
"Ibu, lihatlah dia Bu, dia sudah bukan lagi Kak Ajeng, dia monster,"
Vina menatap sosok kakaknya yang kini dibaringkan Ibunya di atas kasur kamar Ajeng,
Ibu menangis tersedu, ia tahu dan sadar betul jika Ajeng tak lagi sama seperti terakhir ia lihat, kuku-kukunya, giginya yang bertaring, darah di mana-mana,
Tapi...
Ibu tetaplah Ibu, anak itu mau seperti apapun tetap tak bisa seorang Ibu mengabaikannya,
Bahkan, saat mereka begitu berani sampai membentak, Ibu tetap mencintai mereka, memperlakukan mereka sama seperti saat baru ia lahirkan,
Ibu tak pernah memiliki rasa benci pada anak-anaknya, hatinya dipenuhi rasa welas asih yang besar untuk buah hatinya,
"Kita keluarkan saja dia Bu, dia akan membahayakan kita!"
Kata Vina lagi,
Ibu yang kelelahan menggeret sendirian tubuh Ajeng dari pelataran depan rumah hingga kamar Ajeng tampak menggeleng pelan,
"Tidak Vina, dia kakakmu, dia anak Ibu, mau seperti apapun dia adalah bagian dari rumah ini, dia harus tetap berada di sini,"
Vina yang mendengar kata-kata Ibu tampak mendengus kesal,
"Apa Ibu gila?! Dia pergi lama tidak pulang-pulang, membuatku tidak bisa ikut tes karena tidak bisa bayar, sekarang dia pulang dalam kondisi seperti ini, sementara dia bukan lagi Kak Ajeng yang dulu Bu, yang bisa cari uang, yang bisa bantu Ibu bebenah rumah, dia monster!"
Vina membentak-bentak Ibu dengan suara yang sangat keras,
Wajahnya merah padam karena amarah yang membumbung ke ubun-ubun,
Sudah dua hari dia tidak masuk sekolah dan terpaksa bekerja membantu di toko milik tetangga untuk mengumpulkan uang kalau ingin lanjut sekolah lagi,
Mengajukan bantuan pun hanya bisa dijanjikan dapat di bulan berikutnya,
__ADS_1
Belum lagi, makan pun Ibunya hanya bisa menggoreng ikan asin dan ikan asin lagi, membuat Vina benar-benar kesal dengan nasib hidupnya yang terasa sangat berantakan,
"Vina, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu pada Kakakmu, kamu anggap apa kakakmu ini?"
Ibu menangis begitu sedih melihat Vina seperti itu,
Tapi Vina mau peduli, yang ia tahu, ia kesal dan kesal,
"Ibu selalu mengistimewakan Kak Ajeng, apa anak Ibu cuma dia?! Bahkan sudah jadi monster pun tetap mau menerimanya, dia sedang tidak sadarkan diri, nanti saat dia bangun dia akan memakanmu! Sadarlah Bu!"
"Tidak! Itu tidak mungkin, dia Ajeng nya Ibu, dia Ajeng anakku, Kakakmu Vina,"
Vina menggelengkan kepalanya, dadanya terasa begitu sesak melihat Ibunya bersikeras mempertahankan Ajeng,
"Ibu bodoh! Ibu sudah gila!"
Vina yang marah luar biasa, kecewa luar biasa, akhirnya melepaskan kalimat itu pada Ibunya dengan tega,
Ibu yang mendengar bahkan sampai tak bisa bicara apa-apa karena dikatakan bodoh dan gila oleh anaknya sendiri,
Tiba-tiba Ajeng membuka matanya, ia menoleh ke arah Vina, tatapan matanya yang sudah bukan tatapan Ajeng dahulu begitu menikam dan menghujam Vina,
Tampak Vina memundurkan langkahnya, terlihat ia siaga untuk melarikan diri,
Ajeng pelahan bangun dari berbaringnya, tampak ia kemudian bangkit berdiri dari sana,
Ibunya yang duduk tak jauh dari posisi Ajeng sebelumnya berusaha meraih tangan Ajeng dengan tangannya,
Tapi, Ajeng tak peduli, ia mengibaskan tangan Ibunya, fokusnya kini hanya pada Vina,
Tampak Vina melangkah mundur pelahan, sampai kemudian begitu dekat pintu kamar,
Gadis itupun cepat berbalik dan lari menuju pintu utama, namun Ajeng dengan secepat kilat melompat dan menerjangnya,
__ADS_1
Ajeng mencakar dada Vina dengan kukunya yang tajam, Vina yang akan menjerit kesakitan di bungkam dengan tangannya, sampai kuku-kukunya yang runcing dan tajam ikut tenggelam dalam kulit wajah adiknya,
Seolah belum puas, Ajeng pun menyasar leher adiknya, menggigit dan merobeknya dengan taringnya,
Darah mengalir di mana-mana, mengalir keluar menuju teras melalui celah pintu utama rumah,
Ibu yang melihat semuanya histeris luar biasa,
"Ajeng, jangan nak... jangan... sudah... sadarlah... sadarlah..."
Ibu menangis bersimpuh di depan kamar, semua rasa berkecamuk di dalam dadanya saat ini,
Matanya melihat anak bungsunya meregang nyawa di tangan kakaknya sendiri yang kini telah berubah,
"Vina... Ya Tuhan, kenapa jadi begini..."
Ibu menangis begitu pilu, sanking terguncangnya, ia pun pingsan,
Sementara itu, Ajeng yang telah puas meminum darah dari adiknya, dan melihat Vina tak lagi bernafas, tampak kemudian Ajeng menoleh ke arah Ibunya yang terkulai lemah di lantai,
Ajeng menghampiri Ibunya, matanya tampak meredup, ia mengusap wajah Ibunya dengan jemari tangannya yang dipenuhi kuku runcing dan tajam,
"Ibu..."
Ajeng mengucapkannya lirih,
Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, lalu tangannya ia ulurkan ke tubuh Ibunya, untuk kemudian mengangkat tubuh Ibunya itu,
Ajeng membawanya menuju pintu belakang rumah, dan kemudian keluar dari sana,
Melompat tinggi ke atas atap tetangga yang rumahnya ada di belakang rumah Ajeng,
Melesat menembus malam, dan pergi entah ke mana.
__ADS_1
Flashback berakhir.
...****************...