
Shane dan Marthinus sampai di rumah Kemang yang langsung disambut oleh Zizi, isteri Shane,
Mereka diarahkan Zizi melewati pintu rumah yang ada di sebelah rumah, yang langsung menuju halaman belakang di mana di sana terdapat taman dan juga hutan buatan,
Zizi membawa mereka menuju ke dalam hutan buatan, di mana di sana, di tengah-tengahnya terlihat ada pondok kecil yang tadinya memang dibangun khusus untuk istirahat melepas lelah dan penat Tuan Ardi Subrata saat beliau masih hidup,
"Besok sore aku akan langsung menuju London,"
Kata Shane yang berjalan di samping Zizi, sedangkan di belakang Zizi dan Shane, tampak Marthinus yang menggendong Ajeng di iringi Ibunya Ajeng yang terlihat sudah begitu lelah,
"Sudah hubungi Paman Nick?"
Tanya Zizi,
Tampak Shane mengangguk,
"Mustika ular sisik emas diambil seseorang, aku tak bisa mengambilnya sama sekali,"
Lirih Zizi,
Shane tampak mengangguk mengerti,
"Tidak apa-apa, aku rasa memang sudah seharusnya kita cari pembuat masalahnya langsung,"
"Kau akan mencarinya di London?"
Tanya Zizi,
Shane mengangguk,
"Ya, aku akan mencarinya di sana, Alex, dia biangnya, tidak di sini maupun di sana, aku yakin dialah yang menyebabkan semua kekacauan ini,"
__ADS_1
Kata Shane,
"Termasuk di London?"
Zizi menoleh ke arah sang suami di sebelahnya,
"Ya, tentu, siapa lagi, pasti dia juga yang membuat kekacauan ini, Ibuku memberitahu jika sudah banyak korban berjatuhan juga, termasuk dari para Lycan,"
Zizi sejenak menghela nafas,
Nyatanya Alex dan keluarganya sebagai keturunan dari Heri Sapta memang seperti tidak pernah ada lelahnya untuk mencari perkara dan masalah dengan keluarga Zizi semenjak masih ada Eyang buyutnya,
Mereka keluarga Alex yang percampuran dari ular memang sangat pandai membuat teror untuk akhirnya memancing kemarahan keluarga Zizi,
Hutan buatan yang ada di halaman belakang rumah Tuan Ardi Subrata, pendiri sekaligus pemilik saham terbesar di Alpha Centauri yang kini diwariskan sepenuhnya kepada keluarga Zizi, isteri Shane itu tampak dihiasi lampu-lampu taman di sepanjang jalan menuju rumah yang ada di tengah hutan,
"Ajeng, biarkan dia di sini dulu, aku akan membuatnya tak bisa ke mana-mana, Ibunya Ajeng bisa istirahat dengan tenang juga di kamar, sampai besok sore setelah waktu berangkat,"
"Biar saya berjaga di sini Nyonya, tidak masalah,"
Kata Marthinus,
Zizi menoleh pada Marthinus yang berdiri di belakangnya,
Zizi lantas mengangguk,
"Baiklah Paman, tinggalah di sini dan jaga mereka,"
Kata Zizi pula,
Marthinus menganggukkan kepalanya,
__ADS_1
Sejenak Shane tampak menyapukan pandangan matanya ke sepenjuru hutan tersebut, beberapa lelembut hutan buatan mengintip dari balik kegelapan,
"Mereka tidak akan mengganggu Ibunya Ajeng, mereka tahu betul ada Paman Marthinus dan Ajeng,"
Kata Zizi sambil tersenyum seolah mengerti apa yang dikhawatirkan Shane,
Tampak Shane jadi menatap sang isteri di sampingnya yang kini nyengir hingga memperlihatkan sebaris giginya yang putih,
Tentu saja, Shane tak akan pernah lupa jika isterinya bukan perempuan biasa, ia terlalu istimewa dan akan tahu lebih dulu sebelum ia beritahu apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya, apa yang ingin dikeluhkannya,
Shane kemudian ganti menoleh ke arah Marthinus,
"Paman, Ibu di London memberitahu jika ada kemungkinan putri terakhir Ruthven lah yang dibangkitkan,"
Kata Shane,
Marthinus mengangguk,
"Benar, agenku sudah memastikannya, jika kabar itu benar, dia keluar dari kastil tua di mana dia dilumpuhkan,"
Shane terdiam sejenak, lalu...
"Obat penawar yang dulu sempat aku cari, mungkinkah ada di sana?"
Tanya Shane bergumam, yang langsung membuat Zizi menoleh ke arah Shane dan menatapnya lekat,
"Bisa saja, besok setelah di sana, kita pastikan."
Tandas Marthinus.
...****************...
__ADS_1