
Shanon bergerak dan meraba satu sisi ranjang yang diketahuinya sebagai tempat Jared berbaring kemarin malam. Bagian itu dingin dan tak ada tanda-tanda keberadaan tubuh kekar itu disana. Shanon mendengus walau masih belum membuka mata sepenuhnya.
Jared terlalu baik dengan memberikan apartemen sebagus ini untuknya. Ini juga terasa seperti kali pertama Shanon merasakan tidur yang begitu lelap karena ranjang yang begitu empuk, luas dan selimut yang lembut.
Betapa bahagianya menjadi orang kaya! Betapa bahagia pula menjadi istri sah Jared Walter!
Shanon seharusnya berada di posisi itu dan tidak perlu bekerja keras dengan kehidupan yang teramat susah ini. Semua terjadi karena satu orang dan ia siap untuk memberikan serangan balik demi membalaskan dendamnya.
Shanon membuka mata kemudian duduk dan menyadari bahwa ia masih tak berbusana. Pipinya memanas seketika mengingat bagaimana Jared begitu ahli dalam membuatnya terbuai pada setiap sentuhannya. Setiap bisikan lembut itu membuatnya semakin terhanyut. Dammit! Ia sudah seperti wanita malam yang sedang menjual diri pada direktur perusahaannya sendiri.
Shanon menoleh ke samping, memperhatikan ranjang di sebelahnya dan mendapati secarik kertas disana. Cepat-cepat ia mengambil surat itu dan membacanya.
Aku harus kembali. Jangan lupa sarapanmu. Kita bertemu di kantor.
JW
Shanon tersenyum manis membaca tulisan tangan Jared. Tidak hanya wajah yang tampan, tulisannya pun tak kalah indahnya. Mendesah penuh kagum, Shanon beranjak dari ranjang dan bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Jared, kau lembur lagi malam ini?" tanya Olivia pada Jared yang sedang sibuk merapikan dasinya di depan cermin.
"Mungkin. Kau butuh sesuatu?" balasnya masih belum memandang ke arah istrinya.
"Aku punya janji makan malam dengan teman-temanku. Kau tidak bisa ikut?"
Jared menggeleng. "Aku mungkin sibuk malam ini."
Tiba-tiba jemari lentik Olivia melingkar di pinggangnya. Dia memeluk Jared dari belakang yang entah kenapa malah membuat suasana menjadi canggung.
"Kau selalu sibuk. Orang-orang mungkin mengira aku belum menikah mengingat kita tidak pernah bersama."
Ia berdecak, melepaskan tangan Olivia dari pinggangnya kemudian berbalik dan menggenggamnya. "Sejak kapan kau menjadi sensitif pada isu di luar sana?"
Olivia mengedikkan bahu. "Mungkin karena aku merindukanmu."
Jared tertawa lalu membawa Olivia ke dalam dekapannya. "Pergilah bersenang-senang dengan temanmu sebelum kita bertemu malam ini." Dia mengelus kepala istrinya.
"Baiklah. Aku akan mengantar Davin ke sekolah. See you."
Jared mengangguk melihat istrinya beranjak keluar ruangan meninggalkannya sendirian disana. Akhirnya ia bisa bernapas lega tanpa khawatir Olivia menanyakan dan mencurigai sesuatu. Keningnya mengerut. Aneh sekali saat ia tidak merasakan getaran apapun saat memeluk istrinya sendiri. Selama bertahun-tahun ia selalu merasakan hal yang sama pada Olivia. Namun pada Shanon...
Satu sentuhan dari wanita mungil itu mampu membuat jiwanya bergetar dan ingin menerkamnya hidup-hidup.
Jared memijit keningnya. There's something wrong here.
Selamat pagi, sunshine. Sudah berangkat kerja?
Setelah mengirim pesan itu, Jared menyeruput kopi paginya sambil menunggu balasan dari Shanon.
Selamat pagi Mr. Walter.
Aku belum berangkat karena harus menghangatkan tubuh sebab seseorang membuatku kedinginan pagi ini.
Senyum lebar langsung terbit di bibirnya. Wanita ini sangat tahu cara menggodanya.
Kedinginan katanya? Jared berdecak.
Jika kuingat kembali, seseorang menyuruhku pulang kemarin malam. Kau akan tetap hangat pagi ini jika tidak mengatakan itu.
Ups... Tapi tetap saja aku butuh pelayanan ekstra sebagai pertanggung-jawaban darimu.
Jared menaikkan kedua alisnya setelah membaca pesan Shanon. Dia benar ingin bermain-main hari ini.
What do you want?
Katakan dan aku akan memenuhinya.
Lima menit berlalu tapi Shanon tak kunjung membalas. Jared berpikir kalau Shanon sudah berangkat kerja tapi saat ia beranjak hendak berangkat, ponselnya kembali bergetar menandakan satu pesan masuk. Aneh. Ia tak pernah merasa sesenang ini mendapat pesan dari seseorang.
You can start with a kiss.
Senyum miring terbit di bibir Jared. Permintaanmu adalah perintah untukku, Shanon.
Deal.
Membaca balasan Jared membuat hati Shanon berbunga-bunga. Pria itu telah banyak berubah sejak terakhir kali mereka berhubungan. Sesekali Shanon berpikir apakah ini benar nyata. Namun setiap kali melihat pesan Jared, Shanon sadar bahwa semua ini adalah nyata.
__ADS_1
Setibanya di kantor Shanon langsung menemui Jared bahkan kini sudah duduk di pangkuannya.
"Kau tidak kelelahan pagi ini?" Jared merapikan poninya.
Shanon menggeleng.
"You want to go again?"
"What?" Mata Shanon membelalak sebab bibirnya sudah hampir bengkak akibat ciuman yang diberikan Jared padanya. "Kita akan bekerja. Aku tidak ingin orang-orang menatapku curiga."
Jared mengedikkan bahu sambil mengelus paha Shanon. "You look so damn sexy today."
"Thanks."
"Datanglah saat makan siang. Kita akan makan bersama setelah itu aku akan memakanmu."
"Jared!"
Jared menaikkan kedua alisnya. "Kenapa?" katanya dengan raut arogan dan senyum tipis di sudut bibirnya. "I wanna eat you every second of the day."
Shanon memutar bola matanya. "Tak ada yang sanggup melayanimu, Pak Direktur."
"Oh yeah?" Jared menarik dagu Shanon kemudian mengamat-amatinya secara mendalam. Dipandangi seperti itu membuat jantung Shanon berdebar kencang.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" ujar Shanon dengan pipi yang kian merona. Jared tidak berbicara. Dia terus memandanginya tanpa henti sampai Shanon menggeram. "Kau membuatku tersipu, Pak Direktur."
Akhirnya Jared menyeringai membuat hati Shanon semakin luluh. "Perintah atasan adalah hal mutlak, bukan begitu?"
Shanon tersenyum. "Jadi atasanku ingin memakanku setelah makan siangnya?"
Jared berdecak, mengambil jemarinya lalu menggigit jari kelingkingnya. "Kau tidak bersedia?"
Shanon menyeringai. "Kita lihat nanti."
Jared mengecup jemari Shanon dan merasakan ketertarikan itu lagi. Jantungnya berdetak seakan excited sendiri ketika berdekatan dengan Shanon. He knows. He wants to keep this woman for himself. Di dunia ini kita mengetahui beberapa hal yang pasti dan entah kenapa ia merasa Shanon adalah sesuatu yang pasti dan harus dilindunginya.
"Shanon?" katanya pelan setelah mengecup jemari Shanon lagi.
"Hm?"
"I'll always keep you by my side."
Ini pasti tidak nyata? Apakah ini nyata? Oh God! Ini pasti tidak nyata. Beberapa minggu lalu pria itu begitu dingin dan kini berubah drastis menjadi pria yang sangat hangat dan manis.
"Shanon, apa kau mendengarku?" kata Lowy membuyarkan lamunannya.
"Ya?" Ia menaikkan kedua alisnya. "Ada apa?"
"Kau sudah menerima jadwal Mr. Jared dari sekretarisnya? Kita butuh jadwal itu untuk menjelaskan pada tamu."
"Oh ya. Sorry. Aku lupa. Aku akan menghubungi sekretarisnya." Dengan cepat Shanon menyambungkan telepon pada Fira.
"Halo, dengan Fira, sekretaris Mr. Walter. Ada yang bisa saya bantu?" ujar Fira dengan sopan.
Shanon mengernyit. Seharusnya wanita ini tahu darimana panggilan ini berasal. Fira tidak bekerja dengan benar, Shanon tahu itu. Dasar pemakan gaji buta.
"Ini aku, Shanon. Apa kau sudah menyusun jadwal Jared...um... Mr. Walter hari ini?"
"Kau bisa ambil sekarang," jawabnya dengan suara jengkel.
"Okay. Aku segera kesana."
"Lowy tak bisa mengambilnya?" sembur Fira membuat Shanon menyeringai.
"Tentu tidak. Aku senang bertemu denganmu." Tanpa mendengarkan lagi, Shanon menutup panggilannya.
Ia tertawa kecil.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Lowy penasaran.
"Fira. Dia tampak tak senang kita mengagumi Mr. Jared."
Lowy menunjukkan ekspresi geram sebelum berkata, "Siapa dia? Abaikan dia. Kita bisa menggemari ketampanan siapapun." Dia menggenggam lengan Shanon begitu excited. "Hell. Istrinya saja tidak keberatan, lalu siapa dia melarang kita."
Shanon tertawa tapi singgungan kata 'istri' membuat hatinya memanas.
Oh Olivia. Kau tidak akan keberatan sampai mengetahui bahwa aku sedang mencuri suamimu.
__ADS_1
"Kau benar, Wy. Kita bisa mengagumi siapa saja."
"Lagipula kita tak dapat merebut hatinya." Lanjut Lowy dengan tawa dan gelengan kecil. "Mr. Jared sangat mencintai istri dan keluarganya. Wanita selain istrinya tak akan masuk daftar."
Kalimat itu bak menyiramkan bensin pada api kecil. Terbakar! Shanon merasa terbakar. Sebelum mengeluarkan reaksi berlebihan, ia memutuskan untuk pergi. "Lebih baik aku mengambil jadwalnya sekarang."
Lowy mengangguk. Entah kenapa ia sangat jengkel jika seseorang menyinggung Olivia. Istri katanya? Shanon berdecak. Ia akan memastikan Jared untuk selalu mengutamakan dan memilihnya.
Sengatan posesif menguasai Shanon hingga setibanya di depan Fira ia memberanikan diri bertanya, "Mr. Jared sibuk di dalam?"
Fira memutar bola matanya. "Kau tidak perlu menanyakan itu. Kerjakan tugasmu dan tenanglah untuk satu hari saja."
Shanon menggertakkan giginya. Ia ingin sekali menerkam Fira tapi mengingat tak baik jika ia memulai pertengkaran di pagi hari maka dia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kenapa harus khawatir? Siang ini ia akan bertemu Jared. Lagipula situasi sekarang sedang tidak kondusif. Ia harus bekerja begitu pula dengan Jared.
Jam berputar dengan sangat lambat, setidaknya begitu menurut Shanon. Kakinya sudah terasa pegal setelah sibuk berdiri selama beberapa jam. Tepat pukul 12 siang. Seluruh karyawan bersiap untuk istirahat.
"Kita makan siang dimana?" tanya Lowy.
"Aku harus mengurus sesuatu. Kalian makan sianglah tanpaku."
"Okay."
Seperginya Lowy dan rekan kerja yang lain. Shanon langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Jared.
Fira sudah pergi makan siang?
Shanon menunggu cukup lama hingga terasa 10 menit, Jared akhirnya membalas.
Ada pekerjaan yang harus segera kami selesaikan. Mungkin membutuhkan waktu 20 menit lagi. Is it okay?
Shanon mendengus kesal. Seharusnya ia yang jual mahal untuk menemui Jared secara diam-diam tapi sekarang yang terlihat malah dirinya yang putus asa. Sejak tadi moodnya memang buruk ditambah lagi dengan pengunduran waktu dari Jared yang membuatnya semakin jengkel.
Seharusnya aku makan siang bersama yang lain saja tadi.
Kau bisa makan siang lalu kita atur waktu untuk bertemu nanti.
Membaca pesan Jared membuatnya semakin kesal. Bukannya membujuk sesuai kemauannya, Jared malah mempersilahkannya pergi.Menggertakkan gigi, Shanon mengetik dengan kasar.
OKAY.
Ia berharap mendapat balasan tapi ternyata nihil. Jared mungkin memang sibuk tapi mengetik sebentar saja tidak masalah, bukan? Shanon menggeram. Begini saja Jared masih lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan dirinya. Bagaimana jika kelak dibandingkan dengan Olivia? Menghentakkan kaki, Shanon berjalan keluar kantor menyusul temannya untuk makan siang bersama.
Setelah makan siang yang tidak dihabiskan oleh Shanon, mereka kembali ke kantor. Shanon sengaja memberi mode 'diam' pada ponselnya agar tak tahu jika Jared menghubungi atau mengirim pesan padanya.
Jam makan siang tersisa 5 menit lagi dan Shanon memutuskan untuk tidak bertemu Jared demi kebaikan bersama. Walau begitu ia tetap mengecek ponselnya dan mendapati beberapa pesan dari Jared.
12.40
Kami sudah selesai.
12.50
Kau sudah selesai makan?
12.54
Aku menunggumu.
12.56
Kenapa kau tidak membalas pesanku?
Shanon berdecak kesal, menghapus semua pesan itu kemudian berdiri di belakang meja resepsionis tanpa membalas pesan dari Jared. Ia ingin memberi pelajaran padanya. Ia sangat ingin Jared paham kekesalannya.
Saat berdiri dengan wajah muram, Shanon tidak pernah menyangka bahwa Jared akan datang menemuinya dengan berdiri di sana dan mengamati wajahnya sampai membuat pekerja lain ikut menatapi kedatangannya yang begitu mendadak.
"Mr. Jared," sapa semua pekerja yang melintas termasuk Shanon dengan membungkuk.
Tanpa basa basi Jared menatap tajam pada Shanon lalu berkata, "Kau, ikut denganku." Tanpa menunggu respon Shanon dia langsung berjalan cepat ke dalam kantor.
Shit!
Sensasi apa yang sedang ditimbulkan Jared saat ini. God! Semua orang malah memperhatikan mereka berdua. Sial! Mereka pasti telah menjadikan dirinya dan Jared sebagai pusat perhatian. Penjelasan apa yang harus ia katakan saat mereka mempertanyakan ini nanti?
'Hi guys. Maaf aku baru memberitahu ini sekarang. Sebenarnya aku adalah kekasih Jared Walter. Kalian mungkin mencapku sebagai perebut suami orang, kekasih gelap, wanita murahan atau selingkuhan direktur tapi satu hal yang harus kalian tahu. Dia itu milikku dan dia juga teramat menyayangiku.'
Hell! Aku tidak mungkin mengatakan itu, bukan? Aku mungkin adalah orang paling gila sedunia jika berani mengungkapkan hal konyol semacam itu di depan umum.
Tbc
__ADS_1
Hayooo yang masih belum bobok... Tinggalin krisannya yaaw.