
Grace tengah berlari kesetiap sudut sekolah, namun tidak menemukan keberadaan kekasihnya. Pun saat ini, kekasihnya itu susah sekali untuk dihubungi. Padahal sebelumnya Grace sudah menegaskan padanya bahwa hari ini dia akan memberikan flashdisk berisikan video tentang kebrengsekannya bersama Tiara.
Jika dilihat dengan keadaannya saat ini, Grace terlihat sangat menyedihkan, sebagian dari dirinya tertawa miris, dan sebagian lagi tertawa terbahak-bahak menyaksikan dirinya sendiri seperti orang bodoh. Sudah jelas-jelas dikhianati tetapi malah membantunya menyingkirkan bukti itu.
Tanpa berpikir panjang, Grace memutuskan untuk mendatangi kediaman Sean. Dan sialnya, disana hanya ada para pekerja rumah. Namun Grace memilih untuk menghabiskan waktu menunggu Sean datang.
Rumah Sean dan segala isinya tidak begitu membosankan, pun dia sendiri sudah dianggap seperti orang dalam yang memang berada disana. Keluarga Sean dan Grace memang sangat dekat, bahkan rasanya masa depan mereka pun sudah direncanakan oleh keluarga agar terus bersama. Grace tidak terlalu memperdulikan itu, perannya menjadi anak baik akan selalu dijalani. Karena menurutnya, dia akan mendapat keuntungan dan sama sekali tidak dirugikan.
Dua puluh menit berlalu namun tanda-tanda kedatangan Sean belum juga muncul, Grace memutuskan untuk ke kamar Sean -tempat dimana biasanya mereka bergerumul menghabiskan malam bersama. Gadis itu membaca buku miliknya yang memang sudah berada di kamar itu, setelah bosan, ia beralih bermain game milik Sean. Menyantap habis waktu sampai matahari terbenam.
Setelah merasa kenyang dengan rasa bosan, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, merentangkan kedua tangannya, menghirup aroma ruangan yang terasa harum khas Sean. Pikirannya berkelana memikirkan dirinya sendiri dan seisi dunianya, terlintas semua kenangan manis dimana dia terlalu mencintai, dibuat mabuk oleh harapan dan ekspetasi yang tinggi. Menggilai dan penuh tawa, semua kegilaan yang manis. Saat-saat yang tak dapat terulang, terbuang bahkan ketika dia tak pernah membuangnya.
Lalu pikirannya kembali teringat pada pesan yang ia terima saat disekolah. Grace bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana orang itu tahu jika flashdisk itu ada padanya. Grace tahu, ini bukan main-main tapi Grace tidak tahu, sejauh mana orang itu mengetahui tentangnya dan kelompoknya. Sampai saat ini belum ada bukti yang jelas, tapi setidaknya dia tidak akan termakan hanya dengan ancaman. Grace sudah merancang plotnya sendiri didalam kepala. Terutama dengan bukti yang ada ditangannya, jika ada yang tahu pasti akan berbahaya.
Saat kepalanya masih berkecamuk dengan masalah-masalah hidupnya, terdengar suara derap kaki melangkah, seketika senyuman Grace merekah. Namun dia buru-buru mengontrol kembali wajahnya agar terlihat tenang seolah tak peduli seperti biasanya. Padahal kenyatannya dia senang Sean kembali, sekalipun ada rasa kesal yang menyelimuti karena menunggu terlalu lama. Grace hanya perlu memasang wajah kecewa, kesal dan marah, berharap sebuah pelukan dari Sean di dapatkan disertai Sean yang merayunya dengan manis. Grace rasa dia membutuhkan itu. Lamunannya tadi membawanya pada kerinduan saat-saat seperti itu. Rindu sekali.
Pintu terbuka dan Grace segera mengontrol raut wajahnya. Namun semua rencananya berantakan hingga wajahnya tak perlu berpura-pura lagi. Nafasnya kian memberat, menahan sesak didalam dada ketika melihat apa yang ada di depannya. Semua sudah cukup untuk membuat rautnya lebih buruk dari yang sebelumnya dia siapkan. Sean dengan Emeli yang sedang berciuman seakan saling memakan bibir mereka. Tangan Emeli yang mencengkram rambut Sean, meremasnya dengan sensual. Jangan lupakan bagaimana Emeli yang dengan sengaja menekan-nekan tubuhnya, atau mungkin lebih tepatnya keduanya. Terlihat sekali Sean terangsang hebat.
"Brengsek!"
Sean dan Emeli berhenti seketika. Wajah Sean melongo dan tubuhnya menegang mendapati kekasihnya sendiri di dalam kamar. Emeli sama kagetnya namun wajah gadis itu sangat menyebalkan karena terlihat sekali rasa tenang dan bangga. Tersirat jelas menertawakan Grace karena terang-terangan kekasihnya itu bercumbu dengannya.
"Emeli, kau pulang sekarang."
Kening Emeli berkerut terlihat tidak suka dan tidak terima. Tapi dia tidak membantah itu, karena percuma. Apalagi melihat wajah Sean yang terlihat sangat serius sekali. Dia berdecih kesal melihat bagaimana Sean dibutakan cinta pada Grace. Padahal jelas-jelas dia yang lebih pantas untuk Sean. Daripada menambah masalah dan membuat Sean meninggalkan dia selamanya, Emeli lebih memilih menyingkir. Lagipula supir keluarga Sean akan mengantarnya, dan ya! dia sudah puas sekali atas apa yang barusan terjadi. Rasakan itu Grace! Makinya dalam hati.
Grace sendiri masih tidak mengerti mengapa dia tetap berdiri di sana membiarkan Sean mengusir Emeli dan kemudian bersikap seolah dirinya lah yang paling utama. Seolah Sean adalah segalanya. Padahal yang jelas terlihat tidak seperti itu. Entah siapa yang bodoh dan juga gila di sana, dirinya atau Sean.
__ADS_1
Pun dia kembali menertawakan dirinya sendiri karena memang kenyataannya dia tak bisa kemana-mana. Tetap berdiri di sana dan merasa direndahkan ketika menemukan pacarnya bercumbu di depan mata. Seperti yang sebelumnya Grace tegaskan. Ambisinya sebanding atas apa yang harus dia lakukan, termasuk saat ini. Harusnya Grace sudah menampar Sean dengan keras dan lalu menendang kaki Emeli sampai gadis itu rubuh. Seraya menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan perlahan untuk menenangkan diri, Grace mengambil flashdisk dari kantungnya dan menyerahkan pada Sean. "Sesuai janji."
Sean terdiam sesaat dan lalu mengambil itu.
"Singkirkan itu. Jangan sampai ada barang bukti apapun yang tersisa sampai kau bisa terlibat dalam semua ini," jelas Grace.
Sean tersenyum simpul. "Terima kasih. Kau benar-benar wanita hebat. Tepat seperti apa yang kau katakan tentang selalu memihakku."
Sean mendekat dan menarik Grace ke dalam pelukannya, berniat melingkarkan lengannya di pinggang kecil Grace. Tapi wanita itu segera mundur, menghindari Sean dengan sigap. Sean terdiam bertanya-tanya sementara Grace menatapnya dengan datar namun tatapannya mematikan dan mengintimidasi.
Pun Sean menghela napas seolah mengerti sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Kau marah tentang tadi? Oke aku minta maaf. Tapi bukankah kau sendiri sudah tahu tentang aku dan Emeli. Jangan seperti ini, Grace."
Grace mengerutkan keningnya karena ucapan Sean "Lalu kalau aku tahu, kau membenarkan hal itu? Melakukannya berkali-kali dan bahkan di depanku? Membiarkanku melihat hal menjijikan itu langsung? Wah!, apa kau lupa kalau kau ini pacarku?"
Sean mendengus. "Iya, aku memang pacarmu. Aku mencintaimu dengan sangat. Tapi yang ingin aku tanyakan, apa kau pernah benar-benar mencintaiku?"
"Ya tentu aku tahu. Semua orang tahu bagaimana idealnya kita dan juga bagaimana gilanya hubungan kita. Bagaimana perasaanku sesungguhnya padamu. Aku satu-satunya yang mencintaimu."
Rahang Grace mengeras dan jemarinya meremas kencang sampai telapaknya tertusuk kuku-kukunya sendiri, sakit sekali. Tapi tentu tidak sesakit apa yang dia rasakan dalam hatinya saat ini. Matanya berkaca-kaca. Lelah dengan semua ini.
"Bukankah harusnya kau yang paling tahu tentang perasaanku, Sean? Kenapa kau malah membawa orang-orang? Kenapa kau mendengar mereka? Aku kira kau berbeda." Grace menarik napasnya dalam-dalam. Mencari oksigen untuk dipasok agar air matanya tak keluar. Menahan sekuat hati.
"Kau pikir untuk apa aku selalu di sampingmu? Kau pikir untuk apa aku selalu membantumu? Membereskan semua yang kau lakukan, Selalu percaya padamu, Tetap bertahan denganmu"
"Grace, bukankah ini sudah rahasia umum antara kelompok kita atau mungkin ruang lingkup yang lebih dari itu? Semua demi mengontrol kekuasaan keluargamu." Ini pertama kalinya Sean mengungkapkan semuanya secara gamblang. Ia lelah selalu diam saja, merasa seperti orang bodoh yang mengalami cinta satu arah.
Grace menutup wajahnya. Ia tertawa terbahak-bahak namun jelas air matanya mengalir. Membuat Sean kebingungan dan bertanya-tanya. Namun beberapa saat kemudian Grace menatap Sean kembali dengan senyuman seolah Sean telah mengatakan lelucon yang paling lucu sedunia.
__ADS_1
"Kau benar, Sean. Bagus jika kau menyadarinya. Tapi apa kau pernah berpikir tentang hal lain? Untuk apa selama ini aku selalu bertahan? Itu karena aku begitu mencintaimu. Apa pernah kau berpikir? sejauh apapun aku pergi, aku akan selalu kembali padamu. Apa pernah kau berpikir? mengapa dengan bodohnya aku selalu membiarkan kau dan Emeli melalukan apapun dibelakangku! Membiarkan perasaanku tenggelam dalam rasa cemburu dan sakit hati, karena apa? Karena kenyataannya aku -Grace Harmon- lebih dikuasai oleh perasaan jika berhubungan denganmu. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin cemburu padamu! Aku tidakk ingin mencintaimu!."
Sean membeku seketika. "S-sejak kapan kau mencintaiku?"
Dan kembali lagi rasanya Grace ingin tertawa terbahak-bahak. Lebih parah dari sebelumnya. "Kau memberi pertanyaan yang salah Sean, harusnya kau bertanya sejak kapan aku berusaha tidak mencintaimu. Dan jawabannya adalah sejak kau selalu bercumbu dengan wnaita lain. Mencari kesenangan dari si j*lang itu dan beranggapan kalau aku tak pernah mencintaimu. Lalu pada akhirnya, kau membuatku seolah yang bersalah. Semua orang mungkin berfikir Grace menyia-nyiakan cinta seorang Sean sampai kau harus mencari kesenangan dari orang lain. Lalu kau tetap jadi yang diagungkan dengan segala kesedihanmu karena bagaimanapun yang orang lain tahu, kau tetap mencintaiku dan bertahan padaku.!"
"Itu memuakkan Sean!. Karena kenyataannya disini aku yang terluka! Aku yang harus menyaksikan kau bersama Emeli. Dan jangan lupakan juga kau yang bercumbu dengan Tiara, dan entah siapa lagi."
Sean mengacak-acak rambutnya frustasi. Berusaha mendekat pada Grace tapi gadis itu kembali mundur selangkah dengan tenang. "Aku harus pulang."
"Grace-"
"Aku tidak bisa berhadapan denganmu saat-saat seperti ini. Aku butuh waktu untuk istirahat."
"Kau bisa istirahat di sini seperti biasa. Maafkan aku. Aku... mari kita bicarakan ini."
Grace menggeleng. "Kau bisa menelpon Emeli jika butuh teman tidur. Dia pasti datang."
Grace ikut menggeleng dengan lemah. Matanya menatap sendu berkaca-kaca. "Tidak. Ku mohon. Kau yang aku inginkan. Aku mencintaimu," ujarnya lemah.
Grace sudah susah payah menghentikan tangisnya walaupun tidak berhasil total, dia tak ingin menangis tersedu-sedu dan mengeluarkan banyak air mata lagi. "Kenapa kau selalu seperti ini, Sean? Kau selalu menempatkan diriku seolah aku yang salah."
"Grace..."
"Aku harus pulang. Beri aku waktu. Tenang saja, Sean. Besok pagi semua akan kembali seperti sedia kala. Tapi ku mohon, biarkan aku pergi saat ini"
Sean terdiam, membiarkan Grace pergi dengan berat hati. Memandang punggung kekasihnya itu menjauh.
__ADS_1