Putih

Putih
Part 6


__ADS_3

Jared berpikir keras tentang bagaimana ia bisa bertemu dengan Shanon. Wanita itu memang cantik, juga terlihat muda. Dia punya wajah yang bisa memikat pria lain tapi kenapa harus dirinya yang wanita itu tuju? Tidakkah berita selalu memaparkan opini tentang istri dan anaknya? Dia pasti tahu itu tapi kenapa dia masih saja bertindak demikian? Jared menggeleng. Ia harus menghentikan pikiran-pikiran yang mengarah pada Shanon. Sejak awal ia tak seharusnya memulai pikiran tentang wanita itu.


Akhirnya Jared memutuskan untuk menyingkirkan makanan yang diberikan Shanon ke tempat sampah. Ia menolak untuk masuk ke dalam permainan wanita itu.  Tanpa beban ia bangkit dari kursi kebesarannya. Tiba-tiba ia memiliki nafsu makan. Makanan Italia.


Shanon berdiri dibalik meja resepsionis dengan perut kosong. Ia terlalu banyak memikirkan Jared hingga melewatkan makan siangnya sendiri. Sarapan paginya hanya diisi dengan susu hangat. What a fool! Pikirannya kembali pada momen dimana Jared menghubunginya. Semuanya sudah berjalan sesuai keinginannya kecuali masalah perut. Maagnya akan kambuh apalagi setelah melewatkan makan siang ini. Sekarang perutnya mulai menggerutu sampai-sampai Lowy bisa mendengar dan memandang aneh kearahnya.


“Jangan katakan kau melewatkan makan siang,” komentar Lowy dengan tatapan malas.


Shanon mengangguk dengan wajah merengut. Perutnya seakan sedang berguncang didalam sana.


“Wy, aku harus segera ke toilet.”


Tanpa menunggu balasan ia langsung berlari meninggalkan tempatnya.


Wajahnya memucat setelah dua kali keluar masuk toilet. Shanon menyentuh wajah berkeringatnya. Menyebalkan! Seharusnya ia memakan sesuatu sebelum mengurus direktur tampan itu. Ia meringis mengelus perutnya. Bagaimanapun juga ia harus tetap bekerja. Lowy tidak bisa terus berjaga dan mengurus segalanya sendirian di meja depan. Tekad besar Shanon membuat masalah perutnya terlupakan, setidaknya untuk sejenak. Saat kembali, pemandangan yang tak ingin ia saksikan muncul disana. Shanon menarik napas panjang kemudian berjalan mendekat. Mr. Robert sudah berdiri disana sambil berkacak pinggang. Ia tahu ia sedang ada dalam masalah besar.


Shanon membungkuk memberi hormat. “Selamat siang, pak.”


Tatapan sang manajer tak menunjukkan tanda-tanda kebaikan sama sekali. Damn!


“Setiap kali saya check, kau selalu tidak ada di tempat, Shanon.”


“Maaf pak, saya sedang kurang sehat, jadi saya pergi ke toilet.”


Kening Robert mengerut. “Banyak karyawan yang mengatakan bahwa kau sering berkeliaran di lantai atas pada jam kerja.”


“Mereka salah paham, pak. Saya tidak pernah meninggalkan meja ini tanpa alasan apalagi di jam kerja.” Bela Shanon atas dirinya. Bagaimana bisa ada gosip yang beredar tanpa sepengetahuannya? Apakah Fira yang membeberkan segalanya?


“Apa kau masih mengganggu Pak Direktur?” tanya Robert tegas.


“Saya tidak akan berani pak,” jawab Shanon diikuti dengan gelengan meyakinkan.


“Ingat Shanon, kau sudah mendapat peringatan pertama. Kau akan mendapat peringatan selanjutnya dengan mudah jika perilakumu masih seperti ini. Hindari kesalahan dan fokuslah bekerja,” perintah Robert sebelum beranjak dari sana dengan angkuhnya.


Shanon menghembuskan napas panjang merasa sedikit lega.


“Are you okay?” elus Lowy tepat di punggungnya. “Kau tampak sedikit pucat.”


Shanon mengusap wajahnya yang terasa dingin itu sambil menggeleng, “I’m okay.”


Ia mengangkat kepalanya dan bertatapan langsung dengan Jared yang baru saja memasuki kantor. Sejak kapan dia keluar? Apa saat ia berada di toilet tadi? Secara spontan Shanon dan Lowy membungkuk memberi hormat.

__ADS_1


“Selamat siang, Mr. Jared,” sapa mereka serempak.


Shanon mengangkat kepala dan terkejut melihat Jared yang masih berdiri dengan tatapan tak nyaman disana. Sang direktur membuatnya semakin terkejut tatkala berjalan mendekat kearahnya. Jika kondisi fisiknya fit maka ia akan dengan senang hati menghadapi situasi ini, tapi sekarang perutnya sedang tak bersahabat. Shanon tidak punya kekuatan untuk bermain-main.


“Ada yang bisa saya bantu, Mr. Jared?” tanya Shanon setegar mungkin dengan kaki yang tiba-tiba lemas.


Jared mendekat dengan kening mengerut. “Kau pikir perusahaan ini begitu tidak bertanggung jawabnya hingga masih saja mempekerjakan karyawan yang sedang sakit?”


Shanon menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Lowy yang memang menatap khawatir ke arahnya. Mungkin saja wajahnya sudah kembali pucat seperti tadi. Ia menunduk, bukan karena malu tapi karena pandangannya mulai mengabur.


“Maafkan saya Mr. Jared.”


“Seharusnya karyawan yang tidak kompeten sepertimu sudah dikeluarkan sejak lama,” geram sang direktur penuh kekuasaan. “Bawa dia ke ruang istirahat,” perintahnya tajam.


“Baik pak,” jawab Lowy secepat mungkin sambil menyentuh lengan Shanon.


Shanon bisa mendengar ketukan sepatu Jared yang semakin menjauh, tandanya dia sudah beranjak pergi. Saat itulah ia menjadi dirinya sendiri. Ia tak lagi kuat menahan bobot tubuhnya hingga bergerak limpung  ke arah Lowy. Dengan sigap temannya itu menahan.


“Shany, kau sangat pucat,” Ujar Lowy panik membuat penglihatannya semakin kabur.“Shanon!” teriakan itu yang terakhir ia dengar sebelum hilang kesadaran.


Bantal lembut dibawahnya terasa begitu asing. Matanya bergerak tak nyaman sebelum akhirnya terbuka. Suasana putih menyapanya. Ia tahu ini bukan ruang istirahat kantor. Ia mengernyit kemudian duduk secara perlahan. Shanon memandang seluruh sisi ruangan dan menyadari dimana ia berada. Klinik.


Pintu terbuka dan menampilkan  Lowy dengan ekspresi khawatirnya.


“Aku sudah baikan.” Shanon menatap risih ruangannya. “Bagaimana bisa aku ada disini?”


“Kau pingsan.” Lowy menyodorkan air minum yang dengan segera diteguk Shanon.


“Kau menggotongku?” tanyanya dengan alis terangkat. Lowy tersenyum kecil membuat Shanon paham. “Oh, Jimmy. Aku akan berterimakasih padanya nanti.”


Lowy menggeleng dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. “Kau ingat momen dimana Mr. Jared memarahimu karena masih saja bekerja bahkan saat sakit?”


Shanon mengelus kepalanya sendiri. Ia ingat betul bagaimana Jared merasa risih melihat situasi itu.


“Ya. Menyebalkan sekali, bukan? Dia memperparah kondisiku.”


Lowy menggenggam tangannya sambil tertawa. “Shanon, bukan Jimmy yang membawamu kemari.”


Ia membelalak.


“Bukan?”

__ADS_1


“Bukan,” balas Lowy semakin bersemangat.


Shanon menelan dengan susah payah. Jangan katakan dia yang membawanya. Tidak mungkin. Jared seperti kebal terhadap semua godaannya. Bagaimana mungkin dia melakukan itu?


“Mr. Jared begitu cekatan mengangkat dan membawamu kemari,” sambung Lowy dengan mata penuh kekaguman.


Shanon menarik napas terkejut. “Mr. Jared?”


Lowy mengangguk. “Dia melihatmu yang jatuh begitu lemahnya ke arahku. Aku berteriak hingga dia kembali. Kau tahu, Shany? Dia tidak berkata apapun tapi wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ini kali pertama aku melihat wajah tampan itu berubah khawatir.”


Shanon berdeham. “Ternyata dia direktur yang baik,” komentarnya demi mengembalikan suasana menjadi normal.


“Apa dia akan melakukan hal yang sama jika aku dalam posisimu tadi?” kata Lowy mengandai-andai.


“Tentu saja,” jawab Shanon cepat.


Lowy mempererat gengamannya.


“Kau sangat beruntung.”


Shanon memutar bola matanya menanggapi celotehan rekan kerjanya itu. “Apa karyawan lain melihat kejadian memalukan tadi?”


“Apanya yang memalukan? Itu kejadian paling istimewa jadi banyak karywan yang menyaksikannya.”


“Ah memalukan sekali.” Shanon menutup wajahnya.


“Aku akan kembali bekerja.” Lowy berdiri dari tempat duduknya.


Secepat kilat Shanon juga bergerak hendak turun dari atas ranjang.


“Aku juga harus kembali.”


Belum sempat bergerak, Lowy menekan tubuhnya hingga kembali berbaring.


“Mr. Jared melarangmu untuk kembali sekarang. Pastikan dirimu sembuh sebelum kembali bekerja. Makan obatmu dan jika sudah sehat, kembalilah bekerja besok.”


“Kau yakin?”


Lowy mengangguk kemudian pergi meninggalkannya termangu. Jared menolongnya dengan begitu cekatan? Senyum tipis terbit di bibirnya. Sepertinya kecerobohannya hari ini semakin mendekatkannya pada tujuan itu. Jared tidak bisa terus menerus mengabaikannya. Suatu saat nanti ia akan mendekap Jared lagi ke dalam pelukannya.


Buru-buru Shanon mengambil ponselnya dan tanpa ragu menghubungi nomor itu. Beberapa saat ia menunggu tapi tak kunjung menerima balasan. Ia menyeringai. Pangerannya mungkin sedang gugup dan bingung dengan tingkah spontannya hari ini. Mendapat lampu hijau tentu membuat Shanon semakin berniat untuk mendekat. Tanpa pikir panjang ia mengirim pesan singkat.

__ADS_1


Terimakasih untuk pertolonganmu hari ini. Aku baik-baik saja sekarang.Senang mengetahui kau perduli. Jika ada waktu luang, mari bertemu. Aku akan mentraktirmu.


Setelah berhasil mengirim pesan itu, Shanon menyeringai. Jared pasti akan menolak pertemuan ini tapi ia tak akan berhenti. Ia akan melihat seberapa jauh Jared akan bereaksi saat ia terluka.


__ADS_2