
Teriakan Mpo Indun yang menggelegar macam gunung meletus itu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu rumah keluarga Ajeng,
Dari sana tampak muncul Vina adik Ajeng yang juga berjalan terhuyung-huyung sambil menyeringai ke arah Mpo Indun,
Mpo Indun yang melihat adik Ajeng, anak tetangganya itu kini tiba-tiba terlihat begitu menakutkan, akhirnya kembali berteriak,
"Aaaaaaa..."
Perempuan itupun tak lupa berusaha untuk melarikan diri, namun saking takutnya dan lemasnya, ia pun tersandung dan jatuh tersungkur,
Mpo Indun yang jatuh berusaha bangun, sambil berteriak-teriak,
"To... loooong... To... Long..."
Dari dalam rumah-rumah tetangga yang semula sudah tertutup dan terkunci, tampak kemudian mereka mulai membuka pintu, termasuk juga dari rumah Mpo Indun sendiri yang letaknya hanya selang beberapa rumah saja dengan rumah Ajeng,
Namun belum juga sempat mereka keluar untuk memberikan pertolongan, gadis yang telah menjadi monster yang muncul dari lorong buntu dekat rumah Ajeng itu tiba-tiba saja melompat menubruk Mpo Indun,
Ia berusaha menggigit Mpo Indun, namun Mpo Indun berusaha menghindar dan melawan semampunya,
__ADS_1
Para tetangga dan juga orang-orang yang dari keluarga Mpo Indun mulai keluar dari rumah, mereka yang melihat Mpo Indun sedang diserang gadis yang mereka kenali adalah anak Pak Darmanto tentu saja langsung mencoba menolong,
Dengan senjata seadanya, macam sapu, pel-pelan, serokan, sapu lidi, bahkan kemoceng mereka berduyun-duyun mencoba melawan gadis anak Pak Darmanto yang telah berubah menjadi monster menakutkan,
Dan, tak hanya gadis anak Pak Darmanto, mereka yang melihat Vina adiknya Ajeng juga telah berubah akhirnya langsung mengeroyok adiknya Ajeng,
Sungguh berbeda dengan orang-orang di negeri asalnya yang begitu melihat vampir mereka hanya akan sembunyi, di negeri ini orang bersatu padu melawan dan menghajar sampai babak belur,
Marthinus yang semula mendengar suara teriakan Mpo Indun sampai buru-buru kembali, akhirnya hanya bisa melongo sambil nongkrong di atas atap rumah salah satu tetangga Mpo Indun,
Melihat dua gadis vampir bonyok di keroyok masa, membuat Marthinus merasa jika seharusnya Shane tak perlu merasa sekhawatir saat ini,
"Mereka, dua vampire itu adalah korban dari vampir yang pertama jadi korban di bandara, berarti vampir itu benar ada di sekitar sini,"
"Awas! Awas! Pak sesepuh mau lewat,"
Kata salah satu orang di kerumunan yang mengeroyok dua gadis vampir yang kini babak belur dan terlihat meringkuk di atas jalanan,
Dan kemudian tampak seorang laki-laki tua menyeruak di antara kerumunan, ia tampak membawa satu ikat dedaunan,
__ADS_1
Marthinus dari atas atap rumah jadi penasaran, ia tampak mengawasi dari sana apa yang sebetulnya akan orang-orang itu lakukan, dan...
"Keluar kamu setan alas, keluar kamu setan alas, zuh zuh zuh... Fuh!"
Sesepuh kampung tampak menyabetkan dedaunan ke tubuh dua gadis vampir yang sudah tak berdaya diserang masa,
Bukan hanya disabet dedaunan, mereka juga disembur ludah oleh laki-laki tua yang membawa ikatan dedaunan itu,
"Mereka kesambet gendruwo..."
Kata si sesepuh,
Marthinus yang mendengarnya dari atas atap jadi garuk-garuk rambut gondrongnya,
Kenapa sampainya gendruwo? Batin Marthinus,
Bersama dengan itu, hp Marthinus ada panggilan masuk, cepat Marthinus melihatnya yang ternyata adalah panggilan dari Shane,
"Sepertinya virus menyebar luas, cepatlah bergerak!"
__ADS_1
Kata Shane dengan nada panik.
...****************...