Putri Vampir Terakhir

Putri Vampir Terakhir
25. Syok


__ADS_3

Marthinus melompat turun dari atas atap dan langsung berdiri di tengah kerumunan orang-orang kampung yang baru saja mengeroyok dua gadis vampire di sana,


Tepat saat itu, keluarga Pak Darmanto, yang merupakan keluarga salah satu gadis vampir yang dikeroyok warga tampak datang dengan tergopoh-gopoh,


"Anakku... anakku..."


Pak Darmanto memanggil-manggil anaknya sembari akan mendekat,


Warga tampak mencoba menahan, apalagi Marthinus, jelas ia langsung mengacungkan tongkat dengan mata peraknya,


"Diam di sana, atau kau juga akan jadi korban,"


Kata Marthinus tegas,


Pak Darmanto tentu saja menggelengkan kepalanya,


"Kenapa... Kenapa kalian mengeroyok anak malang itu, apa hanya karena dia sering duduk di jalanan lalu kalian berhak menghakimi dia dengan kekerasan seperti ini?"


Pak Darmanto suaranya bergetar menahan amarah pun juga menahan kesedihan yang dalam,


"Dia bukan sekedar duduk di jalanan, dia kesurupan kampir!"


Kata sesepuh yang masih memegangi daun kelor,


"Kampir? Kesurupan Kampir?"


Pak Darmanto seolah tak bisa percaya dengan apa yang terjadi,


Ia sungguh tak bisa menerima kenyataan jika anaknya dikeroyok dengan alasan kesurupan,


"Kalian akan aku adukan pada polisi, ini negara hukum, apa kalian mau..."

__ADS_1


Belum lagi selesai kalimat si Pak Darmanto, tiba-tiba gadis vampir yang merupakan anak Pak Darmanto itu bergerak-gerak, ia pelahan bangkit dan berdiri dengan posisi seolah akan menerkam orang-orang di sana,


Gadis vampir itu menyeringai, membuat para emak menjerit ketakutan dan siap melemparinya dengan perabotan yang mereka bawa dari rumah untuk tadi mengeroyok dua gadis vampir itu,


Tak berbeda dengan para emak, Pak Darmanto juga tampak ketakutan melihat anaknya sendiri menjadi seperti itu, ia tampak terus menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Tidak... Tidak mungkin, ke... kenapa anakku jadi begini? kenapa... kenapa anakku sebetulnya?"


Pak Darmanto begitu syok dengan apa yang kini dilihatnya,


Laporan salah satu warga kepadanya yang katanya sang anak diarak warga lalu digebuki hanya karena duduk di jalanan kini terbukti adalah laporan yang tak bertanggungjawab,


"Daraaaah...daraaaah..."


Gadis vampir anak Pak Darmanto bergumam-gumam sambil memandangi satu persatu warga yang ada di sana, termasuk bahkan Ayahnya sendiri,


Namun, tak seperti Ajeng, yang begitu melihat Ibunya malah menjadi lemah, kali ini anak Pak Darmanto malah kebalikannya,


Gadis vampir itu tiba-tiba saja memekik, lalu melompat dengan sekonyong-konyong koder ke arah kerumunan warga yang di sana ada Pak Darmanto,


Untunglah Marthinus saat itu telah berada di sana, hingga ia langsung sigap melindungi kerumunan warga dam langsung menghajar gadis vampir anak Pak Darmanto,


Marthinus dengan gerakannya yang pastinya jauh lebih cepat, dengan mudah langsung dapat membuat gadis vampir anak Pak Darmanto kembali terkapar di atas tanah,


Tepat di saat yang sama suara sirine mobil Polisi datang di kampung Ajeng tinggal,


Para warga langsung tampak heboh mendengar ada suara sirine,


"Siapa panggil polisi? Siapa panggil polisi?"


Pertanyaan itu langsung terdengar berisik,

__ADS_1


"Bukan aku,"


"Tidak, aku tidak tahu cara menghubungi polisi,"


"Aku tidak tahu,"


Banyak suara pula yang berisik menjawabnya,


Marthinus menggelengkan kepalanya karena warga di kampung itu sangat berisik,


Makhluk campuran itu kemudian terlihat mendudukkan dua gadis vampir yang terkapar di atas tanah,


Para polisi tak lama tampak berdatangan dan langsung menggantikan tugas Marthinus menangani dua gadis vampir itu,


"Masukkan mereka di sel-sel yang berbeda namun di satu tempat saja, Nyonya sedang mengusahakan mendapatkan penawarnya, jadi amankan mereka semua!"


Kata Marthinus pada para polisi,


Para warga tampak heboh saat dua manusia yang berubah menjadi monster itu kini diborgol, diikat dan di bawa oleh polisi,


"Tuan tidak usah khawatir, anakmu nanti bisa sembuh, asal ia berubah dalam keadaan belum benar-benar menjadi mayat, ia bisa kembali hidup,"


Kata Marthinus pada Pak Darmanto yang masih terlihat begitu syok.


"Namun, jika ia sebelumnya telah menjadi mayat, maka ikhlaskanlah, kuburkan ia dengan layak sebagaimana manusia lain,"


Tambah Marthinus yang tentu saja tak bisa bicara basa-basi,


Makhluk campuran itu bicara demikian tanpa peduli wajah Pak Darmanto langsung pucat macam cacing kena garam,


"Anakku yang malang, anakku yang malang,"

__ADS_1


Pak Darmanto menangis.


...****************...


__ADS_2