
Nancy tampak berlari keluar Kastil menyambut putranya yang akhirnya setelah sekian lama kembali ke London,
Iring-iringan mobil yang membawa Shane dan Marthinus kemudian tampak berhenti di pelataran kastil yang kini mulai dipenuhi para anggota Lycan,
Marthinus tampak turun terlebih dahulu, tubuhnya yang tinggi besar dengan rambut gondrong pirang begitu khas sejak dulu membuat ia mudah dikenali,
Para Lycan langsung bersorak ramai tatkala melihat pemimpin mereka kini berdiri di sana, menatap tajam ke seluruh penjuru lalu tersenyum pada para anggotanya,
Hanya berselang beberapa detik dari Marthinus yang turun dari mobil, Shane juga turun dan langsung melompati mobil untuk kemudian menghampiri Nancy, Ibundanya,
Tampak kemudian keduanya pun saling berpelukan dengan erat, mencurahkan segenap rasa rindu pada satu sama lain,
"Keluarkan vampire itu, dan bawa ke ruangan khusus di dalam kastil,"
Tiba-tiba terdengar suara Marthinus memberi perintah,
Shane pun melepas pelukannya pada sang Ibu, ia lantas berfokus pada Ajeng, seorang korban Vampire yang kini harus ia jadikan petunjuk untuk menemukan seseorang yang paling bertanggungjawab atas semua kekacauan ini,
"Dia kah korban pertama yang kau ceritakan?"
Tanya Nancy,
Tampak Shane pun mengangguk,
"Dia seorang anak dari keluarga miskin, dia tulang punggung keluarga, Ibunya hanya memiliki dua anak dan kini keduanya telah menjadi vampir, besar kemungkinan yang satunya meninggal, tapi entah yang ini,"
Kata Shane,
"Dia sempat menjadi monster yang memakan banyak korban,"
__ADS_1
Lanjut Shane pula,
Nancy memperhatikan sosok Ajeng yang kini digotong seorang Lycan bertubuh besar ke dalam kastil,
"Tapi, tampaknya ia lemah,"
Kata Nancy,
Shane yang mengikuti Ajeng dengan matanya kini akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah sang Ibu,
"Aku sengaja lemahkan, sudah cukup ia makan banyak korban, kasihan Ibunya yang merasa lebih sakit melihat anaknya yang selama ini ia kenal sebagai anak yang baik dan penurut, tiba-tiba menjadi makhluk asing yang menakutkan,"
Ujar Shane,
Tampak Nancy mengangguk mengerti,
"Kita masuk,"
Laki-laki bertubuh tinggi besar itu lantas sambil memasuki kastil yang lantas tampak diikuti para Lycan lain,
Setelah kembali ke London, tentu saja Marthinus jauh lebih berkuasa, dan Shane pun seketika bukan lagi siapa-siapa,
"Anak Ruthven, dia berada di satu tempat yang pastinya bersiap memakan korban lebih banyak, seluruh kota sudah dikosongkan, cepat atau lambat, peperangan Lycan dan vampir akan kembali terjadi,"
Kata Nancy sembari mengajak Shane masuk pula ke dalam kastil,
"Tidak usah ikut melawan mereka, Mom, tetaplah berada di dalam kastil, menjaga Ajeng,"
Kata Shane,
__ADS_1
"Apa tidak terlihat seperti pecundang? Tak mau turun ke medan peperangan di saat semua ikut turun?"
Tanya Nancy,
Shane tersenyum sekilas lalu, ia menatap langit yang kini tercurah bunga-bunga es,
"Salju turun lagi,"
Lirih Shane,
Melihat salju turun, ia jadi ingat saat dulu masih kecil bersama Zizi isterinya,
Ya, saat dulu Zizi jatuh terpeleset, saat ia membuat boneka salju di halaman sekolah yang bentuknya tak lazim karena berbentuk pocong, dan begitu banyak kenangan bersama isterinya,
Zizi, ya Zizi, isterinya, cinta pertama yang untuk Shane juga ingin ia lah cinta terakhir nya pula,
Meskipun, Shane tahu bahwasannya mereka adalah mahluk yang berbeda, yang kelak saat Zizi menua, mungkin Shane akan tetap seperti ini, muda dan tampan,
"Aku masih ingin menemukan obat yang bisa membuatku menjadi manusia, jadi aku harus menangkap Rosalina Ruthven, dialah penjaga penawar itu, jadi harus aku temukan,"
Lirih Shane lagi, membuat Nancy menatapnya sambil tersenyum,
"Apakah ini untuk Zizi?"
Tanya Nancy,
Shane pun beralih menatap Ibunya lagi, lalu ia pun tersenyum,
"Ya Bu, ini untuk Zizi,"
__ADS_1
Jawab Shane.
...****************...