
Flashback,
Terlihat seorang gadis tengah duduk sendirian di pinggir jalan, ia tampak seperti melamun di sana,
Dengan hanya memakai celana pendek di atas lutut dan riasan wajah yang kurang pantas untuk usianya, gadis itu duduk di pinggiran jalan seolah menunggu sesuatu,
Sekian lama waktu berlalu, saat hari semakin malam, gadis yang usianya masih sekitaran anak SMA itu terlihat masih melamun dan tak beranjak sama sekali dari sana,
Ia melamun saja sambil sesekali memandangi kendaraan yang melintas namun pengendaranya tak menghiraukan keberadaannya,
Hingga, dalam keadaannya yang melamun, tiba-tiba seorang gadis lain berjalan mendekat,
Gadis lain itu berjalan terhuyung-huyung sambil bergumam tak jelas,
Gadis berambut panjang yang acak-acakan, memakai seragam OB yang penuh darah, dan juga tak memakai sepatu,
Dan setelah sampai di dekat gadis yang melamun, gadis lain yang baru datang yang tak lain adalah Ajeng itu tanpa basa-basi langsung saja menerjang ke arah si gadis remaja yang ia datangi,
Gadis yang diserang Ajeng secara tiba-tiba karena tengah melamun akhirnya tak sempat melakukan perlawanan, dengan mudah Ajeng menghabisinya lalu menariknya ke lorong yang gelap,
__ADS_1
Setelah puas meminum darah untuk kesekian kali, Ajeng membawa korbannya menuju ke dalam pemukiman warga yang cukup penuh,
Ajeng membawanya dengan cara setengah menyeret, yang kemudian ia meletakkannya di lorong buntu yang diapit dua rumah,
Ajeng sejenak terdiam, ia menatap rumah yang ada di dekat lorong, suasana benar-benar sepi, meskipun hari sebetulnya belum terlalu larut,
Sepertinya para Ibu-ibu yang tinggal di pemukiman tersebut tengah pergi atau semacamnya, hingga di sana seolah tak memperlihatkan ada orang sama sekali,
Ajeng yang matanya memandangi rumah kecil sederhana yang ada di dekat lorong di mana ia membuang korbannya tiba-tiba saja kedua matanya berkaca-kaca,
Jantung di dalam dadanya yang selama ini seolah tak pernah berdetak kini tiba-tiba saja seperti berdetak lagi,
Tirai kaca rumah yang ada di dekat pintu sedikit disingkap oleh sang pemilik, sepertinya memastikan di luar tak ada apapun,
Hingga, Ajeng yang selama ini telah menjadi vampir, entah kenapa kedua kakinya seperti enggan bergerak dari sana, seluruh tubuhnya melemah, menatap rumah yang ada di depannya,
Di dalam rumah, tepatnya seseorang yang menyingkap tirai kaca jendela rumah yang Ajeng pandangi, seketika seperti histeris,
Tampak ia langsung membuka kembali kunci pintu rumahnya, dan iapun terlihat keluar dari rumahnya dengan tergesa,
__ADS_1
"Ajeng... Ajeng anakku..."
Suara itu bergetar, mengiringi langkah sang perempuan yang tampak kurus dan matanya begitu sembab karena beberapa hari terus menangis,
"Ajeng, Ajeng... Anakku..."
Perempuan yang tak lain adalah Ibunya Ajeng itu berlari ke arah Ajeng yang berdiri mematung tak tahu kenapa,
Rasa haus akan darah yang selama ini seolah membuatnya nyaris gila tiba-tiba saja hilang entah ke mana,
Ajeng tergetar, ketika perempuan yang merupakan Ibu kandungnya itu, yang telah melahirkannya itu meraih dirinya ke dalam pelukan,
Apalagi ketika kemudian Ibu menangis di dada Ajeng, seketika jantung di dalam dada Ajeng seperti hendak melompat keluar saking kencangnya berdetak,
"Kau ke mana saja nak? Apa yang terjadi? Ya Tuhan, lihatlah, bajumu penuh darah, kita ke rumah sakit ya, kamu terluka?"
Ibu mengusap lembut wajah Ajeng dan kedua lengan Ajeng, sambil menatapnya dengan penuh kasih serta rasa rindu,
Ajeng merasa seluruh tubuhnya terasa sakit luar biasa, yang kemudian tiba-tiba ia menjadi sangat lemah dan akhirnya tak sadarkan diri.
__ADS_1
...****************...