
Setibanya di rumah, anaknya, Davin berlari menyambutnya.
"Daddy!!" panggilnya berlari tidak stabil.
Melihat kondisi Davin sudah kembali sehat menenangkan hati Jared. Kepenatan dan stress yang dipikulnya hari ini pudar seketika. Davin memeluk sebelah kakinya membuat Jared merasa gemas lalu menggendong anaknya itu.
"Woah... anak daddy sudah sembuh." Satu kecupan mendarat di pipi chubby Davin. "Dave sudah makan?"
Anaknya yang cepat tanggap itu mengangguk dan memeluk lehernya. Respon Davin meluluhkan hati Jared. Ia yakin keputusannya sudah tepat dengan memilih keluarganya. Selama ini ia sudah hidup dengan damai. Gangguan sedikit tidak akan merusak segalanya. Lagipula ini bukan saatnya untuk bersikap egois. Hell! Sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah. Kepentingan dirinya sendiri bukanlah prioritas. Ia harus mendahulukan kepentingan Davin, segalanya untuk Davin sebelum beralih pada diri sendiri.
Jared menghembuskan napas panjang kemudian memeluk Davin dan membawanya menuju ruang makan dimana Olivia sudah menunggunya disana. Melihat makanan yang sudah ditata dengan rapi membuat Jared mengernyit.
"Ada yang istimewa hari ini?"
Olivia menggeleng ketika Jared mendudukkan Davin di kursi sebelahnya.
"Selama beberapa hari aku tidak memperhatikan makanan untukmu karena mengurus Davin." Olivia tersenyum. "Jadi aku mempersiapkan ini untuk mengganti hari-hari yang sudah terlewat sekaligus sebagai permintaan maaf karena lalai menjalankan tugasku."
Jared menatapi Olivia dengan pikiran kacau. Pembicaraannya dengan istrinya sendiri sudah seperti kolega kerja saja. Mengabaikan perasaan tak nyaman itu, fokusnya kembali pada Davin yang tengah sibuk memakan anggur.
Tangannya mengelus rambut halus anaknya sebelum berkata, "Tidak perlu repot-repot, Oliv. Aku mengerti situasinya. Lagipula kesehatan Davin adalah prioritas kita."
Istrinya mengangguk dengan senyum senang. "Bagaimana kalau kita mulai makan sekarang?"
"Mari," jawab Jared mengambil piringnya.
Olivia menyediakan makanan di piringnya layaknya istri yang baik. Mereka makan sambil berbincang ringan yang khususnya membahas tentang Davin. Beginilah setiap hari, ia dan Olivia memiliki aktivitas dengan jadwal yang sangat padat. Setiap kali bertemu, mereka selalu dalam kondisi lelah hingga percakapan berjalan singkat. Selama empat tahun Jared tidak pernah keberatan dengan suasana itu tapi entah kenapa belakangan ini ia merasa jenuh.
Sekarang sesuatu harus dilakukan untuk mempererat ikatan antara dirinya dengan Olivia.
Jared tiba di kantor lebih lama dari biasanya. Saat berjalan menuju pintu masuk, ia bertemu Shanon dan Hans disana.
"Selamat pagi, Mr Jared," sapa mereka serempak begitu formal.
Jared menoleh singkat sebelum mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka. Ia tidak ingin berpikir terlalu banyak tapi iblis seolah selalu mengujinya. Di dalam lift ia menerka-nerka kenapa mereka bisa bersama-sama sepagi ini. Mungkinkah mereka pergi ke kantor bersama-sama?
Jared sempat melihat tatapan dingin Shanon terhadapnya. Wanita itu pasti masih terluka. Mungkin saja dia mendendam terhadapnya. Tidak salah, mengingat kalimatnya begitu pedas saat terakhir kali mereka berbincang.
Di dalam ruangan, Jared mengingat bagaimana akrabnya Shanon dengan Hans kemarin sore. Hari ini Shanon melihatnya dengan tatapan dingin yang begitu formal. Begitu kontras dengan tatapan ramahnya terhadap Hans. Apakah wanita itu benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya? Apakah dia akan memeras Hans dengan cara merayunya?
__ADS_1
Well, Poor Hans!
Dia terjebak dengan wanita semacam itu.
Jared menggeleng sambil memijit dahinya. Sejak kemarin ia selalu berniat untuk mengaktifkan ponsel cadangannya hanya untuk mengecek apakah Shanon mengiriminya pesan atau tidak. God! Padahal ia sudah berjanji untuk melupakan segalanya. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan rencananya.
Shanon memberi peluang untuk cahaya masuk di hari-hari gelapnya. Ia sangat senang jika saja wanita itu mau menjadi temannya, tapi bagaimana mungkin pria dan wanita bisa terus menerus menjadi teman? Ditambah lagi dirinya sudah menikah dan memiliki anak. Mustahil!
Tanpa pikir panjang Jared langsung mengambil ponsel cadangannya, mengaktifkannya lalu melihat cukup lama. Ia berharap mendapat satu pesan dari Shanon. Benar sekali, ia mendapat dua pesan darinya. Cepat- cepat Jared membukanya dengan semangat penuh tapi semangat itu mendadak pudar saat mengetahui pesan itu dikirim sehari sebelum perpisahan mereka.
Jared menghembuskan napas panjang. Membanting pelan ponselnya lalu mengacak rambutnya. Entah apa yang diinginkannya saat ini. Ia ingin kebenaran tapi kesalahan terlalu menggiurkan untuk disingkirkan.
Bagaimana ini?
Jared mulai khawatir. Ia tahu dirinya. Ia tahu kapan saatnya untuk menyerah atau berjuang. Sekarang yang terjadi malah lampu hijau untuk berjuang mengejar apa yang sepatutnya tidak diperjuangkan.
Kesalahannya adalah mengutarakan kalimat yang terlalu pedas terhadap Shanon. Ia tahu wanita itu tidak akan melakukan hal yang begitu bengis terhadap pria lain hanya karena tidak berhasil mendapatkannya. Perlukah minta maaf setelah tiga hari berpisah? Apakah itu bisa disebut perpisahan? Kenapa ia begitu teracuni oleh Shanon?
Ini sangat tidak masuk akal. Benarkah ia sedang berpikir untuk minta maaf pada wanita yang sengaja menggodanya?
Benarkah ini?
Jared mengacak kasar rambutnya lagi.
Makan malam bersama Hans kemarin berjalan cukup lancar. Mereka berbincang banyak mengenai pekerjaan juga beberapa hal pribadi. Shanon merasa nyaman menceritakan beberapa hal bersama pria yang satu itu. Dia terasa seperti teman bahkan sahabat yang siap mendengar segala keluh kesahnya.
Ia memang dalam mood buruk selama berhari-hari sejak pertemuan terakhirnya dengan Jared. Kalimat itu berulang kali terngiang di pikirannya. Shanon tak habis pikir Jared mampu mengatakan hal semacam itu setelah apa yang mereka lakukan. Jelas dia menerima ciuman itu. Jelas dia juga membalasnya. Dia bahkan membalas pesan pribadinya.
Kemarahan dalam diri Shanon semakin membuncah setiap kali mengingat setiap ucapan itu.
Sialnya ia harus bertatapan dengan Jared pagi ini. Semua ini karena Hans yang memaksa akan menjemputnya hingga mereka harus terburu-buru karena hampir terlambat. Jika tidak pergi bersama Hans, mungkin ia bisa menghindari Jared.
Betapa menyebalkannya melihat pria itu tampak baik-baik saja disaat dirinya terlihat seperti monster. Jared tampak luar biasa dengan tampilan menawan itu. Dia mungkin tidak merasa berdosa sama sekali setelah kejadian itu maka dengan tenang Shanon hanya menatapnya dengan raut datar sebagai tanda ketidaksenangannya. Setelah Jared pergi, Shanon merutuki dirinya sendiri karena gagal menghindari Jared selama seminggu penuh.
Shanon berniat untuk makan siang sendiri hari ini dan untuk mewujudkan hal itu, ia harus buru-buru pergi demi menghindari tawaran makan siang dari Hans lagi. Saat berada di halaman kantor, ia bertemu dengan beberapa wanita yang tampak familiar. Staff bagian keuangan mungkin? Shanon mengedikkan bahu tak mau tahu. Anehnya mereka menatapnya dengan ekspresi tidak senang. Shanon berusaha mengabaikan mereka dengan berjalan cepat tapi tangannya tiba-tiba direnggut dengan kasar.
Langkahnya terhenti dan secara mendadak ia sudah dikelilingi oleh mereka.
"Apa yang kalian inginkan?" desis Shanon mulai tak ramah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan hingga bisa kembali diterima disini?" Mulai salah satu dari mereka dengan alis terangkat. "Menggoda atasan? Menjual diri? Apa? Apa yang kau berikan?"
Shanon menggertakkan giginya. "Lepaskan aku! Apa kalian sudah gila melakukan ini di tempat kerja?"
Wanita yang lainnya mencengkeram pipi Shanon. "Hei bodoh, kau pikir dengan menjual tubuh dan wajah yang dibawah standard ini mampu menyelamatkanmu selama-lamanya?" Dia berdecak. "Jangan berani menggoda atasan kita apalagi Mr. Jared dengan cara murahanmu itu. Jika sekali lagi kami mendapatimu melakukan itu maka kami akan siap menyingkirkanmu dengan cara apapun." Dia melepaskan pipi Shanon dengan satu sentakan dan yang lainnya mendorongnya hingga terjatuh. Mereka bubar begitu saja meninggalkan Shanon yang masih berdesis kesakitan di bagian telapak tangan dan bokongnya.
"Sial!" umpatnya sambil membersihkan tangan. "Sial! Sial! Sial!"
Sekuat tenaga Shanon menahan kesesakan di dadanya. Ia tidak mendapatkan Jared sama sekali jadi pantaskah ia mendapatkan ini? Ketika sibuk dengan pikirannya sendiri, sebuah uluran tangan mengalihkan perhatiannya. Mata Shanon menatap ujung jari sampai pada wajah seseorang yang berniat membantunya itu.
Jared.
Pria ini adalah orang terakhir yang ingin ia lihat sekarang. Tatapan pria ini tulus tapi Shanon tidak ingin belas kasihan darinya. Mungkin Jared sudah tertawa di dalam hati melihat dirinya dipermalukan oleh karyawan perusahaan. Pikiran itu semakin merusak moodnya.
Shanon hanya memandangi uluran tangan itu cukup lama. Betapa ia sangat ingin menerima bantuan ini jika situasinya berbeda.
Sekarang pikirannya sedang kacau dan egonya sedang tinggi maka dari itu ia memutuskan untuk mengalihkan pandangan ke arah lain sebagai tanda penolakan. Beberapa detik kemudian seseorang berjongkok di depannya, memegang kedua bahunya lalu berkata, "Shanon, kenapa kau bisa duduk disini?"
Shanon menatapnya. Hans. Pria ini berlari untuk menolongnya. Tatapan mata Hans juga begitu tulus membuat perasaan Shanon semakin kacau. Hans memancarkan afeksi yang luar biasa terhadapnya. Tanpa sadar Shanon menangis. Menangis seperti anak kecil yang terjatuh. Tidak terluka parah tapi menangis karena merasa malu.
Tubuhnya berguncang ditengah tangisnya. Hans yang melihat itu langsung mendekapnya, mengelus punggungnya dan menenangkannya dengan kalimat lembut.
"Sst... You're okay. Jangan menangis. Jangan menangis."
Kalimat itu bukan menghentikan tangisnya tapi malah membuatnya menangis semakin kuat. Kesesakan yang dirasakannya selama berhari- hari akhirnya tumpah di pundak Hans.
Gerakan Hans begitu perlahan ketika berusaha untuk menggendongnya. Dia terlihat ragu untuk melakukan itu maka Shanon berinisiatif melilitkan tangannya di leher Hans sebagai persetujuan. Gestur itu berhasil ditangkap oleh Hans sehingga kini Shanon berada di dekapannya lalu dibawa menuju tempat yang ia yakini tak jauh dari kantor. Shanon merasa bersyukur karena Hans menjauhkannya dari Jared.
Kedekatan antara Shanon dan Hans ternyata diamati secara mendalam oleh Jared sejak tadi. Wanita itu menolak bantuannya mentah-mentah sementara pertolongan terlambat Hans disambut begitu luar biasa olehnya.
Jared hanya bisa menatap tubuh lemah Shanon berada di dekapan Hans. Pemandangan itu membuatnya dongkol.
Hal itu membuatnya resah.
Ia ingin menolong Shanon.
Ia ingin berada di posisi Hans saat ini.
Ia ingin wanita itu bergantung padanya.
Lucunya ia ingin Shanon memilihnya.
__ADS_1
Apa ini?
Apakah ia cemburu pada kedekatan mereka?