
Shanon tiba di kantor tepat waktu walau tidak menggunakan taxi. Setelah pikir panjang mengenai biaya, ia memutuskan untuk menggunakan bus. Jared tidak akan tahu. Lagipula tidak ada yang terjadi padanya.
Shanon berdiri di belakang meja resepsionis dengan penuh percaya diri. Pagi ini sudah dimulai dengan begitu banyak keajaiban dan sekarang saatnya kembali pada realita. Setidaknya untuk saat ini ia harus pandai menyembunyikan hubungannya dengan Jared.
"Selamat pagi, Shanon," sapa Hans yang sedang berjalan mendekatinya.
Shanon menampilkan senyum terbaiknya. "Selamat pagi, Hans."
"Wahh... Mood-mu kelihatan sangat bagus." Dia mencondongkan tubuhnya lalu mengamat-amati wajah Shanon. "Mau bercerita tentang alasan dibalik wajah cemerlang ini?" tunjuknya pada senyum Shanon.
"Aku tidak boleh bahagia?"
"Bukan." Tepis Hans. "Belakangan ini wajahmu selalu murung jadi aku bertanya l-tanya mengenai asal-muasal mood baik ini."
Shanon tertawa. "Aku sudah menyelesaikan beberapa masalahku jadi sekarang saatnya untuk bersikap tenang."
"Apa masalahmu?" ujar Hans dengan wajah semakin mendekat. Refleks Shanon tertawa sambil memundurkan wajah Hans.
"Kau tidak perlu tahu." Shanon mengarahkan pandangannya pada pintu masuk dan menemukan Jared di sana. Ia menelan dengan susah payah.
"Selamat pagi, Mr. Jared." Sapaan Shanon membuat Hans sontak kembali ke posisinya semula.
"Selamat pagi, Mr. Jared."
Jared tidak membalas. Dia hanya mengangguk kecil kemudian berlalu begitu saja. Shanon menghembuskan napas lega kemudian menatap Hans. "Sebaiknya kau mulai bekerja."
Hans mengangkat sebelah alisnya. "Kau mengusirku?"
"Aku hanya takut pak direktur berpikir kita menjalin hubungan dan mengabaikan pekerjaan."
Hans memutar bola matanya. "Kau luar biasa. Baiklah, selamat bekerja."
Tanpa berbalik lagi, dia pergi meninggalkan Shanon yang masih bertanya- tanya apakah ia telah menyebabkan dua pria ini kesal di pagi hari.
Seperginya Hans, Shanon langsung mengecek ponselnya tapi tak mendapat pesan atau panggilan dari Jared sama sekali. Jujur ia mengharapkan itu. Apakah Jared marah? Tidak mungkin, bukan?
Saat jam makan siang tiba, Shanon menghubungi nomor Jared tapi tak kunjung mendapat balasan. Bosan menunggu sebuah ketidakpastian, ia nekat menerobos masuk ke dalam ruangan Jared.
"Kau labil lagi?" tanyanya dengan nada kesal.
Jared mengangkat kepalanya dengan ekspresi teramat tenang. "Kau senang berdekatan dengannya? Kau sudah mengingkari janjimu dan bersenang-senang dengannya."
"Apa maksudmu bersenang-senang?" tanya Shanon berkacak pinggang.
"Kau terlihat gembira berdekatan dengannya."
"Jared, kau harus membuka pikiranmu."
Mata Jared menajam. "Kau yang harus membuka pikiranmu, Shanon. Pertama kau pergi menggunakan bus. Kedua kau menikmati rayuan pria lain."
Shanon menaikkan kedua alisnya saat Jared menampilkan wajah seriusnya. It can't be true tapi sekarang Jared sedang cemburu. Shanon tersenyum miring dan mendekatinya.
"Kau cemburu?"
Jared berdecak. "I have the right to be."
Bangga mendengar jawaban itu,Shanon berjalan cepat dan mendudukkan dirinya di pangkuan Jared. Ia mengecup singkat pipi dan bibir menggiurkan itu kemudian tersenyum lebar.
__ADS_1
"I'm sorry tapi kau terlihat menggemaskan saat cemburu."
Hati Jared yang beku akibat tumpukan kekesalan tiba-tiba meleleh melihat tingkah laku Shanon. Bagaimana bisa wanita semungil ini bisa mengubah perasaan seseorang dengan begitu cepat?
Ia melingkarkan tangannya di pinggang Shanon kemudian menariknya lebih dekat.
Jared berusaha menampikan wajah serius saat insting buasnya sudah bersiap menerkam wanita ini habis-habisan. Dengan sorot mata yang ia tahu mampu melemahkan Shanon, ia berkata, "Kenapa kau melawanku?"
"Kapan?" jawab Shanon dengan suara berbisik. Dia telah terpengaruh tatapan Jared sesuai dengan rencana.
"Bus?"
"Ada apa dengan bus?"
Jared mengeratkan sentuhannya pada pinggang Shanon. Wanita ini masih mampu mengelak dan bermain-main bahkan setelah hampir lumpuh di genggamannya.
"Kau mengatakan akan menurutiku dengan menggunakan taxi," kata Jared dengan suara datar.
"Ya, aku berpikir ulang. Kau tahu? Dengan biaya taxi itu aku bisa menggunakan bus sebanyak 4 kali. Rugi bukan jika aku menghabiskannya untuk taxi sementara masih banyak waktu sebelum jam kerja dimulai, jadi
..."
"Hentikan omong kosongmu itu," geramnya dengan alis beradu membuat Shanon membeku di tempat. Wanita ini terlalu banyak berpikir tentang ini dan itu terutama masalah finansial. Ia sama sekali tidak suka. "Don't use it ever again."
"Why?" tanya Shanon dengan dahi mengerut.
"Karena bus itu tidak aman."
"Kau pernah menggunakannya?"
"Jika belum pernah lalu darimana kesimpulan itu berasal?"
Jared mengetatkan bibirnya. Ia tak percaya mereka berdebat hanya karena bus. Shanon terlalu keras kepala. "Aku membacanya di media. Banyak perampok juga pencabul di dalamnya. Kau bisa saja mendapatkan perlakuan tidak senonoh."
Shanon memutar bola matanya. "Hentikan, Jared. Kau berpikir terlalu banyak."
Mereka berdua saling bertatapan masih tidak setuju dengan argumen masing-masing. Shanon berpikir masalah bus tidak akan menjadi perbincangan untuk hari ini sementara Jared merasa sangat kesal tidak hanya karena Shanon mengingkari janjinya tapi juga karena berani membantahnya. Wanita ini memang pandai mengacak-acak hidupnya.
"Aku akan membelikanmu mobil," ujar Jared dengan tatapan tak terbantahkan.
"Jared..." ucap Shanon hampir putus asa.
"Aku akan membelinya meski tanpa persetujuanmu." Tekan Jared dengan gemeretak giginya.
Shanon menghembuskan napas panjang. "Bagaimana jika orang-orang tahu? Lalu dimana aku akan meletakkannya? Tempat tinggalku tidak memadai dan bagaimana aku menjelaskan pada tetangga di sekitarku?"
"Sekarang siapa yang berpikir terlalu banyak?" tanya Jared dengan jiwa bossynya yang mulai muncul.
"Aku berpikir rasional."
"Maksudmu aku tidak rasional?"
"God!" keluh Shanon memegang kepalanya. Perdebatan ini seolah tiada akhir. Jared punya jawaban atas segala perkataannya. Tidak akan ada yang menang selagi ego masing- masing masih sama besarnya. "Sebaiknya kita bicarakan ini nanti. Aku harus kembali bekerja."
Shanon bergerak hendak turun dari pangkuan Jared. Mereka beruntung ini masih jam makan siang. Jika tidak maka semua akan tamat.
Jared menahan pinggang Shanon agar diam di tempat. "I'll take you home later."
__ADS_1
"Jared," desis Shanon.
"Kita akan bicara nanti. Sekarang kembali bekerja." Dia mengecup punggung tangan Shanon sebelum membiarkannya turun dari pangkuannya.
"Sebaiknya kita bertemu satu jam setelah jam kantor selesai." Tanpa menunggu jawaban Jared, Shanon langsung melangkah cepat keluar ruangan.
Jam pulang kerja akhirnya tiba. Shanon mengucapkan sampai jumpa pada teman sekantornya sebelum beranjak dan menunggu Jared di halte. Ia memeriksa ponselnya dan tidak menemukan kabar dari Jared. Shanon mendesah. Mungkin dia masih kesal dengan perbincangan tanpa akhir di kantornya tadi. Bagaimana tidak? Shanon belum siap untuk menikmati harta Jared yang ia tahu cukup banyak. Untuk sekarang pondasinya belum begitu kuat. Jika ia lalai sedikit saja maka ia akan kehilangan arah dan kehilangan segalanya.
Shanon menghembuskan napas panjang. Jared sudah hampir kembali ke dalam dekapannya. Sejauh ini rencananya berjalan dengan begitu mulus. God! Ia sudah menderita terlalu banyak. Sekarang saatnya untuk berbahagia. Dalam dongeng semua cerita berakhir bahagia. Sama seperti dongeng, Shanon ingin akhir bahagia dengan merakit sendiri dongeng sempurnanya itu.
Suara klakson membuyarkan khayalannya. Tak terasa ia telah duduk di halte selama satu jam. Dengan santai ia masuk ke dalam mobil yang lagi-lagi dikendarai sendiri oleh Jared.
"Kau tidak keberatan menjadi supirku?" gurau Shanon dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Aku tidak keberatan menjadi supirmu untuk waktu yang lama."
Shanon tertawa. "Kemana kita akan pergi?"
"Makan malam."
"Oh... Okay," jawab Shanon sedikit tenang.
Ia menangkap pandangan sekilas Jared padanya sebelum pria itu menambahkan, "Dan melihat tempat tinggal barumu."
Mata Shanon membelalak. Ia memutar tubuhnya menatap Jared dengan raut terkejut.
"Aku tidak ingin mendengar penolakanmu. Aku sudah membelinya dan kau harus menempatinya."
God!
Shanon begitu terkejut sampai tidak bisa berkata apapun lagi. Mulutnya menganga dan jantungnya berdebar kencang.
"Jared.... Apa....Oh God! Apa kau sudah gila?" ujar Shanon terbata-bata.
Jared tetap menyetir mobilnya tanpa menoleh kepada Shanon. "Aku ingin kau mendapatkan yang terbaik, tempat yang aman. Itu saja. Apa terlalu sulit untukmu mengatakan terimakasih?"
Shanon meringis menatap ke luar jendela. Beberapa saat ia berdiam diri, menarik napas dan menghembuskannya untuk mwncari kedamaian . Jika karena ketidak-inginannya untuk mengacaukan semua ini, Jared pasti sudah ia beri pelajaran. Dia terlalu boros bahkan setelah__ "Jared kita baru berhubungan satu hari."
"Lalu kenapa?" tatapan matanya berubah dingin dan penuh amarah.
Shanon memiliki kemarahan yang hampir sama besar tapi ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi di perjalanan mereka. Ia terdiam lagi untuk beberapa saat.
"Kita akan bicara saat makan malam." Tutup Shanon mengakhiri perdebatan tanpa henti mereka.
Ini gila.
Belum sampai 24 jam dan pertengkaran kecil terus menghinggapi mereka berdua.
Damn!
Sampai kapan kegilaan ini akan berlangsung!
TBC
Helloooo readers. Author akhirnya kembali. Jangan lupa vomment yawww. Thank you
__ADS_1