Putih

Putih
Part 10


__ADS_3

Pagi ini Jared masuk kantor dengan perasaan gelisah. Selama tiga hari ini ia mengalami mimpi buruk. Malam tadi adalah yang terburuk. Ia bermimpi perusahaan yang dipimpinnya bangkrut secara mendadak lalu karyawan demo besar- besaran dengan tuntutan ganti rugi padanya. Kegelisahan selalu menyelimutinya belakangan ini. Padahal segala hal yang menyangkut perusahaan sedang berjalan dengan baik.


Saat hampir memasuki kantor, ia mengingat tingkah wanita itu. Dia pasti membukakan pintu lalu menyambutnya dengan sapaan-sapaan aneh. Terakhir kali dia menggunakan kata 'honey'. Wanita itu tidak tahu betapa Jared ingin memuji sekaligus memarahi keberanian luar biasanya kala itu.


Ia berdecak lucu sembari berjalan cepat memasuki lift. Jika orang lain mendengar bagaimana dia menggoda direktur yang sudah menikah ini maka dia pasti sudah dihina habis-habisan. Dirinya juga sadar bahwa Shanon selalu datang lebih awal hanya untuk menyapanya di pagi hari.


Jared mengernyit. Apa yang sedang ia pikirkan? Baru saja ia berpikir tentang Shanon. Apakah ia merindukan perbuatan konyol resepsionis itu?


Mustahil.


Itu hanya kekesalan yang tiba-tiba muncul sebagai kenangan dari karyawan yang tidak kompeten.


Lift terbuka dan ia berjalan cepat memasuki ruangannya. Untuk pertama kalinya suasana di dalam sini terasa menyesakkan dan membosankan. Jared melakukan peregangan sebelum duduk. Ia butuh sesuatu sebagai hiburan. Mungkin nanti ia harus turun lapangan dan mengecek kesiapan lokasi yang akan ia jadikan restaurant. Ya, setidaknya itu akan mengembalikan semangatnya.


Tepat pukul 8, Fira memasuki ruangannya.


"Selamat pagi, Mr. Jared," sapanya dengan senyum lebar. Dia meletakkan setumpuk berkas diatas meja kemudian mulai dengan penjelasannya.


"Ini berkas-berkas yang anda minta kemarin. Yang ini," Fira menyodorkan map cokelat. "Adalah berkas mengenai kasus pembakaran ruang istirahat tiga hari yang lalu, Mr. Jared. Tim penyidik yang anda bentuk telah menyelesaikan tugas mereka. Segala informasi ada di dalam map ini. Mereka butuh keputusan anda setelah laporan ini diserahkan. Hanya itu untuk pagi ini, Mr. Jared. Saya ada di depan jika anda membutuhkan sesuatu. Permisi."


Jared mengangguk lalu mengambil map cokelat itu. Nasib resepsionis itu bergantung pada fakta-fakta yang ditemukan tim. Penasaran dengan isinya, ia membuka map itu dan menemukan beberapa lembar kertas berisi foto dan penjelasan di dalamnya. Dengan seksama Jared membaca semuanya secara detail. Matanya memicing tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi di perusahaannya.



Sudah tiga hari Shanon hidup menganggur. Beberapa hal sudah dilakukannya dan mencoba untuk hidup bahagia untuk sementara. Ia sudah menemui Viella dan sudah belanja makanan dan kebutuhan lainnya di hari penuh diskon, tapi tetap saja. Moodnya terasa tidak stabil.


Hidup seperti ini bagaikan hidup di ujung jurang. Shanon hidup dalam ketidakpastian. Jika mereka memecatnya maka ia tahu harus melakukan apa yaitu mencari pekerjaan tapi kenyataan mereka menggantung nasibnya. Ia tidak tahu seberapa lama ia akan menganggur, juga tidak tahu apakah ia akan tetap bekerja di Noire atau tidak. Entah apa yang terjadi di perusahaan. Apakah mereka melakukan penyelidikan? Sudah sampai mana penyelidikan itu? Adakah fakta yang bisa membantunya?


Shanon mengacak rambutnya sendiri. Membosankan sekali berada di rumah seharian tanpa tahu harus melakukan apa. Tampaknya ia butuh waktu untuk menghirup udara segar. Ya, ia harus berjalan-jalan di taman agar pikirannya kembali fresh.


Setelah mengganti pakaian menjadi lebih santai, Shanon keluar dari flat kecilnya. Tak lupa mengunci rumah, ia berjalan cepat setidaknya berharap itu sebagai olahraga pagi yang dilewatkannya tadi. Udara pukul 9.40 terasa sedikit menyengat. Terbukti dari keringat yang mulai membasahi keningnya. Taman itu masih sedikit jauh, ia tak boleh menyerah dengan bersantai di dalam cafe dan menghabiskan uangnya lagi.


Napasnya menggebu saat akhirnya tiba di taman. Tak begitu banyak orang di jam ini. Shanon duduk di kursi taman dengan pipi menggembung. Semua orang pasti sedang bekerja sekarang sementara dirinya malah duduk dan terlihat bermalas-malasan disini.


Shanon mengibas tangan didepan wajahnya. Setidaknya gerakannya itu memberinya sedikit angin.


Lagi-lagi hal menyedihkan semacam ini terjadi padanya. Saat ia berpikir sudah memiliki segalanya tiba-tiba nasib memberi jalan lain. Jalan yang sangat buruk hingga ia tersungkur dan tak mampu berdiri lagi.  Shanon tahu rasa sakitnya. Dunia memperlakukannya dengan sangat kejam kemudian membuatnya menjadi wanita keras. Ia cukup tangguh untuk mengatasi hal semacam ini. Shanon percaya dunia tak akan mengkhianatinya dua kali.


Kini matahari semakin menyengat. Shanon merasa sangat haus. Jika terus menerus berperilaku irit menyiksa seperti ini maka ia akan segera mati. Menyerah dengan keadaan, ia terpaksa pergi menuju cafe terdekat. Betapa bodohnya ketika ia tidak membawa air minum sendiri dari rumah. Seharusnya ia bisa lebih irit.


Dalam perjalanan beratnya, Shanon melihat mobil sedan hitam yang terasa familiar. Ia menggeleng dengan senyum tak paham. Matanya selalu menangkap hal hal yang berhubungan dengan Jared belakangan ini. Ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menghubungi atau mengirim pesan pada pria itu. Namun sejak saat itu ia selalu menangkap hal hal yang berhubungan dengannya.


Dani, seorang remaja yang ia kenal karena tinggal berdekatan dengannya terlihat berjalan cepat, hampir berlari menuju mobil sedan itu. Shanon tersenyum kecil sambil memperhatikan apa yang remaja kecil itu lakukan. Pemilik mobil keluar. Dani yang berpura-pura tak sengaja menabrak sang pemilik mobil menimbulkan rasa curiga dari Shanon. Jelas jelas Dani melihat mobil itu sejak tadi. Tidak mungkin dia tidak sengaja melakukannya, bukan?.


Dan apa ini?


Jared?


Dani menabrak Jared?


Benar-benar Jared?

__ADS_1


Apa yang dilakukan pria itu disini?


Dani seperti mengatakan maaf sebelum buru buru berlari ke arahnya. Shanon menatap keduanya secara bergantian hingga ia sadar apa yang terjadi. Bertepatan dengan itu, Jared menunjukkan reaksi yang meyakinkannya bahwa Dani telah mencuri dompetnya.


Matanya membelalak lalu menatap tajam ke arah Dani yang berlari tergesa-gesa tanpa menyadari kehadirannya disana. Dengan gesit Shanon menarik tangan Dani ketika melintas hampir melewatinya. Genggamannya erat, begitu erat hingga rontaan Dani tidak memberi pengaruh sama sekali.


"Dani, lepaskan dompet itu atau kau akan ada dalam masalah besar," ancam Shanon dengan bibir mengetat.


Dani membelalak menyadari siapa yang menahannya. "Kak Shany? Lepaskan aku kak. Aku butuh uang ini."


"Kau tidak bisa mencari jalan keluar dengan melakukan tindak kejahatan!"


"Lepaskan!" ronta Dani ingin melarikan diri.


Dengan penuh inisiatif dan kepekaan bahwa Jared sudah hampir tiba di dekat mereka, Shanon melepaskan sebelah tangannya secara tiba tiba lalu menarik dompet itu dari genggaman Dani.


"Lari atau kau akan mendekap di dalam penjara!" geram Shanon melepaskan sebelah tangannya lagi. Dani tampak terkejut dan tidak paham akan situasi tapi tanpa berpikir panjang dia berlari kencang menjauh dari Shanon.


Ia menghembuskan napas panjang ketika Jared tiba disampingnya. "Kenapa kau membiarkan pencuri itu melarikan diri, nona?"


Shanon tersenyum tipis. Takdir sedang mempertemukannya dengan sang pangeran. Ia berbalik secara perlahan. Ia yakin Jared tidak menyangka bahwa dirinyalah yang menyelamatkan dompetnya hari ini. Ekspresi terkejut begitu kental di wajah Jared membuat Shanon berdecak.


"Ini dompetmu." Dia menyerahkannya begitu saja kemudian melipat tangan di depan dada.


Jared menatapnya curiga. "Kau mengikutiku ke tempat ini?"


Shanon tersenyum miring. "Aku memang pengangguran untuk saat ini tapi aku tidak punya waktu untuk mengikutimu, Tuan Bermulut Pedas."


"Ini bukan kantor," timpal Shanon cepat.


Jared menyipitkan matanya sembari kembali menyimpan dompetnya. "Kenapa kau membiarkannya lolos?"


Shanon mengedikkan bahu. "Tidak setiap orang hidup makmur sepertimu, Jared Walter. Masalah keuangan terkadang membuat orang seperti kami ini melakukan tindakan diluar kewajaran."


"Jadi kau membiarkan seorang penjahat hidup bebas di kota ini?"


"Dia hanya seorang remaja yang masih bersekolah. Aku mengenalnya dan tahu kesulitannya. Aku tidak ingin menambah masalah hidupnya," jelas Shanon penuh ketegasan. "Lagipula aku berhasil mengembalikan dompetmu. Jadi tidak ada masalah, bukan?"


Jared hanya memberinya tatapan panjang yang tidak ia mengerti. Setelah beberapa saat dia menarik napas panjang lalu mengalihkan perhatiannya dengan menatap kondisi taman.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya tanpa melihat ke arah Shanon.


"Sekarang kau penasaran dengan aktivitasku?" Ia menaikkan kedua alisnya saat Jared menoleh malas padanya.


"Aku bertanya karena mengenalmu."


"Jadi kau sudah menyadari kehadiranku?"


"Bisakah kau berhenti mendalami setiap pertanyaan yang kuajukan?" tanya Jared dengan intonasi jengkel.


Shanon tertawa dan menurunkan tangannya. "Aku sedang mencari udara segar."

__ADS_1


"Udara tak lagi segar di jam 10.20 pagi."


Shanon menyipitkan matanya. "Bisakah kau berhenti mendalami setiap pernyataan yang kuutarakan?"


Kali ini Shanon menimpalkan kalimat sama seperti yang Jared lakukan sebelumnya.


Skor 1:1


Bukannya marah, Jared malah berdecak membuat jantung Shanon berdebar.


"Lalu apa yang pimpinan perusahaan lakukan disini, di jam kerja seperti ini?" tanya Shanon dengan ekspresi ramah.


"Aku sedang mengamati asetku," jawab Jared sambil melihat sekelilingnya.


Mata Shanon membelalak. "Taman ini milikmu?"


"Kau masih bertanya?"


"Astaga. Kau pasti sangat kaya," puji Shanon dengan ekspresi penuh kagumnya.


Jared tertawa mendengar pujian itu. "Aku ingin mendirikan restaurant disini."


"Kenapa?"


"Pertanyaan macam apa itu?" Kening Jared mengernyit. "Kau benar-benar karyawan yang tidak kompeten."


Ia mencibir. "Aku bukan karyawanmu untuk sementara waktu jadi berhenti mengolok-olokku."


Dia menghembuskan napas panjang seolah dengan terpaksa harus menjelaskan. "Tempat ini strategis dan sering dikunjungi banyak orang. Tidak ada restaurant di dekat sini jadi peluang untuk memajukan bisnis itu sangatlah besar."


"Kau akan menghilangkan tamannya?"


"Kenapa aku melakukannya?" Jared menatap taman sekali lagi. "Taman ini telah menjadi daya tarik masyarakat. Aku akan mendirikan bangunan disebelah utara," tunjuknya penuh semangat. "Dan taman ini akan kutata menjadi lebih indah."


Saat Jared bersikap tenang dan leluasa berbicara padanya seperti ini, dia tampak bercahaya. Shanon tidak pernah menduga kalau mereka akan mengobrol santai seperti ini setelah apa yang terjadi di kantor. Tunggu dulu. Apa ini adalah dampak dari kerinduan Jared terhadapnya? Shanon tertawa kecil.


"Kenapa kau tertawa?" Jared menunjukkan ekspresi bingung. "Apa ada yang lucu disini?"


Shanon memutar bola matanya. "Berhentilah bersikap sebagai bos galak disini. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang lucu."


"Kau memikirkannya saat aku sedang menjelaskan tentang rencana bisnisku?" Dia mengangkat kedua alisnya.


"Siapa yang mau mendengarkan ocehan bisnismu di pagi hari yang cerah ini?" komentar Shanon penuh keberanian. "Aku haus."


Jared tidak menanggapi kalimatnya membuat Shanon melanjutkan. "Kau benar-benar tidak peka, Jared. Aku sudah menolongmu dan sekarang aku haus. Kenapa kau tidak menawarkan minum teh sebagai balas jasa?"


Jared mengabaikannya dengan melangkah pergi melewatinya begitu saja. "Aku tidak memintamu untuk menolongku."


Ia menatap punggung pria itu kemudian mengekor dengan langkah menyentak.


"Sialan kau Jared Walter!"

__ADS_1


__ADS_2