
Marthinus baru akan meninggalkan wilayah perkampungan di mana Ajeng tinggal,
Dua gadis vampir yang telah babak belur dihajar masa macam pencuri tabung gas diamankan pihak kepolisian ke tempat mereka akan dikarantina agar tak memakan korban lebih banyak lagi,
Marthinus melompat ke atas atap dengan sekali lompatan, membuat warga yang melihat tampak melongo takjub seolah melihat batman,
Marthinus dengan jubah kebesarannya dan juga rambut gondrong ala-ala bintang iklan shampo bergerak menembus pekatnya malam,
Melompat dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain,
Meskipun...
"Heeey, siapa ituuuu?! Maling ya?!"
Suara seperti itu kerap terdengar saat Marthinus melompat-lompat di atas atap rumah orang-orang di negeri ini,
Bahkan tak jarang, ada juga yang sampai memaki-maki karena katanya dialah penyebab atap rumah mereka bocor, membuat genteng melorot dan sebagainya,
Ah sungguh Marthinus yang selama tinggal di London aman-aman saja melompati atap-atap rumah, kali ini, di negri yang penduduknya ramah tamah justeru ia sering kena mental,
Jelas hatinya merasa tidak enak, saat kakinya menginjak atap lalu ada suara krek, dan yang di dalam mengomel harus keluar uang untuk membetulkan atap,
"Dasar kurangajar, hidup lagi susah begini ditambahi pake acara naik-naik atap segala, dikira bayar tukang betulin genteng cukup pake daon hah!!"
Begitulah suara-suara yang diperdengarkan hingga membuat hati Marthinus rasanya tercabik-cabik,
Marthinus, makhluk setengah vampir dan juga lycan itu pun terus bergerak menuju tempat yang akan segera Shane datangi juga,
Shane, telah memintanya agar cepat, karena banyak korban lain ditemukan dan sebagiannya mulai berubah menjadi vampir juga,
Namun...
Tiba-tiba, saat Marthinus sedang fokus melompat-lompat,
Marthinus mengendus aroma yang ia kenali betul milik siapa, yang kemudian membuat Marthinus langsung menghentikan gerakannya,
Marthinus cepat menyapukan pandangan matanya yang setajam silet, ia mengawasi setiap sudut yang gelap, memastikan di sana ada pergerakan yang mencurigakan,
Ya...
Pasti,
Pasti dia bersembunyi di sekitar sini, setelah dia mengelabui ku berada di pemukiman kecil, kali ini aku yakin akan mendapatkannya. Marthinus begitu optimis,
__ADS_1
Ia sungguh yakin akan biss menemukan sosok vampir yang merupakan korban pertama,
Tentu...
Marthinus dan Shane memang harus menemukannya, karena dengan menangkapnya lah, mereka bisa tahu siapa sebetulnya yang menjadikannya korban pertama,
Marthinus terus mengawasi sekitarnya, berharap ada gerakan dari vampir yang telah memakan korban secara serampangan itu,
Hingga...
"Toloooong... To... long... to... long anak saya, to... long,"
Sayup terdengar suara perempuan yang serak dan seperti tercekik,
Marthinus melangkah dengan hati-hati di atas atap rumah yang kali ini adalah rumah kosong tak berpenghuni,
Pasti, di sini dia sembunyi. Batin Marthinus.
Tampak Marthinus pun turun dari atas atap rumah kosong tersebut,
Laki-laki tinggi besar dengan jubah hitam dan berambut gondrong itu lantas memasuki halaman rumah kosong yang kini dipenuhi semak belukar karena lama tak terurus,
Tampak beberapa hantu sedang duduk di sekitar sana,
"Siapa yang bersembunyi di dalam?"
Tanya Marthinus pula kepada mereka,
"Lampir,"
Jawab kuntilanak masih dari atas dahan pohon,
"Lampir mah penunggu gunung Merapi, dodol,"
Omel si pocong,
"Yeee, orang tadi Ibunya nangis katanya kamu kenapa jadi lampir,"
Ujar si kuntilanak kesal pada si pocong,
"Pampiy Maaak... Pampiiiiy..."
Si tuyul tak mau ketinggalan meralat,
__ADS_1
Marthinus yang mendengarkan perdebatan para hantu itu hanya bisa menggelengkan kepalanya,
Memang susah nyatanya bicara dengan mereka, pantas Nyonya Zizi dari dulu darah tinggi terus tiap berurusan dengan hantu,
Marthinus pun akhirnya memutuskan untuk masuk saja ke dalam rumah yang sudah lama kosong dan di sana-sini bangunannya sudah rusak,
Ia tampak melangkah dengan hati-hati, ia begitu siaga dan waspada, seperti warga yang hidup di lereng Gunung berapi yang akan selalu siaga satu dua dan tiga,
"Ke mana kau hah?"
Terdengar suara Marthinus menggeram,
Pelahan semakin ia masuk ke dalam, tubuhnya berubah menjadi Lycan,
Bayangan sosok Marthinus yang terlihat dari luar karena terkena terpaan cahaya lampu jalanan yang ada di dekat rumah kosong membuat Kuntilanak saking kagetnya sampai nyungsep jatuh dari dahan pohon,
"Apa itu tadi? Kenapa ada mahluk musuhnya Ultraman?"
Tanya si Kuntilanak sambil bangkit dari posisinya,
Tuyul yang malah penasaran tampak tak memperdulikan gumaman-gumaman tak jelas dari kuntilanak, ia lebih fokus dengan sosok Marthinus yang begitu keren di matanya,
Ah, andai nanti aku bisa berubah seperti mahluk itu. Batin si tuyul, yang langsung membayangkan ia jadi Lycan namun masih memakai popok,
Hmm tidak! Tidak!
Tuyul menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, ia merasa sangat aneh menjadi Lycan sementara masih memakai popok,
Marthinus sendiri yang kini diperhatikan para hantu dari luar rumah kosong tentu saja tak mau ambil pusing,
Laki-laki itu terlihat serius memegangi tongkat dengan mata peraknya,
Dan...
"Tolong... siapapun toloong... tolong anakku..."
Marthinus kembali mendengar suara yang tadi sempat ia dengar dan membuatnya turun ke sana,
Suara itu seperti suara perempuan paruh baya yang sesak, Marthinus pun segera berjalan cepat ke arah suara,
Dan...
...****************...
__ADS_1