

__ADS_1


Tbc


Author menunggu jejak kalian guys 😘😘


__ADS_2