Rahasia CEO Dan Sekretarisnya

Rahasia CEO Dan Sekretarisnya
Bab 9


__ADS_3

Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Nabila setia menunggu sahabatnya, Nabila datang lebih awal untu menenangkan hatinya yang gundah akan suatu masalah. Di cafe Ruang Rindu adalah tempat favorit Nabila dan Almira, karena kenyamanan di sana yang menenangkan, bisa membaca buku novel yang telah di sediakan di cafe itu.


Sementara Almira baru saja selesai mandi sekarang dia sedang memakai pakaian, Almira memakai make-up seadanya. Dia tidak suka memakai make up yang tebal. Almira menuju ke cafe dengan mengendarai taxi online yang di pesan sebelumnya, di perjalanan Almira menyempatkan waktu untuk menelepon Nabila.


[Halo, Bil, kamu udah di cafe belum?]


[Udah dari tadi, Al, aku nungguin kamu]


[Maaf, Bil, membuat kamu nunggu, sebentar lagi aku sampai kok]


[Iya, aku tunggu kamu]


[Kalau begitu, tutup telpon dari sini bye]


Almira memutuskan pembicaraan lewat telepon genggamnya, lalu memandang pemandangan jalan yang dilihatnya hanya mobil dan motor yang berseliweran.


Di cafe Ruang Rindu...


“Maaf, Bil, aku telat.” Permintaan maaf yang di ucapkan Almira, ketika datang menemui sahabatnya itu. Almira menggeser kursinya ke belakang supaya dia bisa duduk di sana.


“Gak apa apa, Al.” Nabila memberi senyuman kepada Almira, berarti dia benar benar memaafkan Almira.


“Kamu udah pesan makanan belum, Bil?” Tanya Almira


“Udah, bentar lagi nyampe kok makanannya.” Jawab Nabila


“Kalau begitu aku pesan makanan dulu, pe–”


“Aku udah pesanin buat kamu kok, Al, sekalian.” Nabila memotong ucapan Almira


“Makasih, Bil.”


“Sama sama.”


Beberapa menit kemudian pesanan makanan yang di pesan Nabila untuk dirinya dan sahabatnya sudah datang, mereka pun menyantap makanan itu. Di tengah tengah memakan makanan, Almira mengingat janji sahabatnya.

__ADS_1


“Bil, pas di kantor kamu bilang akan ceritain masalah kamu ke aku.”


Uhuk uhuk


“Bil, kamu minum dulu.”


“Makasil, Al, soal cerita masalah aku, nanti akan aku ceritain setelah makan.”


“Ok, tapi janji ya setelah makan.”


“Iya, Al, aku janji.”


Makanan yang mereka pesan sudah habis, kini mereka akan membayarnya. Nabila memanggil pelayan untuk melihat struktur pembayaran sekalian membayarnya.


“Makasih, untuk pelayanan yang telah di berikan kepada kami berdua,” ungkap Nabila


“Sama sama mbak, jangan lupa mampir kembali, saya permisi pergi dulu mbak,” Nabila mengangguk dan mempersilahkan pelayan itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


”Bil, makasih ya udah traktir aku, padahal aku bawa uang tapi kamu malah bayarin.”


“Gak apa apa, aku kan yang ngajak kamu ke sini.”


“Aku mulai cerita ya, tapi kamu jangan marah marah.”


Nabila mengambil nafas lalu perlahan menghembuskan nya, untuk menenangkan hatinya dan bersiap memulai cerita. “Jadi, aku sedih karena papa dan mama aku jodohin aku dengan anak dari teman bisnisnya papa aku, padahal aku udah punya pacar kamu kan tahu aku dan Ridho saling mencintai,” ucap Nabila menceritakan semua yang sebenarnya tidak ingin di ceritakan kepada orang lain.


“Kamu kan juga tahu Ridho dan kamu itu berbeda keyakinan, benteng kalian itu terlalu tinggi,” Almira memberitahu kenyataan kepada Nabila. “Orang tua kamu juga ingin yang terbaik buat anaknya, salah satu diantara kamu dan Ridho harus ada yang mengalah. Kalau kamu yang harus mengalah berarti kamu harus mengikuti keyakinan Ridho, dan kalau kamu nyuruh Ridho harus mengalah berarti dia harus mengikuti keyakinan kamu, Bil,” Ungkap Nabila.


“Aku jadi semakin sedih, Al, apakah aku harus merebut Ridho dari Tuhannya, atau aku harus pergi meninggalkan Tuhanku dan menikah dengan Ridho dengan cara menikah sesuai agamanya.”


Memang Nabila orang nya bucin, Nabila dan Ridho di pertemukan di kampus. Ridho dan Nabila satu jurusan, orang tua Nabila dan Ridho memang seorang pembisnis jadi mereka harus meneruskan perusahaan. Awalnya Nabila berteman dengan Ridho karena se frekuensi, terus Nabila menganggap Ridho sebagai kakak angkat nya.


Lama kelamaan Nabila terbawa arus terlalu dalam dan melampaui batas perasaannya, Nabila pun yang pertama menyatakan cinta. Memang dari awal Ridho sudah memberitahu Nabila tentang kenyataan.


Flash Back on...

__ADS_1


“Bil, memang aku sangat mencintai kamu akan tetapi, ada penghalang yang tidak bisa mempersatukan kita berdua,” ucap Ridho sambil menggenggam kedua tangan Nabila.


“Tapi kamu menerima aku kan kalau aku jadi pacar kamu,” ucap Nabila dengan penuh harapan.


“Untuk pacaran saja ya, Bil, kalau kamu ingin menikah dengan yang seiman atau sebaliknya aku akan menikah dengan orang yang seiman denganku, kita harus saling mengikhlaskan,” ucap Ridho memberitahu konsekuensinya untuk masa depan.


Flash Back of...


“Al, memang gak ada cara lain selain harus ada yang mengalah?”


“Aku gak tahu cara lain untuk mempersatukan kamu dan Ridho. Aku pulang duluan ya, Bil, makasih untuk traktirannya,” Setelah itu Almira pergi duluan meninggalkan cafe itu.


[Halo, Rid Kamu belum tidur kan, tolong jemput aku di cafe Ruang Rindu] Nabila berbicara dengan Ridho di sambungan telepon.


[Belum kok, aku lagi bareng teman teman aku tunggu aku bentar lagi aku sampai ke sana] Balas Ridho


Ridho pun meninggalkan tongkrongan yang selalu ia kunjungi bareng teman temannya, Ridho tipe sayang kepada semua wanita, apalagi Nabila yang sekarang ada di luar rumah malam malam lagi membuat Ridho semakin khawatir.


Sesampainya di depan cafe Ridho menelepon Nabila untuk tahu dimana dia berada.


[Bil, kamu meja no berapa? aku sekarang ada di depan cafe yang sedang kamu datangi]


[Kamu gak usah masuk, aku aja yang ke sana. Aku juga udah gak ada urusan lagi kok]


[Ya udah aku tunggu] Riho pun memutus sambungan telepon.


Nabila yang sudah berhadapan dengan Ridho, langsung memeluk Ridho erat erat. “Bil, kamu kenapa? ceritain ke aku ada masalah apa?” tanya Ridho ke Nabila


“Rid..hiks..hiks.. Jangan lepasin aku, aku mau peluk kamu sebentar aja,” ucap Nabila dengan tangisan yang tidak bisa ia tahan lagi.


“Ok, aku gak akan lepasin kamu sampai kamu merasa lega, tapi jangan nangis, Bil, jangan bikin aku merasa penasaran dan menagih kamu untuk bercerita,” Ridho pasrah akan perlakuan kekasihnya itu, Ridho hanya mengusap rambut lembut dan wanginya Nabila.


Beberapa menit kemudian handphone Nabila berdering, tanda ada yang menelpon dirinya. Nabila tidak menjawab panggilan telepon itu, tetapi Ridho menyuruh Nabila untuk mengangkatnya. Kata Ridho mungkin itu ada hal penting sampai sampai menelepon Nabila.


[Halo] ucap Nabila dengan suara serak

__ADS_1


[Bil, kamu abis nangis? sekarang kamu udah pulang belum? maaf aku ninggalin kamu tadi sendirian di cafe]


[Iya aku abis nangis, aku di jemput Ridho kok, gak apa apa, Bil,] Nabila memutuskan sambungan telepon.


__ADS_2