
Anya, gadis berdarah campuran Jepang dan Korea itu menatap sahabatnya dengan miris. Mungkin dia sama kacaunya dengan Emeli saat ini, mengingat apa yang terjadi pada dirinya dan Abel. Dia bahkan belum sempat mendapatkan pria itu sama sekali. Sedangkan Emeli rasanya lebih dari dirinya.
"Aku tidak tahu mana yang lebih sialan dari Tiara dan Grace" gumam Emeli frustasi dan penuh kebencian. Meneguk minuman beralkohol di meja sebanyak-banyaknya. Dia telah masuk dalam kategori mabuk namun tidak kehilangan seluruh kesadarannya. Tapi jelas Emeli sangat kacau saat ini. Matanya terlihat bengkak habis menangis dan meraung kacau.
"Jal*ng itu bahkan menggoda Sean juga! Dia pantas memang mati. Sebelumnya aku tak ada masalah dengan si jal*ng munafik dan muka dua itu, tapi ternyata dia sungguh lebih dari seorang jal*ng. Setidaknya Grace lebih pantas menjadi lawanku!" cerocos Emeli dan kembali meneguk minumanya. Tiara dan Video yang tersebar disekolah itu benar-benar menghancurkannya.
Sean memang gila. Entah harus dengan apa membuat pria itu puas dengan birahinya.
"Ya, dia pantas mati. Aku masih ingat jelas bagaimana dia selalu bertingkah seolah membantuku bersama Abel, namun akhirnya dia yang berakhir bersama Abel," sambung Anya dan meneguk minumannya.
__ADS_1
Emeli terdiam dan menoleh pada Anya. Menatap gadis itu dengan rasa curiga. "Anya katakan, apa kau yang membunuh Tiara?"
Anya terdiam beberapa saat sampai pada akhirnya tersenyum. "Aku tidak tahu bagaimana bisa kau mengatakan itu. Tapi di sisi lain, aku juga mengerti kita semua mungkin punya sebuah motif. Tapi, kalau aku jawab tidak, apa akan menghilangkan kecurigaanmu?"
Emeli tak menjawab karena mereka berdua sama-sama tahu jawabannya. "Aku berani bertaruh, kau juga pasti mengira aku membunuhnya?" tanya Emeli balik.
Dan mereka berdua tertawa bersama, bersamaan dengan ponsel Emeli yang berbunyi. Dia melirik dan mendapatkan pesan dari email tak dikenal. Kali ini tak membuatnya takut sama sekali-berbeda dari sebelumnya.
'Congrats! You got one ticket! Kau dapat menggunakannya untuk menyelamatkan dirimu atau siapapun dalam permainan ini."
__ADS_1
Dari peneror itu. Emeli tahu bahwa permainan itu tidak dapat dihindari, persis ketika saat melihat Grace yang datang menemui Sean saat Emeli tengah bersamanya. Dia menguping tentang video dalam flashdisk yang dibicarakan Sean dan Grace. Karena sebelum Grace datang saat itu, dia telah terlebih dulu mendapatkan pesan untuk mengambil rekaman itu.
Awalnya dia berusaha mengabaikannya. Namun ketika mendengar dan melihat langsung apa yang terjadi, Emeli tahu bahwa dia harus menyusun rencana dan tidak bisa diam saja dalam permainan ini. Siapapun yang sedang meneror mereka, benar-benar mengawasi dengan begitu dalam.
Saat itu, saat Sean mengusirnya, sebenarnya Emeli tidak pergi kemanapun. Dia bersembunyi di sana sampai Grace benar-benar pergi. Lalu saat Grace pergi, dia datang dan kembali menenangkan Sean seperti biasanya. Dan Sean selalu saja terlihat lemah dan kacau ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungannya bersama Grace, dan di sanalah tempat Emeli menelusup. Sama seperti hari itu.
Sean tak mungkin dapat menolak Emeli karena keserakahan dirinya. Maka kembali lagi mereka berakhir di kasur. Sean meluapkan segala kemarahan padanya melalui afeksi gairah. Emeli menyukai itu.
Dan ketika Sean terlelap, Emeli menyalin isi rekaman itu lalu mengirim pada si peneror tersebut.
__ADS_1