
Kilat dan petir menggelegar terdengar dari luar sampai kedalam. Namun itu tak mengagetkan pria bernama lengkap Jeffano yang tengah duduk di sofa apartemennya dengan sedikit membungkuk dan kaki terbuka. Menggenggam kaleng bir di tangannya yang sudah diminum setengah. Matanya menatap televisi dengan pandangan begitu tajam dan mengintimidasi. Jelas sekali tak menonton sama sekali tayangan yang ada di sana. Pikirannya lari ke tempat lain sambil memutar-mutar perlahan kaleng birnya.
Jika tatapan bisa membunuh, Jeff sudah pasti menjadi alasan utamanya saat ini.
Kematian Tiara bukanlah hal aneh lagi yang menjadi bahan perbincang kota Shadowfalls Namun lain hal untuknya dan juga teman-temannya, itu terlalu mengusik pikiran. Terutama untuk dirinya sendiri. Terlebih lagi ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponsel yang dia letakkan begitu saja disofa karena muak sekali dengan isinya.
Pesan yang membuat rahangnya mengeras dan terdiam penuh amarah dengan tatapan menyeramkan. Kesal dan ingin memaki siapa pengirimnya. Sebuah pesan dengan isi;
"Aku tahu apa yang kamu lakukan. Yang benar-benar jahat adalah kamu, Jeffano"
Brengsek! Kalu saja Jeff tahu siapa pengirimnya, dia pasti sudah akan memberikan pukulan sampai orang itu jatuh ter jembab tak berdaya. Bahkan mati sekalian.
Bunyi bel mengakhiri emosinya sendiri. Mendengar itu, dia buru-buru bangkit. Tergesa-gesa seperti sudah menantikan kedatangan seseorang dari tadi. Ia beranjak dari duduknya, segera membuka pintu dan menemukan sesosok wanita dengan tubuh yang basah kuyub sehabis menerobos hujan. Wanita itu bahkan tak takut sama sekali dengan petir yang menggelegar begitu ganas. Atau sebenarnya dia takut, namun tak ada pilihan.
"J-jeff, boleh aku masuk? Dingin sekali," ujar wanita itu gemetar sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Rambutnya tentu sudah basah total.
Raut wajah Jeff langsung berubah menjadi sebuah senyuman yang sulit diartikan. Terkesan lembut namun bisa berbeda kalau terus-terusan melihat dengan teliti.
"Masuklah, aku sudah menunggu dari tadi, Rabella"
...----------------...
Grace berdecak kesal karena hujan yang begitu deras. Dia suka hujan, namun tidak suka kehujanan. Tentu dia sama sekali tak kehujanan karna berada di dalam mobil. Masalahnya adalah menyetir menerobos hujan dengan petir menggelegar di tengah malam bukan hal yang baik. Setelah memarkirkan mobil dengan asal di depan rumah, dia segera keluar. Tubuhnya tak basah karna benar-benar berhenti di depan rumah. Hanya terkena sedikit tetesan air.
__ADS_1
Bergegas ia masuk ke dalam pintu utama rumah, sambil melepas jaket parka coklat panjangnya. Melewati ruang tengah dan mendapati sang kakak yang sudah menunggu kedatangannya, duduk dengan tenang sambil kedua tangan di rentangkan nyaman di bahu sofa. Ia menoleh menatap Grace dan memberikan senyuman teduh penuh kasih sayang.
"Kenapa menelponku terus-menerus, Gery?" tanya Grace tanpa basa-basi. Langsung mendaratkan bokongnya di sofa setelah Gery menepuk-nepuk tempat yang berada di sampingnya.
"Bagaimana dengan Sean?" tanya Gery langsung tepat pada sasaran.
Grace menghela napas berat. Bersandar pada sofa sambil mendongak ke langit-langit. Memejamkan matanya sesaat kentara sekali begitu lelah. Banyak hal- yang harus dia lakukan dan dia hadapi. Gery hanya memandang adiknya itu dalam diam. Mengerti jelas apa saja yang dipikul pada kedua bahu itu. Beberapa saat kemudian Grace membuka mata. Menatap Gery dan menyingkirkan wajah lelahnya dengan sebuah senyuman angkuh.
"Tentu saja semua sudah beres."
"Kau masih bersamanya?"
"Ya" Grace mengangguk pasti. Tak ingin Gery ragu akan hal itu. "Tenang saja, aku tidak akan pernah melepaskannya. Seperti yang diinginkan Ayah kan?"
Semua hal harus dilakukan agar tak menimbulkan keraguan saat pergantian mayor. Tuan Harmon sudah menjadi mayor begitu lama dan banyak keuntungan yang mereka dapatkan. Maka dari itu mereka akan tetap mempertahankan semuanya. Dan rela melakukan apa saja. Namun kematian Tiara adalah salah-satu masalah yang cukup berat bagi mereka, mengingat para penduduk menjadi was-was karena pembunuhan itu, takut dan merasa terteror sekalipun dalam hening.
Dan di sanalah Grace berada. Termasuk alasan mengapa dia harus selalu berada di sisi Sean apapun yang terjadi. Itu karena keluarga Sean adalah keluarga yang cukup berpengaruh. Dukungan dari keluarga Sean sangat penting untuk kekuasaan tetap Ayahnya. Seperti kampanye ataupun sponsor lainnya. Oleh karena itu Grace harus selalu menjadi kekasih Sean sekalipun dia tahu Emeli berkali-kali berusaha masuk ke dalam celana pacarnya itu. Walaupun dia harus menyelesaikan segala masalah yang terjadi seputar kelakuan Sean atau apapun itu. Namun begitulah perannya menjadi bagian dari keluarga Harmon.
Begitupun Gery dengan beberapa hal yang dilakukan bersama Ayahnya. Pria itu harus menjadi figur sempurna untuk keramahan dan kesahajaan. Mereka memiliki ranah tersendiri, Gery di kalangan kantor atau sekitar, sedangkan Grace bersama para remaja yang ada, meminimalisir skandal yang dapat membuat penduduk merasa terancam dan ketakutan hingga meragukan kepemimpinan sang Ayah.
Shadowfall bukan kota besar, tapi segala yang mereka miliki berasal dan ada di sana. Maka mereka harus mengontrol dan mempertahankannya.
"Kau selalu jadi gadis kecil yang baik untuk ayah." Gery tersenyum dan membelai rambut Grace. Memberikan kasih sayang dan kebanggan pada adiknya itu. Grace yang selalu menjadi adik kecilnya.
__ADS_1
Grace tersenyum tenang namun tak ada perubahan dari raut wajahnya. "Tentu saja," jawabnya enteng seolah itu bukanlah hal berat.
Grace tersenyum. Tapi kali ini tatapan teduhnya telah berubah. Pandangannya menjadi gelap dengan beberapa hal tersirat di sana. Atensinya penuh dengan kontrol.
"Dan, kau juga akan selalu jadi gadis baik untuk kakakmu ini kan?" tanya Gery kelewat lembut tapi jelas sekali ada hal lain tersirat di sana.
Grace masih tersenyum. Menganggap itu biasa. Tenang dan mengangguk. Tak mengalihkan pandangan sama sekali dari tatapan Gery yang sejujurnya mengganggu secara rumit.
"Selalu, untukmu, Kakak"
Dan saat itu. Gery menjelma menjadi kelaparan. Mel*mat bibir adik kandungnya dengan begitu rakus. Mendorong tubuh sang adik hingga terbaring ke sofa. Menekan dan menggesek tubuh mereka berdua diiringi dengan napas yang terengah karena birahi dan ciuman dalam. Tangan yang semula mengelus pipi bersemangat berpindah perlahan membuka beberapa kancing pakaian Grace.
Banyak hal yang Grace harus lakukan untuk mempertahankan semuanya. Termasuk apa yang dia lakukan saat ini.
"Kau tahu kan kalau kakakmu ini sangat menyukaimu, adik kecil yang manis?" tanya Gery menggoda seraya menciumi leher Grace.
Tak dapat mengeluarkan suara selain helaan napas yang terengah. Wanita itu hanya menganggukan kepalanya dengan kaki yang menendang-nendang ke udara ketika lehernya habis dil*mati.
Kembali mengacu pada pesan yang Grace dan Sean terima hari ini, tentang siapa iblis sebenarnya, mungkin jawabannya adalah dirinya. Grace sangat manipulatif dan berusaha mengontrol semuanya sesuai keinginan. Namun kadang jika dilihat dari sisi lain, dia menjelma menjadi sesosok wanita menyedihkan yang terjebak pada semua ini.
Tapi, masih ada banyak hal yang belum diketahui tentang Grace, tentang Sean, Jeff, Abel dan semuanya. Segala yang berada di Shadowfall.
Selamat datang di roller coaster lagi. Aku sangat menikmati menulis yang ini. Tidak ada orang yang tidak bersalah dalam cerita ini.
__ADS_1