
Sinar mentari yang lolos dari sela-sela kamar menjadi alarm pagi bagi Abel saat ini, terbangun tanpa menemukan Grace sama sekali di atas ranjangnya. Dia hanya bisa tersenyum sendu dan pasrah dengan keadaan. Sedih karena kembali pada kenyataan yang tetap tak berjalan dari tempat sebelumnya. Tapi setidaknya menurut dia semalam itu begitu indah. Tidur sambil saling berpelukan sekalipun hanya mengusak di leher dan rambut yang dimainkan. Tapi itu seperti surga untuk dirinya.
Sementara disisi lain Grace sudah berjalan di koridor sekolah dengan buku-buku yang dia pegang. Tatanan rambut yang sengaja dibuat sedikit berantakan setiap dirinya menyisir dengan jemari lalu menatap intens. Terlihat seduktif. Dia kembali lagi harus berperan sebagai Grace dari keluarga Harmon yang juga anak walikota. Dia tak masalah dengan hal itu. Tidak juga membuatnya seperti sebuah tekanan.
Beberapa orang menyapa, Grace membalas dengan senyuman manis dan lambaian tangan walaupun tidak cukup lama. Gadis itu benar-benar menyukai bagaimana setengah orang yang menatapnya tidak suka tapi disisi lain juga berharap menjadi dirinya atau dekat dengannya tanpa disadari. Grace suka menjadi nomor satu. Sekalipun dia bisa terbilang introvert, tapi dia suka menjadi pusat perhatian ataupun dipuja. Tentu dia juga akan mengharagai orang lain seperti bagaimana orang-orang itu menghargainya.
Tungkainya melangkah mencari keberadaan Karin agar semakin menjadi ikonik saat bersama. Atau lebih bagus kalau Sean yang dia temukan. Semakin membuat citra luar biasa. Tepat seperti yang dia katakan pada Sean sebelumnya, beri dia waktu maka semuanya akan kembali membaik.
Setidaknya baik sebelum layar Lcd sekolah menampakan video dalam flashdisk yang kemarin malam dia berikan pada Sean.
Grace terdiam seketika bersamaan dengan sebuah pesan masuk.
"Sudah kubilang berikan padaku atau kau akan menyesal, bukan?"
Grace membeku ketika video yang berusaha dia singkirkan terputar di beberapa layar sekolah. Dipastikan orang-orang yang tadi berlalu-lalang di koridor atau sibuk dengan dunia mereka sendiri, berbincang atau saling bercumbu antar pasangan, sekarang telah memberikan atensi penuh pada dirinya. Lebih dari sebelumnya.
__ADS_1
Bisik-bisik terdengar begitu jelas karena dilakukan secara bersamaan atau memang mereka tak berniat berbisik. Terkejut dicampur tatapan iba yang benar-benar kasihan atau mengasihani yang tersirat diwajah orang-orang yang menatapnya, bahkan terlihat seperti hinaan tentang betapa bodohnya Grace selama ini.
Hubungan Grace dan Sean memang dibilang seperti figur sempurna. Cocok dan ideal. Walaupun hampir seluruh dari mereka juga tahu bagaimana Emeli mendamba Sean dan gosip tentang hubungan mereka yang bisa dibilang melenceng. Juga jangan lupakan bagaimana gosip tentang Abel yang kerap dikatakan hatinya dibutakan oleh Grace karena dari dulu tak berubah, masih selalu dengan gadis yang sama yang dia inginkan. Tapi di sisi lain mereka tidak pernah benar-benar melihat dengan jelas. Tidak ada bukti berlebihan tentang Sean dan Emeli seperti yang digosipkan. Tidak juga ada bukti tentang kemajuan hubungan Grace dan Abel. Yang ada malahan kabar kalau Abel berpacaran dengan Tiara waktu itu. Berita yang cukup mengejutkan mengingat bagaimana Anya mati-matian mendekati Abel namun tak ada hasil dan malah berakhir bersama Tiara.
Namun hari ini video yang tengah terputar menjadi bukti jelas dan terpampang nyata, bagaimana Sean dan Jeff bergantian memegang kamera untuk merekam kegiatan menyenangkan yang kelewat brengsek. Dua pria menawan yang terkenal bersahabat ini benar-benar selalu bersama bahkan ketika bercinta. Yang mengejutkan bagi mereka adalah wanita itu bahkan bukan Emeli melainkan Tiara, gadis yang mereka ketahui hanya tertarik pada Abel dan masih menyandang sebagai kekasih Abel pada saat itu.
Terkihat jarum suntik dan beberapa serbuk bercecer di meja, obat penenang yang digunakan untuk maksud tertentu. Mereka bersenang-senang dikamar hotel dengan minuman alkohol mahal. Bergantian melakukan hubungan intim. Benar-benar gila! Des*han dan erangan nikmat terdengar. Juga sedikit kekasaran yang malah memacu pegulatan mereka bertiga. Tawa bahagia diiringi napas terengah. Pelepasan yang dikeluarkan di atas tubuh Tiara. Lalu berbaring dan bermain-main dibawah selimut tanpa sehelai benangpun.
"Mana yang lebih hebat, aku atau Sean?" tanya Jeff menggoda seolah membutuhkan pengakuan atas dirinya. Seperti biasa, dia menyukai hal dominan. Licik sekali.
"Tentu saja aku Jeff Benarkan, Baby?" tanya Sean sambil mencium bibir Tiara.
"Kalian berdua luar biasa. Sangat luar biasa. Aku menyukainya. Ini nikmat sekali," jawab Tiara sambil terkekeh.
"Apa Abel tak sehebat ini?"
__ADS_1
Raut wajah Tiara langsung berubah. Memutar bola matanya. "Abel itu kadang berubah jadi sialan. Semua tahu kalau yang dia inginkan si jal*ng Grace"
"Hei, jaga bicaramu! Dia itu kekasihku. Aku mencintainya. Kesayanganku!" Sean mengangkat satu tangan memberi ultimatum.
Tiara tertawa. Memainkan ujung jari kakinya di tubuh Sean, menggoda. "Ya, karena itu aku melakukannya denganmu. Sangat menyenangkan bisa mengambil apa yang Grace miliki. Dia gadis yang beruntung tapi juga bodoh secara bersamaan."
Sean terkekeh. "Percuma, Grace tidak mencintaiku."
Tiara malah membalas terkekeh, seolah apa yang dikatakan Sean adalah lelucon paling lucu. "Tapi setidaknya kau satu-satunya yang dia pertahankan mati-matian."
Jeff yang merasa sedari tadi hanya menjadi penonton akhirnya menggelengkan kepala. Menganggap apa yang di depannya ini adalah tontonan terseru. Terutama ketika membicarakan tentang Grace. "Dengar Tiara, kau harus berhati-hati dengan Grace. Kau membuat masalah dengannya? Dia akan membuatmu menderita sepenuhnya."
Jeff terdiam sesaat lalu tersenyum asimetris. "Grace di luar mungkin tipe gadis manis kesayangan kota. Kesayangan ayahnya si walikota-mayor. Tapi kalau dia bilang akan membunuhmu, dia benar-benar akan membunuhmu," sambung Jeff. Terlihat sekali dia benar-benar mengetahui banyak hal tentang Grace.
Tiara mengangguk. "Anak yang baik. Sangat baik. Tapi kadang aku kasihan padanya, karena dia seperti boneka bagi Ayahnya. Bahkan dia harus menutupi dan melupakan kenyataan kalau sebenarnya ibunya mati bunuh diri."
__ADS_1
Grace memejamkan mata. Berusaha untuk tidak menangis sekalipun lututnya gemetar, lemas bukan main. Dia sudah melihat isi video itu sekali sebelumnya, tapi rasanya masih sama. Menyakitkan. Dan saat itu Grace menangis dengan terisak sampai rasanya air mata dan suaranya habis. Entah mana yang lebih buruk karena yang berada di sana adalah kekasihnya. Dan jelas sekarang orang-orang sedang membicarakannya. Membicarakan dirinya yang di khianati. Grace tidak suka dengan perasaan di mana dia merasa seakan direndahkan seperti saat ini.
Namun alasan yang tidak paling dia inginkan adalah ketika orang lain melihat ini semua, rahasia yang ingin ia tutupi terkuak secara terang-terangan. Rasanya saat ini dia ingin segera pergi dari sana, berlari dan menangis tersedu-sedu, tapi itu akan semakin membuat dirinya malu. Grace kehilangan arah saat ini. Entah dia harus melakukan apa.