
Mobil melaju dengan supir yang mengemudi. Grace memandang sepanjang jalanan malam kota Shadowfalls. Terlihat tenang sekalipun masih ada beberapa orang yang berlalu lalang. .
Pikirannya kembali teringat tentang Sean. Rasanya Grace sudah muak. Dia tahu dia salah begitu juga Sean. Mereka sama-sama salah. Seharusnya Grace menyingkirkan semua perasaannya jika berbicara tentang ambisi. Kenyataannya dia hanyalah manusia biasa yang masih memiliki itu. Dan Sean masuk di dalamnya.
Grace tersenyum miris menertawakan semuanya. Sejujurnya dia lelah dengan hubungannya bersama Sean. Terlihat Begitu menyedihkan hingga membuatnya ingin memuntahkan semua kejadian yang begitu membosankan, Terlalu sering membuat kesalahan yang berkali-kali diulang. Hubungan mereka itu tidak sehat. Dia akan menjadi pelaku dalam hal menyakiti, sementara Sean menyajikan cinta yang sama, membuat mual karena terlalu sering dihidangkan pengkhianatan.
Semua terlihat klise. Terjadi berkali-kali dengan jalan cerita yang sama saja. Selingkuh lagi dan lagi. Disakiti dan memaklumi karena dia sendiri harus memenuhi segala ambisi. Seharusnya mereka sudah berakhir saja. Atau tidak pernah memulai sejak awal.
Grace memeluk dirinya sendiri. Kenyataannya dia memiliki titik lemah. Hatinya jelas sakit. Teriris. Dia ingin dicintai dengan benar. Tidak terus-terusan diam saja pada keadaan seperti ini. Namun dia tidak bisa berlari kemana-mana.
"Pak, tolong berhenti di sini."
Sang supir langsung berhenti. Menoleh ke belakang dengan bingung ketika Grace membuka pintu. Mengeratkan selendang tipis yang tidak dapat melindungi diri dari kehangatan jalanan malam. Meninggalkan tas begitu saja. "Kembalikan saja mobilnya ke rumah."
"Tapi Nona-"
__ADS_1
"Lakukan saja," ujar Grace memberikan senyuman berusaha menenangkan.
Sang supir terlihat khawatir namun pada akhirnya menurut dan pergi dari sana. Lalu kini tinggalah Grace dan jalanan malam. Membiarkan dirinya yang mudah kedinginan digigit dengan beku hingga menggigil. Namun tak seberapa dengan rasa sakit yang dia rasakan. Terlalu sakit hingga membuatnya sekarang terlalu tenang karena semua gelisah dan kelu kesah ada di dalam dirinya. Sisanya mengosong seperti kehampaan. Bertanya-tanya hidup apa yang sedang dia jalani saat ini.
Grace berjalan tanpa arah hingga hampir satu jam berlalu, menyusuri kota Shadowfalls dan keindahannya. Terlihat sebuah keluarga bahagia di dalam mobil. Seorang laki-laki yang menyedihkan di salah satu flat dengan tangan mencekik botol bir, terlihat begitu kesepian. Dua hal yang begitu kontras. Lalu pasangan muda-mudi yang berciuman di tengah jalan, terlihat manis dan penuh dengan kebahagiaan. Atau seorang wanita yang menelpon dengan menggebu-gebu dan air yang mata mengalir.
Hidup memang tidak seperti jalan cerita yang terjadi dalam kisah dongeng. Tidak selalu indah namun bukan berarti semua yang sedih itu lebih terasa nyata. Karena tidak semua orang kehidupannya akan selalu larut dalam kesedihan. Mungkin Grace sekarang sedang berada di antara keduanya ketika melihat Abel tepat berdiri di depannya, tidak begitu jauh. Menatapnya sambil terengah karena kelelahan habis berlari.
Grace melambaikan tangannya. "Hai," sapanya ringan.
Abel tak membalas dan langsung berlari mendekat. Mengejutkan ketika Abel langsung memeluk Grace "Supir mu menghubungiku. Apa kau gila? Kau bisa mati membeku malam-malam di luar dengan baju tipis seperti ini.!" Abel buru-buru membuka jaketnya dan memakaikannya pada Grace.
"Aku tahu. Maka dari itu ayo cepat ke mobilku. Di sana ada selimut untukmu dan aku akan kembali memakai jaketku." Abel mengatakan itu sambil tubuhnya bergetar dan hidungnya memerah kedinginan. Lucu sekali.
Grace bukan tipikal yang menyusahkan, Maka dari itu ia langsung mengiyakan, karena sebenarnya dia juga dingin dan lelah berjalan. Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil Abel. Pun pria itu segera memakai jaket kembali, sesuai dengan apa yang dikatakan sebelumnya, Abel benar-benar menyiapkan selimut untuk Grace.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Abel berkali-kali melirik untuk memastikan gadis disampingnya itu baik-baik saja dan merasa hangat, sesekali membenarkan selimutnya atau sekadar memegang pipi dan tangan. Grace tahu jelas tentang perasaan Abel padanya.
"Bel..."
"Ehm, apa? Tidur saja. Nanti kalau sudah sampai rumahmu, aku bangunkan."
"Aku tidak mau..."
"Tidak mau tidur?"
"Tidak mau pulang."
Abel terdiam. Menengok pada Grace melongo.
"Lihat ke depan, Bel!"
__ADS_1
Abel buru-buru melihat ke depan lagi. Bersyukur jalanan memang sepi. "Maksudmu?"
"Aku ingin menginap dirumahmu, boleh?"