
Shanon sempat melihat sekilas kehadiran direktur yang ditunggu-tunggunya sejak tadi. Ditengah kesibukannya ia bahkan bisa merasakan kehadiran Jared di dekatnya. Tak perlu melihat, Shanon bisa merasakan aura seorang Jared Walter disekelilingnya.
Kemarin merupakan hari terindah untuknya walau ada interupsi tapi ia sudah begitu bahagia. Shanon mengharapkan pagi yang indah bersama Jared yang akhirnya membuka peluang untuknya tetapi yang terjadi malah diluar dugaannya. Jared tidak membalas pesan atau panggilannya, dia datang terlambat, juga hadir di kantor tanpa menoleh padanya sedikitpun. Semua ini merupakan tanda tanya besar untuk Shanon. Bukankah kemarin segalanya telah berubah? Mereka sedikit bersenang-senang jadi kenapa Jared malah berubah dalam sekejap? Apa karena Olivia? Atau malah anaknya?
Di waktu senggang Shanon mengambil ponselnya kemudian menghubungi nomor Jared. Nomor itu masih tidak aktif seperti kemarin malam.
Keraguan menyelimuti hatinya. Sesuatu pasti terjadi saat Jared pulang ke rumah. Shanon sangat ingin tahu kekacauan apa yang menyebabkan rencananya gagal total. Jika Jared tidak ingin menjelaskan melalui panggilan telepon maka ia akan menemuinya nanti. Saat makan siang juga Shanon tidak keberatan. Semua demi masa depan gemilang dan kesuksesannya. Shanon yakin akan mendapat penjelasan lebih rinci dengan bertanya secara langsung.
Saat makan siang Shanon berdiri di hadapan Fira yang kini menunjukkan raut jengkel terhadapnya. Ia tidak punya urusan dengan wanita ini. Penghalang tentu akan disingkirkannya jika saatnya tiba. Bukan hanya Fira saja yang merasa terusik, Shanon juga merasa demikian. Fira selalu saja menghalangi langkahnya. Wanita ini sudah lebih mirip anjing penjaga rumah yang selalu siaga menjaga tuannya.
"Bukankah kalimatku sebelumnya sudah sangat jelas, Shanon?" geramnya dengan tangan dilipat di depan dada. "Mr. Jared tidak ingin menemuimu, tidak ingin melihat wajahmu. Apa kau dengar? Kau tuli?"
"Sebaiknya tutup mulutmu jika tidak tahu apa-apa," gertak Shanon.
Fira berdecak. "Direktur kita sudah berulang kali mengatakan untuk tidak mengizinkan orang tidak penting khususnya resepsionis bernama Shanon masuk ke dalam ruangannya. Aku tahu segalanya. Aku lebih tahu keinginan Mr. Jared lebih dari siapapun. Aku ini sekretarisnya. Aku tahu setiap detail jadwalnya. Lalu apa lagi yang ingin kau bantah, resepsionis tidak penting?"
Emosi dalam diri Shanon membuncah. Wanita ini membuatnya geram sampai pada titik yang tak dapat ditoleransi. Selama ini Shanon diam karena menghargainya juga karena mengerti posisinya tapi sekarang ia sudah muak. Masa bodoh dengan citra baik!
Tanpa banyak bicara Shanon mengambil botol air mineral yang masih terisi di dekat Fira, membukanya lalu menyiramkannya tepat di wajah ketat wanita itu.
"Oh!!! apa-apaan ini!" usap Fira pada wajahnya yang basah. Ekspresinya terkejut tidak menyangka Shanon akan nekat melakukan itu padanya. "Apa kau gila?!"
"Ya, aku memang gila," sambung Shanon dengan senyum sinis. "Salahmu telah berurusan panjang dengan orang gila sepertiku."
"Aku akan mengadukanmu!"
Shanon berdecak. "Dasar bedebah! Aku tidak berminat bermain-main dengan wanita lemah sepertimu tapi kau terus memancingku. Aku bisa saja mematahkan tulang lehermu jika tidak memikirkan kepentingan Mr. Jared." Ia melangkah mendekati Fira dengan mata menyipit. "Sekarang kau tahu betapa gilanya aku, jadi mulai sekarang jangan pernah berani menghalangi jalanku!"
Shanon melangkah masuk ke ruangan Jared meninggalkan Fira yang kebingungan antara merapikan dirinya lebih dulu atau mencegah Shanon masuk ke dalam ruangan direktur. Disana ia menemukan Jared yang tengah sibuk dengan berkasnya spontan mengangkat kepala mendapati bahwa Shanonlah yang tengah berdiri disana.
"Kau terlambat hari ini," ujar Shanon dengan suara sedikit lembut.
Jared meletakkan berkas di tangannya kemudian menatap dingin pada Shanon. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?"
"Aku mengizinkan diriku sendiri untuk masuk," timpal Shanon sambil melangkah pelan menuju mejanya.
__ADS_1
"Pergilah."
Langkah Shanon terhenti saat menyadari mimpi buruknya benar terjadi. Jared benar-benar sedang menghindar darinya. "Kenapa?"
"Kau harus bekerja sesuai statusmu." Kalimat itu jelas membuat jantung Shanon berdenyut sakit.
"Ada apa denganmu? Ada masalah dengan keluargamu?"
Ekspresi Jared langsung berubah mengeras tatkala Shanon menyebutkan kata keluarga.
"Tutup mulutmu."
Tubuh Shanon membeku tapi bibirnya berusaha membentuk lekukan sinis. "Jadi kau berubah karena keluargamu?"
Jared meninju meja hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
"Kau pikir siapa dirimu!" Raut wajahnya berubah menakutkan membuat Shanon meringis seketika. Ia tidak menyangka menyinggung sedikit saja tentang keluarga kecilnya dapat berakibat buruk seperti ini.
Shanon masih diam berdiri dengan wajah bingung dan hati penuh ketakutan saat Jared beranjak dari kursinya lalu melangkah penuh intimidasi ke arah Shanon. Kini mereka berdiri berhadap-hadapan. Tatapan penuh kemarahan Jared menjawab semuanya. Dia berubah karena keluarganya. Dalam satu malam Olivia berhasil meracuni dan menguasai pikiran pria ini. Jelas Shanon mengerti dilema yang dihadapi Jared tapi mengatakan sesuatu dengan emosi meledak-ledak tidak dapat diterimanya begitu saja.
God! Sekretarisnya sudah membuat kekesalan mendalam terhadapnya, tidak disangka Jared kini meladeninya dengan cara yang sama.
"Kita?" Jared berdecak sangat tidak bersahabat. "Jangan bicara omong kosong. Kau memulai semuanya secara sukarela. Kau datang tanpa diundang lalu menawarkan diri kepada pria setengah mabuk dan sekarang menuntut imbalan. Kau memang wanita yang haus akan harta."
Bagaikan ribuan jarum yang ditusuk secara bersamaan ke dalam hati Shanon, ia terkejut dengan pernyataan Jared. Telinganya terasa panas. Dadanya ingin meledak. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Harga diri yang sengaja dikuburnya dalam-dalam tiba-tiba muncul dan dihancurkan sampai berkeping-keping. Betapa beribu-ribu kali lipat menyakitkannya hati seseorang ketika penghinaan itu berasal dari seseorang yang dicintai!
Ia bahkan tidak bisa bergerak. Mulutnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Shanon hanya menatap miris kepada Jared di depannya.
"Kenapa? Kau tidak terima?" lanjut Jared tanpa belas kasihan. "Seharusnya kau sadar sejak awal. Ingat statusmu dan status orang yang sedang kau rayu. Jika kau ingin menjaga harga diri maka rayulah pria luar sana yang sama sekali belum pernah menikah. Hans punya cukup harta untuk kau habiskan."
Semakin banyak Jared menghinanya, semakin Shanon ingin menghancurkan segalanya. Ia bersumpah akan membalas penghinaan ini. Sambil menguatkan hatinya yang hancur, ia mulai berbicara di tengah kesuraman dan kepahitan yang dirasakannya.
"Kau berharap aku akan menamparmu di momen seperti ini?" Shanon menaikkan kedua alisnya dengan senyum tipis diujung bibirnya. "Menampar, pergi lalu menangis tersedu-sedu. Kau salah menilaiku, Jared. Aku tahu apa yang sedang kau lakukan."
Pria itu hanya diam dengan ekspresi dinginnya. "Aku sudah berulang kali menerima ucapan bahkan tindakan yang lebih menyakitkan dari ini. Aku sudah melewati neraka, Jared Walter. Aku sudah melewati siksaan itu," jelas Shanon setenang mungkin. "Jujur saja kalimatmu mengejutkanku. Reaksimu sungguh diluar dugaanku. Kau benar. Aku memang wanita jalang penggoda lelaki yang sudah menikah demi mendapatkan harta. Selamat karena berhasil mengetahui kebenaran itu. Sekarang aku akan pergi, menggoda Hans dan menghabiskan hartanya. Terimakasih atas saranmu, Jared."
__ADS_1
Shanon memberi senyum miring ala pemeran antagonis sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
Shanon berbalik sekali lagi dan mendapati Jared masih berdiri tak terpengaruh sama sekali di tengah ruangan.
"Mungkin aku tidak tahu malu, tapi biarkan aku tetap bekerja disini. Aku butuh perusahaan ini sebagai jembatan untuk mendekati Hans. Sebagai imbalannya aku akan bekerja secara profesional." Setelah kalimat terakhirnya, Shanon melangkah keluar dari ruangan itu. Ia tidak menoleh kemanapun. Tujuannya hanyalah satu. Keluar dari area mencekam ini.
Di dalam lift Shanon menutup mulutnya sambil menangis layaknya pengecut. Ia bisa terima jika orang lain menghinanya sebab mereka tidak mengetahui dirinya, ia juga tidak mencintai mereka, tapi Jared. Shanon sudah mencintai pria itu untuk waktu yang sangat lama. Kini yang ia dapat bukanlah reuni yang indah melainkan penghinaan yang tak terhingga sakitnya. Shanon sudah mencoba tegar tapi air mata tetap membanjiri pipinya. Ia tidak sempat memikirkan rencananya lagi. Hanya satu hal yang ada di dalam benaknya yaitu toilet karena ia perlu mengeluarkan semua rasa perih yang ditanggungnya.
Setelah sekian lama Shanon berpikir bahwa dirinya sudah cukup tangguh.Ternyata satu kalimat pedas dari pria itu meruntuhkan seluruh benteng pertahanan yang dibangunnya.
Saat ini ia begitu marah sampai satu-satunya hal yang ada dipikirannya adalah mewujudkan perkataan Jared. Ia akan mendekati Hans dan menjauhi Jared.
Dua hari berlalu sejak pertengkaran sekaligus perpisahan antara dirinya dengan Jared. Di kantor ia terlihat biasa-biasa saja. Ceria, profesional juga bahagia. Namun di rumah ia menjadi dirinya sendiri. Penyendiri,putus asa dan patah hati. Shanon sudah menjalin hubungan yang baik dengan Hans. Tidak sulit untuknya berdekatan karena sejak dulu ia memang nyaman bersama Hans. Nyaman dalam konteks persahabatan. Dia pria baik sampai-sampai Shanon tak tega untuk melukainya sedikitpun. Ia merasa dirinya terlalu kotor untuk pria sebaik dan sesempurna Hans.
Selama dua hari ini ia tidak mencari dan tidak ingin tahu tentang Jared sedikitpun. Shanon sudah bertekad keras untuk menjauhi Jared demi kedamaian dirinya sendiri. Beberapa hal dilakukannya demi menghilangkan pria itu dari pandangannya. Pertama, ia datang pukul 7.50 pagi. Kedua, menoleh ke arah lain saat dia melintas. Ketiga, menjauhi segala urusan yang berhubungan dengan direktur. Keempat, menggabungkan diri dengan teman-teman sekantor agar perhatiannya teralih dari Jared. Dengan jalan seperti itu, ia sanggup menghindar.
"Kita pulang bersama nanti?" tanya Hans tepat di depan meja resepsionis.
Shanon merasa tidak yakin untuk terus menerus memanfaatkan Hans untuk menemaninya di masa terpuruknya ini. Namun tawaran tetaplah tawaran. Ia perlu memberi kesempatan untuk Hans.
"Kau pria yang sangat baik," senyum Shanon lalu mengangguk. "Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
Wajah Hans menunjukkan semangat yang belum pernah dilihatnya. Ternyata hal sekecil ini bisa memberi dampak besar bagi seseorang.
"Setuju."
"Kau yakin tidak sedang sibuk?"
"Selalu ada waktu luang untuk wanita cantik," canda Hans membuat mereka berdua tertawa.
Di tengah perbincangan santai mereka, seseorang yang tengah melintas melihat keakraban mereka. Shanon dengan tawa tulus meladeni apapun yang diungkapkan Hans kepadanya. Dia, Jared, tidak berminat untuk ikut campur. Ia hanya tidak sengaja melihat.
Di dalam mobil bayangan tawa Shanon dan Hans mengganggunya. Jared menggeleng. Selama dua hari ini kalimat Shanon selalu menghantuinya. Entah kenapa pengakuan wanita itu terasa tidak benar. Jared tahu ia sudah melukai Shanon demi melindungi dirinya sendiri. Ia tidak bermaksud melakukan itu, hanya saja tidak ada jalan keluar. Kejadian di malam itu merupakan kesalahan fatal.
__ADS_1
Ini memang jalan terbaik.
Biarkan wanita itu bahagia dengan jalan yang dipilihnya sendiri.Tanpa Jared sadari tangannya mengepal begitu kuat.