Putih

Putih
Part 24


__ADS_3

Sekembalinya Shanon setelah memberi makan bayi besarnya, ia mendapati tatapan penasaran dari teman-teman kerjanya. Ia memasang ekspresi tenang agar mereka percaya bahwa ia baru saja bekerja keras.


"Apa yang dikatakan Mr. Walter?"


"Kenapa Mr. Jared memanggilmu?"


"Apa dia memarahimu?"


"Kenapa kau begitu lama bersama Pak Direktur?"


Shanon mengangkat kedua tangannya. "Guys. Seriously. Kalian harus bertanya satu persatu."


"Jawab saja!" ujar mereka serempak membuat Shanon menarik napas panjang.


"Okay." Dia melirik teman kerjanya terutama Lowy. "Dia memanggilku karena ingin membuat rencana."


"Rencana apa?!"


Shanon menutup telinganya dengan tawa kecil. "Berhenti berteriak. Aku tidak tuli."


Lowy menarik lengannya tidak sabaran. "Katakan apa rencananya?"


Shanon mengedikkan bahu. "Mengenai anniversary perusahaan kita."


"Kenapa dia bertanya padamu? Kenapa berdiskusi denganmu bukan dengan Fira atau para manajer?"


"Semua ini karena mereka sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan yang mendesak dan Mr. Jared melihat pekerjaanku atau tim resepsionis sedikit longgar jadi dia memerintahkan kita untuk memberi saran terbaik mengenai souvenir pesta anniversary."


Lowy menyipitkan matanya menimbulkan sebercak kegelisahan di hati Shanon. "Kenapa dia terlihat marah?"


"Itu karena dia selalu tak senang denganku tapi terpaksa melakukan ini."


Mereka semua mengangguk paham tanpa menaruh curiga sama sekali.


"Kenapa tidak memanggilku?" tanya Lowy.


Dengan candaan Shanon bergaya sombong sambil mengibaskan rambutnya. "Mungkin akhirnya dia melihat aura positifku."


Mereka tertawa tak percaya. "Mustahil," ujar Lowy.


"Sebaiknya kita memikirkan souvenirnya bersama-sama." Saran salah satu dari mereka.


"Okay. Kita bisa mendiskusikannya nanti. Sebaiknya kita kembali bekerja," ucap Shanon kembali berdiri di belakang meja resepsionis.


It's easy. Mereka cukup mudah untuk dikelabui.



Jared tertawa saat mengantar Shanon pulang ke apartemen barunya.


"Jadi mereka percaya pada alibimu?"


Shanon mengangkat bahunya. "Aku memang berbakat dalam akting."


"Sebaiknya kau menjadi artis bukan resepsionis," gurau Jared sambil menyetir dengan hati-hati.

__ADS_1


Shanon mendesah penat. "Mungkin ini sudah takdir."


Mendengar itu Jared kembali tertawa. "Kau ingin makan malam bersama?" tanyanya menoleh sekilas pada Shanon. Dia tak menyangka bahwa dirinya sedang mencari alasan untuk tak berpisah dari Shanon.


"Aku terlalu lelah. Sebaiknya kita langsung pulang."


Jared berdecak. "Aku bahkan belum melakukan apapun dan kau sudah kelelahan?"


Mata wanita mungil di sampingnya membulat. "Apa maksudmu dengan 'belum melakukan apapun'?"


Jared merasa semakin gemas. God! She is cute. "Ingat kau tidak bisa protes jika aku menginginkan sesuatu?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Makan."


"Apa yang ingin kau makan?"


Pertanyaan cepat itu membuat Jared bergidik geli. "Menurutmu apa yang ingin kumakan?"


Pipi putih itu merona seketika hingga secara otomatis jemari Jared mengerat pada steer mobil. Ia harus menahan diri untuk tidak menyerang Shanon dalam kondisi berkendara. Damn! Dia terlihat lugu dan manis. Ya, Shanon benar-benar manis. Ia sudah merasakannya.


"Aku ingin masakan buatanmu," kata Jared yang direspon melalui anggukan dari Shanon. "Setelah itu tentu aku ingin makanan penutup."


Rona merah kembali muncul di pipi lembut itu. Tak tahan, Jared mengelus pipinya dengan sebelah tangan.


"I wanna taste you, that's for sure."


"Kk...kau yakin akan pulang terlambat lagi malam ini?" suara gugup Shanon membuat Jared menarik tangannya lalu menggenggamnya sejenak.


Jared menarik napas panjang setelah pikiran tentang 'seandainya ia belum menikah' terlintas di benaknya. Tidak ada yang bisa disesali dan benar ia menyayangi keluarga kecilnya terlebih-lebih Davin, tapi untuk Olivia... Ia menggeleng kecil merasakan cap ******** pengkhianat  patut dinobatkan padanya. Apa yang harus ia lakukan? Dalam sekejap ia terpesona oleh Shanon. Setelah jatuh bagaikan pria lemah pada pesonanya, ia tak sanggup untuk melepaskan diri.


Jared ingin terjebak dan terus terjebak bersama Shanon.


Dibandingkan berbicara terlalu serius, Jared memutuskan untuk bercanda. "Kenapa? Kau tidak ingin bersenang-senang denganku?"


"Tentu saja ingin," jawab Shanon dengan cepat bahkan terdengar menjawab secara natural.


Jared berdecak lagi. "Kalau begitu jangan pikirkan. Aku sudah biasa pulang terlambat."


"Mr. Workaholic, apa yang harus kulakukan padamu?" komentar Shanon membuat Jared tertawa kecil.


Sesampainya di apartemen, Jared melepaskan jas dan dasinya. Matanya menelusuri setiap sisi ruangan yang masih terlihat sama seperti saat pertama kali mereka memasukinya.


"Shanon, kau tidak butuh asisten rumah tangga?" tanyanya sambil memperhatikan wanitanya mondar-mandir menyusun sesuatu.


"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri." Dengan berkacak pinggang dia mendekati Jared. "Makan malam apa yang kau bayangkan, Tuan Workaholic?"


Senyum miring terbit di bibirnya. Ia melangkah lebih dekat lalu melilitkan tangan di pinggang ramping Shanon. "Apapun yang bisa kau masak."


Shanon menaikkan kedua alisnya. "Bagaimana jika aku tidak bisa memasak?"


"Mustahil," ujar Jared mengecup kening Shanon. "Aku tahu kau hidup mandiri sampai-sampai lihai memasak sendiri."


Senyum lebar yang muncul di bibir Shanon membuat Jared tergiur hingga harus menciumnya. "Hurry. I'm hungry."

__ADS_1


Kata lapar mungkin begitu familiar bagi Shanon atau mungkin wanita ini telah membaca dirinya terlalu dalam hingga paham bahwa kata lapar bukan hanya tentang makanan saja.


"Okay. Duduklah. Aku akan ganti pakaian."


Ia mengangguk lalu melepaskan Shanon dan duduk di sofa. Lima menit kemudian Shanon kembali dengan kaos cokelat ketat dan rambut yang telah digulung dan diikat tinggi. Dia memberi senyum sekilas padanya sebelum bergerak menuju dapur.


Dia selalu terlihat sexy. Mungkin Shanon tidak sadar tapi dirinya dan pria lain khususnya Hans menyadari itu. Gila jika seorang pria tidak tergiur melihat tubuh ramping dan sexynya.


Jared memutuskan untuk mengikuti Shanon ke dapur. Disana wanita yang ia inginkan untuk mengisi hari-harinya sepulang kerja terlihat sedang memotong cabai. Dia terlihat seperti istri yang baru saja menikah saat memakai celemek kuning itu. Tersenyum miring, Jared memeluk Shanon dari belakang kemudian meletakkan dagunya di pundak Shanon. Tubuh Shanon terasa kaku  sebelum akhirnya menyadari bahwa itu dirinya lalu tersenyum dan lanjut memotong.


"Apa yang ingin kau masak?" bisik Jared ikut memperhatikan pekerjaan Shanon.


"Pasta."


"Hmm..." Jared mengecup lehernya. "I can't wait to taste it."


Shanon berdecak. "Tidak sabaran tapi kau menghalangi kerjaku Tuan Workaholic."


"Give me a kiss then I'll let you cook in peace," pintanya seperti anak kecil. Sejujurnya bersama Shanon ia ingin seperti anak kecil. Ia bahkan sudah bertingkah seperti anak kecil.


Shanon berbalik dan berusaha mengalungkan tangannya pada tubuh tinggi Jared tanpa mengotori pakaiannya. Perbedaan tinggi badan terutama saat Shanon tak memakai heels ternyata menyulitkannya. Hal itu Jared tersenyum kecil.


Wanita mungilku.


Tanpa berlama-lama ia melilitkan tangannya di pinggang Shanon lalu mengangkatnya dan mencium bibirnya dengan brutal. Jared mendudukkan Shanon di meja dapur kemudian memperdalam ciumannya dengan tangan yang sibuk meraba punggung Shanon. Napas mereka menderu cepat apalagi saat Shanon melenguh pelan dan berusaha mengimbangi ciumannya.


Damn!


He wants her.


Now.


"Baby, you taste good."


Shanon memundurkan wajahnya sedikit yang kemudian menimbulkan geraman tak setuju dari Jared. "You too."


"Bagaimana jika," Jared meniup pelan telinga Shanon. "Aku memakanmu lebih dulu, My lil' Shany?"


Darah Shanon berdesir untuk beberapa saat akibat rayuan seduktif Jared tapi mendadak berhenti ketika mendengar sebutan itu. Nama itu.


'My lil Shany.'


Itu adalah panggilan khusus dari Jared saat mereka masih bersama. Itu adalah panggilan sayang dari Jared. Jantung Shanon berdebar cepat hingga ia menelan dengan susah payah agar detakan itu setidaknya sedikit stabil. Tubuhnya membeku dan matanya membulat seketika.


"Li...lil Shany?" ulangnya terbata-bata dengan ekspresi bingung.


Jared menyeringai kecil sambil mengangguk. "You are my lil' Shany."


Shanon tersentak hampir muntah akibat serangan keterkejutan itu. Jantungnya berdegup semakin kencang dengan harapan yang kian membumbung tinggi.


"Jj...Jared," Shanon meremas rambut belakang pria di hadapannya sebagai titik pertahanan. "Jared, kau sudah ingat?"


Mata Shanon berkaca-kaca sambil menatap penuh harap dan keyakinan pada pria di depannya, pada pria yang sejak dulu dicintainya dan pada pria yang ia yakin pasti akan mencintainya lagi dan lagi.


TBC

__ADS_1


Jejak guyss...jejakkk😂😂😂


__ADS_2