
Sementara itu, di alam lain, di mana Zizi yang menawarkan dirinya untuk mencari penawar untuk para korban vampir agar bisa kembali menjadi manusia normal kini telah memasuki daerah kekuasaan ular bersisik emas,
Di sana Zizi yang semula sudah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk, ternyata justeru sangat baik disambut oleh para penghuninya,
Tanpa halangan dan kesulitan apapun, Zizi begitu sampai di sana langsung diantarkan ke tempat sang pemimpin yang tinggal di sebuah istana dengan kilau keemasan,
Istana yang begitu megah berlapis emas itu tampak dinding-dindingnya dipenuhi ukiran berbentuk ular besar,
Bahkan bukan hanya itu saja, bagian atap, gerbang utama, hingga penjaga paling depan dan singgasana sang pemimpin juga berbentuk ular besar dengan kilau keemasan,
"Nona Zizi,"
Pemimpin dari daerah kekuasaan ular sisik emas itu terkekeh menyambut Zizi yang terlihat berdiri saja menatapnya,
"Cucu Bandapati, kau sangat mirip dengannya Nona Zizi,"
Kata pemimpin para ular sisik emas pada Zizi yang terlihat hanya melempar senyuman saja,
Tentu ia sudah terbiasa mendengar disamakan dengan Nenek Bandapati, yang dari katanya sama-sama petakilan, sama-sama ditakuti hantu, sama-sama suka ngegas, dan lain-lain,
"Ada apa gerangan kau sampai ke sini Nona Zizi?"
Tanya pemimpin ular sisik emas,
Zizi menganggukkan kepalanya sambil kemudian membawa langkahnya ke depan untuk kemudian berdiri dengan jarak hanya sekian meter saja,
"Mustika ular, aku membutuhkannya untuk membantu para korban agar bisa kembali menjadi manusia normal,"
Kata Zizi,
Mendengar kalimat Zizi yang selalu lugas, tidak bertele-tele, tidak suka basa-bas itu sang pemimpin terkekeh sembari turun dari singgasananya,
Pemimpin yang merupakan sesosok nenek yang memakai kain macam sisik ular dengan warna keemasan itu, yang penampakannya macam orang-orang keraton jaman dahulu, kini berjalan pelan mendekati Zizi,
"Kata siapa mustika itu masih berada di sini?"
Tanya si pemimpin daerah ular sisik emas,
__ADS_1
Zizi tampak membulatkan matanya, sungguh jelas ia merasa telah sia-sia masuk ke alam para ular itu,
"Apa terjadi sesuatu? Mustika itu? Jika tidak ada di sini, lantas di mana sekarang mustika itu tersimpan?"
Tanya Zizi,
Nenek pemimpin kerajaan ular sisik emas kembali terkekeh, suaranya mirip nenek lampir penguasa gunung Merapi,
"Saya tidak tahu, kok tanya saya,"
Jawab si nenek pula menyebalkan, membuat Zizi ingin mendorong si nenek supaya jatuh terpental ke belakang,
tapi...
Oh tidak! Tidak!
Zizi masih ingat di rumah ada anak-anaknya yang menunggunya pulang, jadi untuk kali ini ia akan berusaha bersabar,
Nenek penguasa kerajaan ular sisik emas kemudian menghampiri Zizi,
"Keturunanku dan keturunan Bandapati, mustika itu dicuri mahluk yang menyelinap diam-diam ke tempat ini, telah lama mustika itu tak lagi ada bersama kami, bahkan sesungguhnya kami ingin ada yang bisa mendapatkan mustika itu dan membawanya kembali kemari,"
"Berarti tidak ada lagi penawar untuk para korban vampire jika mustika itu sudah tidak ada,"
Lirih Zizi bergumam,
Nenek penguasa kerajaan ular sisik emas itu tersenyum, meskipun ia tidak begitu paham Zizi sedang mengeluhkan soal apa,
Vampir? Mahluk apa sebetulnya dia? Begitulah kira-kira Nenek penguasa kerajaan ular sisik emas bertanya-tanya.
...****************...
"Awas!"
Shane dengan gerakan secepat kilat melompat ke arah perempuan paruh baya yang nyaris diserang sosok perempuan penuh darah yang baru saja diturunkan dari mobil khusus yang dimiliki polisi,
Shane yang baru keluar dari kantor Polisi dan akan menemui Marthinus yang mengabarkan ia telah sampai di pelataran membawa Ajeng dan Ibunya tiba-tiba saja melihat Ibunya Ajeng hendak diserang vampir baru,
__ADS_1
"Sshhh..."
Vampir baru itu tampak mendesis, ia cukup beringas, terlihat ia menatap nyalang pada Shane dan juga perempuan paruh baya yang merupakan Ibunya Ajeng,
"Jangan sentuh dia!"
Shane cepat menarik Ibunya Ajeng agar berdiri di belakangnya,
Tampak Shane berusaha melindungi Ibunya Ajeng, ia berdiri di sana dalam keadaan siaga,
Vampir perempuan yang berlumuran darah yang terlihat begitu ingin menyerang Ibunya Ajeng itu menyeringai,
"To... tolong Tuan, lindungi saya Tuan,"
Suara Ibunya Ajeng bergetar dari belakang Shane,
Shane yang memang di sana ingin melindungi Ibunya Ajeng menoleh sebentar untuk bermaksud mengiyakan permintaan Ibunya Ajeng,
Namun, tiba-tiba saja,
Vampir perempuan yang berlumuran darah melompat ke arah Shane dan Ibunya Ajeng,
Shane yang terkejut karena serangan mendadak tentu saja cukup gugup menangkis serangan itu,
Tapi,
"Jangan ganggu Ibu!!"
Suara Ajeng terdengar memekik, bersamaan dengan ia meronta dari atas bahu Marthinus dan dengan gerakan yang sangat cepat, Ajeng yang telah menjadi vampir pun melompat menerjang vampir perempuan yang semula akan memangsa Ibunya,
Shane dan Marthinus sejenak terperangah tak percaya,
Keduanya melihat sosok Ajeng yang dengan brutal menyerang vampir perempuan yang penuh darah sekujur tubuhnya,
"Oh anakku... anakku... Ajeng... sudaaah..."
Ibunya Ajeng histeris, begitu dilihatnya Ajeng dan vampir perempuan yang tadi nyaris mencelakainya kini terlihat saling serang dengan cakaran dan gigitan.
__ADS_1
...****************...