Putih

Putih
Part 19


__ADS_3

Jared menangkup wajah Shanon lalu memagut bibirnya. Gerakannya begitu lembut apalagi ketika tangannya membelai pinggang Shanon.


Jared...


Seorang Jared sedang menciumnya.


Tanpa pikir panjang Shanon mengikuti alur permainan pria idamannya itu. Jika ini saat yang tepat untuk memulai segalanya maka ia sudah siap.


Jared memisahkan tautan bibir mereka kemudian tersenyum tipis. "I got you."


Shanon hanya bisa mengangguk kecil. Pikirannya sedang kacau tetapi mulutnya seakan punya pikiran sendiri sampai bisa berkata, "Yeah, you got me."


Mereka saling memandang satu sama lain seolah lewat tatapan itu mereka menyampaikan rasa kagum. Jared menarik tangan Shanon dan membawanya keluar dari bar. Shanon hanya bisa mengikuti kemana Jared akan membawanya bahkan sampai tak sanggup berhenti untuk mengatakan bahwa temannya masih ada di dalam bar. Mereka masuk ke dalam mobil yang tak pernah Shanon lihat dikendarai Jared sebelumnya. Berbagai asumsi mulai merasuki pikiran Shanon. Entah Jared menggunakan mobil berbeda untuk membuatnya kagum atau sebagai tameng agar tak dikenali siapapun.


Suasana di dalam mobil begitu hening. Shanon tidak mampu mengatakan sepatah katapun sementara Jared terlihat tidak berminat untuk memulai perbincangan sama sekali. Sekitar sepuluh menit berkendara akhirnya mobil berhenti. Jared keluar mobil lebih dulu membuat Shanon berpikir untuk keluar sendiri. Sungguh mengejutkan untuknya saat melihat  Jared mengitari mobil dan membukakan pintu untuknya. Perubahan yang sangat drastis mengingat sebelumnya pria ini begitu jelas ingin menyingkirkannya.


Kini pangeranbyang dimimpikannya hadir di dunia nyata.


Tanpa berkata apapun, Jared kembali menggenggam tangan Shanon lalu membawanya menuju tempat yang akhirnya Shanon ketahui adalah sebuah hotel mewah. Ya, seorang pimpinan perusahaan tak akan mungkin menginap di hotel murahan.


Jared membawanya ke hotel, artinya mereka akan melakukannya.


Jantung Shanon berdebar kencang. Tangannya yang masih berada di genggaman Jared tiba-tiba terasa dingin dan berkeringat.


"Kau yakin membawaku kesini?" gumam Shanon dengan tatapan setenang mungkin.


Jared menoleh padanya tapi masih belum juga membuka suara. Dia mengurus segala urusan administrasi kemudian membawa Shanon lagi menuju salah satu kamar hotel.


Di dalam lift Jared menghadap ke arahnya.


"Aku yakin dengan semua yang kulakukan," ujarnya masih menggenggam erat tangan Shanon.


"Apa yang akan kau lakukan?" pancing Shanon dengan senyum kecil diujung bibirnya.


Jared berdecak. "Aku akan memberitahumu setelah kita sampai."


Bersamaan dengan itu mereka tiba di lantai tujuan. Cepat-cepat Jared menarik tangan Shanon hingga mereka masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kau berubah pikiran?" tanya Shanon setelah pintu dikunci.


Mereka berdiri saling menatap satu sama lain. Satu hal yang sudah Shanon pelajari dari semua yang telah dilakukannya. Teruslah bersabar dan jangan terlalu frontal menunjukkan keinginan sebab jika ia melanggar keduanya maka kehancuran akan datang setelahnya.


Jared mengambil kedua tangan Shanon lalu melilitkannya di pinggangnya. Wajah terkejut Shanon membuatnya semakin tertarik. Wanita ini telah menghantuinya setiap malam. Sekarang Jared berhasil menemukannya maka ia akan memanfaatkan setiap momen untuk memuaskan diri.


Jared menangkup wajah Shanon. Ada apa dengan wajah ini? Kenapa ia sangat merindukannya?


"I can't stop thinking about you. Menghindar bukan jawaban yang tepat maka aku harus memilikimu."


Shanon berdecak heran. "Kau tidak butuh persetujuanku?"


Jared menyingkirkan rambut nakal yang menutupi wajah Shanon kemudian menyeringai. "Kau," Jared mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa lembut wajah Shanon. "telah menjawabku dengan ciumanmu Shanon."


Seketika tubuh Shanon bergetar. Kalimat Jared mampu melumpuhkannya seribu bahkan seratus ribu kali. Jantungnya berdebar tidak terkontrol sampai ia takut Jared bisa merasakannya.


"Jj...Ja," ditengah tidak terkendalinya respon otomatis tubuhnya terhadap pangeran idamannya, bibir hangat itu akhirnya menyentuhnya lagi.


Sentuhan lembut yang membuat sekujur tubuh Shanon seakan terbakar.


Ternyata Shanon tidak sendirian, Jared juga menunjukkan reaksi yang sama. Tangannya merengkuh tubuh kecil Shanon semakin dekat dan rapat padanya. Ciuman itu semakin panas ketika Jared memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka. Sebuah alarm seakan membangunkan diri Shanon yang terpendam begitu lama.


Jared.


He is back.


Mereka berjalan mundur hingga Shanon akhirnya terbaring di atas ranjang bersama Jared di atasnya.


"Kita tidak butuh banyak bicara," kata Jared dengan wajah penuh kabut gairah. Tangannya perlahan membuka dress hitam yang dikenakan Shanon malam ini. "aku akan menyampaikannya lewat tindakan."


"Kk...kau...um.." belum sempat berbicara, Jared menutup mulutnya lagi dengan bibirnya. Shanon begitu sadar akan Jared yang berdecak begitu santai.


"Kau bahkan tidak bisa berkata-kata." Dia mencium kedua mata Shanon. "Simpan suaramu untuk sesuatu yang lebih berguna."


"Apa?" bisik Shanon sangat tidak fokus. Jared akhirnya berhasil melepaskan dressnya hingga kini ia hampir tak berbusana.


Jared tersenyum tipis. "Kau butuh suara untuk menunjukkan kepuasanmu."


Pipi Shanon memerah seketika. "Bagaimana bisa kau mengatakan itu dengan begitu santai," ucap Shanon gelisah.


"Untuk ukuran seseorang yang menginginkanku begitu lama, kau sangat tidak mahir dalam menciptakan suasana intim," ujar Jared begitu percaya diri.

__ADS_1


Shanon memukul pelan lengannya. "Hentikan".


Tanpa basa-basi Jared langsung menyerang bibir Shanon, menyentuh seluruh tubuhnya hingga mengalirkan sengatan nikmat untuk Shanon. Mereka berkutat begitu lama di atas ranjang dengan desah dan erangan yang begitu jelas mengisi ruangan sampai akhirnya mereka mencapai kenikmatan masing-masing.


Kini mereka berbaring tenang dengan Jared memeluknya dari belakang. Tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka. Walau begitu Shanon merasa begitu hangat dalam pelukan Jared.


Pria ini masih belum berubah. Dia masih pria yang sama setelah sekian tahun berpisah. Jared mungkin tidak mengingatnya tapi koneksi antara tubuh mereka tak dapat diabaikan. Mulai sekarang, Jared Walter adalah miliknya lagi.


"Lelah?" gumam Jared mengecup kepala Shanon.


"Aku mengantuk."


"Sleep," bisik Jared merengkuh Shanon semakin rapat.


"Apa ini akan menjadi kesalahan di pagi hari?" ucap Shanon pelan.


"What?"


Ia berdecak. "One night stand selalu berakhir buruk di pagi hari. Kau akan menyesal dan akhirnya mencampakkanku begitu saja."


Jared mengecup singkat punggung polos Shanon. "Aku tidak menyesal dan... siapa yang mengatakan ini sebagai one night stand?"


"Bukan?" ulang Shanon takjub.


"Aku tidak akan melepaskanmu,"


bisiknya pelan. "dan kau tidak akan kubiarkan lari dariku."


"Aku tidak akan pergi."


"Good, karena aku akan menyeretmu kembali jika kau melakukannya."


"Bagaimana dengan istrimu?"


Jared mengeratkan pelukannya. "Haruskah kita membicarakannya dalam kondisi intim seperti ini?"


Shanon menggeleng kecil.


"Tidurlah. Kita berdua harus bekerja besok," perintah Jared mendekapnya erat.


"Good night, Jared," kata Shanon dengan harapan besar di dalam hatinya bahwa besok akan menjadi hari yang lebih cerah.



Seketika ia tersadar.


Selimut?


Matanya terbuka penuh keterkejutan. Tak ada pelukan hangat dari Jared. Tak ada tanda-tanda akan keberadaannya di atas ranjang. Buru-buru Shanon duduk sembari menutup tubuhnya polosnya dengan selimut. Matanya menelusuri setiap sisi ruangan untuk mencari sosok yang ia harapkan ada disisinya pagi ini.


Nihil.


Jared tidak ada disana.


Mungkin dia berubah pikiran dan akhirnya menyesali semua yang mereka lakukan kemarin malam.


Benar sekali. Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya dan kini kembali lagi pada keluarga kecilnya.


Ekspresi bahagia Shanon pudar seketika diganti dengan wajah bingung penuh kekecewaan. Saat ia hampir merengut, merengek dan menangis sendirian, pintu kamar terbuka menampilkan Jared yang terlihat berkeringat dengan stelan olahraga.


Mata Shanon terbuka lebar dengan wajah takjub. Tangannya menahan kuat selimut yang menutupi tubuhnya. Jared ternyata masih ada disini bersamanya. Dia tidak pergi. Kebahagiaan yang begitu besar menghantam Shanon hingga ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.


Jared melangkah mendekatinya dengan senyum begitu menawan. Shanon hampir menangis melihat keindahan pagi yang begitu dekat seperti ini.


Ketika Jared mendekat, Shanon memberontak menjauh dengan rengutan di wajahnya.


"Kau sangat menyebalkan!" rengeknya mengindar dari sentuhan Jared.


Raut bingung jelas terpapar di wajah Jared. "Apa yang telah kulakukan?"


Shanon memanyunkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. "Kupikir kau pergi tanpa mengatakan apapun."


Jared terdiam untuk sesaat. Ia meresapi apa yang dikatakan Shanon hingga akhirnya paham. Wanita ini terkejut saat menyadari dirinya tak ada di atas ranjang. Reaksi Shanon menimbulkan rasa gemas darinya. Senyum senang terpahat di bibirnya. Jared akhirnya naik ke atas ranjang dan mendekati Shanon yang mulai merajuk.


"Kau takut aku pergi?"


Shanon menatapnya kesal. "Aku tidak mau berbicara denganmu."


Jared berdecak semakin gemas. Ia menarik selimut yang begitu kuat dipertahankan Shanon untuk menutupi tubuhnya. Ia sudah melihat semuanya dan entah kenapa merasa begitu familiar dengan setiap lekuk tubuh Shanon. Seakan-akan ia sudah lama mengenalnya.

__ADS_1


"Kenapa kau menarik selimutku?" berontak Shanon panik.


Dengan jahil Jared melempar selimut itu ke lantai dan dengan cepat mengurung Shanon di bawah tubuh kekarnya.


"I've seen it all," ujar Jared dengan senyum miring. "Don't be angry. I'm here."


Shanon menatap ketampanan Jared di atasnya. Keringat yang membasahi rambutnya membuat pria ini tampak semakin memukau, ditambah lagi dengan kaos putih polos yang dikenakannya. Dia seperti malaikat di pagi hari.


Mata Shanon berbinar memandang kesempurnaan Jared. Tak ingin membuang waktu, ia melilit tangannya pada leher Jared kemudian menariknya ke bawah dan menyatukan bibir mereka. Ia bermaksud memberikan morning kiss yang singkat, tapi Jared sepertinya punya maksud lain. Bibir lembutnya menekan bibir Shanon. Perlahan lidahnya membelainya dan meminta celah untuk masuk menjelajah ke dalam mulutnya. Jantung Shanon berdetak semakin tidak stabil ketika ciuman itu semakin dalam dan tidak terkendali. Tidak pernah ia sangka bahwa pagi ini ia kembali bersetubuh dengan Jared.


"Kau olahraga setiap pagi?" tanya Shanon setelah percintaan panas mereka.


"Hmm..."


"Kupikir sudah kau pergi begitu saja."


Jared mengecup pipinya. "Bagaimana mungkin aku meninggalkan wanita cantik sendirian disini."


Shanon tertawa. "Berhenti membual. Pukul berapa sekarang?"


"Kita masih punya waktu untuk bersantai," jawab Jared.


"Akan sangat mengherankan jika kita berdua sama-sama terlambat."


"Tidak akan ada yang curiga." Jared menyisir rambut Shanon dengan tangannya. "Kau bisa istirahat hari ini."


Shanon menaikkan kedua alisnya. "Kau mulai memanjakanku dengan memberi libur atau sebaliknya terlalu bosan hingga menjauhkanku dari kantor?"


"Hentikan pikiran negatif itu," geram Jared. "Aku hanya tidak ingin kau memaksakan diri."


"Aku harus mencari uang."


"Aku akan memberimu uang."


Shanon menghadap ke arah Jared dengan ekspresi kesalnya. "Kau membayarku sebagai selirmu?"


Rahang Jared mulai mengeras. Dia menggertakkan giginya dengan mata menyorot tajam. "Kau yakin ingin memulai hari dengan pertengkaran tidak masuk akal ini?"


Shanon mengetatkan bibirnya. "Kau membuatku terlihat murah dengan kalimat 'memberi uang'mu itu."


Mereka menatap tajam satu sama lain. Tidak ada tanda-tanda akan mengalah dari Shanon hingga akhirnya Jared menghembuskan napas panjang.


"Jika kau ingin bekerja maka bersiaplah," tuturnya kemudian duduk. "Kau merusak mood baikku dengan pikiran negatifmu itu."


Shanon ikut duduk. Ia tak menyangka mereka akan berdebat tepat sehari setelah memulai hubungan ini. Seharusnya ia bisa lebih mengendalikan diri. Kenapa ia begitu lancang menuduh Jared seperti itu?


Shanon menarik napas panjang kemudian bergerak turun dari ranjang. Tiba-tiba Jared menarik tangannya hingga terduduk di atas pangkuannya. Mata Shanon membulat terkejut. Apa lagi sekarang?


"I'm sorry. Aku seharusnya tidak mengatakan itu." Jared menarik Shanon ke dalam pelukannya.


"Me too." Shanon luluh dan ikut memeluknya. "Kita seharusnya mengendalikan emosi dengan lebih baik."


Jared mengangguk dan berdiri membawanya menuju kamar mandi. "Sebaiknya kita mandi bersama."


Shanon tertawa. Ia tahu Jared ingin memperbaiki suasana buruk tadi dengan mandi bersama. Ia tidak keberatan sama sekali dan sejujurnya ini bukan kali pertama ia dan Jared mandi bersama.


"Aku akan mengantarmu pulang lalu menjemputmu dan pergi ke kantor bersama," ujar Jared sambil mengendarai mobilnya.


"Jangan. Bagaimana jika ada yang melihat kita nanti?" Tolak Shanon demi menghindari kekacauan di kantor jika mereka ketahuan.


Jared mengernyit. "Kenapa kau begitu takut? Kita bisa mengatakan kau menumpang karena aku kebetulan melintas."


"Karyawan mana yang berani meminta tumpangan pada direktur perusahaannya?" Shanon memutar bola matanya. "Sebaiknya kita berhati-hati. Aku tidak ingin memicu konflik."


Jared menghembuskan napas panjang. "Baiklah aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu."


"Jared," kata Shanon mencoba membantah lagi tapi tatapan tajam Jared menghentikannya. "Kau terlalu memanjakanku. Aku bisa menggunakan bus atau taxi." Seketika Shanon meringis. Akan sangat mahal jika ia menggunakan taxi sampai ke kantor.


"Kau terlalu banyak membantah, Shanon. Kita akan bertengkar lagi jika kau terus melawanku." Baru kali ini ia mendapati begitu banyak bantahan dan penolakan dari seseorang. Jared sangat tidak nyaman dengan perlawanan ini apalagi jika itu berasal dari Shanon. Entah kenapa ia ingin wanita ini langsung diperlakukan dengan baik olehnya dan oleh semua orang.


"Untuk kali ini saja, please," protes Shanon. "Aku akan menggunakan taxi".


Jared menggeram tapi tidak mengatakan apapun lagi. Sesampainya di depan flat Shanon, Jared mencium kening dan bibirnya.


"Pastikan kau menggunakan taxi. I'll see you later."


"Bye," kata Shanon kemudian keluar dari mobil.


Perlakuan Jared memang membuatnya nyaman, akan tetapi ia tidak bisa terbuai begitu saja. Akan ada banyak sekali rintangan di depannya dan ia harus memastikan bahwa ia tidak akan pernah kalah.

__ADS_1


Hello...hello readers. Di tengah kesibukan, author menyempatkan untuk up setelah cukup lama terlelap 😆. Thanks udah mau menunggu 💜


Lopyu guys


__ADS_2