
Masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan Hans terhadap Shanon, Jared berjalan pelan mengikuti mereka. Entah apa yang sedang merasukinya, tapi ia ingin mengikuti keinginan besar di dalam dirinya untuk melihat apa yang dilakukan kedua orang itu.
Dari kejauhan Jared memperhatikan Hans yang masih menggendong Shanon menuju kursi taman. Disana dia mendudukkannya dengan sangat hati-hati. Hans memberi banyak perhatian dengan berlutut di depan Shanon lalu menarik tangannya kemudian mengamati luka di tangan wanita itu.
Jared melihat semuanya dengan jelas. Ia tahu Hans menyukai, sangat menyukai Shanon. Itu terlihat sangat jelas dari cara Hans memperlakukannya.
Jared tidak ingin mengganggu hubungan mereka, tapi pemandangan itu meresahkannya. Merasa tidak kuat, Jared berbalik membiarkan Hans melakukan apa yang perlu dilakukannya untuk mendapatkan hati Shanon.
Mendadak nafsu makannya hilang seketika. Tadinya ia berniat untuk mengurangi stress dengan memakan hidangan lezat. Namun mengingat kejadian sebelumnya dimana penolakan Shanon juga perlakuan Hans terhadap wanita itu membuatnya kehilangan nafsu.
Jared memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
"Selamat siang, Mr. Jared," sambut Fira dengan alis beradu. "Anda batal makan siang di luar, pak? Saya akan menyiapkan makan siang anda___"
Tanpa mendengar kalimat Fira sampai akhir, Jared mengangkat sebelah tangannya tidak mengutarakan sepatah katapun. Penolakan itu membuat Fira gugup seketika. Direktur sedang dalam mood buruk selama beberapa hari ini. Ia kira akan berakhir seiring dengan berjalannya waktu tapi sepertinya semakin memburuk setiap harinya.
Masuk kembali ke dalam ruangannya, Jared memutuskan untuk masuk ke kamar khusus untuknya beristirahat. Ia tidak mengizinkan siapapun masuk ke ruangan ini. Ia bahkan membersihkan ruangan istirahatnya ini sendiri. Jika ia sedang dalam mood buruk atau bekerja lembur hingga tidak sempat pulang maka ia akan melakukannya disini.
Setelah melepas dan menggantungkan jasnya, Jared merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menatap langit-langit kamar spesialnya itu. Hari-hari semakin kosong dan menyesakkan. Ia butuh istirahat tapi tidak mampu menutup mata untuk melakukannya. Ia butuh hiburan tapi satupun tidak mampu menghiburnya.
Ia menarik dasinya dengan kasar, melepaskan kancing teratas kemejanya lalu menghembuskan napas panjang layaknya orang yang sedang putus asa.
Kenapa seseorang sepertinya bisa cemburu?
Cemburu terhadap bawahan sendiri. Bawahan yang bertindak ceroboh, tidak kompeten juga terlalu nekat. Dia seorang wanita yang sangat ingin ia singkirkan di awal pertemuannya. Kenapa semua malah berbalik menyerangnya? Apakah karena sebuah ciuman? Lalu apa kurangnya Olivia? Dia wanita cantik, ibu yang baik, kompeten juga rajin. Untuk ukuran seorang istri, Olivia sudah mendekati kata sempurna. Lalu apa yang kurang? Apa yang kurang?
Jared menepuk keningnya sendiri sambil menutup matanya.
Ia sudah berusaha keras untuk melupakan segalanya. Selama beberapa hari ia sudah berusaha untuk melenyapkan Shanon dari hidupnya. Bukannya berhasil, keinginan untuk mendekati Shanon malah semakin besar.
Shanon sudah seperti obat terlarang. Ia sudah menyecap obat terlarang itu satu kali dan kini ia kecanduan. Ia tahu obat terlarang itu berbahaya tapi keinginan raganya lebih besar dari akal sehatnya.
Wanita itu menang.
Jared sudah kalah bahkan di hari ketiga setelah pertemuan terakhir itu. Tidak.
Jared menekan giginya kuat-kuat. Sebenarnya ia sudah kalah sejak awal pertemuannya dengan Shanon.
Seperti itulah hari-hari berlalu bagi Jared. Ia lebih banyak mengurung diri di ruang kerja terutama ruang khusus itu. Layaknya bersembunyi seperti seorang pengecut, ia terus menerus melakukan hal yang sama. Bersembunyi, menahan diri dan merenung. Terus menerus merenung.
Hari ini tepat satu minggu sejak terakhir kali Jared melihat Shanon bersama Hans. Ia berpikir menghindarkan diri dari tatapan langsung dengan Shanon akan berhasil, kenyataannya semakin parah.
Needy!
Otaknya hanya diisi oleh bagaimana cara untuk mengembalikan semangat seorang Jared Walter yang dahulu, bagaimana cara agar melupakan wanita itu, dan banyak hal yang selalu berkenaan dengan Shanon.
Ia sudah hampir gila.
Segalanya terasa tidak benar untuknya.
Sebagai imbas, seluruh karyawan yang berhubungan langsung dengannya akan tersembur api amarah.
Pagi ini ia marah-marah tidak jelas hanya karena kopi yang terasa tidak sesuai dengan lidahnya. Fira yang biasanya ceria dan tenang saat berhadapan dengannya belakangan ini mendadak menghindar sebisa mungkin. Jared tahu ia bukan dirinya sendiri lagi. Setiap hari pekerjaannya diisi dengan amukan yang tidak menentu.
Ia meledak-ledak karena tidak ada yang sesuai dengan keinginannya.
Rumor tentang mood buruknya itu telah menyebar ke setiap sisi kantor. Kini semua karyawan bahkan buru-buru menghindar ketika Jared melintas.
"Apa kau bisa bekerja dengan benar?!" bentaknya pada salah satu manajer keuangan yang mengantar beberapa laporan padanya. "Apa kau digaji untuk bermalas-malasan dengan pekerjaanmu?!"
__ADS_1
"Maaf Mr. Jared. Saya sudah berusaha sedetail mungkin mengecek setiap laporan," ucap manajer itu berusaha untuk tidak menyulut kemarahan Jared lagi. "Maaf karena laporan yang satu ini luput dari pengecekan saya, Mr. Jared. Saya akan berusaha memperbaikinya hari ini juga."
Tatapan tajam itu begitu menusuk si manajer. "Kau memang harus memperbaiki kesalahan ini hari ini juga."
"Baik Mr. Jared. Permisi." Manajer itu membungkuk lalu keluar dari ruangan yang sudah terasa seperti neraka itu.
"Stupid!" desis Jared kemudian menarik satu berkas di atas mejanya dengan kasar.
"Kalian sudah dengar kalau manajer keuangan yang perfeksionis itu juga telah menjadi korban kemarahan Mr. Jared hari ini?" ujar Reina, staf bagian keuangan pada Lowy dan beberapa karyawan yang sedang makan siang bersama.
"Benarkah?" sambung Lowy dengan mata membulat.
Reina mengangguk. "Dia juga mengamuk karena kopi pagi ini. Aku juga bingung kenapa sikapnya berubah drastis." Dia menatap satu persatu karyawan penuh tanda tanya. "Apakah ini memang terjadi pada setiap perusahaan? Apakah direktur baru selalu bersikap baik di awal tapi setelah sebulan bekerja, mereka berubah menjadi monster seperti pimpinan perusahaan lainnya?"
Salah satu diantara mereka menyambung. "Mungkin saja dia sedang punya masalah keluarga."
"Aneh sekali jika membawa-bawa masalah keluarga ke tempat kerja."
"Ya. Itu sangat tidak profesional," kata yang lainnya.
Gosip itulah yang tengah berkembang diantara karyawan selama beberapa hari belakangan ini. Shanon hanya mendengarkan dan enggan berkomentar. Ia hanya sibuk dengan makanan di depannya.
Sejak kejadian itu Shanon memutuskan untuk tidak mengganggu Jared lagi. Ia tidak ingin terluka hanya karena berharap pada orang yang tidak ia dapatkan.
Rencananya gagal total hingga ia berpikir untuk membiarkan segalanya berjalan seperti seharusnya. Jika Jared tidak memulainya lebih dulu maka ia tidak akan melakukan apapun lagi. Itu lebih baik agar ia tidak terus menerus merasa terhina.
"Shanon, kenapa kau diam saja?" tanya Lowy membuatnya terkejut.
"Oh..." ia menatap makanannya kemudian dengan gugup menjawab,"Oh aku sedang sangat lapar." Dengan senyum kaku ia menyuapkan makanan ke mulutnya. "Sebaiknya kita menikmati makanan dan jam istirahat kita dengan hal-hal positif."
Lowy berdecak dan kembali pada perbincangan mereka. Shanon mendengus. Ia tidak akan ikut campur pada setiap perilaku Jared. Pria itu memang lebih menyeramkan dari biasanya. Setiap karyawan membicarakan semburan-semburan pedasnya setiap hari. Bagi Shanon itu bukan hal yang tidak wajar mengingat ia sudah merasakannya lebih dulu.
"Wah... Tidak bisakah kau menunggu kami?"
Shanon menggeleng lalu menunjuk piring mereka yang masih dipenuhi makanan. "Kalian bahkan belum memulai. Seberapa lama aku akan menunggu," ujarnya dengan tawa.
"Kau memang tidak setia," gurau Lowy.
"Aku ingin minum kopi."
"Kau bisa memesannya disini."
Ia menggeleng. "Aku ingin kopi buatanku sendiri."
Reina menyipitkan mata. "Jangan bilang kau ingin diam-diam menemui Hans."
Shanon tertawa. "Jangan mengada-ada. Aku benar-benar ingin menikmati kopi buatanku sendiri. Sampai nanti." Ia berlalu meninggalkan mereka yang sibuk mengoceh hal-hal aneh.
Saat di dapur kantor, ponsel Shanon berdering.
"Hallo Vi?"
"Shanyy!!" jerit Viella memekakkan telinganya.
"Hei! Jangan berteriak."
Viella tertawa. "Aku ingin bertemu denganmu. Sudah lama kita tidak berbincang."
__ADS_1
"Aku juga rindu."
"Bagaimana jika kita bertemu akhir pekan ini?" Saran Viella begitu bersemangat. "Mari minum-minum bersama."
"Minum?" Shanon memikirkan jadwalnya diakhir pekan. Ia berniat untuk merapikan rumahnya yang ditelantarkan selama seminggu penuh karena pekerjaannya yang tidak menentu di kantor. Namun sedikit hiburan tidak akan masalah, bukan? "Okay. Dimana?"
"Bar 88."
Shanon berdecak. "Kau tidak punya rekomendasi bar lain selain 88?"
"Hmm... Tidak," jawab temannya itu. "Baiklah aku harus lanjut bekerja...sampai jumpa di akhir pekan."
"Sampai jumpa."
Shanon memutus panggilannya dengan gelengan. Dasar Viella tukang mabuk!
Saat ia hendak meletakkan ponselnya di atas meja, tangannya bersenggolan dengan kopi panas yang baru saja diseduhnya.
"Aw panas!" pekiknya mundur satu langkah. Ia mengibas-ibaskan tangannya yang terkena air panas itu. Hanya sedikit tapi begitu menyakitkan. Tangannya memerah seketika.
"Damn!" desisnya kesakitan.
Ditengah kesibukannya mengibaskan tangan, seseorang menarik lengannya, membawanya menuju wastafel dan menarik tangannya yang memerah ke bawah pancuran air wastafel. Sensasi dingin yang begitu tiba-tiba membuat tangannya terasa perih. Ia mendesis secara otomatis.
"Kau bahkan tidak tahu prosedur pertolongan pertama?"
Shanon menatapi tangannya yang berada di dalam genggaman lembut Jared. Dia menghentikan aliran air itu, mengambil tisu lalu mengelap tangan Shanon dengan perlahan.
Shanon menelan dengan susah payah ketika merasakan reaksi berlebihan tubuhnya ketika bersentuhan kecil dengan Jared.
Berusaha keras untuk mengembalikan kesadaran, Shanon akhirnya mampu bergerak. Ia menarik tangannya dengan gestur tidak ramah. Tatapan mereka bertemu, dari Jared yang terlihat tenang kepada Shanon yang terlihat tidak bersahabat.
"Terimakasih Mr. Jared," ujarnya pelan, membungkuk singkat lalu melangkah melewati Jared.
"Kau benar-benar melakukan apa yang kukatakan?" ucap Jared dengan posisi Shanon berada di belakangnya.
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun kepada anda," jawab Shanon diam di tempat sambil menyentuh tangan memarnya.
Masih dalam posisi bertolak belakang, Jared melanjutkan perkataannya, "You look good."
"Oh... Thanks." Shanon tidak ingin berlama-lama dalam situasi canggung ini, maka ia kembali melangkah menuju pintu keluar.
"Kau menyukai Hans?" Sambung Jared cepat.
Langkah Shanon lagi-lagi terhenti. Apa yang Jared inginkan? Apa penghinaannya belum juga cukup?
"Aku tidak biasa mengungkap hal pribadi pada orang asing."
"Jadi aku orang asing sekarang?"
"Kenapa? Anda keberatan?" Shanon berbalik dan mendapati Jared sudah menghadap ke arahnya lebih dulu. Matanya menyipit tidak senang. "Anda mengatakan untuk melupakan segalanya, bukankah itu tandanya anda meminta untuk diperlakukan seperti orang asing?"
"Aku direktur perusahaan ini," bantah Jared.
Shanon berdecak tak habis pikir. "Adakah karyawan di dunia ini yang menceritakan hal-hal pribadi mereka pada direktur perusahaan? Tidak ada. Jadi jangan bersikap ramah terhadapku, karena aku bisa salah paham lagi dan menghancurkan benteng kebaikan anda." Shanon berbalik cepat dan berjalan hampir meninggalkan Jared disana.
Saat berada di ambang pintu, Jared mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkannya. Sesuatu yang hampir membuatnya mabuk di tempat.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
__ADS_1
Langkah Shanon terhenti lagi dan lagi. Kakinya bergetar mendengar perkataan yang sangat tidak terduga itu. Shanon merasakan angin segar yang begitu menyejukkan jiwa dan raganya. Ia tidak ingin momen ini berakhir. Ia ingin dimanja oleh kalimat romantis Jared terus menerus.
Ia sangat ingin tetapi.....