Putih

Putih
Part 23


__ADS_3

Shanon mengikuti langkah cepat Jared di depannya hingga akhirnya  berdiri berdampingan di depan lift. Mereka masih berdiam diri satu sama lain sampai memasuki lift.


"Seharusnya kau tidak melakukan itu di depan semua orang," protes Shanon dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


Jared tidak membalas perkataannya membuat suasana menjadi jauh lebih canggung. Dia mengancam dengan berdiam diri seperti ini? Well, sebenarnya bukan hanya dia saja yang sedang dalam mood buruk. 


Setibanya di lantai tujuan, Shanon tetap mengekor di belakang Jared. Langkah pria itu terlalu cepat dna terkesan tak sabaran hingga ia harus berjalan cepat sampai terseok-seok untuk mengimbanginya. Mereka melewati Fira yang menatapnya curiga sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan Jared dengan aman.


"Sebaiknya kau cepat mengatakannya. Kita sama-sama tahu bahwa kita harus bekerja," ujar Shanon menjaga jarak dari Jared untuk menunjukkan kekesalannya.


Jared bersandar pada meja kerjanya kemudian melipat tangan di depan dada mengikuti gestur Shanon sebelumnya. Matanya tertuju hanya pada Shanon tanpa mengucapkan sepatah katapun. Pandangan itu membuatnya bergetar. Apa yang diinginkan Jared sekarang?


"Jika kau tidak ingin mengatakan apapun, aku akan kembali bekerja." Shanon berbalik hendak keluar ruangan saat suara dingin dari Jared masuk ke dalam pendengarannya.


"Selangkah kau keluar dari ruangan ini tanpa perintahku, kau akan menerima akibatnya, Shanon."


Otomatis Shanon berputar menghadap Jared dengan mata menyipit. "Lalu apa? Kau hanya ingin memandangi dan mengancamku dengan tatapan itu?"


Jared memandangnya seolah sedang berkata hal konyol.


"Come here." Dia mengisyaratkan dengan mata agar Shanon berdiri di depannya.


"Jared, kau tidak bisa melakukan ini di jam kerja," bantah Shanon masih dongkol dengan kejadian sebelumnya.


Kali ini Jared yang memicingkan mata. "Are you sure you want to do that right now?" Dia mengeraskan rahangnya membuat jantung Shanon berdegup khawatir. Apakah menantang Jared saat ini akan menghancurkan hubungan mereka? Ia menelan air liurnya. "Kau ingin aku yang melangkah kesana atau kau yang datang kemari, Shanon?" Suara Jared terdengar semakin tidak sabaran. Raut wajah tampan itu semakin merengut setiap detiknya. Damn! Dia tak punya pilihan.


Shanon menarik napas panjang sebelum melangkah lambat mendekati Jared yang sudah terlihat seperti monster. Ia mencoba untuk tenang tetapi aura yang dipancarkan Jared terasa sangat tajam dan mengerikan. Shanon memutuskan untuk memberikan sedikit jarak diantara mereka lalu menatap Jared yang ternyata semakin marah akibat jarak itu. Aura itu sangat berlawanan dengan penampilannya. Kemeja biru muda dengan motif liris-liris yang dikenakannya hari ini terlihat begitu cocok untuk tubuh atletisnya. Dasi dengan warna senada yang awalnya menggantung rapi kini telah bergantung longgar tidak teratur di lehernya. He looks hot but angry. Hot and really angry.


Tatapannya sayu tapi Shanon tahu Jared sedang menahan seluruh amarahnya melalui pancaran mata itu. Ia tak yakin darimana asal kemarahan ini. Seharusnya dirinya yang melakukan itu tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya?


"Jared, kita tidak punya waktu untuk ini," komentarnya lagi demi mendapat reaksi barang sepatah kata saja dari Jared.


"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari perusahaanku." ancam Jared membuat Shanon terperangah. De ja vu. Dahulu Jared seringkali mengancam untuk memecatnya dan sekarang ia sama sekali tak menyangka akan mendapat ancaman yang sama bahkan setelah mereka menjalin hubungan. Damn! Jadi benar. Posisinya sama sekali belum aman.


"Kenapa kau mengatakan itu?" ujar Shanon dengan bibir mengetat. "Kau mengatakan itu bahkan saat aku tidak melakukan kesalahan apapun?"


Jared langsung menyentak dengan menjauhkan diri dari meja. "Tidak melakukan kesalahan katamu? Kau baru saja merendahkan kedudukanku sebagai direktur, Shanon."


"What?" Shanon meringis masih tidak mengerti. Ia tak menyangka masalah ini bisa meluas sampai kemana-mana.


Jared mendekatkan wajahnya pada Shanon, begitu dekat sampai ia bisa merasakan hembusan napas hangatnya. "Kau sedang berurusan dengan direktur lalu kau mengatakan sedang tidak bekerja? Kau mengatakan tidak punya waktu?" Tatapan sinis itu semakin lama membuat Shanon semakin gugup. Jantungnya berdetak tidak normal apalagi ketika ia tak bisa menebak perubahan sikap Jared sekarang ini. Dia adalah kekasihnya dan di saat bersamaan menjadi direktur perusahaan.


"Aku tidak percaya ini," ucap Shanon dengan tawa canggung sembari berusaha memutuskan kontak mata dari Jared. Namun tak bisa dihindari, dia langsung menarik dagunya dan mengarahkan pandangannya kembali pada mata tajam itu lagi.


"Kau punya waktu 3 menit untuk menjelaskan sikap anehmu ini." Jared menatap dengan begitu serius. Tidak ada tanda-tanda akan ketenangan dan kedamaian darinya. Bagaimana lagi jika ia menjelaskan alasan dari kekesalannya?


Shanon masih bungkam membuat Jared mengatakan, "Waktumu terus berjalan, Shanon."


"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mengatakannya?" tanya Shanon penasaran.


Jared tersenyum sinis. "Kau akan menyesalinya. Sangat menyesalinya."


Mendengar kalimat itu membuat Shanon ketakutan. Apakah hubungannya akan berakhir seperti ini? Benarkah Jared sudah berpikir untuk mengakhiri hubungan hanya karena masalah kecil?

__ADS_1


"2 menit, Shanon."


"Jared!" sentak Shanon semakin panik. Dia tetap memperlihatkan ekspresi tenang sehingga Shanon tak punya pilihan lain selain mencari posisi aman. "Aku hanya kesal karena tidak bisa makan siang bersamamu."


Jared menaikkan sebelah alisnya. "Lalu?"


"Lalu apa?"


Jared berdecak. "Kau tidak akan seperti ini hanya karena makan siang dan jika kupikirkan kembali, kau bahkan mengatakan akan berpikir ulang untuk makan siang berdua denganku."


"Ak... Itu..." Shanon menelan air liurnya sekali lagi. Don't be a loser. Be brave! "Seseorang mengatakan tentang Olivia dan kau yang tidak akan pernah melirik wanita lain selain istrimu. Kalimat itu membuatku kesal ditambah lagi dengan makan siang yang harus gagal padahal aku ingin berbicara dan menenangkan diri denganmu. Itu saja." Shanon mengakhiri kalimatnya dengan menoleh ke arah lain. Sebenarnya ia merasa malu bahkan sangat malu setelah mengatakan alasan tak rasional itu. Jika ia punya pilihan maka berlari dan bersembunyi dari Jared merupakan keputusan yang sangat benar.


"Look at me," perintah Jared membuat Shanon langsung melihatnya sebelum kemarahan baru muncul di wajah tampan itu. "Omong kosong."


Jantung Shanon berdebar kencang mendengarnya. Ia menahan napas saat Jared mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan singkat di bibirnya yang membuat ketegangan itu sedikit luntur.


"Aku tidak melirik wanita lain? Tck... I do. I look at you. Aku memilihmu. You," Jared mengelus kening sampai pipi dengan ujung jemarinya sebelum melanjutkan, "are my woman."


Shanon menghembuskan napas panjang. "Aku hanya sedikit kesal. I'm sorry." Shanon pikir masalah telah selesai mengingat Jared sudah mengucapkan kalimat romantis itu tapi ternyata__


"Aku tidak memaafkanmu."


Shanon mengernyit.


"Aku benci melihat sifat kekanakan ini," ujarnya membuat debaran jantung Shanon kembali muncul. "Kita sudah membuat segalanya clear tapi kau kembali membuatku kesal. Sangat sangat kesal."


"Forgive me. Please." Ia menempelkan tangannya di dada bidang milik Jared dan menatap penuh penyesalan.


Shanon langsung mengangguk setuju. "Aku bisa."


"Aku belum selesai," ujarnya menarik pinggang ramping Shanon hingga menempel padanya. "karena yang terakhir adalah kau, Shanon Aldeana yang harus melayani kekasihmu ini."


Shanon mengangguk sebelum Jared melanjutkan. "Kau harus menurutiku tanpa protes. Kau setuju?"


Shanon mengangguk walau dalam hati ia merasa Jared sedang membangun sangkar emas dan bermaksud mengurungnya di dalam. Melayani? Ia hampir berdecak. Pria ini punya selera yang bagus untuk berdamai.


"Tentu." Shanon langsung memeluk Jared. "I'm sorry."


"Jangan lakukan itu lagi. Kau membuatku khawatir."


"Hm."


Jared menangkup wajah Shanon. "Jadi kau sudah makan?"


Shanon mengangguk.


Dia menaikkan sebelah alisnya. "Kau sudah makan dan membiarkanku kelaparan?"


"Kau belum makan?" Mata Shanon membelalak.


"Bagaimana bisa aku makan saat kau tiba-tiba menghilang?"


Shanon memutar bola matanya. "Kau melebih-lebihkan."

__ADS_1


Jared tersenyum lebar kemudian mengecup puncak hidung Shanon. "Aku memang khawatir."


"Baiklah, kita pesan makanan untukmu."


Pada akhirnya Jared memesan makanan lewat Fira. Ketika sekretarisnya itu membawa makanan, Shanon disuruh duduk di sofa sambil mencorat-coret sesuatu agar terlihat seperti sedang bekerja. Beruntung Fira tidak menaruh curiga. Dia malah terlihat menunjukkan kekuasaan dengan senyum kecil penuh ledekan saat melirik Shanon.


Setelah Fira keluar, Shanon memandang Jared yang sedang menatap makanan di depannya. Matanya menyipit kemudian menoleh pada Shanon. Dia memainkan telunjuknya sebagai gestur untuk meminta Shanon mendekat. Tanpa berpikir, Shanon memang datang mendekat.


"Kenapa?" tanyanya.


Jared menarik dan mendudukkan Shanon di pangkuannya. "Aku tahu kau tidak bernafsu makan sebelumnya," bisiknya membuat Shanon bergidik. "Sekarang kita harus menghabiskan ini bersama."


Shanon menyatukan pandangan mereka dengan senyum di bibirnya. "Kau ingin kusuapi?"


"Bagus jika kau paham."


Shanon menggeleng sambil menyeringai. Dia mengambil garpu dan menusuk sosis yang masih tertata rapi di atas piring. Idenya sangat kacau tapi ia ingin melihat reaksi Jared. Dia menggigit sosis itu dengan lambat agar menarik perhatian Jared.


Sebenarnya Shanon sudah tahu Jared sedang memandangnya begitu lekat. Pria yang sedang memangkunya itupun sudah bergerak gelisah di bawahnya. Yeah, dia sudah sangat terpengaruh tapi masih belum menunjukkan aksinya. Untuk menggapai tujuan utamanya itu, Shanon sengaja menjilat bibirnya sesensual mungkin. Tepat saat itulah Jared menggeram dan secepat kilat menciumnya.


Ia tertawa ketika dengan gesitnya Jared mengambil garpu darinya, mengambil potongan sosis berikutnya dan menyuapkannya pada Shanon. Ia sangat senang pada permainan ini apalagi dengan Jared yang semakin bersemangat menyantap makanannya lewat mulut Shanon.


Dia memang membiarkan Shanon menelan makanan beberapa kali tapi selebihnya dilakukan sebagai perantara antara mulutnya dan makanan. Ia tak percaya Jared akan segila ini untuk merebut makanan darinya.


"Umhh," erang Shanon ketika Jared malah mencium bibirnya lebih lama dari sebelumnya. Awalnya hanya terjadi perebutan makanan antara bibir mereka tapi tampaknya kini Jared mempunyai rencana lain. Dia mencium bibir Shanon, memagutnya dan menikmatinya dengan waktu yang cukup lama.


Shanon menepuk pundaknya ketika hampir kehabisan oksigen. Bukannya melepaskan, Jared malah beralih mengecupi pipi sampai ke lehernya. Shanon menarik napas puas sambil menutup mata ketika Jared sibuk menggigit kecil kulit lehernya.


"Kau mencoba membuatku bergairah?" gurau Shanon ditengah ketertarikannya untuk mengikuti nafsu saja.


Jared mengelus pinggangnya kemudian menghembuskan napas hangat tepat di titik sensitif Shanon. Ia bergidik geli. Pria ini mencoba membuatnya terbuai di saat mereka harus segera kembali bekerja.


"Bukankah ini yang disebut dengan make out?" ucap Jared dengan suara pelan.


Shanon tertawa lalu menyetarakan pandangannya dengan Jared. "Kita melakukan ini saat jam kerja? Apakah seorang direktur perusahaan sekelas Jared Walter akan melakukan ini?"


"Akan katamu?" bisik Jared mendekatkan wajah mereka. "Aku sudah melakukannya dan wanita mungilku ini menerimanya dengan senang hati."


Shanon tersenyum semakin lebar. "Kau memanjakanku dengan godaanmu, Pak Direktur."


Jared mengangguk. "Kau bisa bermanja padaku. Aku senang hati menerimanya."


Shanon tertawa membuat Jared langsung mengecup pipinya dan dadanya. "Kemarikan tanganmu," perintahnya membuat Shanon bingung.


"Kenapa?" Ia memperhatikan tangannya.


Tanpa basa-basi Jared mengambil tisu di atas meja kerjanya kemudian menarik jemari tangan Shanon. Dengan begitu telaten Jared mengelap tangannya yang sebelumnya terkena sisa makanan. Shanon tak lagi memandang kerja Jared atas jemarinya. Ia menatap wajah pria itu, mengamatinya begitu dalam dan tak henti-hentinya bersyukur karena akhirnya dipersatukan kembali dengannya.


"Okay. Selesai," ucap Jared sambil mengecup jemarinya. Hati Shanon semakin berbunga membuatnya spontan mengecup kening Jared.


"Thank you, prince charming," kata Shanon penuh kebahagiaan. Jared tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya menangkup wajah Shanon lalu kembali mencium bibir itu sepuasnya.


Ia belum keluar dari ruangan Jared selama lebih dari 1 jam. Para karyawan pasti penasaran akan apa yang mereka lakukan, terutama Lowy dan Fira, untuk itu Shanon memikirkan cara untuk mengelabui mereka dengan cerita palsu. Ia harus berbohong. Yeah, It's her new talent

__ADS_1


__ADS_2