
Ajeng yang kemudian di hadapkan dengan Nadia yang sekarat tampak mulai menyambut darah yang ada pada Nadia,
Shane yang sejatinya adalah vampire tampak memilih memalingkan wajah karena bagaimanapun ia merasa bahwa Nadia seharusnya mereka tolong, tapi akhirnya ia harus direlakan mati dengan keadaan yang paling menyiksa,
Sekian detik, sampai kemudian terdengar lengkingan panjang suara Nadia, disusul tubuhnya menggelepar dan akhirnya mati sama sekali,
Ajeng tampak menyeringai, mulutnya penuh dengan darah, matanya menyala-nyala, ia tampak sudah membaik, tapi...
"Kau yakin dia akan kembali menjadi manusia lalu mati juga Paman?"
Tanya Shane yang mulai tak yakin melihat Ajeng yang kini pelahan berdiri,
Marthinus tampak siaga melihat gelagat Ajeng yang justeru berubah seperti Rosalina Ruthven,
Dan, belum lagi Marthinus menjawab pertanyaan Shane, tiba-tiba saja Ajeng menerjang Marthinus sambil mencakar dengan kukunya yang runcing dan tajam,
Marthinus yang reflek menangkis serangan Ajeng, otomatis mengayunkan tombak mata peraknya dengan gerakan yang tak kalah cepat,
Shane yang melihat Ajeng menggila jelas langsung berusaha menolong Marthinus dan menangkap Ajeng,
Tapi, gerakan Ajeng yang sangat cepat dan terus mengincar Marthinus membuat sosok laki-laki tinggi besar itu mau tidak mau melakukan perlawanan serius, yang kemudian tanpa sengaja membuat tombak bermata peraknya menusuk perut Ajeng,
"Aaaaaa..."
Ajeng yang tertusuk tombak dengan ujung mata perak milik Paman Marthinus tampak berteriak keras,
__ADS_1
Ajeng benar-benar tampak sangat kesakitan, ia jatuh terjungkal ke lantai tak jauh dari mayat Alex yang mati di tangan Rosalia Ruthven,
Tubuh Ajeng menggelepar, ia seperti terbakar,
"Aku... aku tidak bermaksud..."
Marthinus tampak tegang dan panik, ia tak sungguh-sungguh ingin membunuh Ajeng dengan senjatanya, tapi...
"Tidak apa Paman, dia bukan lagi manusia, dia tak bisa diselamatkan,"
Ujar Shane,
"Bagaimana dengan Ibunya? Bagaimana kita menjelaskan kepada Ibunya jika anaknya pada akhirnya tak bisa kita sembuhkan bahkan malah akhirnya mati,"
Marthinus mendekati Ajeng, pun juga dengan Shane,
"Aku yang akan bertanggungjawab, dia pasti akan mengerti,"
Kata Shane dengan suara lirih, matanya menatap Ajeng dengan iba,
Mereka lupa jika Nadia telah kembali terinfeksi oleh Rosalina Ruthven, tak seharusnya darah Nadia kembali diberikan pada Ajeng,
Tapi, segalanya telah terjadi, apa yang bisa Shane perbuat, apalagi Paman Marthinus pun tak bisa pula disalahkan dengan menusuk Ajeng dengan mata peraknya,
Paman Marthinus jelas hanya melakukan pembelaan diri, bukan dalam keadaan sengaja ingin membunuh Ajeng,
__ADS_1
Hingga akhirnya Ajeng dipastikan tewas, Shane meminta Paman Marthinus untuk membawanya kembali ke markas di mana Nancy ada di sana,
"Setelah ini, apa kita akan kembali ke Indonesia?"
Tanya Marthinus, tampak Shane menggeleng,
"Anak-anak akan tinggal di sini, sementara Rosalina Ruthven kapanpun ia pasti akan kembali muncul, banyak hal yang akan dihadapi anak-anak di sini, aku khawatir Paman,"
Ujar Shane,
"Tapi, Zizi juga tidak mungkin meninggalkan Indonesia sama sekali, aku juga tidak mungkin meninggalkan Papa Zion mengurus perusahaan di sana sendirian,"
Tambah Shane pula,
"Kalau begitu, biar aku yang tetap berada di sini, mengawal anak-anak, menjaga mereka dan memastikan mereka akan baik-baik saja,"
Kata Marthinus,
"Ya, mungkin Aunty Maria juga harus ada di sini, bagaimanapun ia sangat dengan anak-anak juga,"
Kata Shane, yang kemudian diiyakan oleh Marthinus,
Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju pulang ke tempat di mana Nancy bersembunyi, diiringi pasukan Lycan yang telah berubah wujud seperti manusia kembali,
Mereka tampak seperti sekelompok mafia dengan jaket dan celana hitam lengkap dengan senjata-senjata lengkap.
__ADS_1
...****************...