
Tampak di sudut rumah kosong yang belum ada isinya itu, seorang perempuan paruh baya tengah menangis di samping gadis yang duduk bersandar dengan pakaian penuh darah,
Gadis itu duduk tertunduk lemah, sementara perempuan paruh baya yang duduk di sampingnya memegangi tangannya dengan erat sambil terisak,
Marthinus berjalan ke arah keduanya, yang kemudian disadari oleh perempuan paruh baya yang tadi terus merintih meminta tolong sambil menangis,
Melihat kedatangan makhluk tinggi besar yang aneh, perempuan itupun tentu saja gemetaran luar biasa, ketakutan yang teramat terpancar jelas di wajahnya,
Marthinus, yang melihat wajah lugu, polos itu ketakutan akhirnya merubah diri menjadi onde-onde, oh salah, maksudnya menjadi berwujud manusia lagi,
"Si... siap... siapa kamu?"
Tanya perempuan paruh baya yang tak lain adalah Ibunya Ajeng itu,
Marthinus tampak semakin mendekati target, matanya kini tertuju pada sosok gadis di samping Ibu yang terlihat tak berdaya,
Tak salah lagi, inilah sosok korban pertama yang telah berubah menjadi vampir itu,
Aroma nya tak mungkin salah dikenali oleh Marthinus, jelas sekali jika aroma itu adalah aroma yang ia buru selama ini,
Tampak kemudian Marthinus menghentikan langkahnya, ia berdiri tak jauh dari sang Ibu, dan kemudian ia membungkuk memberi salam,
Ya, meskipun ia adalah percampuran antara vampir dan juga Lycan, tapi dia sudah banyak belajar tentang tata kesopanan serta aturan, ia juga sudah mengabaikan keinginannya meminum darah dan memakan daging mentah dengan lumuran darah dan air mata,
Ibu nya Ajeng menatap Marthinus dengan bingung, sosok di depannya yang semula terlihat begitu menyeramkan kini tampak seperti manusia normal yang bahkan begitu gagah, keren dan sopan,
__ADS_1
"Maaf Nyonya, jika saya membuat anda takut,"
Kata Marthinus,
Ibunya Ajeng menganggukkan kepalanya dengan kedua mata tetap menatap sosok di hadapannya, sementara tangannya terus menggenggam erat tangan Ajeng di sebelahnya yang terlihat terduduk lemah,
"Pak, apa yang hendak anda lakukan?"
Tanya Ibunya Ajeng pada Marthinus,
"Dia... dia anakku Pak, dia anak yang sangat baik, tapi entah kenapa dia pulang dalam keadaan seperti ini,"
Ibunya Ajeng kini tampak kembali menangis, air matanya bercucuran, ia begitu sedih beralih menatap Ajeng di sebelahnya,
Marthinus tampak melangkah mendekati Ajeng yang tampak sudah begitu lemah tak berdaya,
"Dia seperti kesetanan, dia menggigit adiknya, menghisap darahnya hingga meregang nyawa, astaga Vina, entah bagaimana nasibnya,"
Ibunya Ajeng kembali menangis,
Marthinus jadi bingung karena si Ibu menangis terus, ia tidak biasa menangani orang menangis,
"Dia... Dia akan kembali mengamuk jika aku melepaskan genggaman tanganku, dia akan kembali jadi beringas, dia akan kembali seperti tak sadar dan menjadi mahluk yang mengerikan, aku... aku tidak tega, aku... aku takut dia mencelakai orang dan dia akan di hajar masa,"
Ibu nya Ajeng saking takutnya tampak gemetaran,
__ADS_1
"Biarkan saya membawanya ke suatu tempat yang aman Nyonya,"
Kata. Marthinus akhirnya,
Ibunya Ajeng menatap Marthinus,
"Ke mana?"
Tanya Ibunya Ajeng yang terlihat khawatir,
"Ke tempat yang di sana kami akan berusaha menyembuhkan semua orang yang berubah seperti anak Nyonya,"
Kata Marthinus menjawab,
Ibunya Ajeng membulatkan matanya,
"Apa... apa tempat itu jauh dari sini Pak? Apa anakku akan baik-baik saja?"
Tanya Ibunya Ajeng,
Marthinus menganggukkan kepalanya,
"Tapi... Tapi dia tidak bisa jauh dariku, jika aku tidak berada di dekatnya, dia..."
"Semua akan baik-baik saja, percayalah,"
__ADS_1
Kata Marthinus pula.
...****************...