Putih

Putih
Part 4


__ADS_3

Shanon tidak menampik fakta bahwa Jared terlihat sangat mengintimidasi juga sangat menggoda. Bak harta karun yang sudah ada didepan mata, Shanon memantapkan hati untuk segera mengambil harta itu, mengklaim harta itu untuk dirinya sendiri. Ia mengusap lembut bibir bawahnya dengan ujung jemarinya. Matanya menyorot sensual ke arah Jared yang masih saja menatapinya dengan begitu tenang. Entah apa yang sedang Jared pikirkan tapi apapun itu Shanon yakin, jika tak bisa mendapatkannya hari ini maka masih ada hari esok atau esoknya lagi dan begitu seterusnya. Jika orang lain tahu mengenai perilakunya ini maka mereka akan mencaci dirinya sebagai wanita murahan. Well well, bagaimana bisa ia menjadi murahan saat kelak sudah menggenggam harta paling mahal dan berharga yang ada dihadapannya ini?


Terkadang manusia hanya iri kemudian menghina untuk memenangkan dirinya sendiri. Self-defense mungkin? Who knows?


"Interesting choice of words," komentar Jared terdengar begitu paham dengan kalimat yang baru saja Shanon utarakan. "tapi berhati-hatilah dengan api, lady karena jika kau tidak mahir menggunakannya maka bersiaplah untuk terbakar dan hangus."


Shanon berdecak dengan senyum lebar. Jemarinya lepas dari bibirnya kemudian memangku dagu di telapak tangannya.


"Teruslah berbicara. Aku suka mendengar suaramu."


"Careful with your words." Jared menatapnya kembali dengan ekspresi tak terbaca. "Aku masih atasanmu disini."


Dalam hati Shanon tertawa kecil.


Kau sudah lebih dari atasan, Jared. Kau pemilik perusahaan. Dibandingkan denganku, kau sudah seperti raja dan aku adalah budak.


Shanon kembali duduk dengan sopan, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan.


"Baiklah Mr. Jared, sekali lagi aku minta maaf atas semuanya."


Ia membasahi bibirnya sambil menatapi jemarinya yang kini bermain satu dengan yang lain.


"Saya hanya sedang berkhayal tentang mantan kekasih saya kemarin sore. Anda mengingatkan saya dengannya maka dari itu kalimat yang tak seharusnya saya katakan pada anda keluar begitu saja. Saya sangat mencintai juga merindukannya tapi karena suatu hal yang rumit maka kami terpisah." Shanon mengangkat kepalanya hingga bertatapan lagi dengan Jared.


"Saya sudah sadar dengan apa yang saya lakukan, Mr. Jared. Tidak ada mantan kekasih saya disini. Dia sudah pergi meninggalkan saya dan saya memutuskan untuk menghilangkannya dari hidup saya."


Jared menanggapi kalimatnya dengan suara datar, "Kau sudah menyesalinya?"


Wajah Shanon yang semula serius berubah lagi menjadi sensual penuh canda. Seperti seorang iblis, ia berpura-pura sedih seolah butuh dikasihani kemudian kembali menjadi wanita licik dalam waktu singkat.


Senyum lebar merambat di bibirnya. "Tentu saja tidak." Shanon menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang sudah siap keluar. "Anda begitu menarik, Mr. Jared. Saya yakin semua wanita juga berfantasi liar tentang anda."


Ia berdiri, merogoh secarik kertas di kantong bajunya kemudian meletakkannya tepat di depan Jared.


"Senang berkenalan dengan anda, Mr Jared."


Shanon memberi senyum terbaiknya. "If you want anything, just call me." ujarnya memberi gestur menelpon diikuti dengan kerlingan mata. Jared mengangkat kedua alisnya membuat Shanon semakin cepat melangkah pergi menuju pintu keluar ruangan atasannya itu.


"Shanon," sebut Jared membuat langkah cepatnya berhenti seketika. Jantungnya berdebar saat lelaki itu menyebutkan namanya lagi. Shanon berbalik dan menatap Jared yang masih duduk tenang di tempatnya.


"Kau mengatakan kebenaran tentang kisahmu dengan mantan kekasihmu itu?"


"Akan menjadi sebuah kebenaran jika anda berpikir demikian, Mr. Jared." Shanon menyeringai kecil. "Percayalah dengan apa yang ingin kau percayai maka kau akan memperoleh kebenaran setelahnya."


Tanpa rasa takut sedikitpun, Shanon mengerlingkan matanya lagi sebelum melenggang keluar dengan penuh percaya diri.



Jared menaikkan kedua alisnya selepas wanita yang bernama Shanon itu keluar dari ruangannya. Dia wanita pemberani yang lebih gila dibandingkan dengan wanita lain yang selalu memujanya diluar sana. Ia menggeleng lalu melihat secarik kertas berisi tulisan tangan yang diletakkan wanita itu diatas mejanya.


Shanon Aldeana


+141678234123


Seutas senyum tipis muncul disudut bibirnya. Wanita itu benar-benar berani walau sudah mengetahui bahwa pria yang sedang dihadapinya adalah pimpinan perusahaan. Jared menggeleng, mengamati tulisan wanita itu kemudian menyimpan kertas itu dilacinya sebagai kenangan dari tingkah konyol bawahannya.

__ADS_1


Ia mengangkat gagang teleponnya lalu menghubungi sekretarisnya.


"Selamat siang Mr. Jared, ada yang bisa saya bantu?" tanya Fira.


"Kau ingat resepsionis yang baru saja keluar dari ruanganku?"


"Ya, Mr. Jared."


"Mulai dari sekarang jangan pernah izinkan dia untuk menginjakkan kaki ke dalam ruanganku."


"Baik, Mr. Jared. Saya mengerti."


Jared menutup sambungan itu lalu mendengus heran. Ia kembali pada pekerjaannya tapi bayang-bayang tentang bagaimana wanita itu berbicara padanya juga momen dimana dia mengelus bibir mungil nan merah itu berulang kali masuk ke dalam pikirannya. Ia menggeleng,meletakkan penanya lalu memutar kursinya menghadap pada gedung-gedung di kota New York.


Jared mengusap dagu dengan jemarinya sembari berpikir lagi tentang wanita itu. Untuk sesaat wanita dia terlihat kaku lalu berubah sensual kemudian murung dan kembali sensual. Apa yang diinginkan wanita itu darinya? Tidakkah dia tahu bahwa dirinya sudah menikah?


Shanon Aldeana penuh rahasia, itu yang ia tangkap dari gerak geriknya. Jared mengusap keningnya. Tanpa wanita itu tahu, Jared sudah memandangi keindahan yang dimiliki wanita itu untuk beberapa saat.


Matanya yang cokelat, bibir mungil yang begitu sensual, pipi putih yang terlihat halus, dan rambut hitam lurus yang kelihatan sangat lembut. Tak lupa juga Jared menatap dengan sekilas lekukan tubuh wanita itu.


Jared menghela napas panjang.


Dia wanita yang sangat cantik dan menarik.


Jared tersenyum tipis saat kembali pada momen dimana ia hampir menunjukkan raut berminatnya dihadapan resepsionis itu.


What the hell does he think?


Ia menggeleng kemudian berusaha kembali fokus pada pekerjaannya.



Lagi-lagi ia lupa waktu.


Dengan cepat ia menyusun berkas-berkas penting di atas mejanya kemudian keluar dari ruangan. Fira menyapanya sebelum akhirnya ia memasuki lift.


Jared mengambil ponselnya.


"I'm going home."


"Yes Mr. Jared. Saya menunggu diluar."


Jared memutuskan panggilan. Ia keluar dari lift dan melihat suasana kantor yang sudah sepi. Tak ada satu pekerjapun yang tersisa di lobby kantor kecuali security.


"Selamat malam, Mr. Jared," sapa security yang ia ketahui bernama Jimmy.


Jared hanya memberi satu anggukan sebagai balasan kemudian keluar dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya disana.


"Selamat malam, Mr. Jared.  Kita langsung pulang ke rumah?" tanya supirnya.


Jared mengangguk. Ia tak ingin berbasa-basi. Hari ini ia sudah bekerja sangat produktif. Disamping interupsi wanita itu siang tadi, ia sudah menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan sempurna. Jared menyandarkan kepalanya pada kursi belakang, menutup matanya dan mencoba untuk relax sejenak. Tak lama kemudian, mobil berhenti secara mendadak membuat Jared tersentak maju kedepan. Matanya terbuka menatap tajam kearah supirnya.


"Maaf Mr. Jared tapi wanita itu tiba-tiba berdiri di lintasan mobil kita." Tunjuk supirnya pada wanita yang berdiri di depan mobil mereka.


Jared mengernyit melihat wanita itu, Shanon, membentangkan tangan mencoba menghambat jalannya mobil. Moodnya langsung turun secara drastis mengingat bagaimana jika supirnya tak mampu menghentikan laju mobil dan akhirnya secara tak sengaja menabrak tubuh mungilnya itu?

__ADS_1


Supirnya, Albert, buru-buru keluar mobil untuk menemui Shanon. Jared menggeram kecil sambil memperhatikan keduanya berinteraksi disana, di jalanan tepat didepan halte. Ia mengernyit. Apa yang dilakukan Shanon dijam pulang kerja seperti ini?


Jared menarik napas sambil mengusap keningnya untuk mengurangi rasa penat juga kekesalan tak masuk akal yang tiba-tiba merasukinya. Albert dan Shanon berdebat bahkan supirnya itu sempat memaksa Shanon untuk menepi walau dengan keras kepalanya wanita itu kembali ketempat semula.


Albert meninggalkan Shanon lalu mengetuk jendela mobil dengan sopan. Ia menurunkan kaca mobil dengan alis beradu.


"Maaf Mr. Jared tapi wanita itu tidak mau menepi. Dia mengatakan ingin berbicara dengan anda," kata Albert dengan raut menyesal.


Matanya memicing. "Kau tidak bisa mengatasi wanita kecil seperti itu sendiri?" geram Jared yang kemudian dijawab Albert dengan sorot mata takut. "Bawa dia mendekat."


Albert mengangguk lalu berbicara pada Shanon yang masih keras kepala berdiri disana. Tak lama berselang, wanita itu tiba di depan jendela mobilnya. Wajah wanita itu sedikit lelah bercampur putus asa. Jared tidak tahu permainan apa yang wanita ini sedang mainkan. Namun jika kejadian ini hanya untuk sebuah lelucon maka ia sangat yakin untuk tidak mempertahankan pekerja seperti ini di perusahaannya.


"Apa kau sudah gila!" sentak Jared tanpa basa-basi. Shanon menatapnya bingung seolah tak mampu menjawab apapun.


"Apa kau ingin mati?!"


Shanon membuka mulutnya sedikit ragu.


"I'm sorry tapi aku sedang butuh bantuan. Seseorang mencuri dompetku saat menunggu bus di halte. Aku tidak punya uang sama sekali untuk bisa pulang."


Jared menggertakkan giginya dengan raut yang ia tahu mampu membuat orang lain takut.


"Apa kau tidak punya pikiran sama sekali? Begitukah caramu meminta pertolongan?"


"Aku hanya ingin meminjam uang." Ia melihat Shanon menarik napas dengan ekspresi lelahnya.


"Kau ini cerewet sekali, pak direktur."


Dengan itu Jared menggeram, membuka pintu mobilnya secara kasar yang dengan ajaibnya dapat dihindari Shanon lalu menarik wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Gerakannya itu begitu cepat dan sebenarnya diluar dari rencananya. Jared melakukan itu secara spontan. Ia sendiri terkejut saat menerima kenyataan bahwa kini ia yang menarik wanita itu untuk masuk dan duduk di sampingnya.


Jared melepaskan pergelangan tangan Shanon lalu memijit dahinya. Ia menarik napas panjang kemudian mengatakan pada Albert untuk membawa mereka menuju rumah Shanon. Ia melipat tangannya di depan dada saat memerintahkan Shanon untuk menutup kaca mobil. Kenapa ia bertingkah aneh seperti ini? Jika karyawan lain melakukan hal yang sama, apakah ia juga akan mengantarkan mereka pulang?


Ia masih menutup mulut rapat-rapat saat wanita disampingnya memberi instruksi jalan pada Albert. Jared bisa merasakan tatapan wanita itu padanya. Intinya ia tak mau menghiraukan agar tak terjadi lagi hal-hal yang sebenarnya tak ingin dilakukannya.


"Mr. Jared, please, jangan marah. Anda baru saja memaafkan saya siang tadi," gumam Shanon sedikit pelan.


Jared tak membalas, ia hanya menatap lurus ke depan selama perjalanan hingga akhirnya mobil berhenti sebagai tanda mereka telah tiba. Kawasan yang berisi flat-flat kecil mengisi pandangannya.


Disinikah wanita ini tinggal?


Tak ada pergerakan dari Shanon disampingnya membuat Jared menoleh. Shanon menatapinya dengan raut serius seolah mendalami kepribadiannya. Ia mengernyit yang kemudian memicu senyum kecil dari wanita itu.


"Jangan takut. Aku akan menjaga diriku," ucap Shanon pelan membuat kernyitan dikeningnya semakin dalam.


Ia tak mengatakan apapun tapi wanita ini sudah menduga-duga jalan pikirannya.


Shanonpun tertawa kecil, mengecup jemarinya kemudian menempelkannya tepat di dada Jared. "Thank you."


Setelah itu dia keluar mobil meninggalkan Jared yang masih takjub melihat tingkah berani sekaligus nekat wanita itu. Ia terhenyak untuk beberapa saat sambil melihat Shanon masuk ke salah satu gedung disana.


Jared memandang ke arah supirnya yang jelas-jelas melihat apa yang wanita itu lakukan. Kembali menampilkan ekspresi tenang, ia memberi perintah,


"Jalankan mobilnya."


Tanpa banyak bertanya, Albert mengikuti perintahnya.

__ADS_1


Jared mendengus dalam hati.


That woman is crazy but I am more than crazy for letting her doing what she wants.


__ADS_2