Putih

Putih
Part 13


__ADS_3

Hari ini Jared bekerja secara produktif walau tidur hanya selama empat jam. Sulit tidur memang sudah menjadi kebiasaannya tapi kali ini rasa penat yang ditimbulkan berbeda. Ia bahkan tidak bisa mendefenisikan perasaannya. Beberapa kali Jared mendapat panggilan telepon dari Olivia yang memang ia minta untuk mengabari keadaan Davin. Salah satu orang kepercayaan yang mengurus hal-hal pribadinya, Simon, juga telah diperintahkannya untuk mengurus keperluan istri dan anaknya.


Sekarang waktunya makan siang. Jared meletakkan semua berkas-berkas yang sedang diurusnya kemudian entah keinginan yang berasal darimana, ia mengecek ponsel cadangannya. Dadanya terasa sesak saat melihat satu pesan dari Shanon sudah menantinya disana. Hell! Apakah benar ia menantikan pesan resepsionis itu? Kenapa dirinya terasa begitu bersemangat?


Selamat makan siang.


Jared berdecak merasa begitu konyol. Hal sekecil ini dapat membuatnya senang. Bukankah selama ini ia membenci kehadiran wanita itu? Lalu kenapa sekarang ia menantikannya? Sialan!


Mungkin saja ini terjadi karena pertolongan Shanon kemarin siang. Jared memicingkan matanya, atau semua ini bermula sejak ciuman nekat Shanon padanya?


Tidak...tidak.


Benarkah? Benarkah ia merindukan kehadiran Shanon hingga segalanya meledak begitu saja setelah tidak bertemu selama 3 hari?


Jared meletakkan ponselnya itu kemudian mengusap kasar wajahnya. Apa yang sedang kau pikirkan Jared? Kau layaknya remaja kasmaran yang mendambakan banyak hal.


Sebaiknya ia menemui Davin untuk melihat kondisinya daripada terus memikirkan hal yang tidak sepantasnya dipikirkan.


Di lobby, Jared tidak melihat tanda-tanda keberadaan Shanon. Ia menghembuskan napas panjang sebelum keluar dari perusahaannya. Disana Albert sudah menunggunya dengan pintu mobil terbuka.


"Selamat siang, Mr. Jared," ucap Albert membungkuk. Jared mengangguk sebelum masuk. Ia gelisah karena sesuatu. Entah kenapa ia merasa tidak tenang.


Saat hampir keluar dari area perusahaan, matanya menangkap dua orang yang sedang makan siang bersama dengan begitu tenangnya. Shanon dan Hans. Mereka tampak begitu akur sambil menikmati waktu makan siang mereka. Tanpa mendalami perasaan yang dirasakannya, ia mengalihkan perhatian ke arah lain. Itu bukan urusannya.


Setelah menemui Davin dan makan siang, Jared kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk. Cuaca begitu panas membuatnya ingin meledak kapan saja. Ketika memasuki lobby kantor ia langsung menemukan Shanon yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jared mengeratkan giginya sebelum melangkah cepat menuju lift.


Dari awal ia tak seharusnya memikirkan dan memulai hal semacam ini.


Ia hanya akan menghabiskan waktu dengan bermain-main bersama seseorang yang tidak akan pernah menjadi miliknya.



Shanon jelas melihat Jared melintas dengan wajah muram. Ada apa dengannya? Haruskah ia mengirim pesan lagi? Oh...seharusnya ia tak mengirim begitu banyak pesan dalam waktu dekat. Rasa penasaran begitu kuat menggodanya. Bagaimana cara agar tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu?


"Shanon, kau ikut minum-minum sore nanti?" tanya Lowy dengan penuh semangat.


"Minum? Dengan siapa?"


"Beberapa karyawan disini. Ayolah, setidaknya untuk merayakan kehadiranmu kembali setelah kejadian itu."


Shanon menggarut kepalanya yang tidak gatal. "Uh... Okay. Baiklah. Tapi aku tidak bisa berlama-lama."


Lowy mengangguk-angguk. "Aku tahu. Kita hanya minum-minum melepas penat."


"Oh ya, apa karyawan yang akan ikut nanti tidak keberatan jika aku ikut?" tanya Shanon dengan gestur kaku. "Kau tahukan sejak kejadian itu beberapa orang menganggapku bersalah juga penuh kesialan."


Lowy menghembuskan napas panjang sembari mengelus pundak Shanon. "Tenang saja. Mereka tahu kau tidak bersalah. Jika ada yang keberatan maka aku akan melindungimu."


"Thanks," gumamnya malu-malu.


Shanon memikirkan cara agar bisa bertemu Jared sebelum ia pergi dengan kolega kerjanya untuk minum-minum di bar. Jared tidak membalas pesannya, juga tidak muncul sejak siang tadi. Pria itu juga kelihatan murung. Apa sesuatu terjadi? Apa kejadian tempo hari masih belum terselesaikan?


Hei, kami akan minum-minum di bar sepulang kerja. Mungkinkah jika kau ikut bergabung?


Dua jam berlalu setelah ia mengirim pesan itu, tidak ada tanda- tanda balasan dari Jared sama sekali. Hal itu membuat Shanon khawatir hingga memutuskan untuk menghubungi Fira melalui telepon di meja resepsionis.


"Halo, Sekretaris Mr. Jared disini. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Fira.


"Halo Fir. Ini Shanon. Apa Mr. Jared ada di ruangannya?"

__ADS_1


"Shanon?" Nada suara Fira berubah datar. "Oh dia ada di ruangannya. Kau dilarang datang ke ruangannya. Ini perintah."


"Aku tahu itu. Apa dia baik-baik saja?" lanjut Shanon tanpa pikir panjang.


"Apa kau ini istrinya?" ucap Fira mulai menyolot.


Shanon mendesis. "Aku hanya bertanya sebagai karyawan yang kagum padanya."


"Sudahlah hentikan ini,Shanon. Mr. Jared sedang sibuk bekerja, begitu juga denganku. Kututup teleponnya."


Panggilan diakhiri begitu saja.


Shanon mengernyit. Dia baik baik saja dan sedang bekerja. Jared memang hanya membalas pesannya satu kali tapi perasaannya mengatakan sesuatu sedang terjadi. Shanon menjadi semakin tidak tenang. Ada yang tidak beres disini.


Lowy dan 7 staff perusahaan kini duduk di kursi bar bersama dengan Shanon. Mereka sudah minum beberapa gelas bir sambil mengobrol banyak hal khususnya mengenai kepenatan tentang pekerjaan. Shanon sama sekali tidak tertarik. Ia hanya memandangi ponselnya sambil berharap agar Jared membalas pesannya serta mengatakan bahwa semua baik-baik saja.


Tanpa ia sadari seseorang kini telah duduk di sampingnya. Seorang pria yang bukan kolega kerjanya.


"Hei nona. Kau sendiri disini?"


Shanon mengabaikannya dengan meneguk birnya.


"Mau kubelikan minuman untukmu?"


Lanjut pria asing itu membuat Shanon muak.


"Aku tidak mengenalmu jadi jangan bersikap berlebihan," ujarnya sinis kemudian turun dari kursinya.


"Aku akan ke toilet," bisiknya pada Lowy. Langkah Shanon begitu tegar saat memasuki toilet. Ia menatap dirinya yang kelihatan super cemas. Ini insting. Ia tahu ikatan batinnya dengan Jared begitu kuat. Sesuatu pasti sedang membuat Jared gelisah.


Ia merogoh tasnya lalu menghubungi Jared tapi nomornya tidak aktif. Shanon mengetatkan bibirnya. Ia tidak akan tenang sebelum mendapat kepastian dari Jared. Sekarang masih pukul 8. Mudah-mudahan Jared masih ada di kantor karena kini Shanon sudah memutuskan untuk menemuinya disana.


"Apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya temannya itu khawatir.


"Tidak."


"Okay. Hati-hati."


Shanon mengangguk lalu melenggang pergi. Tekadnya untuk lebih cepat tiba di perusahaan begitu besar hingga ia menyetop taxi tanpa pikir panjang. Untuk kali ini saja ia rela menghabiskan uangnya demi menemui Jared dan mengetahui apa yang terjadi padanya.


Setibanya di perusahaan, Shanon berlari cepat menuju pintu masuk.


Jimmy masih duduk di tempatnya membuat Shanon berpikir panjang agar tidak dicurigai.


"Hai Jim. Kau belum pulang?"


"Belum. Pak direktur masih di dalam," jawab Jimmy yang memberi clue akan apa yang diinginkannya. "Apa yang kau lakukan disini?"


"Aku meninggalkan dompetku di loker."


"Oh."


"Kalau begitu aku masuk ya," ujar Shanon melangkah cepat ke dalam lobby. Beruntung Jimmy tidak mengikutinya.


Ketukan sepatunya begitu keras ditengah sunyinya kantor. Cepat-cepat ia masuk ke dalam lift menuju ruangan sang direktur. Dalam hati ia hanya bisa berharap agar Fira sudah pulang. Lift berdenting menandakan ia tiba di tempat tujuannya. Langkahnya pelan, semakin pelan saat mendekati pintu sang direktur. Perlahan ia membuka pintu ruangan Jared.


Benar saja, pria itu masih ada di ruangannya. Tidak sedang bekerja melainkan sedang duduk menghadap gedung-gedung kota New York dengan segelas wine di tangannya.


"Aku sudah menyuruhmu untuk pulang lebih dulu, Fira," suara tegasnya membuat jantung Shanon berdebar kencang.

__ADS_1


Bukannya pergi, Shanon malah melangkah masuk dan menutup pelan pintu di belakangnya. Jared pasti merasakan sesuatu yang aneh karena jika Fira yang masuk maka sudah pasti dia akan membalas pernyataan atasannya. Seperti dugaannya, Jared berbalik dan mendapati Shanon berdiri disana.


Shanon bisa melihat sorot mata tajam Jared ditengah redupnya pencahayaan di dalam ruangan itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Shanon melangkah semakin dekat.


"Kenapa kau ada disini? Pergilah."


"Tidak." Shanon menajamkan penglihatannya. "Aku ingin melihatmu. Apa semuanya baik-baik saja?"


Jared berdecak sinis. "Apa urusanmu?"


"Aku hanya ingin tahu."


"Kenapa kau ingin tahu? Kau hanya bawahanku."


Kalimat pedas itu sedikit melukai perasaan Shanon walau begitu ia sudah berteguh hati untuk menghadapi Jared bagaimanapun kondisinya.


"Benarkah seperti itu, Jared?" Shanon melembutkan suaranya lalu menyandarkan tubuh moleknya di meja depan Jared.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Jared meletakkan minumannya. "Uang? Jabatan? Popularitas?"


Shanon menunjukkan senyum miring. Ia harus menjadi dirinya sendiri di momen seperti ini. Jared ingin bermain-main maka ia akan melayani. Shanon bahkan sudah siap untuk melangkah lebih jauh di dalam hubungan ini.


"Aku ingin memilikimu."


Jared menautkan jemarinya dengan siku bertumpu di meja. "Kau sangat rakus dengan ingin memiliki segalanya."


"Kenapa berpura-pura?" ucap Shanon dengan mata penuh keteguhan. "Setiap wanita menginginkan sesuatu yang bisa menguntungkannya. Tidak perlu munafik. Manusia mana yang ingin hidup sengsara?"


Jared tertawa kecil. "Apa harta kepala bagian HRD tidak cukup untukmu?"


Ah... Shanon akhirnya mendapatkannya. Jared pasti cemburu melihat kedekatannya dengan Hans. Ia tersenyum miring. Akhirnya pria ini menunjukkan ketertarikan padanya.


Well... Job done, Shanon.


"Aku tidak menginginkan apa yang dimilikinya."


Kedua alis Jared terangkat dengan senyum miring di bibirnya. "Lalu kau menginginkan apa yang kumiliki?"


Shanon melangkah mengitari mejanya dengan begitu santai hingga kini berdiri tepat disamping Jared. Ia menjilat bibir bawahnya dengan gestur yang sangat sensual kemudian menggigit bibir bawahnya.


"Kau cemburu?"


Jared menghindari kontak mata dengan Shanon. "Aku bukan seseorang yang bisa merasakan hal seperti itu terhadapmu."


"Akuilah." Shanon menyentuh pipi Jared dengan jemari lentiknya. "Aku senang jika kau merasakannya."


Secepat kilat Jared menangkup tangan Shanon dan meremasnya kuat. Sorot mata menyala pria itu membuat Shanon semakin tertantang.


"Wanita seperti apa kau ini, Shanon? Kau menginginkan pria yang sudah menikah?"


"It'll never stop me," kata Shanon dengan bisikan lembut. "Aku ini wanita ambisius."


"Kau tidak merasa malu akan dirimu?"


"Untuk apa?" Dengan cepat Shanon menjatuhkan dirinya ke atas pangkuan Jared kemudian mengalungkan tangannya di leher pria itu. Ia mendekatkan wajahnya hingga tersisa beberapa centi jarak diantara mereka lalu berkata, "Aku hanya sedang mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."


Kalimat itu menimbulkan raut bingung di wajah Jared. Shanon tersenyum tipis sebelum akhirnya meletakkan bibir merah mudanya tepat di bibir menggoda milik Jared. Ia menekan kuat leher Jared sembari memperdalam ciumannya. Awalnya Shanon berpikir Jared akan menolak bahkan menamparnya tapi beberapa detik setelah gerakan Shanon dimulai, Jared mulai membalas dengan memagut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2