
Shane baru turun dari mobil dan akan masuk ke dalam rumahnya, saat isterinya, Zizi, memanggilnya sambil tergesa menghampiri,
"Paman Marthinus tadi menghubungiku, jika di satu kampung di pinggir jakarta, ia menemukan aroma vampir korban pertama, aroma yang sama dengan yang ditinggalkan di bandara dan juga di salah satu vila di puncak,"
Kata Zizi,
Shane mengangguk, lantas mereka berdua berjalan masuk bersama,
"Aku tadi juga menelfon Paman Martinus untuk segera bergerak menangkap vampir itu, banyak korban berjatuhan, jika dibiarkan ini akan jadi wabah yang membahayakan,"
Kata Shane,
Zizi, sang isteri mengangguk mengiyakan,
"Aku akan masuk ke alam ular emas nanti malam, aku akan pastikan meminta mustika itu untuk menolong mereka para korban yang bisa kita tolong,"
"Mustika?"
Shane menatap Zizi,
Tampak Zizi mengangguk,
"Mustika ular emas, itu yang dicari oleh Alex tempo hari bukan? Mama mengirimiku pesan mengingatkanku soal mustika ular emas, Eyang yang memberitahu karena mendengar tragedi ini,"
Shane sejenak terdiam sambil tiba-tiba menghentikan langkahnya,
"Alex, ya..."
Shane menatap sang isteri, yang kini menatapnya pula,
"Apa kau berpikir sama denganku, honey?"
Tanya Shane pada Zizi,
Tampak Zizi mengangguk,
"Kurasa dialah yang pertama kali membuat kekacauan ini, seperti yang Mama bilang, dia yang paling patut dicurigai,"
__ADS_1
Lirih Zizi,
"Pemilik vila di mana korbannya adalah salah satu penjaga sekarang sedang diburu pihak kepolisian, jika ia tertangkap, maka akan semakin terang kasus ini,"
Kata Shane,
"Semoga segera tertangkap,"
"Ya, sayang sekali, kata Arya, penjaga vila yang selamat saat ini depresi berat, ia teriak-teriak saja bisanya, tak bisa memberikan keterangan yang jelas,"
Ujar Shane,
Zizi menghela nafas,
"Tentu saja, pengalaman semacam itu tak akan mudah dilewati oleh manusia biasa,"
"Ya, aku tahu,"
Kata Shane yang kemudian melanjutkan langkahnya lagi,
"Lalu apa rencanamu lagi Pa?"
"Aku akan ke London besok pagi, ini aku akan ganti baju sebentar dan akan langsung membantu Arya mengamankan lokasi yang baru saja ditemukan lagi korban vampir,"
Kata Shane,
"Baiklah, Papa bantulah Kak Arya mengamankan kota lebih dulu, soal penawar biarkan aku yang urus, bagaimanapun aku adalah masih keturunan Kakek Ardi Subrata, mereka para penguasa mustika, pasti akan bersedia memberikannya untukku,"
Kata Zizi,
"Tapi kau tetap harus hati-hati, kau dikawal Paman Marthinus bukan?"
Tanya Shane, yang tentu saja sebagai suami yang teramat sangat mencintai isterinya, ia memang tetap mudah khawatir meskipun ia tahu bagaimana kekuatan sang isteri.
Zizi menggelengkan kepalanya,
"Tidak Pa, aku akan pergi sendiri, tapi tenang saja, aku yakin di sana tak akan ada apa-apa,"
__ADS_1
"Tapi honey..."
Shane tampak masih khawatir, Zizi menepuk-nepuk lengan suaminya,
"Jangan meragukan kekuatanku, semua pasti akan berjalan lancar,"
Kata Zizi,
Nyatanya, manusia bernama Zizi ini memang selalu optimis setiap kali melakukan apapun, dan Shane pun sejatinya tahu betul akan hal itu,
Shane yang kembali menghentikan langkahnya itupun kini meraih tubuh Zizi ke dalam pelukannya,
"Aku akan menyusul secepatnya, setelah semua di sini aman,"
Kata Shane,
"Aku hanya butuh waktu sebentar, tak usah seperti aku akan pergi ke bulan hingga bertahun-tahun sampai harus menyusul,"
Ujar Zizi,
Shane tersenyum, sambil mengeratkan pelukannya pada Zizi,
"Sorry jika aku bukan suami yang sempurna,"
Bisik Shane,
Zizi mengangguk,
"Ya, aku sudah memaafkan, lagipula tidak ada suami yang sempurna, bahkan apapun yang ada di dunia ini tak ada yang sempurna, kecuali..."
Zizi menggantung kalimatnya,
"Kecuali mie rebus dikasih irisan cabe, sawi dan telor, lalu di makan saat hujan turun deras,"
Kata Zizi kemudian melanjutkan, membuat Shane kembali tersenyum,
Sudah jelas isterinya itu akan mengatakan hal yang tak lazim, itu sudah biasa.
__ADS_1
...****************...