
Kebisuan cukup lama datang dari Jared saat mendengarkan apa yang istrinya katakan. Pemandangan itu membuat hati Shanon mencelos. Apa yang Olivia katakan hingga Jared terlihat khawatir seperti itu? Dan satu lagi, bisa-bisanya wanita itu mengganggu suasana nyaman yang telah terbangun antara dirinya dan Jared sekarang ini!
Shanon melipat tangannya diatas meja sambil menatap serius pada pria dihadapannya. Sejak tadi Jared hanya menjawab 'Ya' dan 'Dimana?' hingga akhirnya panggilan berakhir dengan kalimat, "Ya, aku akan segera kesana."
Jared memasukkan ponselnya ke tempat semula kemudian menatap Shanon dengan ekspresi tak terbaca. Disaat seperti ini, Shanon berharap ia bisa membaca pikiran Jared, hanya Jared seorang.
"Sesuatu terjadi?"
Jared mengangguk. "Aku harus pergi sekarang." Dia memanggil pelayan dan membayar seluruh pesanan.
Semuanya kembali seperti semula dimana mereka berdua terasa seperti orang asing. Shanon hanya bisa diam membeku seolah suara dan pikirannya telah direnggut seluruhnya oleh Sang Maha Pencipta.
"Thanks for helping me earlier," ucap Jared pada Shanon setelah kecanggungan yang cukup panjang. "I've got to go now."
Shanon mengangkat sebelah tangannya dengan senyum tipis lalu menatap kepergian Jared yang terlihat buru-buru.
Lagi.
Lagi-lagi ia harus merasakan perasaan sebagai orang yang tidak berharga.
Orang asing.
Orang yang tidak penting.
Shanon mengeratkan kepalan tangannya. Sekarang ia sudah bisa kembali bekerja dan rencana panjangnya harus segera ia tuntaskan dengan waktu sesingkat mungkin.
Jared tiba di rumah sakit yang disebutkan Olivia sebelumnya. Di depan ruang tunggu istrinya sudah berdiri dengan wajah panik. Dengan langkah panjang ia mendekati Olivia.
"Bagaimana kondisinya?" tanyanya tanpa basa-basi.
Olivia menarik napas panjang saat mendengar suara suaminya. "Oh Jared, kau disini." Tanpa menjawab dia memeluknya. "Aku sangat takut."
Jared memeluk Olivia begitu singkat sebelum melepas pelukan erat istrinya itu. "Bagaimana keadaan Davin?"
"Dia sedang diperiksa dokter. Suhu tubuhnya tiba-tiba sangat tinggi." Olivia memainkan jemarinya dengan gestur penuh kecemasan. Jared meremas pelan pundak sang istri lalu menatap ke arah pintu ruang periksa.
"Tenanglah. Kita tunggu penjelasan dokter."
Olivia mengangguk lalu duduk di kursi tunggu. Mereka duduk disana dalam diam. Tak lama kemudian dokter keluar.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Olivia buru-buru.
"Anak anda baik-baik saja. Demamnya memang cukup tinggi tapi karena penanganan yang cepat dan tepat, dia akan segera pulih. Pasien dianjurkan untuk dirawat disini selama beberapa hari pak, bu."
"Ya, kami tidak keberatan, dok" jawab Jared.
Olivia menghembuskan napas lega. "Terimakasih dok," ucap Jared dengan raut penuh syukur.
Seperginya dokter, Jared langsung menghadap ke arah Olivia dengan alis beradu. "Kau tidak tahu gejalanya sejak awal?"
Olivia menggeleng penuh penyesalan. "Selama dua hari ada acara amal untuk anak-anak di panti asuhan. Aku terlibat disana sampai tak memperhatikan kesehatan Davin. I'm sorry."
Jared tidak banyak berkomentar. Ia hanya mengatakan, "Perhatikan kesehatanmu dan juga Davin. Apapun yang kau lakukan diluar sana tidak akan berguna jika salah satu diantara kalian sakit."
Olivia menunduk. "Aku mengerti. Maafkan aku."
Jared mengusap pelan rambut istrinya sebelum masuk ke dalam ruang rawat Davin.
__ADS_1
Sepanjang malam Jared menjaga putranya tanpa mengeluh sedikitpun. Salah satu hal yang paling berharga dalam hidupnya adalah anaknya. Jika saja Davin sakit bahkan sedikit saja, ia akan gusar sepanjang hari, maka dari itu, kesehatan Davin adalah prioritas untuknya. Sekarang ia bahkan sudah membuat keputusan untuk mengganti baby sitter yang sebelumnya menjaga Davin. Wanita itu tampaknya bermalas-malasan hingga hal seperti ini bisa terjadi.
Jared menoleh ke arah sofa dimana Olivia terlelap satu jam yang lalu. Istrinya adalah wanita baik yang penuh perhatian, tidak hanya untuk keluarganya tapi juga pada orang lain diluar sana yang kurang beruntung. Ia merasa buruk setiap kali marah pada Olivia karena terlalu banyak beraktivitas diluar rumah. Ia tahu istrinya melakukan hal yang baik, tapi bagaimana lagi? Jared sendiri bekerja keras untuk mencari nafkah juga mempertahankan perusahaan. Ia tidak akan sanggup menjadi pimpinan perusahaan, suami, ayah juga merangkap sebagai ibu disaat bersamaan. Itulah sebabnya ia butuh Olivia untuk mengurus kehidupan rumah tangga, tidak perlu melakukan banyak hal, menjadi Ibu yang baik bagi Davin sudah lebih dari cukup.
Ia mendesah sambil mengusap wajahnya. Matanya tak menunjukkan tanda-tanda akan tertutup untuk tidur dalam waktu dekat sementara jam sudah menunjukkan pukul 1.20 dini hari. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan satu pesan masuk di ponsel cadangannya. Tak banyak orang yang tahu nomornya yang satu ini, juga sekarang bukanlah saat untuk seseorang seperti kolega kerja untuk mengirim pesan. Jared mendapat firasat bahwa Shanonlah yang mengirim pesan itu.
Benar saja.
Nomor yang ia beri nama Resepsionis muncul disana.
Kau baik baik saja?
Jared mengernyit. Apa Shanon sedang khawatir padanya? Kenapa dia belum tidur?
I'm okay.
Baguslah. Aku cemas sampai sulit tidur.
Jared tersenyum kecil saat membaca balasan Shanon. Wanita ini mengkhawatirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengannya. Entah kenapa Jared merasa ini sedikit lucu. Sembari menggeleng, ia membalas. Setidaknya ia harus bersikap normal. Keep it simple.
Sekarang kau tahu. Go to bed.
Good night :)
Jared menarik napas panjang kemudian menyimpan ponselnya.
"Kau belum tidur?" suara itu sedikit mengejutkannya. Jared berbalik dan melihat Olivia sedang mengucek matanya.
"Kenapa kau bangun?"
Olivia tersenyum kecil. "Aku menyadari suamiku tak kunjung istirahat maka dari itu aku bangun."
"Istirahatlah. Aku akan segera tidur."
Olivia mengangguk lalu kembali bergelut dengan selimutnya. Jared merasa aneh setiap kali berhadapan dengan Olivia. Mereka sudah cukup lama hidup bersama tapi keterikatan itu masih saja belum dapat dirasakannya. Jared merasa aneh. Bahkan setelah kehadiran Davin ia masih saja tidak nyaman bersama istrinya sendiri. Semuanya terasa canggung.
Pikirannya langsung mengarah pada Shanon. Wanita itu mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu. Jared bisa merasakan ikatan yang tak pernah dirasakannya bersama Olivia. Mungkinkah ia tak pernah jatuh cinta pada istrinya? Atau cinta pada istrinya memudar seiring dengan berjalannya waktu?
Jared mengacak rambutnya saat mulai merasakan kepenatan. Betapa mengejutkannya saat Shanon mengirim pesan ia langsung merasa tenang. Sejak awal ia tahu Shanon memberinya sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Itulah alasan kenapa ia menghindar. Lalu bagaimana sekarang? Shanon sudah mulai dekat dengannya.
Ciuman itu.
Ya. Ciuman yang tak dapat ia percaya terjadi di kantornya sendiri, dilakukan bersama dengan bawahannya pula. Shanon nekat melakukan hal yang tak pernah Jared bayangkan akan terjadi di dalam hidupnya. Tindakan heroiknya siang tadi juga membuktikan betapa tangguh dan beraninya wanita itu.
Ia menggeleng. Semua ini hanya berlandaskan kekaguman semata.
Ia kagum pada seseorang, itu saja.
Shanon memulai harinya dengan penuh semangat. Kemarin Jared untuk pertama kalinya membalas pesannya. Pria itu masih saja sulit ditebak. Entah apa yang terjadi kemarin. Jared tidak membagi masalah pribadinya dengan mudah. Namun setidaknya ia tahu Jared baik-baik saja.
"Selamat pagi, Jim!" sapa Shanon dengan suara kuat.
"Pagi, Shanon." Jimmy memperhatikan Shanon cukup lama. "Akhirnya kau kembali bekerja?"
Shanon mengangguk. "Kenapa? Kau keberatan?"
Jimmy tertawa. "Yang benar saja! Sekarang setidaknya aku memiliki pengawal untuk menyambut pak direktur setiap pagi."
__ADS_1
Shanon tertawa geli kemudian masuk untuk menyapa meja yang sudah ditinggalkannya beberapa hari. Ia tersenyum lebar lalu mencium dan mengelus mejanya.
"Selamat pagi pekerjaanku yang sangat menyenangkan. Aku merindukan kalian."
Ditengah aksinya membelai meja kerjanya, mobil sedan yang sebenarnya sudah dinantikannya muncul di depan mata. Buru-buru Shanon berlari ke arah pintu sembari merapikan diri. Ia menampilkan senyum lebar dan berdiri tegak di samping Jimmy.
"Biarkan aku membukakan pintunya,Jim," pinta Shanon dengan nada super-excited.
Jimmy hanya bisa tertawa kecil sambil memutar bola matanya. "Seperti aku pernah menghalangimu saja!"
Jared tampil dengan setelan menawan seperti biasanya. Untuk beberapa detik Shanon terpesona sampai mematung. Jika tidak karena senggolan lengan Jimmy, ia pasti tidak akan membukakan pintu itu. Merasa gugup, ia menarik pintu lalu membungkuk bersama-sama dengan Jimmy.
"Selamat pagi Mr. Jared," sapanya dengan suara riang gembira.
"Selamat pagi," balas Jared yang membuat Shanon membelalak dan menegakkan tubuhnya seketika. Ia menatap Jared melenggang pergi tanpa menoleh padanya.
Tubuhnya menegang saat berputar ke arah Jimmy. "Jim, apa aku salah dengar?"
Jimmy menggeleng. "Pak direktur membalas sapaanmu untuk pertama kalinya."
"Huah!!!" teriak Shanon memegang kedua pipinya. "Huah!!!"
"Ayolah. Itu hanya sapaan biasa," celoteh Jimmy mencoba merusak suasana hati Shanon dengan cara uniknya.
"Huah!!" hanya itu kalimat yang diucapkan Shanon sejak tadi sampai- sampai Jimmy tak mampu menahan diri untuk berdiri lebih lama lagi di samping wanita itu.
"Kau perlu psikiater," gumamnya dengan tawa kemudian pergi.
Shanon masih memegangi pipinya yang memanas. Matanya berkedip-kedip tak percaya sejak tadi. Benarkah Jared mengatakan itu? Benarkah? Apakah itu tandanya dia sudah membuka diri? Oh God! Betapa berharganya momen ini.
Cepat-cepat Shanon melangkah kebelakang meja resepsionis, mengambil ponselnya lalu mengetik dengan senyum sumringah di bibirnya.
Hariku dimulai dengan sangat indah saat kau bersikap ramah seperti ini, boss. Terimakasih. Have a good day!
Dengan berani Shanon mengirim pesan itu kemudian meloncat-loncat kecil penuh kegirangan. Ia menutup matanya lalu tertawa sendiri penuh kegembiraan.
Hanya hal kecil. Hanya hal kecil tapi kau mampu mengguncang duniaku, Jared.
Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu saat kebahagiaan sebesar ini sudah berpotensi akan hadir terus menerus kedepannya?
Mustahil.
Aku tidak membayarmu
untuk berceloteh terus-
menerus. Kembali bekerja.
Membaca balasan itu malah meningkatkan semangat Shanon untuk menggodai Jared.
Baiklah Pak Direktur
yang cerewet. Aku akan memikirkan kebaikanmu pagi ini sembari bekerja dengan keras. Pikirkanlah aku. Aku mengizinkanmu. :D
Setelah mengirimnya Shanon yakin Jared tidak akan membalasnya. Pria itu masih menutup diri untuk godaan-godaan yang dilancarkannya. Biarlah. Setidaknya tali pertemanan mulai terjalin. Shanon tidak akan menyia-nyiakan peluang yang diberikan kepadanya. Satu hal yang akan dilakukannya secara rutin mulai dari sekarang yaitu mengirimi Jared pesan yang mungkin bisa menghiburnya di kala penat. Shanon mengangguk penuh percaya diri. Tawaran makan siang bersama mungkin tidak akan mengganggu. Ia tertawa kemudian mulai memeriksa tumpukan pekerjaan di atas mejanya.
Di sisi lain Jared membaca pesan dari Shanon. Senyum kecil terbit di bibirnya. Tangannya meremas pelan ponsel itu saat tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya terasa hangat. Kehangatan yang membuatnya bersemangat.
That woman is dangerous.
__ADS_1