Putri Vampir Terakhir

Putri Vampir Terakhir
42. Penawar


__ADS_3

Nadia terpaku menatap nanar sosok Rosalina Ruthven yang telah membunuh suaminya secara keji,


Rosalina meraih tubuh Nadia, dan dengan mudah ia pun menerkam perempuan itu untuk menikmati darah yang tersisa dari Nadia,


Sudah kuduga, ia bukan manusia biasa, ia istimewa. Batin Rosalina Ruthven,


Setelah puas menikmati darah Nadia dan melihat perempuan itu sekarat, kini Rosalina Ruthven memerintahkan para anak buahnya untuk keluar dari tempat itu,


Namun sayangnya, belum lagi mereka benar-benar keluar, sepasukan Lycan yang dipimpin Marthinus dan Shane telah lebih dulu tiba,


Tentu saja, takdir di mana mereka harus bertemu dan saling berhadapan satu sama lain tak akan bisa terus dihindari, Rosalina Ruthven terbang keluar dan tanpa menunggu lama Marthinus serta Shane pun menyusul menghadapi putri vampir tersebut,


Dalam kegelapan malam, di mana langit malam ini lebih pekat dari malam-malam sebelumnya, tiga mahluk itupun saling menyerang dengan ganas,


Tak ada satupun dari mereka yang akan mundur dari peperangan itu, sama seperti pasukan mereka yang kini saling berhadapan satu sama lain,


Para vampir yang berhadapan dengan Lycan tampak susah payah bertahan dan menyerang, posisi dan juga ukuran tubuh Lycan yang jauh lebih besar membuat para vampir kewalahan,

__ADS_1


Satu persatu para vampir tumbang dan menjadi santapan para Lycan, membuat mereka pesta pora tanpa ampun,


Sementara itu, Marthinus di atas sana melompat dan terus mencoba melumpuhkan Rosalina Ruthven dengan tombak yang ujungnya menggunakan mata perak,


Berkali-kali putri vampir itu sebetulnya terkena senjata mematikan Marthinus, dan telah berkali-kali pula mendapatkan serangan dari Shane, tapi tampaknya ada sesuatu dalam diri Rosalina Ruthven yang mampu membuatnya bertahan,


"Nyonya Nadia, dia masih hidup... dia masih hidup..."


Tiba-tiba terdengar suara seorang anggota Marthinus berteriak, memecah konsentrasi Marthinus dan juga Shane,


Kesempatan itu jelas tak disia-siakan Rosalina Ruthven, ia menerkam Shane dan mendorongnya sekuat tenaga hingga tubuh Shane terhempas ke bangunan gedung tua,


Perempuan vanpir itu tertawa dan dengan sangat cepat ia melesat lalu menghilang tak tahu ke mana,


Marthinus yang berusaha mengejar pun akhirnya mau tidak mau mengakui jika perempuan vampire itu nyatanya benar-benar anak Ruthven,


Kekuatan dan kecepatannya bukanlah kekuatan dan kecepatan vampir biasa, dia jelas bukan mahluk lemah yang seolah tak bisa apa-apa selama dalam pengasingannya,

__ADS_1


"Sial, dia lepas,"


Kata Marthinus dalam keadaan yang benar-benar kesal, tampak Shane mendekat sambil sibuk menyeka hidung serta mulutnya yang keluar cairan semacam darah,


"Dia akan bersembunyi lagi untuk waktu yang lama, bagaimanapun ia sebetulnya juga terluka cukup parah, tidak sedikit waktu yang ia butuhkan untuk kembali pulih Paman,"


ujar Shane, tampak Marthinus pun mengangguk mengiyakan,


"Nyonya Nadia... Tuan, ini Nyonya Nadia,"


Anak buah Marthinus kembali mengingatkan soal Nadia, mereka memang salah satu tujuannya adalah memburu Nadia untuk darahnya bisa ia ambil untuk diminumkan pada Ajeng,


Marthinus pun lantas cepat melesat menuju ke bawah, di mana di sana Ajeng tampak terduduk lemah,


Karena dialah posisi Nadia ditemukan, dan kini ia juga harus segera meminum darah Nadia agar bisa terbebas dari apa yang membelenggunya selama ini,


"Sudah saatnya, biar kubantu,"

__ADS_1


kata Marthinus sambil mengangkat tubuh Ajeng untuk menuju ke tempat Nadia berada.


...****************...


__ADS_2